THE ADVENTURES OF THE LUCKY GIRL

THE ADVENTURES OF THE LUCKY GIRL
EPISODE 19 KAU MENJADI BODOH?



Dilain Tempat, Pada Waktu Yang Bersamaan...


Dimeja Resepsionis Hotel, Pelayan Wanita Yang Sebelumnya Pernah Disuruh Oleh Reynard Untuk Menggeledah Barang-barang Rebecca, Untuk Mencari Tahu Siapa Rebecca Sebenarnya Tampak Sedang Sibuk Menerima Beberapa Surat Yang Ditujukan Untuk Beberapa Tamu Hotel.


Hingga Dia Menemukan Sebuah Surat Yang Berasal Dari Sebuah Rumah Sakit.


Disana Tertulis Jika Surat Itu Ditujukan Untuk Nona Rebecca Pricilia.


Dan Dia Dapat Membaca Semuanya...


Seketika Itu Juga Pelayan Itu Tercengang.


"Ohhh... Tuhan... Benar-benar Gadis Beruntung, Benar-benar Gadis Yang Sangat Beruntung"


Dia Berteriak Dengan Kencang Dan Penuh Dengan Kegembiraan.


Yang Membuat Semua Orang Menatap Kearah Dirinya Dengan Penuh Tanya.


Lalu Pelayan Wanita Itu Berbalik Pergi Dan Menghilang Dari Kerumunan


****************


Tok...


Tok...


Tok...


Cieet...


"Vivi"


Rebecca Terlihat Kebingungan Saat Melihat Sang Sahabat Yang Sedang Berdiri Didepan Pintunya


"Ada Vivi?"


Rebecca Keluar Dan Bertanya Dengan Ceria


"Setelah Kembali Ke Amerika, Aku Akan Lanjut Kuliah, Dan Mencari Pekerjaan Yang Lebih Baik Seperti Saranmu"


Mata Rebecca Berbinar-binar


"Benarkah?!"


Silvia Tersenyum Dan Mengangguk


"Iya, Aku Sudah Muak Dengan Reynard Yang Selalu Seenaknya Saja, Bahkan Dia Tidak Bisa Menghargai Orang Yang Lebih Tua Darinya"


Silvia Berseru Dengan Jengkel. Wajah Gadis Itu Terlihat Sangat Merah Karena Marah


"Tapi Vivi, Aku Penasaran Dengan Satu Hal"


Silvia Menatap Kearah Rebecca Dengan Wajah Bingungnya


"Kenapa? Kau Penasaran Tentang Apa?"


Rebecca Mendekat Kearah Silvia, Lebih Tepatnya Ke Telinganya


"Aku Takut Kau Marah"


Gadis Itu Berbisik Dengan Pelan, Yang Membuat Silvia Menghela Nafas Pasrah


"Tenang Saja, Aku Tidak Akan Marah"


Silvia Menatap Kearah Rebecca Dengan Yakin


"Vivi, Apakah Kau Masih Perawan?"


Rebecca Berbisik Dengan Pelan, Namun Ucapannya Membuat Silvia Menjatuhkan Rahangnya, Shock.


Silvia Menatap Kearah Rebecca Dengan Wajah Tak Percaya


Hanya Itu? Hanya Itu Yang Dia Ingin Tanyakan?


"Tentu Saja, Kau Pikir Aku Mau Tidur Dengannya"


Silvia Menjawab Dengan Cepat.


Tap...


Tap...


Tap...


"Nona Rebecca, Nona Silvia"


Seorang Pelayan Pria Datang Dengan Tergesa-gesa, Dan Memanggil Keduanya.


"Ada Apa?"


Rebecca Bertanya Dengan Heran, Melihat Pria Itu Menghampiri Mereka Dengan Tergesa-gesa


"Itu... Itu...Itu... Tuan Reynard"


Kedua Gadis Itu Menatap Kearah Sang Pelayan Dengan Jengkel


Rebecca Berkata Dengan Wajah Ganas


"Tuan Reynard, Dia Duduk Dibalkon Lantai 5 Hotel, Dalam Keadaan Mabuk Parah. Semua Orang Khawatir Takut Kalau Dia Terlalu Terbawa Pengaruh Alkohol Dan Melompat Dari Sana"


Pelayan itu Menjelaskan Dengan Panik. Selain Panik Saat Mengingat Reynard Yang Berada Dilantai 5 Hotel Dalam Kondisi Mabuk Parah, Dia Juga Panik Karena Takut Dengan Wajah Rebecca Yang Tampak Sangat Menyeramkan Karena Jengkel.


Seketika Itu Juga Keduanya Ikut Panik, Mereka Bertiga Bergegas Pergi Kebalkon Lantai 5, Yang Tempatnya Berada Dilantai Dilantai Yang Sama Dengan Lantai Tempat Mereka Sekarang Ini.


(Maksudnya Begini, Kamar Hotel Milik Rebecca Berada Dilantai 5. Tempat Itu Adalah Wilayah Kamar Tingkat A, Kamar Dengan Fasilitas Terbaik Dan Harga Terbaik [Mahal])


****************


Disisi Lain, Pada Waktu Yang Bersamaan...


Reynard, Pria Yang Baru Saja Dibicarakan Oleh Pelayan Pria Itu, Tampak Sangat Santai Duduk Dibalkon Lantai 5 Hotel


Penampilannya Tampak Sangat Kacau, Dengan Rambutnya Yang Acak-acakan, Kemeja Mewah Miliknya Terlihat Sedikit Kusut, Mata Yang Memerah, Ditambah Dengan Sebotol Alkohol Berkadar Tinggi Ditangan Kirinya, Menambah Rasa Khawatir Semua Orang


Kelakuannya Itu Membuat Semua Orang Yang Sedang Berlalu Lalang Dibawah Menjadi Panik, Bahkan Dua Orang DPR Amerika Serikat Yang Tadi Juga Berada Disana


"Ngapain Reynard Disana?" Tanya Salah Satu Diantara Mereka.


