Sweet Antagonist

Sweet Antagonist
Bagian 11. Menjadi Teman



Selamat malam, gimana nih kabarnya?


Ada yang rindu sama Seline?


💮💮💮


Kris menatap orden yang bergoyang, tertiup angin. Langit biru terlihat dari jendela kayu yang terbuka. Dia mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru ruangan. Bosan. Tidak ada apapun di sini, hanya ruang kecil dengan perabot seadanya. Bahkan televisi pun tak ada untuk menghilangkan rasa bosannya.


Sedari tadi yang Kris lakukan hanyalah seperti orang bodoh. Diam, bernapas, dan menatap langit-langit rumah kecil ini. Ya, yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah menunggu kedatangan gadis cerewet yang mata duitan itu.


Kris Alaxander merupakan pewaris utama dari perusahaan terbesar di Negara M. Perusahaan Trisha, yang sedang saat ini sedang dalam tanggung Sang Ayah, Erik Alexander. Karena alasan itulah Kris sering sekali berada dalam bahaya, banyak musuh yang begitu menginginkan nyawanya. Selain adalah pewaris utama perusahaan, Kris juga merupakan ketua mafia Asura yang saat ini sedang marak dibicarakan oleh orang-orang di dunia bawah karena selain misterius, mereka juga berhasil mengalahkan pamor dari Geng Sayap Hitam.


Kris mengumpat, saat menyadari kalau ponselnya sudah tidak ada. Ah, dia ingat, karena dijebak oleh seseorang dan berusaha untuk menyelamatkan diri. Ponselnya terjatuh dan sekarang entah di mana. Satu-satu cara untuk membuang rasa bosannya saat ini adalah dengan mencari sesuatu atau melakukan sesuatu yang ada di rumah kecil ini.


Kirs melirik ke sebuah pintu kayu dengan cat biru yang sudah mulai luntur, dengan langkah tertatih dia berjalan menuju kamar Seline. Entahlah, dia hanya merasa penasaran saja.


Asumsi bahwa kamar Seline akan berwarna pink dengan banyak boneka hancur seketika. Kris tidak menyangka bahwa kamar gadis itu sangat menyedihkan. Pantas saja, gadis itu begitu mata duitan. Hanya ada meja belajar tua, lemari kayu yang sudah kelapukan dan kasur kecil. Kris berjalan menuju meja belajar Seline. Berkat obat yang Seline berikan, luka yang dia alami sudah tidak terlalu sakit. Mungkin jika dia dirawat di rumah sakit, saat ini ia masih akan terbaring tidak berdaya.


Kris mengambil salah satu buku yang berada di atas meja, “Kenapa gadis begitu menyukai novel seperti ini,” gumannya saat melihat judul novel romantis milik Seline. Saat sedang memilah-milah novel romantis yang ingin dibacanya, sebuah buku dengan sampul biru tua menjadi pusat perhatian Kris. Dia pun memutuskan untuk membaca buku itu, sambil tiduran di kasur Seline.


💜💜💜


“Sungguh?!” teriak Seline. Gadis itu langsung berdiri dengan raut wajah yang sangat terkejut. Dita hanya tersenyum melihat tingkah Seline. “Aku tidak tahu kalau Papa mu adalah CEO perusahaan kecantikan. Aku hanya berpikir kalau dia hanya memiliki sebuah toko kecil,” ujar Seline.


Sungguh, dia merasa sangat bersalah. Lain kali dia harus mencari tahu latar belakang orang-orang di dekatnya, agar tidak asal menyimpulkan seperti ini.


“Tapi, kenapa kau sama sekali tidak seperti Nona dari keluarga kaya? Kau lebih terlihat...” Seline menggantungkan kata-katanya. Ekspresi ragu terlihat jelas pada wajah gadis itu. Dita kembali tertawa, “itu karena aku merasa lebih nyaman dengan ini. Dan juga, aku tidak memiliki rasa percaya diri seperti mu. Karena kau lah, aku yang sekarang memiliki keberanian untuk menatap ke depan.”


