The Childish Husband

The Childish Husband
Minta Disuapin



Lestari melirik ke arah suaminya. Mungkin memang ia tertawa karena kelucuan karakter Patrick Star. Ia pun menyelesaikan makanannya.


"Ayo cepetan dihabiskan makannya," ucapnya. Ben makan lama sekali karena sembari menonton kartun kesukaannya.


"Suapin kalau gitu," sahut Ben dengan nada manja. Lestari pun pindah tempat duduk menjadi persis di samping suaminya.


Setelah lima kali suapan, akhirnya makanan Ben pun habis tak tersisa. "Udah, habis ini langsung mandi, ya." Dengan telaten, Lestari mengingatkan satu persatu aktivitas wajib Ben.


Ben mengangguk. Ia lantas meletakkan ponselnya di atas meja makan. Diambilnya handuk yang telah disiapkan Lestari di atas ranjang.


"Handuknya hayo loh." Lestari mengingatkan agar sang suami tidak mengulangi kebiasaan buruknya ke sekian kali.


Ben yang hendak meletakkan handuk di sembarang tempat pun sontak melirik ke arah sang istri. Ia mencoba menuruti arahan istrinya itu.


"Bukan di situ, Beben!" Salah. Ben meletakkan handuknya di gantungan yang ada di dalam kamar itu. Namun, bagi Lestari, itu adalah salah karena yang benar adalah handuk diletakkan pada tempati untuk menjemur pakaian.


"Terus dimana, dong?" tanya Ben dengan suara meninggi. Ia malas meletakkan sesuatu pada tempatnya. Apalagi jika tempat itu cukup jauh dari jangkauannya.


"Di sana, di belakang dapur." Lestari menunjuk ke arah belakang.


"Haduhh, jauh banget. Aku nggak mau." Bukan menuruti perintah Lestari lagi, ia justru merebahkan tubuhnya di atas sofa, dengan bantal menggunakan paha sang istri.


"Beben!" pekiknya. Lestari mengomel seperti setiap hati.


"Dengarkan, Kak." Ben memegangi dua pipi sang istri. "Aku besok mau kerja," imbuhnya.


Lestari hanya menghela napas. Ia sudah sulit untuk percaya dengan suaminya sendiri. "Yang bener?"


Perempuan itu benar-benar tidak yakin. Tapi, kali ini ia enggan untuk emosi. Ia lebih memilih mengusap-usap rambut sang suami.


"Iya. Janji," ungkapnya dengan wajah datar. Sulit dipercaya oleh Lestari. Hari lalu juga ia mengatakan hal yang sama. Tapi, tetap saja, laki-laki itu mengkhiatinya.


"Mau kerja di mana?" tanya Lestari. Kalau bekerja di kantor Papa Darman, takutnya tidak diperbolehkan.


Lestari juga tidak yakin dengan kedua mertuanya. Mereka sama sekali tidak mendidik Ben agar menjadi laki-laki yang mandiri. Sebaliknya, mereka malah terlalu memanjakan buah hatinya itu. Meski Ben adalah satu-satunya pewaris tahta keluarga mereka, tapi menurut Lestari, didikan Papa Darman dan Mama Rita begitu buruk.


Mungkin kalau istri Ben bukan Lestari, ia akan senang setiap hari karena Ben tidak perlu bekerja, sedangkan kebutuhan sehari-hari sudah terpenuhi. Namun, tidak dengan Lestari, perempuan itu tidak menginginkan suami yang hanya berpangku tangan meski harta orang tuanya melimpah ruah.


"Kerja di kantor Papa lah," ungkap Ben. "Nanti minta kerjaan yang paling mudah hehe." Ia tersenyum lebar ke arah sang istri.


Di satu sisi, Lestari tersenyum pahit. Ia selalu berharap memiliki suami yang pekerja keras, namun tak didapatkan dalam diri Ben.


Lestari menghela napas panjang. "Ya udahlah, terserah kamu aja."


***


Pukul 07.00, Ben baru bangun. Sengaja tidak dibangunkan oleh Lestari. Ia mau mengetes seberapa sungguh-sungguh suaminya itu ingin bekerja.


Dan ya, Ben bangun pada saat orang-orang kantoran sudah berada di kantor. Lestari menanggapinya dengan biasa saja. Walau sebenarnya dalam hati dipenuhi rasa kecewa.


