The Childish Husband

The Childish Husband
Terjebak Macet



Setelah terjebak macet kurang lebih selama satu jam, mereka pun tiba di kantor Papa Darman. Ben membukakan pintu mobil untuk Clara. Perempuan itu tersenyum manis karena perlakuan Ben yang juga begitu manis padanya.


Papa Darman yang sudah terlebih dahulu tiba di sana, menegur Clara dan Ben yang baru tiba secara bersamaan. "Clara, kenapa telat?" tanya Papa Darman dengan wajah yang serius.


Clara melirik wajah laki-laki yang sudah dianggap sebagai kekasihnya itu. Tapi, Ben tak berkata apa-apa. Padahal Clara berharap Ben akan membela dirinya di depan Papa Darman.


"Maaf, Om. Saya telat karena terjebak macet," papar Clara dengan seenak jidat menyebut bosnya dengan sebutan om.


"Apa? Om kamu bilang, Clara?" tanya Papa Darman dengan suara yang meninggi. Ia tidak terima disebut om oleh karyawannya sendiri. Seharusnya Clara bisa lebih hormat kepada dirinya sebagai atasan.


"Maaf, maksud saya Pak," balas Clara seraya menunduk. Ia takut karena dibentak oleh atasannya. Perempuan itu masih berharap Ben akan membelanya, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Ben hanya diam saja.


Pandangan Papa Darman kini beralih pada anak semata wayangnya yang sedari tadi nampao diam saja. "Dan kamu Ben? Kenapa bisa bersamaan dengan Clara?"


Ben hanya terus menunduk. "Ehm. Tadi aku jemput dia," ucap Ben terang-terangan. Ia bahkan tidak takut jika Papa Darman melaporkan kelakuannya pada Lestari.


"Clara bukannya biasanya naik ojek? Kenapa repot-repot minta dijemput Ben?" Papa Darman mulai menguliti mereka berdua. Sepertinya laki-laki paruh baya itu tidak senang melihat kedekatan sang anak dengan Clara.


Dan rupanya, Clara tidak memiliki mobil karena gaji yang didapat selalu digunakan untuk berfoya-foya. Pernyataan yang berbanding terbalik dengan apa yang diucapkan Clara pada Ben beberapa waktu lalu. Tapi, nampaknya Ben tak peduli dengan kebohongan Clara itu.


"Em ... Saya nggak minta dijemput kok, Om. Eh, maksudnya Pak. Tadi Ben yang maksa jemput saya," tutur Clara membela diri. Bagaimana pun juga, ia takut dikeluarkan dari pekerjaan ini.


Sementara itu, Ben tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya menunjukkan wajah datar dengan pandangan yang tak jelas entah ke mana.


"Ya sudah, sana mulai kerja," perintah Papa Darman. Ia lalu melirik ke arah sang anak. "Ben, kamu ikut kerja di ruangan Papa aja," sarannya. Sepertinya Papa Darman juga sudah mulai curiga bahwa mereka berdua lebih dari sekedar teman biasa.


Ben yang sedari tadi hanya diam pun menolak perintah papanya. " Nggak mau. Aku ikut Clara aja. Udah bisa juga. Kalau sama Papa nanti harus belajat lagi, malas." Ben seolah memberontak, ia enggan dipisahkan dari Clara.


"Ya sudah ya sudah, terserah kamu aja." Pusing, Papa Darman pun memilih pergi meninggalkan mereka berdua. Ia lantas pergi ke dalam ruangannya.


Di kediaman Ben, Lestari masih bergoleran di atas ranjang. Tidak seperti biasanya, yang mana jam segini sudah menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah. Kali ini ia membiarkan semuanya berantakan. Lagipula, Ben juga sekarang tidak bisa menghargai hasil kerjanya. Bahkan maskana yang ia buat kemarin pun masih. Tak dimakan sedikit pun oleh suaminya itu.


Lestari benar-benar kecewa. Dulu, saat Ben masih bermalas-malasan, ia memang berharap suaminya itu bisa berubah menjadi sosok yang pekerja keras. Namun kini, saat Ben sudah mulai rajin bekerja, Lestari berharap Ben bisa kembali seperti sosok Ben yang sedia kala. Ben yang selalu ada di rumah.


