Sweet Antagonist

Sweet Antagonist
Bagian 14. Pusat Perhatian



Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dengan like, dan komentar 🤗


Boleh juga nih, kalau ada yang mau meletakkan kopi dan setangkai bunga untuk Seline🤗


💮💮💮


Seline melangkah masuk ke dalam toko pakaian, masih tidak ada tanda-tanda batang hidung Kris akan muncul. Ingin menghubungi, Seline tidak tahu nomor ponselnya ditambah, Kris tidak memiliki ponsel.


Semoga saja, anak itu tidak benar-benar meninggalkannya. Jika seperti ini, akan sangat berbahaya untuk dompet Seline.


Sejak dulu, Seline memang tidak terlalu suka berbelanja. Dia juga sangat jarang menghadiri acara-acara atau pesta-pesta, Seline lebih senang menghabiskan waktunya untuk bekerja dan mendapatkan uang. Mungkin inilah sifat yang sangat tidak bisa dia sembunyikan. Orang mana di dunia ini yang tidak menyukai uang?


Karena Seline hanya menggunakan pakaian kasual dan terkesan sangat sederhana, pelayan di toko menatap Seline dengan pandangan sinis. Yah, mungkin mereka beranggapan kalau pakaian yang dikenakannya adalah pakaian yang lusuh. Lihat saja para pelanggan di toko ini, semua pakaian yang dikenakannya berasal dari brand ternama di dunia.


Seline yakin, satu pakaian itu bisa untuk membeli satu rumah.


Oke, lupakan dulu tentang itu. Tujuannya ke sini adalah untuk mencari gaun untuk menghadiri pesta, bukan menghitung harga pakaian yang dikenakan orang-orang.


Jika saja, Seline tidak habis mengobral semua gaunnya, mana mungkin Seline membeli lagi. Dia lebih baik menggunakan gaun pesta lamanya, dari pada harus membuang-buang uang hanya untuk dikenakan satu kali.


Dan, kenapa juga dia harus membeli pakaian di Mall yang harganya berkali-kali lipat dengan harga di toko pakaian biasa?


Apakah dia perlu memutar tubuhnya, dan kembali?


Seline yang sedang berpikir keras menjadi pusat perhatian perhatian di toko itu. Tidak hanya pelayan laki-laki yang dibuatnya terpesona, bahkan beberapa laki-laki yang sedang menemani istri ataupun pacarnya juga sempat terpana dengan Seline. Gadis cantik dengan rambut panjang bergelombang yang dibiarkan terurai, bibir ranum yang kecil serta hidung mancung dan bulu mata yang panjang dan lentik.


Jika saja mereka tidak memiliki pacar atau istri, mungkin laki-laki itu sudah berlari ke arah Seline. Melihat pacarnya atau suami mereka memperhatikan gadis lain, sontak wanita-wanita itu menarik telinga lelakinya dan keluar dari toko pakaian, sambil ngerocos tidak karuan.


***


"Berikan kepada ku gaun terbaik kalian, dan harganya harus di bawah 1 juta rupiah." Pelayan wanita itu melotot tidak terpercaya dengan perkataan Seline. Mana ada harga gaun terbaik semurah itu, ini bukan tempat obral pakaian apalagi pasar.


"Maaf, Nona. Kami tidak memiliki yang seperti itu." Pelayan itu berucap sopan, tidak mau membuat masalah yang bisa berakibat perpotongan gaji. Bisa nunggak cicilan air untuk mandi.


"Tidak punya?" Seline menoleh singkat, kemudian berjalan menghampiri sebuah gaun berwarna hitam, Seline menangis dalam hati saat melihat harga pakaian yang mencapai ratusan juta, padahal modelnya sama saja dengan daster emak-emak yang tinggal di sebelah rumahnya. Bedanya, hanya diberikan ikat pinggang atau tidak.


Fokus Seline kemudian tertuju ke sebuah gaun berwarna biru malam. Gayanya yang cukup unik mampu menarik perhatian Seline. Gaun itu tidak terlalu panjang, hanya sebatas betis, bagian dadanya sedikit terbuka dengan model lengan panjang balon.


"Aku ingin ini," ucap Seline, akan tetapi sebelum pelayan wanita itu hendak mengambilnya sebuah tangan lebih dulu mengambil pakaian itu.


"Oh, lihatlah siapa yang baru kita temui." Citra, dia adalah orang yang merebut gaun yang diinginkan Seline, tatapan merendahkan dia tujukan kepada Seline. Seline memutar mata, jengah. Akan ada drama sebentar lagi.


"Citra," seru Lila, dia menghampiri Citra bersama Lilis. Gadis itu berpura-pura terkejut saat ia melihat Seline, "Seline lama tidak bertemu," ucap Lila basa-basi.


