Sweet Antagonist

Sweet Antagonist
Bagian 21. Kucing atau Macan?



Sorry telat, ide tiba-tiba terbang๐Ÿ˜“๐Ÿ™๐Ÿป


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Barra Victoria, siapa yang tidak mengenal pria itu. Tuan Muda dari keluarga ternama itu merupakan seorang laki-laki yang menawan yang penuh pesona bak seorang pangeran.


Rambut putihnya melambai-lambai tertiup angin, saat ini dia tengah berada di sebuah kapal pesiar. Menikmati hari liburnya setelah seminggu penuh menghabiskan waktu di sekolah.


Tahun ini, usianya genap 20 tahun. Karena permintaan sang kakek, Barra harus rela kembali mengulang ke sebuah sekolah menengah dan menyembunyikan identitas aslinya, terutama umur dan nama keluarganya.


Namanya memanglah terkenal, akan tetapi hanya beberapa orang saja yang tahu pasti dengan sosok aslinya.


"Tuan Muda." Seorang pelayan menghampirinya.


Barra menyesap anggurnya, menikmati setiap sensasi rasa alkohol yang memabukkan.


"Apakah dia pulang dengan selamat?" tanya Barra tanpa basa-basi. Setelah pertemuan tadi, Barra menyuruh orangnya untuk mengawasi Seline dan memastikan kalau gadis itu berhasil pulang dengan selamat.


"Orang suruhan kita memang melihat Nona muda pulang dengan diantar oleh Tio, tapi ada beberapa orang yang sudah menunggu dan mencegat Nona di tempatnya."


"Lalu?" Barra menegak habis minumannya.


"Nona berhasil mengatasinya dan sepertinya orang-orang yang berniat mencelakai Nona muda adalah dari Asura." Pelayan itu kembali melanjutkan.


"Asura?" Barra tersenyum, "sejak kapan mereka mau melakukan hal seperti itu?" tanyanya tidak mengerti.


Asura. Barra mengenalnya, itu adalah geng baru yang berdiri beberapa bulan lalu, tapi sudah berhasil menguasai kota M. Meskipun Barra tidak terlalu peduli dengan sekelompok geng kecil itu, tapi prestasi mereka yang hampir menggeser posisi geng Sayap Hitam cukup membuatnya tertarik.


Karena rasa ketertarikan itulah dia menyuruh orangnya untuk mencari informasi-informasi mengenai Asura. Namun, karena keamanan data yang mereka miliki begitu tinggi, bahkan transaksi apa atau kegiatan apa saja yang mereka lakukan pun Barra tidak dapat ketahui.


Yang dia ketahui, hanyalah hal yang tidak mungkin dilakukan oleh mereka. Mereka sangat jarang terdengar membuat masalah, seperti memper*osa anak gadis, mencuri atau apapun yang mengganggu masyarakat kota.


"Ada satu hal lagi yang perlu saya sampaikan," kata pelayan itu dengan kepala menunduk.


"Sepertinya Nona muda hendak membentuk sebuah geng."


"Apa?!" teriak Barra kaget, dia bahkan tersedak oleh ludahnya sendiri saking kagetnya.


Nah, sekarang apa yang harus dia laporkan kepada sang kakek?


***


Seline memutar-mutar belati di tangannya, raut wajahnya berubah serius. "Baiklah, aku sudah memutuskannya," ujarnya.


"Perintahnya pertama yang akan ku berikan kepada kalian, adalah untuk ikut dengan ku. Mulai sekarang aku juga akan membentuk sebuah geng, dan nama gengnya adalah..." Seline menggantungkan kembali kata-katanya, matanya menatap sekitar, mencari sesuatu yang dapat dijadikan sebuah referensi untuk nama Geng.


Kemudian, matanya tidak sengaja melihat sampah kotak pizza di samping tempat sampah. Membuat perutnya seketika keroncongan.


"Baiklah, Wizard saja." Akhirnya Seline membuat sebuah keputusan.


"Buka mulut mu," pinta Seline yang diikuti oleh lelaki bertato itu. Seline kemudian melemparkan sesuatu ke mulutnya.


"Itu adalah pil penawar untuk racun yang ku berikan kepada kalian. Kau akan kembali seperti semula dalam 5 menit," jelasnya.


15 menit kemudian, akhirnya kelima orang itu sudah kembali normal. Ya, Seline sengaja melemparkan sebuah pil racun random yang sering sekali dia buat. Pil racun random, akan menjadi asap ketika terbentur sebuah gaya besar.


Pil racun random memungkinkan orang yang menghirupnya akan terkena racun dalam waktu 15 menit. Sebenarnya saat itu, Seline tidak perlu repot-repot untuk lari menjauh karena dia telah memakan penawarnya sebelumnya.