Namun Tak Lama Kemudian. Rebecca Datang, Namun Dia Hanya Sendirian, Karena Sang Pelayan Yang Pergi Menemui Meneger Hotel, Dan Silvia Sedang Menghubungi Petugas Keamanan Setempat, Untuk Mempersiapkan Bantal darurat, Karena Bisa Saja, Reynard Nekat Melompat Dari Atas Sana.


Jadi Hanya Rebecca Yang Datang Duluan. Gadis Itu Memanjat Dan Nekat Untuk Menemani Reynard Yang sedang Frustasi


Namun Tindakannya Malah Membuat Semua Orang Tambah Panik


"Astaga Ngapain Tuh Bocah?"


Salah Satu Diantara Kedua DPR Itu Kembali Berbicara


"Hey, Reynard" Sapa Rebecca Santai


Diduduk Dengan Manis Dan Tersenyum Sembari Melihat Kearah Reynard


Pria (Reynard) Melirik Sekilas Kearah Rebecca, Tampak Tak Berminat Sedikitpun


"Untuk Apa Kau Kemari? Apakah... Kau Ingin Menertawakan Aku? Heh... Aku Memang Sangat Pantas Untuk Ditertawakan"


Reynard Berucap Dengan Nada Khas Orang Mabuk, Dia Terus Berkicau Seperti Burung Yang Habis Ditindas


"Wait! Wait!!... Are You Crazy Now? Kau Menjadi Bodoh? Atau Kau Menjadi Sinting? Kurang Waras? Pendek Akal? Pendek Pikiran? Apakah Kau Pikir Semua Orang Yang Melihat Mu Akan Langsung Menertawakanmu? Apakah Kau Pikir Dengan Duduk Dibalkon Ini Akan Membuatmu Hebat?"


[Tunggu! Tunggu!!... Apakah Kamu Gila Sekarang?]


"No.... Kau Hanya Membuat Semua Orang Panik, Kau Itu Malah Akan Dicaci Maki, Bukan Ditertawakan"


"Karena Apa? Karena Kau Malah Menyusahkan, Dan Menjadi Beban!!!"


Dengan Kejam Rebecca Memukul Kepala Reynard, Mencoba Untuk Menyadarkan Pria Gila Itu.


"Aku Tau Kau Marah, Tapi Kau Tidak Perlu Memukul Kepalaku"


Reynard Berteriak Kesal Pada Rebecca. Wajah Pria Itu Memerah Antara Marah Dan Malu. Marah Karena Rebecca Yang Dengan Berani Memukulinya, Tapi Juga Malu Karena Semua Orang Sedang Menonton Keduanya Yang Bertentangan Dibalkon.


Bahkan Para Petugas Keamanan Dan Silvia Sudah Ada Dibawah, Dan Memasang Bantal Darurat Disana


"Sebenarnya Berapa Umurmu? Apakah Kau Sudah Nikah?"


Rebecca Bertanya Dengan Santainya, Tanpa Merasa Malu Sedikitpun Membicarakan Tentang Hal-hal Pribadi Orang Lain


"Aku Sudah Berusia 30 Tahun, Aku Belum Memiliki Istri, Tapi Aku Punya Seorang Tunangan, Dia Adalah Orang Yang Dijodohkan Oleh Keluarga ku Dengan Ku. Tapi Aku Tidak Menyukainya, Makanya Aku Memaksa Silvia Untuk Berpacaran Dengan Ku, Dan Memamerkan Kemesraan Kami Pada Wanita Itu, Agar Dia Menyerah Untuk Mendapatkanku Dan Membatalkan Pertunangan Ini"


Reynard Berucap Sembari Menatap Kearah Bintang-bintang, Dan Gumpalan Salju Kecil Yang Turun Dari Langit.


Pria Itu Sedang Menceritakan Kisah Hidupnya Yang Sangat Rumit, Yang Akhirnya Membuat Rebecca Tahu, Kenapa Dia Memaksa Silvia Untuk Berpacaran Dengan Dirinya (Reynard)


"Yang Lebih Penting Dari Itu Adalah Kau Itu Seorang Gadis, Jadi Kau Harusnya Malu Menanyakan Tentang Hal Pribadi Seseorang, Apa Lagi Seorang Laki-laki"


Reynard Melanjutkan Ucapannya Dan Kembali Meneguk Alkohol Ditangan Kirinya.


"Kenapa Kau Berada Disini?"


Rebecca Bertanya, Namun Tidak Mengalihkan perhatiannya Dari Bintang-bintang Yang Berada Dilangit


"Aku Hanya Merasa Sangat Frustasi. Perusahaan Kragen Group Merupakan Perusahaan Milik Keluarga ku, Aku Tidak Mau Lagi Bergantung Pada Mereka, Karena Itu Aku Memulai Projects Baru, Dan Mengundang Tiga DPR Amerika Serikat Untuk Menyuap Mereka Dengan Halus Demi Untuk Memperlancar Projects Baru Milikku"


"Tapi Aku Gagal, Dan Projects Baru Milikku Itu Sudah Tidak Memiliki Harapan Lagi"


Reynard Menundukkan Kepalanya Frustasi


"Aku Hanya Ingin Keluar Dari Pengawasan Mereka, Keluar Dari Belenggu Mereka, Keluar Dari Perintah Mereka"


Reynard Melanjutkan Ucapannya Dengan Nada Sedih, Dia Hampir Gila Memikirkan Semuanya.


...****************...


......................


......................


......................