
Kris melangkahkan kakinya di atas karpet merah dengan santai, dibelakangnya Noah sedang menangis sambil merangkul Liam.
Noah tidak henti-hentinya mengeluhkan perbuatan Kris kepada Liam, tentang bagaimana Kris mengeringkan rekeningnya hanya untuk mentraktir makan seorang gadis.
"Liam, kau harus membelaku apapun yang terjadi. Semua orang di negara ini tahu kalau Kris Alexander adalah orang terkaya, tapi bagaimana bisa dia malah menggunakan uang seorang anak miskin seperti ku? Tabungan ku ludes olehnya," adu Noah kepada Liam.
Liam hanya tersenyum, dia mengelus rambut Noah yang dicat pirang. "Apakah kau tidak malu? Kalau sampai anak-anak tahu kalau pemimpin yang selalu berada digaris depan saat melawan musuh ini adalah seorang yang cengeng?" ucap Liam sambil tersenyum.
"Apakah sekarang aku peduli tentang image ku? Apa yang harus kulakukan kalau mamaku tahu?" Mata Noah mulai berkaca-kaca, membayangkan bagaimana mamanya mengamuk seperti rubah berekor sembilan.
"Sudah-sudah, Kris pasti akan mengganti uangmu. Kau katakan saja, kalau Kris yang menghabiskannya," ucap Liam berusaha membujuk Noah, jujur saja, lengannya sudah pegal karena terus dipeluk Noah.
"Menurut mu mamaku akan percaya?"
"Tentu saja tidak bodoh." Liam menyentil dahi Noah, kemudian mempercepat langkahnya menyusul Kris yang sudah mendahului mereka.
"Tidak biasanya kau mau datang ke pesta seperti ini," tanya Liam saat dia sudah menyamakan langkah mereka.
"Aku hanya ingin melihat pertunjukan," jawab Kris singkat.
"Aku jadi penasaran, kakak ipar seperti apa yang sudah membuat rekeningku kering. Apakah bentuk tubuhnya seperti babi?" Noah berbisik kepada Liam, takut jika terdengar oleh Kris makan dia akan mendapatkan sebuah tonjokan yang dapat merusak wajah tampannya.
"Kau akan segera melihatnya nanti."
***
"Bagaimana?" Adam bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas di tangannya.
"Maaf, tapi aku sama sekali tidak menemukan apapun tentang L." Tio menunduk dengan takut, hatinya merasa tidak enak karena telah membuat Adam, sang ayah angkat kecewa.
"Sebenarnya apa tujuan orang itu?"
"Apakah kau sama sekali tidak menemukan petunjuk apapun tentang L di dunia bawah¹?" tanya Adam lagi, yang kembali menjadi sama oleh Tio. Adam mengusap wajahnya frustrasi. Ini semua tidak akan pernah terjadi, jika Adam tidak menolak permintaan L.
Awalnya, perusahaan sangat aman dan terkontrol, akan tetapi suatu malam, seorang dengan inisial L mengiriminya sebuah pesan dalam bentuk virus. Sebuah pesan ancaman yang tidak mungkin Adam sanggupi.
L memintanya untuk memecat 100 karyawan dalam waktu 10 jam, Adam pikir itu hanya sebuah keisengan seseorang yang tidak memiliki kerjaan, Adam mengabaikan pesan itu. Meskipun ibu benar sekalipun, Adam tidak akan mengikuti permainan itu, karena selain tidak masuk akal, juga sama sekali tidak manusiawi.
Ada ratusan orang yang mencari rejeki untuk keluarga mereka di perusahaannya, bagaimana mungkin Adam memecat mereka tanpa sebuah alasan yang jelas.
Dan karena itulah, L mulai melakukan sesuatu dengan perusahaannya. Mulai dari mencuri rahasia perusahaan dan membocorkan semua rencana mereka kedepannya. Sistem kemanan dan informasi, semua komentar hampir memiliki virus dan yang lebih parahnya, perusahaannya harus kehilangan banyak artis-artis hebat.
"Tuan, apakah aku perlu mencari informasi terkait L lagi?" tanya Tio.
Adam menggeleng, "tidak. Lebih baik kau tetaplah berada di samping Seline, urusan perusahaan biarkan aku yang mengurusnya. Kau tidak perlu memikirkan hal itu. Pergilah, dia pasti sedang memcarimu."