Namun, Seline sengaja berlari karena racun itu akan dengan cepat menyerang jika orang yang terinfeksi kelelahan atau detak jantungnya berdetak cepat.


Namun, Seline adalah orang yang baik dan tidak sombong, dia menggunakan dosis kecil dan memberikan orang-orang yang hendak mencelakainya obat penawar.


"Mari kita pikirkan tentang logo untuk geng kita," ucap Seline.


"Tapi, bukankah kita tidak bisa membentuk sebuah geng begitu saja? Kita masih perlu mendaftarkan diri." Seorang laki-laki kurus yang sempat memegang tangan Seline bicara. Jika Seline tidak salah ingat, namanya adalah Juki.


"Kau benar, ada beberapa persyaratan yang harus kita lakukan lagi. Belum lagi biaya pendaftarannya, mau dapat dari mana kita uang sebanyak itu?" Kali ini orang yang berbicara kepada tembok, namanya Deri. Dari kelima orang ini, hanya dialah satu-satunya orang yang normal dan lumayan tampan.


"Benar, Bos besar. Kita mana mungkin punya uang sebanyak itu. Terlebih lagi, L bukankah seorang yang bisa diajak untuk bernegosiasi. Dia adalah orang yang paling gila, dia adalah sistem dan aturan di dunia bawah kota M ini."


"L?"


Apakah di novel ada yang bernama L? Pikirnya, seingatnya novel ini sama sekali tidak menyebut tokoh bernama L ini.


"Untuk itu masalah yang mudah, cepat kita temui L itu, dan aku akan menjadi orang orang kaya," seru Seline penuh semangat.


"Itu, kita tidak perlu menemuinya." Borin yang merupakan nama dari laki-laki bertato naga itu mengajak Seline untuk pergi ke tempat persembunyian mereka.


***


Seline menundukkan pantatnya ke sebuah kursi yang terbuat dari tong besi bekas minyak, sambil menunggu Deri mengambil komputernya.


Borin sempat memohon maaf kepada Seline karena tempatnya begitu berantakan. Ada banyak sampah bekas makanan dan botol-botol kaca bekas. Dia dan keempat anak buahnya segera membersihkan rumah mereka.


"Maaf membuat Bos Besar menunggu lama," ucap Borin, di belakangnya muncul Deri, dia membawa laptop rakitannya yang terlihat sudah tidak layak. Layar laptopnya mulai bergaris-garis dan bagian monitor dan keyboard nya pun harus di lakban dan dibantu dengan kayu agar tetap tegap.


"Maaf karena keadaan kami memang seperti ini," ucap Borin lagi. Merasa sungkan karena seolah-olah tidak menyambut tamu dengan baik.


"Apakah kau merakit komputermu sendiri?" Seline mengabaikan Borin dan bertanya kepada Deri yang sudah duduk disampingnya.


"Benar, Deri sejak dulu sangat mahir dalam merakit komputer. Dia juga memiliki keahlian dalam meretas sesuatu. Sebenarnya alasan kami ingin mencelakai Bos besar adalah karena kami ingin membelikan sebuah laptop untuk Deri." Bukan Deri yang menjawab melainkan Borin.


"Jika saja orang tuanya tidak membuangnya, Deri pasti sudah menjadi orang yang sangat sukses. Karena dia sangatlah jenius." Borin menjelaskan dengan semangat.


"Benar. Deri juga mengajari kami caranya membaca dan menulis," Juki menimpali.


Deri yang sedang dipuji hanya tersipu malu, dia kemudian membuka sebuah situs. Itu adalah situs untuk registrasi suatu geng.


Sebelum Deri melanjutkan, Seline mengirimkan sebuah pesan kepada Borin.


"Apa ini, Bos besar?" tanyanya tidak mengerti, Seline baru saja mengirimkan sebuah foto vulgar seorang wanita yang sedang dipeluk olek 4 pria, wajahnya disamarkan hanya bagian leher sampai bawah. Borin menelan ludah melihat foto itu, apalagi bentuk tubuh wanita itu cukup bagus.


"Katakan kepada orang yang membayar mu, kau sudah berhasil melecehkan ku."


"Bagaimana jika ketahuan?" tanya Borin.


Seline menatap wajah terkejut Borin, "apakah kau meragukan kemampuanku?"


Borin menggeleng cepat, ada kalanya wanita ini seperti kucing kecil yang manis yang tiba-tiba berubah menjadi seekor macan yang membuat nyali seseorang menciut.


"Untuk nama ketuanya apakah aku harus mengisinya dengan nama Anda?" tanya Deri.


Seline menggeleng, "tidak. Kau bisa menggunakan namanya."


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Next besok๐Ÿ’œ๐Ÿ˜˜