The Anti-Hero

The Anti-Hero
Chapter 4 : Bawahan I



Van berjalan kembali menuju pohon sambil mengistirahatkan dirinya lalu menutup matanya


...Satu Jam Kemudian...


Van membuka matanya, melihat waktu telah sore dan menyadari sebagian besar calon siswa akademi telah terbangun dari pingsannya


"Baiklah semuanya, berikut hasil dari pertarungan tadi, lihatlah!" ucap Kepala Akademi sambil menjentikkan jarinya


Kemudian sebuah layar hologram muncul dan memperlihatkan peringkat kelas


Juara 1 - 100 memasuki kelas S


Juara 101 - 250 memasuki kelas A


Juara 251 - 500 memasuki kelas B


Juara 501 - 800 memasuki kelas C


Juara 801 - 1200 memasuki kelas D


Juara 1201 - 1600 memasuki kelas E


Juara 1601 - 2000 memasuki kelas F


Dan Van tentunya memasuki kelas S dengan urutan peringkat 1


Peringkat Van membuat semua orang kagum dan tak ada yang heran karena Van telah membuktikan kekuatannya selama pertarungan tadi


"Baiklah, kalian pasti lelah karena pertaruhan tadi, jadi silahkan pergi ke asrama kalian untuk beristirahat....


Kelas S pergi ke asrama tingkat S, kelas A pergi ke asrama tingkat A dan seterusnya" ucap Kepala Akademi


Van dan yang lainnya mengikuti arahan Kepala Akademi dan pergi ke asrama


Saat di perjalanan, Van melihat asrama tingkat F dan memiliki fasilitas sebanding dengan hotel bintang 3 di kehidupan sebelumnya


Setelah beberapa menit perjalanan, Van akhirnya tiba di asrama tingkat S


Sebuah ekspresi puas muncul di wajah datar Van saat melihat asrama tingkat S di depannya


Fasilitas seperti ini cukup mengagumkan dan bisa dikatakan sangat mewah


Van memasuki asrama tingkat S dan melihat beberapa orang berjalan di lobby asrama


Kedatangan Van menyebabkan orang-orang yang sedang berjalan mengalihkan perhatian pada Van


"Hei itu wajah yang asing, apa kau mengenalnya?"


"Tidak, apakah Ia penghuni asrama tingkat A yang nyasar ke asrama tingkat S?"


"Apakah Ia siswa akademi baru? Hari ini adalah hari penerimaan murid baru kan"


"Ya kau benar, sepertinya Ia adalah siswa tahun pertama"


Van mengabaikan tatapan yang diarahkan padanya dan berjalan menuju layanan service


"Atas nama siapa?" ucap seorang wanita paruh baya pada Van


'Kuat, setidaknya berada di peringkat 100 besar di antara pahlawan' pikir Van


"Van Black" jawab Van dengan ringan


"Van Black yah" gumam wanita paruh baya itu


"BLACK?!" ucap wanita paruh baya tersebut dengan nada terkejut dalam suaranya


Suara wanita paruh baya itu meskipun tidak besar namun cukup untuk terdengar bergema di lobby


"Hei hei kau bercanda?"


"Van Black? anak pahlawan #1 (peringkat 1)?!"


"Mana kamarku" tanya Van dengan wajah datar


"Ahh maafkan aku, di lantai 8, kamar nomor 801" ucap wanita paruh baya tersebut


Van mengangguk sebagai tanggapan dan berjalan menuju lift


...----------------...


"801... 801... ketemu" gumam Van sambil mencari kamarnya


Van kemudian menempelkan sidik jarinya pada sensor sidik jari


Setelah itu, pintu besi yang setebal 15 cm terbuka dan Van memasuki kamar miliknya


...[Selamat datang, Master Van]...


...[Perkenalan Aku A.I.]...


...[Pelayan Cerdas Siap melayani Anda]...


"A.I. isikan bathub dengan air hangat" ucap Van


...[Baik Master]...


Van kemudian berjalan menuju kamar mandi dan melihat bathub sudah terisi air


Tanpa berlama-lama, Van melepas pakaiannya dan berendam di bathub


Van menikmati berendam di bathub dan tanpa sadar tertidur


...----------------...


Van membuka matanya dan tersadar setelah Ia mendengar suara A.I.


...[Master]...


...[Berendam lebih dari 1 tidak baik untuk kesehatan]...


Van akhirnya bangkit dari bathub lalu mengeringkan tubuhnya dan mengenakan pakaian khusus miliknya


Catatan : sebuah pakaian lengan panjang hitam, celana training hitam, blazer hitam panjang hingga lutut dengan penutup kepala, dan kain hitam yang menutup bagian bawah mata hingga leher


Van kemudian berjalan keluar dari kamar miliknya melalui jendela lalu naik ke atap asrama


Visi Van akhirnya menyebar dan Ia dapat melihat tiga orang siswi akademi tahun kedua dan ketiga sedang membully seorang siswi tahun pertama


Setelah 15 menit perjalanan, Van akhirnya tiba dan bersembunyi di balik dinding


Van melihat 3 siswi akademi tahun kedua dan ketiga yang buruk rupa sedang membully siswi tahun pertama yang sangat cantik



"Hei hei, ada apa tahun pertama? Seorang tanpa [Skill] sepertimu masih berani bersekolah di akademi?"


