Sweet Antagonist

Sweet Antagonist
Bagian 22. Kelly



Maaf telat ๐Ÿ˜“๐Ÿ™๐Ÿป


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Seline meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, malam ini dia telah resmi menjadi seorang Mafia malam ini. Sekarang yang harus dia lakukan adalah berpesta.


Berbeda dengan teman-temannya yang tampak bahagia, Borin malah meringkuk meratapi sebuah nasib. Seline dengan baiknya, menggunakan namanya untuk dijadikan sebagai tumbal ketua Wizard.


Seline menghampiri Borin, "apakah kau masih merasa tidak setuju dengan keputusan ku?" tanyanya.


"Nona besar, dunia mafia bukanlah dunia yang indah seperti yang kau bayangkan. Apalagi dengan L sebagai sistem dan peraturannya. Sekali kau salah mengambil langkah, kau pasti akan tamat," jelas Borin dengan wajah murung.


"Apakah L memang semenyeramkan itu?"


Mereka serempak mengangguk, "dia lebih menyeramkan dari yang ada bayangkan. Sudah ada begitu banyak orang yang kehilangan nyawanya karena melawannya, dan begitu juga dengan perusahaan-perusahaan di kota ini. Mereka berakhir dengan tragis, saat melawan L." Juki berucap dengan gaya yang dilebih-lebihkan.


"Saranku, lebih baik kita tunduk kepada L. Jika kita menurutinya, kita mungkin bisa mafia yang terkenal seperti Sayap Hitam."


"Kau benar. Dengan bantuannya kita tidak pasti akan baik-baik saja." Juki menyetujui perkataan, Pandu, orang yang satu-satunya bertubuh gempal bin pendek di sini.


"Apakah kalian sedang berencana menjadi seorang anjing yang penurut?" tanya Seline.


Seketika senyuman mereka menghilang, tergantikan dengan rasa takut.


Anjing yang penurut? Apakah mereka sedang bercanda? Mana mungkin Seline akan menjadi seekor anjing untuk orang yang bahkan tidak jelas identitasnya.


Tidak, Seline tidak akan pernah menjadi seperti itu


Dering ponsel seseorang berseru minta diangkat, semua mata kemudian tertuju kepada Borin.


Borin yang baru menyadari kalau itu adalah bunyi ponselnya segera merogoh saku celananya. Panggilan dari orang yang tidak dikenal, Borin segera mengangkatnya karena itu adalah pesan dari orang yang membayarnya untuk mencelakai Seline, kemudian dia menjauh agar bisa berbicara dengan leluasa.


"Katakan kepadaku apakah gadis itu masih hidup?" tanya orang di seberang sana.


Borin mengangguk setelah membaca kode Seline, "tidak, kami memastikan dia sudah tidak bernyawa."


"Kau benar juga, orang itu pasti merasa hancur karena mengalami kejadian seperti itu, kecuali dia urat malunya sudah putus. Baiklah, aku akan mentransfer uangnya kepada akun mu." Panggilan itu berakhir, setelah itu notifikasi pemberitahuan bahwa sejumlah uang masuk ke akunnya masuk.


"Apa yang harus ku lakukan dengan uang ini?" Borin menyerahkan ponselnya kepada Seline.


"Apalagi? Tentu saja kita habiskan. Mari berpesta malam ini," ucapnya penuh semangat dengan dan mengepalkan tangannya ke atas.


***


Seorang gadis menatap layar monitor laptopnya, mata cokelatnya yang tidak terlalu lalu besar bersembunyi di balik kaca mata bulatnya.


"Wizard?!" gumannya.


"Satu ekor anjing yang penurut datang lagi, mari pikirkan bagaimana cara menggunakan mereka."


Ceklek


Pintu kamarnya terbuka, gadis itu segera mengalihkan layar laptopnya ke laman lainnya.


"Dita, apakah kau belum tidur," seorang laki-laki paruh baya masuk dan menghampiri putrinya.


"Ya, ada beberapa materi lagi yang perlu ku pelajari." Dita melepaskan kacamatanya, dan meletakkannya ke atas meja belajar.


"Ini sudah larut, jangan terlalu memaksa dirimu," ucapnya seraya mencium kening Dita. "Tidurlah." Merdi kemudian keluar dari kamar putri semata wayangnya itu.


