
Mama Rita membanting ponselnya di atas kasur. "Ini, Pa. Ben nggak ada kabar. Nggak nanyain Lestari juga," ungkapnya.
"Sebenarnya Papa tahu fakta sebenarnya, Ma."
Perkataan Papa Darman membuat Mama Rita penasaran. Papa Darman pun mulai menceritakan apa yang sempat ia lihat saat berada di kantor. Saat di mana ben dan Clara bermesraan.
Mama Rita tercengang mendengarnya. Ia akan menyimpan baik-baik rahasia ini. Jangan sampai sang menantu mengetahui.
***
Hari demi hari berganti, bulan demi bulan berjalan. Sudah satu bulan, Lestari tinggal di rumah mertuanya. Ben tak pernah menghubunginya lagi. Lestari menjadi kepikiran setengah mati. Bagaimana masa depannya nanti?
Ia sedang merenung di gazebo taman belakang. Kedua kakinya ia luruskan. Jika memang suaminya sudah tidak mau lagi dengannya, untuk apa dirinya ada di tempat megah ini. Semua ini adalah milik Ben dan sekeluarga. Ia tidak seharusnya berlama-lama di tempat ini.
Bisa saja suatu saat Lestari ditendang, kemudian diganti dengan perempuan yang dekat dengan Ben. Ia tidak mengetahui namanya.
Tetes-tetes air matanya mulai berjatuhan. Berbagai penyesalan memenuhi ruang hatinya. Andai saja ia tidak berpacaran dengan laki-laki seperti Ben. Pasti tidak seperti ini masa depannya. Kalau saja ia tidak terpengaruh obat perangsang itu, ia tidak akan melakukan malam itu bersama Ben.
Anak dalam perutnya pasti tidak ada. Dan kini, ia pasti sudah hampir menyelesaikan skripsinya. Kemudian, sebentar lagi bisa mengajar di kampus sebagai dosen.
Melakukan terlarang memang pihak perempuan yang paling dirugikan. Bahkan mungkin memang satu-satunya yang dirugikan. Karena laki-laki bisa pergi, mereka bisa lari dari kenyataan. Tapi perempuan? Mereka tidak bisa lari. Harus menerima semua akibat dari perbuatan haram itu.
Saat tangisan Lestari mulai memecah, tiba-tiba datang Papa Darman. "Nak Tari," sapa laki-laki beranjak tua itu.
Sontak Lestari menghapus air matanya dengan tergesa-gesa. Berharap Papa Darman tidak mengetahui kalau pipinya basah semua. Tapi terlambat, Papa Darman justru menghampiri Lestari karena melihat sang menantu nampak tengah menangis.
"Papa, maaf ini Tari kelilipan." Lestari masih terus berusaha menghapus air matanya dengan benda seadanya.
"Papa sudah tahu, Tari. Lepaskan saja, kalau memang ingin menangis. Tidak baik ditahan-tahan," ucap Papa Darman seraya duduk di sebelah Lestari.
"Lagi kepikiran apa? Ben, ya?" imbuh Papa Darman. Ia berusaha menduga-duga. Dan mungkin memang sembilan puluh sembilan persen itulah masalahnya.
Lestari mengangguk. "Apa Lestari cerai aja sama Ben ya, Pa?" usulnya. Ia merasa sudah dibuanh oleh Ben.
"Jangan dulu, kita tunggu sampai bayi dalam perut kamu lahir." Papa Darman memberikan saran. Benar juga. Setidaknya bayi itu lahir dalam keadaan memiliki ayah. Walaupun hanya status belaka.
"Iya, Pa. Tapi, sampai kapan Tari ada di sini, Pa. Lama-lama juga nggak enak rasanya sama Papa Mama," ungkapnya. Entah mengapa akhir-akhir ini ia merasa sedang dijauhi oleh mertuanya itu.
Padahal kenyataannya tidak. Itu tak lebih dari hanya sekedar perasaannya. Barangkali karena hormon kehamilannya.
"Kamu kan menantu di keluarga ini. Udah jangan mikir aneh-aneh." Papa Darman menepuk bahu Lestari satu kali untuk sekedar menenangkan. "Nanti Papa Mama akan antar kamu untuk cek kehamilan."
Lestari mengangguk. "Iya, Pa. Makasih, ya."
