
Laki-laki itu melangkahkan kakinya menuju sebuah toko elektronik. Ia lantas nampak melihat-lihat barang-barang yang berjejer di depan matanya. Barang-barang yang sedang sangat ia suka.
"PS5 harga berapa?" tanya Ben pada karyawan toko yang berjaga di sana.
"Untuk PS5 harganya variatif ya kak, tergantung jenis," jelas karyawan itu, lantas membubuhkan pemaparan mengenai harga dan kualitas dari masing-masing merk.
"Oke, saya mau yang PS5 disc version aja." Setelah sekitar 10 menit memilih-milih, Ben pun memilih PlayStation dengan merk yang disebut.
"Baik, Kak. Harganya Rp 9.699.000, mau dibayar pakai cash atau kartu atm?" tanya karyawan laki-laki itu dengan penuh sopan.
"Nih," ucap Ben seraya menyodorkan kartu atm miliknya dengan percaya diri.
Namun, saat proses transaksi dilakukan, ternyata gagal karena saldonya tidak cukup. Ben pun menelan ludah. Ia baru ingat tidak meminta uang kepada sang ayah.
"Tunggu sebentar, Mas," ucap Ben. Ia mengambil ponsel dari sakunya. Lekas menghubungi sang ayah yang sedang berada di kantor.
Ia pun meminta sejumlah uang untuk kebutuhannya. "Pa, minta uang," pintanya enteng.
"Ya Ben, Papa kirim sekarang. Jangan lupa Lestari bahagiakan Lestari, okey?" Laki-laki paruh baya itu bernama Darman. Ia langsung mengaminkan tanpa berpikir panjang dan tanpa perdebatan.
Sementara itu, di rumah, Lestari nampak membersihkan rumah dengan begitu semangat. Ia mengira bahwa Ben menuruti nasehatnya untuk mulai bekerja di kantor Papa Darman.
Perempuan itu juga berbelanja bahan-bahan makanan yang akan dimasak menjadi masakan kesukaan sang suami, ayam teriaki.
Meski sebelumnya ia belum pernah mengolah masakan itu, tapi ia percaya akan berhasil memasaknya dengan bantuan tutorial di youtube. Dengan hati yang berbunga-bunga, Lestari membawa belanjaannya menuju dapur.
Di mall, usai membeli PlayStation impiannya, Ben lantas membawa dirinya menuju kulkas minuman dan mengambil beberapa camilan dengan sembarangan.
Setelah semuanya selesai, ia bergegas menuju parkiran mobil. Di sana, ia nampak sedang menghubingi temannya.
"Habis beli PS5 bro, mau main nggak?" Tanpa basa-basi, Ben langsung memamerkan barang belanjaannya itu.
"Widiihh, tapi sorry banget bro, lagi di hotel nih. Biasalah," ucap temannya itu tanpa ragu. Ben sudah sangat paham dengan maksud itu. Terlebih, ada suara perempuan di sana.
Ia lantas mengakhiri panggilannya. Sejenak ia berpikir akan langsung pulang, tapi, ini masih terlalu awal untuk pulang. Sang istri pasti akan kecewa kalau mendapati dirinya pulang tanpa ke kantor Papa Darman terlebih dahulu.
Padahal tanpa ia sadari, dengan membeli PlayStation yang harganya cukup mahal itu, tentu sudah membuat Lestari kecewa setengah mati.
Ia pun memutuskan untuk memakan camilan yang dibeli di dalam mobil. Sembari menikmati cemilan itu, ia menghubungi sang ayah untuk menanyakan pekerjaan.
"Halo, Pa?" sapa laki-laki 20 tahun itu saat panggilannga dengan Papa Darman sudah terhubung "Aku disuruh kerja," ucapnya tanpa basa-basi.
"Disuruh siapa?" tanya Papa Darman yang sibuk menatap layar laptop.
"Kak Lestari." Ben keceplosan. Tidak seharusnya ia menunjukkan panggilan itu kepada Papa Darman. "M-maksudnya Lestari." Ia pun membenarkan. Memanggil istri sendiri dengan sebutan 'kak' rasanya sangat tidak enak didengar oleh orang lain.
"Jadi kamu disuruh kerja sama Lestari?" tanya Papa Darman memastikan.
