Sweet Antagonist

Sweet Antagonist
Bagian 27. Telur Gratis



Lila menatap pantulan dirinya di cermin, tatapan mata penuh kebencian terlihat dari dalam kaca. Ucapan Seline siang ini benar-benar membuat Lila ingin mencabik-cabik wajah itu.


"Sial!" Lila memukul-mukul meja riasnya dengan penuh amarah. Bagaimana bisa dia terjebak oleh permainannya sendiri?


Namun, sesaat kemudian dia kembali tersenyum. "Masa bodoh, si pengecut itu hanya ingin mengancam ku, dia sama sekali tidak punya bukti kalau wanita di foto itu adalah aku. Nah, Seline menurut mu apakah besok kau akan tetap tertawa?"


Ponsel Lila berbunyi, dia langsung menyambar ponsel yang berada di depannya. Menatapnya sebentar untuk mengetahui siapa yang menghubunginya malam-malam begini.


Bibi Oliv


Aku butuh uang!


Lila memutar matanya malas, dengan ketus dia mengetikkan sesuatu di papan keyboard ponselnya.


Anda


Bukankah aku sudah mengirimkan uang seminggu yang lalu?


Bibi Oliv


Bukankah kau sudah kaya?


Apakah setelah kau menjadi kaya, kau lupa siapa yang dulu merawat mu dan menjadikanmu seperti sekarang?


Anda


Tidak. Aku tidak bisa sekarang.


Nenek akan curiga kalau aku menghabiskan banyak uang.


Bibi Oliv


Apakah karena sudah kaya kau berani melawanku?


Jangan lupa, karena aku, kau bisa menjadi putri keluarga Elson.


Ingatlah status mu!


Kau hanyalah putri palsu.


Jangan sampai aku membongkar semua ini.


Lila meremas ponselnya, karena kesal. Dia tidak akan pernah menang dengan si rubah pemeras itu.


Anda


Akan ku kirimkan besok.


***


"Eh, aku melihat orang tidak tahu malu datang ke sekolah."


"Kalau aku jadi dia aku pasti akan malu untuk menunjukkan wajah ku ke orang-orang."


"Hei, bukankah Seline sedari dulu sama sekali tidak punya malu?!"


Seline terus melangkah menuju kelas, mengabaikan perkataan dan tatapan menghina dari orang-orang. Pikirannya sekarang adalah bagaimana mendapatkan uang yang banyak dan menyelamatkan perusahaan papanya.


Krak!


Seline menghentikan langkahnya, saat seorang siswi melemparkan telur ayam ke kepala Seline. bau amis telur menyengat, mengenai rambutnya panjangnya.


Dia berbalik, melihat siapa yang begitu berani mengganggunya.


Namun...


Krak!


Krak!


Krak!


Telur-telur itu terus-menerus berdatangan tanpa henti.


"Hei, Seline apakah kau mau menghabiskan malam dengan kami? Aku jamin 7 pria akan lebih memuaskan mu dibandingkan dengan 4 gigolo itu." tawa siswa laki-laki pecah setelah mengucapkan kalimat itu.


Seline terkekeh mendengar pembicaraan orang-orang. Manusia memang sangat lucu, pikirnya. Sekarang dipikirkan Seline adalah, mungkin tidak ada salahnya untuk menjual organ dalam mereka.


Seline menutup matanya, saat orang-orang di sana kembali melemparkan telur kepadanya, Seline tidak merasakan kalau telur itu mengenai. Melainkan...


"Apakah bagian ini tidak termasuk ke dalam ramalan mu?"


Seline mendongak. Sekarang dihadapannya, sepasang manik hitam legam sedang menatapnya.


Kris, laki-laki itu tersenyum lembut kepadanya. "Rupanya ada kalanya gadis seperti mu tidak berdaya," tangannya bergerak menyentuh rambut Seline. Membuang cangkang telur yang ada di kepala gadis itu.


"Kau..."


Manik hitam Kris yang awalnya menatap ke arah rambut Seline kembali beralih ke wajah cantik gadis itu.


"Apakah kau tersentuh?"


"Tidak." Seline menggeleng, "bau mu seperti telur busuk."


Senyuman Kris sirna seketika, wajahnya berubah masam. Dia berbalik menatap dingin orang-orang yang sedang berkerumun di belakangnya. "Liam, kau tahu apa yang harus dilakukan." Kemudian setelah mengatakan hal itu, dia menarik Seline pergi.


***


Seline keluar dari ruang ganti dengan pakaian olahraga kebesaran milik Kris.


Kris sudah menunggu, pria itu sudah terlihat cukup baik dari sebelumnya. Selain sikapnya yang terlalu narsis, semuanya yang melekat pada Kris adalah sebuah kesempurnaan.


"Apa yang terjadi kepadamu?" tanyanya tanpa menatap Seline. Manik hitam itu menatap lantai yang dingin.


"Apa yang terjadi? Bukankah hubungan kita tidak sedekat itu?"


Kris terkekeh mendengar jawaban Seline, dia mendongak menatap wajah cantik Seline. "Lalu? Bagaimana hubunganmu dengan keluargamu? Seline Elson, rasa takutmu itu benar-benar lucu."


Seline membalas tatapan Kris dengan tatapan tajam, "hanya karena kau mengetahui rahasiaku, bukan berarti kau bisa mengancam ku untuk mengikuti semua keinginan mu."


Kris berdiri, melangkah mendekat ke arah Seline, membuatnya refleks melangkah mundur.


"Aku tidak meminta mu untuk mengatakan semuanya, tapi kau yang akan mengatakannya kepadaku. Tentu saja dengan sukarela."


Kris melangkah mundur, "ada sesuatu yang harus ku urus. Kembalikan setelah kau cuci."


Kris meninggalkan Seline seorang diri.


"Dia sebenarnya menyukai ku atau tidak? Kenapa benar-benar sulit untuk dimengerti?" Seline menghentakkan kakinya kesal.


"Baiklah, Seline. Kau harus menjadi dirimu sendiri! Dan untuk Lila, lebih baik aku meminta Deri untuk membalasnya."


***


Sekolah tampak lebih sepi dari biasanya. Banyak siswa siswi yang sedang berkumpul di ruangan olahraga.


Tidak. Lebih tepatnya dipaksa untuk berkumpul di ruangan ini.


Noah terus menghitung telur-telur di dek, senyuman di wajahnya sama sekali tidak memudar memikirkan apa yang akan dia lakukan nanti.


Sekarang, ia hanya perlu menunggu bos besar untuk memberikan perintah.


"Kau terlambat," ucap Noah.


Kris mengedarkan pandangannya, "apakah sudah semua?" tanyanya kemudian.


"Semua sudah siap, kami hanya menunggu perintah mu."


"Lakukanlah!" perintahnya.


Orang-orang yang sedang berada di sana menunduk takut.


"Tuan Muda, kami sama sekali tidak sengaja melakukannya. Ini semua adalah salah Seline!" seorang gadis merangkul kaki Kris.


"Apakah kau baru saja bilang, bahwa ini semuanya ini adalah salahku?" tanya Kris.


💮💮💮


Otak mumet, semoga terhibur.