
selamat malam, lama tidak bersua😆😆
Gimana kabarnya hari ini?
Ada yang kangen Seline?
Karena masih dalam tahap belajar, maklumi saja ya, ceritanya rada-rada aneh🥲
Dan seperti judul di atas Chapter, bab ini berisi ketidakjelasan.
Yang masih ingat alur, moga aja gak bingungðŸ¤
Next story...
💮💮💮
Kelly mengikuti langkah Seline, gadis itu terlihat begitu kesal karena Seline sama sekali tidak mau mendengarkannya.
Kelly tidak mau kalau Seline kenapa-napa seperti saat SMP dulu. Karena Vivian, mengumumkan bahwa Seline adalah penerus utama perusahaan, banyak sekali orang yang mendekatinya dan mengajaknya berteman dengan maksud tertentu.
Menjalin relasi dengan cara menjilat adalah hal yang sudah sangat lazim ditemui, apalagi Kelly juga dari keluarga pembisnis. Sejak kecil dia sudah melihat hal-hal seperti itu, dan menjadi terbiasa.
Karena itu, saat anak-anak lain mendekatinya guna mendapatkan popularitas karena berteman dengan seorang artis, Kelly dengan bahagia menyiksanya. Dia meminta apapun yang membuat orang-orang yang berniat mendekatinya menyerah. Lebih baik menjauh dari gadis dengan lidah cabai ini.
"Kelas kita yang pertama keluar, Sel," ujar Kelly setelah berhasil menyusul langkah Seline.
"Apakah kelas 3 belum juga keluar?"
"Sepertinya belum. Apakah terjadi sesuatu? Wajah mu sudah sangat kusut. Senyum dong." Kelly mencubit kedua pipi Seline.
"Tidak, aku hanya mengkhawatirkan sesuatu." Seline menepis pelan tangan Kelly.
"Ya, sudah. Mari Healing!"
Seline melotot, "bukankah biasanya Healing itu setelah ujian?"
"Tenang saja, nilai tidak lebih penting. Lagian, orang sekarang kebanyakan menilai latar belakang dan jumlah kekayaan. Kau dapat nilai 100 di setiap ujian pun tidak akan mengubah cara pandang seseorang," jelas Kelly, yang namanya sudah langganan di urutan bawah peringkat kelas.
Tidak sebodoh Seline, tapi juga tidak terlalu pintar. Tapi, pernyataan Kelly berhasil membuat Seline mengenang kembali masa lalunya, bagi Seline yang tidak memiliki keduanya, anak orang kaya yang sama sekali tidak peduli dengan nilai atau prestasi akademik maupun non-akademik adalah hal yang tidak adil.
Dia saat itu sama sekali tidak memiliki latar belakang yang bagus, apalagi kekayaan. Bahkan untuk uang 50.000 ribu rupiah pun Seline tidak yakin punya.
Hari-harinya dia habiskan dengan bekerja paruh waktu dan pulangnya untuk belajar.
Pendidikannya yang sampai menempuh jenjang sarjana 2, itu berasal dari beasiswa prestasi akademik yang dia miliki.
Dering ponsel Seline berbunyi, dia segera merogoh tas ranselnya dan mengangkat benda pipih itu, setelah mengecek namanya.
"Bos besar!" Suara bahagia Borin terdengar di seberang sana.
"Kami berhasil menjual semua pil obat yang kau sarankan, ada pesanan lagi. Apakah kita masih memiliki cadangan yang tersisa?"
Seline terdiam beberapa detik, dia memang sengaja menyuruh Borin dan anak-anak lain untuk menjual beberapa pil obat. Itu adalah pil obat yang memiliki efek halusinasi.
Sebenarnya, Seline masih belum mengerti dengan sistem dan transaksi apa yang dilakukan di dunia mafia, dia lebih sering melakukan transaksi yang terbuka dengan orang-orang melalui kontrak kerjasama, setidaknya itu adalah hal yang dia lakukan dulu.
Sekarang dia menyentuh dunia baru yang sama sekali tidak dia kenali, meskipun Borin menjelaskan dengan panjang kali lebar kali volume, Seline tetaplah dengan pemikirannya.
Dia mulai dengan menjual beberapa bahan obat tingkat rendah yang hanya memiliki efek rendah, akan tetapi mujarab.
Dia mencoba menjual pil ilusi, sejenis racun level rendah yang dapat memberikan ilusi kepada orang yang menghirupnya dalam selang waktu 30 detik.
Yah, untuk jaga-jaga saja, kalau pil itu digunakan oleh orang salah.
"Berapa banyak yang mereka butuhkan?"
Mata Seline terbelalak, "untuk apa mereka membutuhkan obat sebanyak itu?"
