
Malam semuanya, maaf karena telat up ya😊
💮💮💮
Seline berlari dengan panik di koridor rumah sakit. Setelah diusir dari kediaman Elson, Ratna memberi tahukan bahwa Adam dan Diana sedang di rumah sakit, karena terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan dan tidak sempat untuk beristirahat, Adam jadi dilarikan ke rumah sakit.
Bam!
Seline mendobrak pintu kamar VIP, mengejutkannya Diana yang sedang mengupas kulit apel, begitu juga dengan Adam yang tampak sedang membaca sebuah berkas di atas bangsal.
Seline langsung menghampiri Adam dan memeluknya laki-laki yang merupakan orang tua kandung dari pemilik asli. "Papa kenapa tidak memberitahu ku kalau sedang sakit?"
Adam tersenyum, dia meletakkan berkas yang sedang dia baca dan mengelus rambut Seline penuh sayang.
"Dan membuat putriku khawatir? Tidak, bukankah kalian saat ini sedang mengikuti ujian sekolah? Mengetahui kondisiku sama saja dengan mengganggu waktu belajar kalian."
Adam mendongak menatap Tio, "Lagi pula ini adalah hal yang penting untuk masa depan kalian, Tio akan segera masuk universitas, ini adalah masa-masa pentingnya."
"Tuan, Anda tidak harus..." Raut wajah Tio berubah sedih, dia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Adam.
"Aku hanya kelelahan, lagi pula istriku di sini menemani ku."
Diana menghela napas, "kalian ini, apakah sudah melupakan mama mu ini?" Dia menghampiri Seline dan Adam dengan pipi yang dikembangkan.
Seline hanya tersenyum, "lalu bagaimana dengan masalah perusahaan? Kenapa kalian sama sekali tidak memberitahukannya kepada ku?"
Adam terkejut mendengar pertanyaan Seline, dia menatap Tio, meminta penjelasan atas pertanyaan yang diajukan Seline, akan tetapi saat melihat mata putra angkatnya Adam telah mendapatkan jawabannya.
"Siapa yang memberitahu mu?"
"Kelly. Dia dengar dari salah satu artis dari perusahaan Papa."
"Begitu, jadi gadis itu telah kembali, lain kali kau harus mengajaknya untuk berkunjung ke rumah," ucap Adam yang berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Papa, aku sedang serius. Lagipula, kita juga tidak akan bisa pulang ke sana lagi." Seline memalingkan wajahnya menyembunyikan rasa bersalah.
"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Diana.
Seline tersenyum, kemudian dia menjelaskan tentang apa yang terjadi kepada Adam dan Diana. Setelah menjelaskan semua itu, Seline dan Tio pamit pulang.
💮💮💮
Noah meregangkan otot-ototnya yang kaku, seraya menguap besar. Ujung matanya kemudian tidak sengaja menangkap sosok laki-laki dengan rambut hitam pekat sedang berbaring di sofa.
"Kau di sini?!" Noah berseru kaget.
Kris melirik Noah malas, dia kembali melanjutkan bermain ponsel.
"Cih, jika bukan karena kau adalah temanku aku pasti akan mengusir mu dari sini," cibirnya.
"Kau berani?"
"Tidak."
Mencoba mengabaikan keberadaan Kris, Noah memilih untuk melangkah ke arah dapur. Mengambil air di kulkas.
Ceklek!
Noah terperanjat, Liam dengan tubuh basah keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai handuk untuk menutupi bagian bawahnya. Tangannya mengusap rambutnya yang basah dengan handuk.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" tanya Noah sedikit berteriak, karena kaget.
Liam menatap Noah, mendekat satu langkah kemudian mengambil sekaleng Cola yang ada di tangan pemuda itu. "terimakasih," ucapnya singkat.
Noah terperangah, dia segera menyusul langkah Liam yang berjalan ke arah sofa.
"Hei, apakah kau tidak memiliki handuk yang lebih besar dari ini? Ini bahkan tidak bisa digunakan untuk mengeringkan tubuhku.
Noah menatap ke bawah, "sial! Apa yang kau lakukan dengan handuk rambut ku?!"