"Iya, Pa." Ben masih memakan camilannya. Sepertinya akan ia makan hingga habis tanpa memikirkan Lestari yang mungkin menginginkan camilan itu juga.
Ben pun mengakhiri panggilannya dengan Papa Darman. Tatapannya kini fokus pada satu hal. Ia menghentikan kegiatan memakan camilan.
"Cantik," ucapnya dalam hati saat melihat perempuan dengan baju merah ketat yang menampakkan lekuk tubuhnya dengan jelas. Lekuk tubuh yang sempurna itu dinikmati Ben selama 60 detik, hampir tanpa berkedip.
Tubuh itu persis seperti gitar Spanyol, ditambah beberapa bagian nampak begitu menonjol, membuat mata semua lelaki melotot. Ben mengusap-usap bibirnya seolah sangat menginginkan perempuan itu.
Ia seolah tidak ingat jika sudah ada perempuan yang selalu ada untuknya di rumah. Tubuh Lestari juga tidak kalah menggoda, hanya saja kurang tinggi.
Ben hanya bisa membuang napas saat perempuan itu hilang dari pandangan. "Huhh."
***
Saat sore datang, Ben baru berani untuk pulang. Waktu yang tepat untuk pulang seperti orang-orang kantoran pada umumnya, agar tidak ketahuan berbohong.
Dengan penuh kebahagiaan, Lestari menyambut Ben. Lantas mengarahkan suaminya itu menuju dapur. Di sana, ia sudah menyiapkan ayam teriaki kesukaan Ben.
"Taraaa," ucap Lestari begitu bersemangat. "Ada ayam terkyaki loh." Ia lantas mengambilkan nasi di atas piring untuk sang suami.
Sementara Ben hanya mematung dengan masih menenteng PlayStation yang telah ia beli.
"Jadi, gimana hari ini? Udah dikasih kerjaan sama Papa?" tanya Lestari antusias. Ia sangat antusias menjalani hari ini karena ia mengira sang suami benar-benar sudah bersedia bekerja.
"Kata Papa gampang." Ben meletakkan barang belanjaannya di kursi sebelahnya. Sontak dilirik oleh Lestari.
"Itu apa, Beben sayang?" tanya Lestari penasaran. Ben tak bersuara sedikitpun, membuat Lestari akhirnya melihat isinya.
Perempuan itu membelalakkan mata setelah tahu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya setelah mengetahui kelakuan sang suami. "Beben, kamu kok beli beginian lagi," tanya Lestari dengan sangat pelan. Ada kekecewaan yang mendalam di hatinya, namun tak ditunjukkan.
"Belum ada kalau yang itu," ucap Ben ringan. Ia lekas memakan ayam teriyaki yang telah dimasak sang istri.
"Okey deh kalau gitu, ya udah makan dulu. Kamu capek, ya? Nanti aku pijitin." Lestari masih mengira bahwa suaminya itu bekerja seharian. Ben hanya terdiam.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Lestari lantas melangkahkan kakinya menuju sumber suara.
"Eh, Bu Eni, ada apa?" tanya Lestari setelah membukakan pintu. Ia begantian menatap wajah tetangganya itu dan anak kecil yang ada di sampingnya.
"Jadi gini, Nak Lestari," ucap tetangganya itu dengan ragu.
Lestari menaikkan alis. "Jadi?"
"Gini loh, Nak Tari. Saya kan mau ke rumah mertua karena lagi sakit. Jadi, malam ini saya mau menitipkan anak saya sama Nak Lestari. Semalam ini saja kok. Besok pagi saya pulang," papar tetangga perempuan itu.
Lestari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung karena belum pernah mengurus anak sebelumnya. Terlebih, anak itu masih cukup kecil, usianya kurang lebih 3 tahun.
"Tapi, Bu Eni yakin menitipkan anaknya ke saya? Kenapa nggak dititipkan ke orang lain aja, Bu?" Lestari memang tidak cukup percaya diri untuk mengurus anak itu walau hanya semalam. Tapi, di sisi lain, dalam hatinya ia ingin karena dengan mendapat kesempatan ini, ia bisa belajar menjadi ibu.
"Yakin, Nak. Nggak enak kalau mau dititipkan ke orang lain karena kan mereka juga udah punya anak sendiri-sendiri. Hanya Nak Tari saja yang belum."