Tio mengangguk, meskipun ragu dia tetap pergi meninggalkan Adam seorang diri. Setelah kepergian Tio, Diana masuk ke ruangan. Dia kemudian memeluk Adam, memberikan kekuatan kepadanya.
"Sayang, apakah menurutmu, aku perlu meminta bantuannya?" tanya Diana, dia tega saat melihat suaminya begitu tertekan dengan hal ini.
"Tapi, kau hanya menyiksa dirimu."
Adam tersenyum, "tidak. Saat aku membawa mu kemari, aku sudah berjanji kalau aku tidak akan meminta bantuan mereka. Aku tahu mereka pasti akan membantu, tapi janji tetaplah janji."
***
"Kalau kau memang mengatakan bahwa Ella Alexander yang memberikan gaun ini kepadamu, tidak masalah kan kalau kau membuktikannya di depan kami semua." Lilis berjalan ke arah Seline, hendak mengoyak gaun yang dikenakannya, membuat Seline melangkah mundur.
Namun, saat tangan itu hendak menyentuh gaun Seline sebuah tangan, tidak 4 tangan baru saja menghentikan tangan Lilis yang hendak menyentuh Seline.
"Siapa yang begitu berani menindas wanita ku?" Kris mencengkeram kuat pergelangan tangan Lilis.
Di sebelahnya seorang laki-laki dengan rambut putih dan senyuman manis tengah melakukan hal yang sama, "sangat tidak baik, jika harus melakukan serangan fisik."
"Maaf aku terlambat," ucap Tio, tatapan penuh kemarahan dia tujukan kepada Lilis.
"Benar-benar seorang rendahan." Bisma berkata dengan nada dingin eksra cabainya.
Dibelakang mereka, Seline tertegun. Dia sempat terkejut saat Kris memutar tubuhnya ke belakang dan kemudian, tiba-tiba ada 4 pangeran yang sedang menyelamatkannya. Padahal sebenarnya itu tidak perlu.
Lupakan itu, ada yang mengganjal di sini. Seline mungkin akan paham kalau itu Tio dan Kris, tapi kenapa Bisma malah ikut-ikutan? Bukankah di novel dia akan membunuh Seline?
Dan lagi, siapa laki-laki dengan rambut putih dan senyuman penuh pesona ini? Kenapa sejak tadi Seline tidak sadar bahwa ada seorang pangeran di dekatnya?
Lilis menarik tangannya yang terasa sakit, warna merah terlihat menunjukkan seberapa kuatnya keempat laki-laki melukainya.
Lilis mundur beberapa langkah, saat matanya menatap mata keempat laki-laki itu. Tatapan mereka tajam seolah-olah ingin meraciknya dan dijadikan sebuah pakan.
"Bisma," seru Lila dia menghampiri Bisma, akan tetapi dengan dinginnya Bisma memalingkan wajahnya, dia malah menatap ke arah Seline yang sedang bengong.
Kris yang melihat itu menarik Seline ke pelukannya, akan tetapi tangan Tio lebih cepat menarik tubuh Seline menjauh. Tio memberi jarak untuk Kris dan Bisma.
"Bisma, Lilis tidak bermaksud seperti itu," kata Lila lembut, akan tetapi kedua tangan yang dia sembunyikan sedang terkepal kuat menahan kesal. Sejak tadi, Bisma terus mengabaikan dirinya, tapi kenapa Bisma malah peduli kepada Seline?
"Kau jangan marah kepada Lilis, dia hanya membela ku karena Seline telah mempermalukan diriku."
"Maaf, tapi bagian mananya aku mempermalukan mu?" Seline berseru tidak terima. Bukankah sejak tadi dia adalah korbannya di sini?
"Kau menggunakan gaun palsu untuk datang ke pesta, apakah kau tidak lagi memandang wajah nenekmu?" bentak Lilis.
"Atas dasar apa kau berkata demikian? Apakah kau punya telepati dengan nenekku? Kenapa sejak tadi ku liat dia sama sekali tidak begitu peduli?" Seline melambaikan tangan ke arah tangga, terlihat di sana seorang wanita tua dengan syal bulu berwarna putih. Ekspresi wajah datar, sama sekali tidak membuat Seline tertarik.
💮💮💮💮
Like👍🏻