***
Noah mendengus mendengarkan penjelasan Liam. Sedari dulu, selalu saja dia yang jadi korban pelampiasan keisengan teman-temannya.
Dan alasan yang konyol juga mereka berikan hari ini.
Kalian tahu apa yang dia katakan?
"Hanya iseng." Dua kata yang membuat Noah ingin sekali mengusir dua orang itu, dia melirik ke arah dapur. Liam sedang sibuk dengan urusan dapur, menyiapkan sarapan yang seharusnya itu adalah makan siang.
"Noah!" Kris berseru setelah diam berjam-jam.
Noah melirik tidak tertarik.
"Apakah kau percaya kalau kita adalah karakter sebuah novel?" tanyanya. Baiklah, sepertinya temannya ini sudah mulai tidak waras.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Apakah karena kau kerasukan novel gadis remaja punya kakakmu?"
"Dia sudah 26 tahun, tidak pantas untuk disebut wanita remaja."
"Tapi dia tidak terlihat seperti itu, apalagi di mana Liam." Noah menatap ke arah dapur, tidak ada tanda-tanda kalau Liam akan selesai memasak.
"Lalu apakah kau percaya kalau aku ini akan masuk penjara?"
"Baik. Kau tidak sedang minum semalam kan? Kenapa otakmu mendadak rusak begini?" Noah menatap Kris dengan mata disipitkan, "bukankah keluarga mu adalah orang yang terpandang? Mana mungkin mereka berani menyentuh dirimu."
"Memangnya apa membuatmu bertanya seperti itu?" Liam ikut bergabung dengan membawa sarapan yang dia buat. Dia meletakkan satu panci besar yang berisi ramen di atas meja.
"Kau yang terbaik." Noah langsung membuka tutup panci dan membuat uap panas bebas.
Tanpa menunggu lagi, dia mengambil mie dengan sumpit dan memasukkannya ke mangkuk kecil yang telah disediakan. Memakannya dengan lahap tanpa menghiraukan rasa panas dari ramen itu.
"Mungkin dia merasakan hidupnya penuh dengan drama, Presdir sombong dikejar wanita." Noah menjawab pertanyaan Liam untuk Kris, dengan mulut yang mengeluarkan uap panas.
Kris bangkit dari tidurannya, dia terkekeh mendengar jawaban Noah. Anak ini semangkin lama, semangkin berani kepadanya, apakah dia lupa nasib motornya masih ada di tangan Kris.
***
Kontrakan Seline
Kelly menepuk-nepuk kedua pipinya lembut, menikmati sensasi yang diakibatkan oleh masker wajah yang dikenakannya.
Setelah Seline kembali dari Rumah Sakit, dia menelepon Kelly untuk bertemu dengannya. Awalnya Seline mengajak Kelly untuk pergi ke luar, tapi karena Kelly tidak ingin membuat masalah dia pun meminta Seline untuk bertemu di rumah Seline saja.
Seline setuju, dia kemudian mengirimkan alamat rumahnya.
Saat Kelly datang, dia langsung menghujani Seline dengan pertanyaan yang bertubi-tubi. Dia kaget setengah mati saat melihat betapa menderitanya sahabat ini, hingga harus tinggal di sebuah tempat kumuh.
Awalnya dia berniat untuk membelikan Seline sebuah apartemen mewah, tapi tidak jadi setiap Seline menjelaskan semuanya kepada dari A sampai Z, membuat Seline menyesal telah menceritakan semuanya.
"Jadi, maksudmu kau ingin menggantikan papamu mengurus perusahaan? Memangnya kau bisa melakukannya? Yang ada malahan kau semangkin menghancurkannya."
Seline membaringkan tubuhnya di samping Kelly, "lalu kau punya sebuah saran?" tanya Seline, meskipun dia memiliki bisnis yang baik, akan tetapi itu masih belum cukup untuk membayar semua hutang yang dimiliki perusahaan papanya.
"Kau tidak tertarik untuk menjadi model?" Kelly menawarkan, "kalau kau menjadi model kau bisa terkenal dan mengenal orang-orang penting di bidang perusahaan papamu."
💮💮💮
To Be Continued