"Ya, hanya karena wajah cantikmu, banyak pria menatap dirimu bahkan idolaku menatapmu"


"Sungguh Aku ingin sekali merusak wajah cantikmu itu"


Akhirnya salah satu dari mereka mengambil pisau dan mencoba merusak wajah cantik siswi tahun pertama


"Hentikan, kumohon hentikan, aku tidak melakukan apa-apa pada kalian" mohon siswa tahun pertama itu dengan menangis


Namun permohonannya tak digubris sama sekali dan siswi tahun kedua atau ketiga


Siswi tahun pertama menatap pisau yang mendekat pada wajahnya dengan ketakutan


Saat pisau semakin mendekat, sebuah suara terdengar yang membuat siswi tersebut berhenti


"Berhenti" suara tenang terdengar


"Siapa?" respon mereka


Kemudian sebuah sosok muncul dengan pakaian serba hitam yang menutup seluruh tubuhnya kecuali mata


Melihat sosok tersebut, salah satu dari ketiga siswi tersebut menjadi ketakutan


"Me-mengapa Ia disini?!"


"Hei ada apa?"


"Mengapa kau ketakutan?"


"Apa kalian tidak melihat berita? Ia [Darkness] si pembunuh pahlawan"


"Astaga"


Sosok yang tak lain adalah Van berlari mengambil pisau yang ada di tangan salah satu siswi


Setelah meraih pisau, Van mengayunkan pisau tersebut ke arah leher siswi yang tadinya memegang pisau


Pisau kemudian merobek leher siswi tersebut dan darah mengalir keluar


Siswi tersebut mencoba menutup lukanya dengan tangannya namun usahanya sia-sia


Akhirnya Ia terjatuh ke tanah dan vitalitas kehidupannya benar-benar habis


Setelah itu, sebuah bola api sebesar 2 meter muncul dari belakang Van


Van kemudian melompat dan melempar pisau di tangannya ke arah siswi yang melemparkan bola api kepadanya


Pisau kemudian menancap di kepala siswa tersebut


Siswi tersebut terkejut dengan serangan Van tetapi sebelum Ia bisa tersadar dari keterkejutannya, Ia terjatuh dan mati


Adapun satu siswi yang tersisa saat ini terjatuh dan menatap Van dengan ketakutan


Van kemudian berjalan mendekatinya dan membuatnya semakin ketakutan


"Ja-jangan, jangan bunuh aku"


Saat tiba di depan siswi itu, Van berjongkok dan siswi itu bisa melihat mata Van yang dingin, datar dan tanpa emosi seolah-olah pembunuhan barusan tidak berdampak apapun padanya


"Hei dengarkan aku, saat polisi datang, katakan bahwa kau membunuh mereka...


Jika kau tidak mengatakannya, maka aku akan menyiksamu sampai-sampai kau ingin meminta kematian, paham?" ucap Van dengan suara datar dan mengancam


Siswi itu pun mengangguk lalu Van memukul perutnya


Rasa sakit yang berlebih membuat wanita itu jatuh pingsan tanpa sempat berteriak kesakitan


Van kemudian berbalik dan menatap siswi tahun pertama yang sedang menatap kosong pada mayat yang baru saja Van bunuh


Menyadari tatapan Van, wanita itu juga berbalik menatap Van


"Ada apa? Kau ingin membunuhku? Bunuh saja aku lagipula kematianku tidak berpengaruh apapun"


"Katakan namamu" ucap Van


Siswi tersebut tertegun mendengar ucapan Van namun kembali tersadar setelah beberapa saat


"Alice, tanpa nama belakang karena orang tuaku membuangku" ucap siswa tersebut


"Alice. Jika kau diberi kesempatan kedua, apa kau akan menerimanya? Balaskan semua dendammu, buktikan bahwa kau berguna" tanya Van


"Jika ada hal seperti itu, maka aku akan menerimanya" ucap Alice


Van mengangguk atas tanggapan Alice lalu melukai jarinya dan menyentuh dahi Alice


Setelah itu, darah Van mengalir keluar dan terserap ke dalam dahi Alice


Alice seketika merasa kekuatan aneh menyebar di tubuhnya dan tubuhnya dipenuhi kekuatan


...[Bawahan #1 - Alice - Telekinesis]...


[Telekinesis] : Kemampuan untuk mengendalikan suatu objek dengan kekuatan pikiran


Van pun ikut merasakan perubahan pada tubuhnya dan bisa merasakan sensasi yang sama saat kebangkitan [Skill] saat di [Aula Kebangkitan]


Bersamaan dengan kebangkitan [Skill] baru, Van juga dapat merasakan hubungan antara dirinya dan Alice


Ia merasa dapat mengetahui apa yang dipikirkan Alice, dimana Ia berada, bahkan dapat mengendalikan tindakan yang Ia lakukan. Bahkan apa pun yang Van katakan akan selalu menjadi perintah bagi Alice


Adapun Alice saat ini terdiam ketika merasa [Skill] miliknya terbangkitkan dan menatap Van dengan terkejut


Tanpa keinginannya sendiri, Alice tiba-tiba berlutut pada Van


"Mulai sekarang, lupakanlah mengenai identitasmu, tinggalkan akademi. Namun rumahmu sekarang adalah organisasi [Dark Shadow]" ucap Van dengan nada datar


"Baik Master" ucap Alice tanpa sadar lalu pergi menjauh dari akademi