Kali ini Seline yang tertawa, entah kenapa kata-kata yang diucapkan oleh Dita terdengar lucu dan cukup menyentuh. Padahal mereka hanyalah tokoh novel yang tidak nyata. Mereka hanyalah tokoh fiksi yang tercipta oleh imajinasi penulis, tapi kenapa terasa begitu hidup? Dan Seline tidak tahu, kapan mimpi ini akan berakhir, apakah hidupnya akan terus seperti ini? Tidak. Dia tidak bisa terus terlena dengan semua ini, Seline masih memiliki hal harus dia lakukan.


Suara notifikasi masuk, Seline melihat layar ponselnya. Sebuah pesan dari grub mata pelajaran kedua masuk. Sebuah pesan yang berhasil membuat wajah lesu siswa-siswa langsung berseri. Karena berhalangan masuk, Bu Ani tidak jadi masuk ke kelas dan otomatis mereka bisa pulang cepat.


“Oh, sudah lama aku tidak merasa sebahagia ini. Memang tidak ada yang lebih membahagiakan daripada jam kosong.” Seline meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Kantuknya sudah hilang, tidur dengan materi yang disampaikan oleh Bu Ramida memang dongeng yang terbaik. Hasilnya sudah sangat terbukti, setelah keluarnya Bu Ramida, mata Seline menjadi lebih fresh dan semangatnya juga sudah penuh.


“Dita karena kau seorang nona dari keluarga kaya, apakah kau membawa mobil?” tanya Seline. Tangannya sudah gatal untuk meracik suatu obat, dan kabar baik bahwa papanya Dita ingin menandatangin kontrak dengannya juga menambah semangat seline untuk secepatnya menjadi kaya.


Dita mengangguk, mereka pun memutuskan untuk berangkat sekarang. Dita mengantar Seline ke tempat yang pernah Seline kunjungi untuk membeli rempah-rempah dan tanaman obat. Letak toko yang berada jauh dari kota M membuat Seline agak kesulitan jika stok persediaan yang dia miliki habis. Karena itulah, Seline sangat gelisah saat Tio tidak pernah menghubunginya beberapa hari ini, dia jadi tidak bisa memperpudak kakak angkatnya itu untuk dimintai tolong, karena selain orangnya penurut, Seline juga bisa menghemat biaya pengeluarannya karena biaya yang dikeluarkan bukanlah dari dompetnya, melainkan dompet Tio.


💜💜💜


Kris tersenyum membaca isi buku bersampul biru tua itu. Awalnya dia sedikit merasa aneh, karena isi buku itu seolah-olah adalah ramalan yang akan terjadi untuknya dan gadis itu. Di dalam buku ini, Kris akan masuk ke dunia mafia untuk balas dendam dengan Bisma karena telah menghancurkan keluarganya. Karena tidak berhati-hati, Kris malah masuk dalam jebakan Bisma dan berakhir masuk dalam penjara. “Sebenarnya siapa gadis ini sebenarnya,” guman Kris dengan tersenyum. Dia semangkin tertarik untuk mencari tahu lebih jauh diri Seline.


Suara deru mesin mobil terdengar, kemudian suara pintu terbuka dan langkah kaki. Kris memutuskan untuk keluar dan menyambut kedangan Seline. Di muka pintu, Kris menatap semua yang Seline lakukan. Mulai dari meletakkan 2 kantong besar plastik di atas meja kopi, dan mengambil air dingin di kulkas.


“Aku tidak tahu, kalau selain seorang dokter kau juga adalah seorang paranormal.” Kris menghampiri Seline, dia menunjukkan buku dengan sampul biru tua kepada Seline. Sudut bibirnya tertarik saat melihat kedua bola mata Seline membesar. Sepertinya dia telah menemukan rahasia yang penting.


Seline melotot saat melihat buku catatan yang dipegang oleh Kris. Ya, Seline memang sengaja menulis ulang cerita novel itu. Alasannya adalah agar dia tidak melupakan alur dari novel itu, Seline membutuhkan itu agar dia bisa terhindar dari hal yang akan membuat bendera kehancurannya berkibar. Dengan langkah cepat Seline menghampiri Kris, dia berusaha merebut buku itu.


Namun, dengan usilnya, Kris malah mengangkat buku itu ke atas membuat Seline kesulitan untuk mendapatkannya. Tingginya yang terpaut jauh dengan Kris benar-benar membuat Seline ingin memukul kepalanya dan membuatnya menjadi pendek.


“Seline.”


💮💮💮


Sampai jumpa besok malam di jam 23.59 WIB😘