Lestari memang perempuan yang telaten. Walau sang mertua bergelimang harta, namun ia menolak disediakan pembantu di rumahnya. Ia ingin mengabdi sepenuh hati pada Ben, agar suaminya itu tak pernah berpaling darinya.


"Udah jam tujuh?" tanya Ben setelah melihat jam beker di atas nakas. Ia kini menggeliat, meregangkan otot-ototnya.


"Iya, sarapan udah aku siapkan di atas meja, ya." Lestari dengan tenang menanggapi.


"Mau disuapin," rengek Ben selayaknya balita.


"Hari ini nggak jadi kerja, Ben?" tanya Lestari pelan-pelan. Ia menutup lemari usai semua baju yang rapi dan bersih dipindahkan.


"Oh iya, jadi." Rupanya Ben baru ingat kalau ia berjanji akan bekerja mulai hari ini. Ia pun lekas mengambil handuk dengan tergesa-gesa. "Mandi dulu."


Lestari bingung harus menanggapinya dengan bagaimana. Yang jelas ia tidak mau dan tidak boleh berpikir terlalu keras. Takut berdampak pada janin dalam perutnya.


"Mau pakai baju formal sekali-kali?" tanya Lestari pada suaminya itu yang berada di kamar mandi. Suaranya cukup tinggi agar sang suami dapat menangkap pertanyaannya.


"Hah?" Pertanyaan Lestari tidak cukup keras di telinga Ben, ia kurang mendengarnya.


"Mau coba pakai baju formal?" tanya Lestari sekali lagi.


"Iya, mau," jawab Ben dengan suara cukup nyaring. Ia tengah menggosok-gosok rambut kepalanya dengan shampo.


"Okei," balas Lestari. Perempuan itu lantas mengambil hem warna navy dan celana panjang warna milo.


Setelah semuanya diambil, ia meletakkannya di atas ranjang. Langkahnya beralih menuju dapur. Ia memeriksa sandwich yang masih rapi di atas meja makan. Nantinya itu untuk sarapan Ben. Sekarang ia ingin membuatkan kopi karena agar Ben tidak mengantuk saat bekerja.


Walaupun sebenarnya Lestari masih tak yakin bahwa suaminya itu benar-benar ingin bekerja. Ia tidak lagi berharap terlalu tinggi. Apapun yang terjadi, ia harus bersikap tenang. Pun dalam hatinya, tidak boleh penuh emosi.


Setelah siap, Ben masuk ke dalam mobil. Lestari memandangnya dari teras. Dalam hati perempuan itu dipenuhi keraguan. Apa suaminya itu benar-benar berniat kerja, atau justru sebaliknya.


Lestari melipat kedua tangannya saat mobil Ben menghilang dari pandangan. Lantas kedua kakinya melangkah ke dalam rumah.


Setelah kurang lebih lima belas menit, Ben sampai di sebuah parkiran hotel milik Papa Darman. Laki-laki muda itu turun dari mobil dengan begitu cool. Bergegas melangkahkan kaki ke dalam hotel, pada bagian kantor.


Papa Darman memiliki banyak hotel, namun Ben memilih hotel ini. Selain karena jaraknya yang cukup dekat dari rumah, juga karena Papa Darman lebih sering stand by di sini.


"Papa," sapa Ben kepada Papa Darman yang tengah sibuk menatap layar laptop di depannya.


"Hei, Ben. Duduk," perintahnya. Ben pun duduk di depan meja Papa Darman.


"Jadi, aku bisa ngerjain apa?" tanya Ben seraya pandangannya mengelilingi sekitar. Namun, tak digubris oleh sang ayah karena sedang terlalu fokus. "Pa?" Ia mencoba menyadarkan Papa Darman.


"Eh, iya, Ben. Gimana gimana?" Pandangan Papa Darman kini beralih pada anak semata wayangnya. "Kamu serius mau kerja?"


Ben mengangguk. "Aku bantu-bantu Papa di sini aja, ya. Tapi, nanti kasih gaji yang banyak." Laki-laki itu menawarkan diri dengan sedikit memaksa.


"Tanpa kamu bekerja pun Papa akan kasih kamu uang yang banyak, Ben. Cukup nikmati masa mudamu," kata Papa Darman.