Saat ia tengah melamun ke arah jendela, tiba-tiba matanya difokuskan pada kedatangan Mama Rita, mertuanya. Ia lekas bangun dengan ogah-ogahan.


Diraihnya ikat rambut di dalam laci. Kemudian beranjak menuju pintu depan sebelum Mama Rita mengetuknya.


"Mama sehat. Tari dan adik bayi juga sehat, kan?" Mama Rita balik bertanya seraya mengelus-elus perut buncit Lestari.


"Sehat, Ma," jawab Lestari sedikit terpaksa.


Mama Rita duduk di ruang tamu tanpa menunggu ajakan Lestari. "Sehat tapi kok wajahnya sayu begitu. Ada apa, Sayang?" tanya Mama Rita dengan pelan-pelan. Ia sudah menganggap Lestari seperti anak sendiri. Jika terjadi apa-apa, ia juga akan merasakan sakitnya.


Lestari melamun sejenak. Ia kembali teringat dengan sikap Ben akhir-akhir ini. Pun aroma parfum yang melekat pada tubuh Ben.


"Apa ada yang mengganjal di hati, Sayang? Coba cerita." Mama Rita terus membujuk menantunya untuk bercerita.


Barangkali dengan bercerita, ia bisa membantu Lestari. Tapi, Lestari masih terdiam dengan seribu bahasa. Ia juga teringat dengan pesan orang bijaksana, yang mana apapun yang terjadi dalam rumah tangga, seberat apapun masalah yang terjadi dalam rumah tangga, jangan pernah ceritakan pada orang lain. Cukup simpan dalam hatimu.


"Atau mungkin mau shoping sama Mama ke mall?" tawarnya. Begitu menggiurkan bagi perempuan-perempuan seperti Clara. Namun, tak begitu menarik di mata perempuan seperti Lestari.


"Tari mau tidur-tiduran aja, Ma. Rasanya lagi capek banget," tutur Lestari dengan suara serak karena ia belum berbicara dengan siapapun hari ini. Ia menyandarkan pundaknya pada sofa.


"Sini tangannya biar Mama pijit." Mama Rita menawarkan diri untuk memijit Lestari walaupun hanya pada bagian tangan.


Tiba-tiba Lestari merengkuh erat tubuh mertuanya itu. Tetes-tetes air matanya kini mulai jatuh. "Mama," lirihnya. Sebenarnya ia ingin menangis sejadi-jadinya dan mengungkapkan apa saja yang ia rasakan. Tapi, ia mengurungkan niat itu.


Barangkali dengan pelukan mertuanya sudah cukup mengobati pikiran buruknya. Semoga.


"Sayang," balas Mama Rita mengusap-usap punggung menantunya itu. "Are you okay?"


Lestari tak menjawab. Ia melepaskan pelukan itu, kemudian menghapus air matanya yang sempat berjatuhan.


Di kantor Papa Darman, Ben dan Clara nampak duduk begitu berdekatan. Ben tidak duduk di tempatnya, melainkan menggeser kursinya tepat di sebelah Clara. Hari ini mereka sama-sama tidak fokus bekerja. Mereka lebih sering saling melirik, kemudian saling menatap mata dalam waktu yang lama.


Ben tak melepas genggaman tangan Clara. Ia sangat nyaman dengan tangan perempuan cantik yang sangat halus itu. Sesekali Ben merengkuh tubuh dengan tinggi yang hampir sejajar dengannya itu.


Saat sedang asyik saling menatap dan berangkulan, gagang telepon yang ada di meja Clara berbunyi.


"Aku angkat dulu, ya, Ben sayang," izin Clara. Ia bahkana sudah berani memanggil suami orang dengan sebutan sayang. Walau memang ia belum mengetahui jika Ben sebenarnya sudah beristri.


"Udah nggak usah. Udah nyaman begini, tanggung." Ben mempererat rangkulannya. Kini Clara nampak bersandar di dada laki-laki itu. Dengan tangan yang saling bertautan. Bukannya bekerja, mereka justru bermesraan.