"Apa yang ingin gadis yang sudah jatuh miskin seperti mu lakukan di sini?" tanya Citra, tatapan merendahkan orang itu sama sekali tidak berubah.


Seline hendak membalas ucapan Citra, akan tetapi gadis itu dengan segera membelakanginya, seolah-olah Seline tidak ada sama sekali.


"Lila, aku menemukan pakaian yang sangat bagus untuk mu di pesta nanti, kau pasti akan menjadi seorang putri," jelasnya, Citra kemudian menyerahkan gaun itu kepada Lila. Lila hanya tersenyum, dan menerima gaun itu. Sebenarnya, dia juga sedang mengincar gaun itu, akan tetapi saat melihat Seline sudah mendahuluinya, Lila pun berpura-pura, kalau dia baru saja melihat Seline. Memanfaatkan rasa tidak suka Citra kepada Seline, memberikan keuntungan tersendiri baginya.


Seline kemudian menuju sebuah gaun panjang berwarna persik, dengan gaya anggun. Namun, lagi-lagi Citra kembali merebut itu. "Tolong kemas pakaian itu," ucapnya kepada seorang pelayan. Pelayan itu pun membawa gaunnya dan bersiap untuk mengemasnya.


Senyuman penuh kemenangan tercetak jelas di wajah Citra dan Lilis.


^^^Apa mereka sedang ingin bermain-main dengan ku?^^^


Seline memilih asal setiap pakaian, dia sengaja melihat harga pakaian terlebih dahulu dan berpura-pura seolah-olah dia menginginkannya, dan seperti tebakannya Citra dengan sombongnya merebut gaun itu.


Bahkan hampir seperempat gaun telah dibeli oleh Citra Seline tertawa senang melihat kebodohan Citra, sedangkan Lila mengumpat penuh kebencian dalam hati.


Citra begitu bodoh sehingga mau-mau saja dipermainkan oleh Seline dan apa yang lebih membuat Lila kesal adalah, semua pakaian yang dipilih oleh Citra itu akan masuk ke dalam tagihannya.


"Nona apakah Anda sudah siap membayar?" seorang pelayan menghampiri Citra dengan membawa sebuah nota pembelian, dia menyerahkannya kepada Citra dan seketika wajah penuh kesombongan itu menjadi pucat pasi.


Setiap gaun yang dia rebut dari Seline seharga ratusan juta. Citra menoleh ke belakang, meminta bantuan Lila, bagaimana pun dia melakukan itu demi memberikan Lila muka di depan Seline. Namun, harapan bahwa Lila akan membantunya tidak terjadi, gadis itu menoleh ke arah lain, begitu juga Lilis.


"Apakah Anda ingin membayar menggunakan cash atau kartu?" pelayan itu mulai mendesak, membuat tawa Seline semangkin keras.


"Apa yang lucu sehingga membuat mu begitu bahagia?"


Seline terkejut saat Kris tiba-tiba muncul dan menyandarkan dagunya ke kepala Seline.


"Tidak ada. Ku pikir kau sedang melarikan diri," jawab Seline.


Kris melingkarkan kedua tangannya ke perut Seline, membuat mereka terlihat seperti pasangan yang sedang memadu kasih, "apakah aku terlihat seperti seorang yang tidak bertanggungjawab di matamu?"


Seline melepaskan pelukan Kris, "Kalau begitu tepati janjimu sekarang," ucapnya yang berhasil membuat Kris tersenyum.


Kris memutar tubuh Seline menghadapnya, "Bagaimana kalau kita mengisi perut terlebih dahulu," ucap Kris dan berhasil membuat wajah Seline yang semula kesal kembali berseri-seri.


***


Di kediaman Elson, pesta sedang berlangsung. Musik piano dari seorang pianis terkenal mengalun indah dan memberikan kesan mewah nan elegan pada pesta ulang tahun itu.


Dengan gaun mewahnya, Seline melangkah masuk dengan penuh kepercayaan diri yang tinggi. Jika biasanya Seline selalu tampil dengan gaya yang bebas dan santai, sekarang gadis itu tampil dengan gaya elegan bak seorang putri. Gaun perwarna bewarna persik yang indah, serta gaya rambut yang disanggul dengan menawan.


Semua mata tertuju kepadanya malam ini, seketika menjadikannya pusat perhatian pada pesta tersebut. Kecantikan dan sikap Seline yang seperti seorang bangsawan, wajahnya yang penuh percaya diri dan terkesan penuh wibawa pun membuat para tamu memuji kesempurnaan seorang Seline Elson.


💮💮💮


Yuk, jangan lupa di like


Lempar setangkai mawar dan beri secangkir kopi yuk untuk Seline🤗


Ketemu lagi nanti, kalau khilaf dan up 1 episode lebih 😅