Wajah Dita yang semula tersenyum seketika berubah dingin, dia menatap pintu yang telah tertutup itu dengan perasaan benci.


"Aku akan semangkin kuat dan merebut kembali semua yang seharusnya milik ibuku," ucapnya penuh kebencian.


***


Seline tersenyum, dia meraih buku bersampul biru tua di atas nakas. Sudah banyak plot cerita yang dia hindari.


Dan sekarang, Seline hampir mendekati plot utama cerita. Di plot inilah, Seline akan menentukan masa depannya nanti.


"Semoga nenek tua itu, tidak membuat keputusan ini," harapnya kemudian menutup mata.


***


"Apakah kau tidak tidur nyenyak semalam?" Tio menatap Seline prihatin, pasalnya gadis itu terus menguap. Mungkin saja kalau Tio tidak menjemputnya dan membangunkannya, Seline masih akan molor sampai siang.


"Ya, aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir." Seline kembali menguap.


Tio menghela napas, "bagaimana caraku tidak khawatir? Kau harus berjanji kepada ku kalau kau tidak akan menyerahkan lembar jawaban kosong," pintanya kepada Seline.


Seline mengangguk dengan malas. Salahnya karena kembali ke rumah jam 3 dini hari, karena keasikan berpesta dengan teman-teman barunya.


Rupanya Pandu yang gemuk memiliki keahlian dalam memasak, karena masakan Pandulah, Seline jadi segan untuk pulang.


Ditambah dengan Deri yang sangat bersemangat karena telah dibelikan komputer baru yang membuatnya sangat bahagia.


"Aku akan membeli kopi untuk mu," kata Tio yang segera meninggalkan Seline.


Seline melambaikan tangannya dengan malas, kemudian mendudukkan diri ke kursi yang ada didekatnya.


Karena saking mengantuknya, Seline jadi tanpa sadar menggunakan bahu seseorang di sebelahnya.


"Kau sama sekali tidak berubah, apakah kau semurahan ini?" Bisma yang sejak awal berada di kursi itu, mengawasi interaksi Seline dan Tio. Mereka tidak menyadari keberadaannya, karena saking besarnya buku yang dibacanya hingga menutupi seluruh wajahnya.


Bisma menoleh ke arah Seline, wajah cantik gadis itu terlihat polos ketika sedang tertidur.


Entah setan apa yang telah merasukinya, tapi Bisma malah tidak jadi untuk marah dan membiarkan Seline tidur nyenyak di bahunya.


Bahkan dia rela tidak bergerak, agar tidak menggangu tidurnya dan membuatnya terbangun.


Aneh, tapi Bisma menyukai situasi ini.


"Aku baru saja kembali, dan kau sudah melihat pemandangan seperti ini, hiks." Seorang gadis dengan rambut yang agak kemerahan muncul dan langsung berakting.


"Apakah kau sudah tidak melihat hubungan kita? Apakah kau melihat malam panas yang kita habiskan semalam?"


Bisma tercengang, apa yang terjadi sekarang ini?


Dia, Kelly sedang melakukan drama dadakan yang membuat semua orang di sana menghampiri mereka.


Kelly adalah sahabat Seline yang paling setia. Karena pekerjaannya yang membuatnya tidak bisa sering masuk sekolah. Seperti beberapa bulan lalu, karena ada syuting film di luar negeri, Kelly harus dengan berat hati meninggalkan Seline dan ketinggalan banyak pelajaran.


Sebenarnya dia agak berat harus meninggalkan Seline, karena selain dirinya dan Tio tidak ada yang bisa menjaga dan melindungi Seline.


Apalagi Bisma yang dikenal sebagai tunangan Seline sama sekali tidak peduli bagaimana keadaannya yang dialami tunangannya itu.


Namun, setelah begitu lama dia tidak menapak jejaknya di sekolah, dia malah melihat sesuatu yang tidak terduga terjadi. Seline yang dulu seharusnya jelek berubah cantik dan hubungan antara kedua pasangan yang dinginnya kayak gunung Fuji seperti sudah mencair karena panas global.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Besok lanjut 2 bagian ya๐Ÿค—


jangan lupa like nya dan komentar, serta kopi sama bunganya, biar mata author bisa melek๐Ÿ˜