
...Selamat datang dan silahkan menikmati aksara Author....
...Bagaimana kabarnya hari ini? Bagaimanapun hari kalian, seberapa lelah kalian hari ini. Kalian hebat....
...Absen dulu!...
...Di mana kalian menemukan cerita ini?...
...Jam berapa baca cerita ini?...
...🤯🤯🤯...
Bisma menatap Seline dengan tatapan tajam yang seakan-akan dapat membunuh Seline. Lalu, apakah kau tahu, bagaimana dengan respon Seline?
Seline terdiam tanpa ekspresi. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi di sini. Seingatnya dia hanya ingin mengambil berkas, kemudian berkas-berkas itu tiba-tiba saja berjatuhan dan terakhir Lila sudah tertimpa oleh tumpukan-tumpukan berkas tebal.
"Kenapa malah diam saja, segera minta maaf!" Suara Bisma terdengar begitu dingin, terlihat sekali pria itu sedang dalam keadaan marah.
Citra dan Lilis segera berlari menghampiri Lila dan mencoba untuk menenangkan gadis itu.
"Kau gadis j*lang, beraninya kau melakukan hal ini kepada, Lila?!" Citra yang memiliki emosi di bawah standar langsung membentak Seline.
"Kau pasti sengaja melakukan hal ini! Kau pasti tidak senang kalau pertunangan mu dibatalkan oleh Bisma dan lalu mencelakai Lila!" Citra masih berteriak keras. Dia kemudian melangkah mendekati gadis itu, dengan tangan terangkat.
"Biarkan aku yang membalas dendam untuk, Lila," ucapnya, sambil melayangkan tamparan. Seline dengan tenang menangkap tangan Citra, "sepertinya kau tidak belajar dari pengalaman, ya?"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Citra, "membalaskan dendam untuk Lila?" Seline menyeringai.
"Sejak tadi kalian terus saja berbicara omong kosong, apakah kalian semua berkepala besar? Begitu percaya diri menyombongkan sesuatu yang belum tentu benar. Kalian tidak lain hanyalah katak dalam sumur. Begitu berpikiran sempit."
Citra terdorong mundur beberapa langkah, dia langsung menyentuh pipinya yang terasa pedih karena tamparan Seline.
"Be-beraninya, kau!" Citra mundur ke belakang, meskipun dia takut, akan tetapi matanya masih menunjukkan kebencian yang mendalam.
"Kau menganggap aku apa?! Mencelakai siswi di depan OSIS, sepertinya kau tidak lagi menghargai OSIS." Bisma yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara. Wajah tampan pria itu berubah menjadi merah, saking kesalnya. Dia menatap tajam Seline.
"Jika kau meminta maaf, aku tidak akan memperhitungkan masalah ini," ucapnya yang berhasil membuat Seline tertawa.
Seline membalas tatapan tajam Bisma dengan tatapan mata yang tidak dapat ditebak. Dia kemudian melangkah mendekati Bisma. Mengikis jarak antara keduanya.
"Kenapa aku harus meminta maaf?" Seline bertanya dengan nada tak kalah dingin.
"Apakah kau pernah mendengar kalimat, jangan minta maaf jika kau tidak tahu apa kesalahan mu?" bisik Seline ke telinga Bisma. Dia lalu berjalan mendekati Lila yang masih terduduk diam di tempat dengan wajah polosnya.
Senyuman miring terlukis pada wajah cantik itu, "terimakasih." Lila mendongak menatap Seline, tidak mengerti dengan maksud gadis itu.
Seline menyentuh berkas-berkas pada rak, matanya yang jernih menatap lurus pada berkas-berkas itu. "Terimakasih, karena telah memberiku alasan untuk membalas perbuatanmu," ucapnya, lalu dengan satu tarikan cepat. Berkas-berkas itu berjatuhan menimpa tubuh Lila.
Ya, Seline dengan sengaja menjatuhkan berkas-berkas itu dan membuatnya berjatuhan mengenai Lila, yang sedang terduduk di lantai. Semua orang yang berada di sana benar-benar terkejut dengan sikap Seline.
Bagaimana bisa dia melakukan kejahatan di depan semua orang seperti ini?
"Semoga kau tidak mengalami gegar otak ringan." Seline melambaikan tangannya dan melenggang pergi dari ruangan itu, tetapi saat baru beberapa langkah dia kembali berbalik.