Sementara itu di tempat lain, Ben nampak sedang duduk di sebuah coffee shop dekat kantor Papa Darman. Ia duduk sendirian dengan pandangan kosong.
"Ben!" sapa Clara yang menghampiri laki-laki berstatus pacarnya itu. Tapi, Ben tak menanggapi sama sekali. Pandangannya masih sama, pada isi cangkir yang sama.
"Sayang?!" panggil Clara sekali lagi. Ia kini duduk di depan Ben. Ia sedikit menggebrak meja agar Ben mendengarnya.
"Huh?" Akhirnya pandangan Ben mengarah pada Clara. "Kamu?" Ia terkejut melihat Clara sudah ada di depannya. Padahal jam segini seharusnya ia berkerja. "Kamu ngapain di sini?
" Aku ya kangen kamu lah. Ngapain si lama banget di sini? Sendirian lagi. Nggak ngajak aku." Clara kesal karena tak Ben tak seperti ini biasanya. Sejak pagi tadi, ia merasa Ben menjadi dingin kepadanya.
"Aku pengin sendiri dulu. Kamu bisa kembali ke kantor," ucap Ben seraya menyeruput kopi latte yang sedari tadi dipandangnya.
"Nggak mau," tolak Clara. Ia ingin bermesraan dengan Ben seperti biasanya.
Tanpa berbasa-basi, Ben beranjak pergi. Kakinya melangkah dengan cepat agar tidak dapat dikejar oleh Clara.
Ia melangkahkan kakinya menuju mobil. Entah ke mana ia akan membawa mobil itu. Pikirannya sedang tidak baik-baik saja.
Setelah lima belas menit perjalanan, Ben pun memarkirkan mobilnya di bagasi rumahnya. Rumah yang tampak begitu sepi selama berminggu-minggu. Hanya ada dirinya yang tinggal sendirian di sana.
Semula, ia tinggal di sana bersama Lestari. Tapi, karena egonya yang begitu besar, membuat sang istri pergi. Entah ke mana istrinya itu, ia belum tahu. Ia juga tidak menanyakan apa-apa kepada orang tuanya. Ia justru mengira istrinya itu telah pulang ke kampung halamannya yang berada di luar kota.
Kakinya beranjak menuju kamar. Ruangan yang dulu bersih dan nyaman itu kini berubah seperti kapal pecah. Semula, ada Lestari yang dengan rajin dan telaten mengurus semuanya. Tapi kini, sosok itu tidak ada.
Pun dengan baju-baju kotornya. Berserakan semua di bagian belakang rumahnya berdekatan dengan mesin cuci. Ia memandangi semuanya. Dulu, ada istrinya yang setiap hari mencuci bajunya tanpa kenal lelah.
Ia beranjak ke dapur. Tidak ada apa-apa selain piring kotor yang entah sejak kapan tidak dicuci di wastafel. Tiba-tiba ia sangat merindukan sang istri. Ben seolah baru menyadari semua yang telah ia lakukan selama ini.
Bergegas laki-laki itu kembali ke dalam mobil. Dengan kecepatan cukup kencang, ia mengarahkan mobilnya ke rumah Papa Darman. Ia ingin mengatakan semuanya dan meminta saran. Ia juga ingin mencari tahu di mana Lestari kini. Sesekali ia memukul setir mobilnya.
Ben tidak tahu bahwa sebenarnya Lestari telah lama tinggal di rumah orang tuanya sendiri.
Tiba di rumah Papa Darman, Ben lantas mengedarkan pandangan. Mencari-cari sosok kedua orang tuanya. Tapi, tidak ada siapa-siapa.
Ia menunu dapur, ada para pembantu yang sedang memasak. Pun ada yang tengah mencuci piring.
"Papa Mama ke mana, Bi?" tanya Ben dengan napas yang naik turun.
"Ke rumah sakit," jawab salah satu pembantu yang ada di rumah itu.
Di rumah sakit, Lestari sedang berbaring di atas kasur pasien. Ada layar yang menunjukkan kondisi di dalam perutnya. Ada janjn yang sudah mulai terbentuk menjadi bayi.
"Bagaimana, Dok?" tanya Mama Rita pada dokter perempuan yang memeriksa perut Lestari.