"Nona besar, aku sudah menjelaskan tentang bisnis gelap, bukan? Bisnis kita ini lebih sukses dibandingkan dengan bisnis senjata api. Dan jika Anda menanyakan apa yang mereka lakukan? Itu adalah urusan mereka, kita sebagai penjual hanya tidak berhak untuk ikut campur."
Seline memijit pelipisnya, kemudian tatapannya berubah serius. "Akan ku buatkan 5 buah, dengan harga ku. Kalau tidak mau, mereka bisa membatalkan transaksinya."
Suara pekikan kaget terdengar di seberang sana, "Nona besar, mereka memesan 500 bukan 5 buah. Kau akan rugi jika melepaskan kesempatan sebesar itu," suara Borin tampak kecewa.
"Menyesal? Aku Seline Elson tidak pernah menyesal dengan keputusan yang telah ku buat. 5 buah atau batal."
Setelah mendengar persetujuan Borin yang terpaksa, Seline kembali menghampiri Kelly.
"Sejak kapan kau punya bisnis?"
Seline menatapnya bingung, "apa maksudmu?"
Kelly menunjukkan ponselnya, "Selie Store," ucapnya kemudian tertawa pecah.
Seline mengambil ponsel Kelly, menatap website yang tengah menunjukkan produk-produk kecantikan yang pernah dibuatnya, dengan foto dirinya.
"Apa ini?" tanyanya tidak mengerti, Kelly mengangkat kedua bahu, sama tidak tahunya.
"Hey, jawab aku, produk itu adalah produk kecantikan yang sedang terkenal sekarang. Ku dengar sangat sulit mendapatkannya, apakah kau sedang menipu orang-orang? Atau... Kau membuat produk kawe?"
Seline menyentil dahi Kelly pelan, "apakah aku terlihat seperti orang yang tidak tahu malu seperti itu?"
Tawa Kelly kembali pecah, "aku malah bingung, memangnya kapan kau punya rasa malu? Satu sekolah ini tahu kalau Seline Elson adalah gadis tidak tahu malu yang kerjaannya adalah merayu pria."
Tuk!
Rasanya ribuan pedang keramat menusuk tubuhnya, saking tepatnya perkataan Kelly.
"Apa yang membuat kalian begitu bahagia?" Tio muncul dari belakang, setelah pamit dengan kedua temannya.
Sebagai informasi, Kris telah lebih dulu meninggalkan sekolah bersama kedua temannya. Liam sempat mendapatkan telepon dan mereka langsung pulang setelah Liam mengatakan sesuatu.
"Aku akan pulang ke rumah hari ini," ucap Seline to the points, membuat dahi Tio berlipat, karena bingung. Bukankah dia memang selalu pulang ke rumah?
"Memangnya kau akan pulang ke mana kalau bukan rumah?" tanya Tio.
***
Suasana di ruangan begitu mencekam, Lila dengan raut wajah sedihnya menunduk. Novi mengelus bahu Vivian yang sedang diselimuti emosi.
Tangannya mencengkram erat sebuah foto seorang gadis yang sedang tidak bersama 4 orang pria.
"Perintahkan orang-orang untuk mencari mayatnya!" Vivian berseru dingin. Seorang pelayan pribadinya, menyanggupi. Dia memohon pamit kepada Vivian dan kedua wanita di sana.
"Ibu, sudahlah. Buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya, ibu dan anak sama-sama seorang j*l*ng yang sukanya naik ke ranjang laki-laki. Di biarkan bebas malah berbuat sesuka hati." Novi memanasi, membuat kepala Vivian semangkin pusing.
"Nenek, mungkin saja Seline dicelakai oleh orang yang memiliki dendam dengannya. Bagaimana mungkin dia melakukan hal seperti itu?
"Dicelakai? Orang bodoh mana berani menyentuh keluarga Elson? Keluarga Elson telah berdiri bertahun-tahun lamanya. Sengaja atau dicelakai, anak tidak tahu diri itu benar-benar sudah mencoreng nama baik keluarga. Meskipun sudah mati, dia tidak akan mati dengan tenang." Vivian meremas foto itu.
Lila tertawa dalam hati. Sekarang, dia bisa sedikit tenang, saingan utamanya dalam merebut kekayaan Vivian telah tuntas.
Namun, tiba-tiba pintu terbuka dengan keras. Seorang gadis dengan rambut dikucir asal masuk menyapa ramah dengan berteriak, "Seline yang luar biasa telah kembali, wahai penghuni rumah tolong siapkan makanan untukku!" Serunya, yang membuat ketiga wanita itu berubah pucat.
"Hantu gentayangan?!"
💮💮💮
Kembali ketemu, insyaallah besok di jam 23.30😌