"Oh, iya. Berhenti berpikir kalau aku masih gadis yang cinta mati kepadamu! Aku terlalu luar biasa untuk orang seperti mu. Camkan itu!" Setelah mengatakan hal itu, Seline benar-benar pergi dari ruangan dan mengabaikan bisik-bisikkan orang-orang yang semangkin prihatin kepada Lila.
Namun, ada sesuatu yang berbeda. Seorang pria sedari tadi terus tersenyum melihat tingkah Seline.
"Seline Elson. Gadis itu sungguh menarik," ucapnya tanpa siapapun ketahui.
***
Lila mengepalkan tangannya kuat, giginya bergemeletuk, menahan kesal kepada Seline. Niatnya adalah untuk mencelakai Seline dan membuatnya semangkin dibenci oleh Bisma.
Ya, Lila dengan sengaja mengatur skenario ini. Dia adalah orang yang bertanggung jawab atas semua ini. Lila yang mengatur untuk menjadi anggota OSIS sementara dan dia juga yang mengatur seseorang untuk memasang jebakan para rak.
Jadi, saat Seline mengambil berkas. Berkas-berkas akan terjatuh dan mengenainya. Sehingga Seline akan disalahkan karena dengan sengaja mencelakainya.
Namun, siapa sangka kalau Seline akan membalasnya langsung. Tidak. Dia tidak akan berdiam diri. Seline akan membayar semua ini, nanti.
***
"Menjadi OSIS?" Pekik Tio sok histeris. Membuatnya menjadi menyebalkan.
"Sebenarnya apa yang Anda lakukan sih? Nona apa kau ingat dengan janjimu saat kita akan berangkat? Kau bilang kau tidak akan membuat masalah saat di sekolah," rengek pemuda tampan itu.
Seline menatap Tio, "membuat masalah? Tidak. Yang benar adalah menghadapi masalah. Revisi lagi kata-katamu!"
"Lalu apa yang harus kita lakukan dengan video yang sudah tersebar di internet ini? Semua ini akan berdampak pada perusahaan Tuan dan posisi Anda sebagai ahli waris. Nona Lila pasti tidak akan diam saja. Dia pasti akan membalas Nona," ujar Tio.
Seline manggut-manggut, dia memang berpikir seperti itu. Lila bukan seseorang yang akan diam saja dan melupakan dendam hari ini. Dia pasti akan membalas Seline, cepat atau lambat. Di tambah, Lila adalah gadis yang pintar dan ambisius, akan cukup sulit untuk Seline menghadapinya nanti.
"Menurut mu, jika aku mencoba untuk mandiri apakah nenek tua itu akan mengijinkannya?" tanya Seline.
"Nona apa maksudmu? Apakah kau sedang sakit? Kenapa sikapmu semangkin aneh saja?" Tio bertanya dengan khawatir.
***
Sebuah mobil hitam terparkir di depan sebuah gedung apartemen sederhana. Tidak ada istimewa, hanya sebuah apartemen lama dengan dua lantai dengan cat yang sudah luntur dan terkelupas.
"Apakah kau yakin dengan hal ini, Seline?" Raut wajah Diana terlihat begitu khawatir, dia sangat terkejut saat Seline bilang kalau dia ingin mencoba hidup dengan mandiri. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, Vivian dan Adam juga setuju dengan itu.
Entahlah, Diana tidak tahu bagaimana cara Seline membujuk kedua orang itu.
Seline mengambil alih kopernya yang baru saja Tio keluarkan dari bagasi.
"Ibu aku sudah bilang kalau aku akan baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir. Aku bisa melindungi diriku sendiri," ucap Seline mencoba menenangkan Diana.
Raut wajah Diana tidak berubah, masih saja menampilkan ekspresi tidak bersedia, "Sayang, mama tahu betul bagaimana pahitnya kehidupan yang akan kamu jalani. Kau masih terlalu muda untuk merasakan kesulitan itu, jadi lebih baik kau tetaplah tinggal di rumah."
"Aku tidak akan pernah bisa terbang, jika aku tidak tahu bagaimana rasanya terjatuh. Aku pasti bisa bertahan dan membuktikan kepada mereka kalau anak manja ini telah menjadi anak yang luar biasa."
Diana tersenyum mendengar perkataan Seline. Begitu dewasa sudah gadis kecilnya. Diana sungguh bersyukur dan beruntung karena bisa menjadi seorang ibu dari Seline Elson.
...🤯🤯🤯...
...Bagaimana pendapatmu tentang bab ini?...
Setelah baca yuk kasih jempol sama komentar semangatnya😘