
Malam Guys, makin kesini makin rada aneh nih. semoga terhibur ya🙏🏻
💮💮💮
Mobil hitam milik Tio memasuki kediaman Elson. Seline langsung keluar dari mobil saat Tio menghentikan mobil itu di depan.
"Ada sebenarnya dengan dia?" tanya Tio bingung. Dia kemudian menyerahkan kunci mobil kepada seorang pelayan, memintanya untuk memarkirkan mobilnya ke garasi, sedangkan dia pergi mengejar Seline.
Seline mendorong pintu, kemudian dan masuk menyapa ramah dengan berteriak, "Seline yang luar biasa telah kembali, wahai penghuni rumah tolong siapkan makanan untukku!" Serunya, yang membuat ketiga wanita itu berubah pucat.
"Hantu gentayangan?!"
Saat Seline masuk ke rumah, para pelayan menatapnya dengan tatapan aneh. Beberapa shok, dan ada juga yang tiba-tiba pingsan.
"Kenapa dengan mereka?" tanya Seline, saat Tio sudah berdiri di sampingnya. "Dan kenapa rumah ini seperti rumah duka? Apakah ada orang yang meninggal? Apakah nenek tua itu? Atau salah satu paman lainnya?" Selidik Seline, berbisik kepada Tio.
"Beberapa hari ini aku tidak tinggal di rumah, sepertinya terjadi sesuatu."
"Tunggu. Itu berarti, ada banyak makanan di sini." Mata Seline langsung berbinar.
Mengabaikan tatapan para pelayan, Seline melangkah masuk semangkin dalam, tujuannya sekarang adalah dapur, kemudian menemui ibunya.
Novi segera keluar dari ruangannya, berjalan ke arah dapur bersama dengan Novi dan Lila yang sangat terkejut dengan gadis yang sekarang sedang menikmati kue di atas meja.
Di depannya, Tio sedang menikmati segelas kopi, sambil memperhatikan Seline. Dan untuk para koki dan pelayan yang bertugas di dapur, mereka tampak ketakutan dan bersembunyi di pojok ruangan.
"Apa yang terjadi di sini?" Suara dingin Vivian, membuat cup cake yang hampir kehilangan nyawanya terselamatkan. Seline menjauhkan cup cake itu. Menoleh kepada Vivian dan melambai dengan senyuman.
"Lama tidak bertemu, Nenek."
"K-kenapa kau bisa di sini?" Wajah Lila berubah pucat. Pikirannya mulai berkecamuk, apakah orang-orang yang dibayarnya membohonginya?
Tidak, mereka bahkan mengirimkan foto sebagai bukti. Tapi, kenapa Seline berada di depannya sekarang, menikmati makanan pencuci mulut.
Tapi, jika orang yang dibayarnya memang menjalankan tugasnya, meskipun Seline tidak mati, dia seharusnya shock berat.
"Kenapa kalian menatap ku seperti itu? Oh, ya apakah ada yang melihat ibuku? Aku tidak bisa menemukannya di sini dan juga, ponselnya tidak aktif."
Tok!
Vivian menghentakkan tongkat kayunya ke lantai keramik. Dia menatap Seline dingin, "cucu tidak berbakti, apakah kau tahu apa yang baru saja kau perbuat?"
Seline tersenyum, "heh, memangnya apa yang ku lakukan, aku hanya menikmati makanan pencuci mulut ini." Seline melangkah mendekat.
"Aku mengijinkan mu untuk tinggal di luar karena kau berkata akan membuktikan diri, bahwa kau bisa berdiri sendiri tanpa bantuan ku. Namun, yang kau lakukan hanyalah bermain-main tidak jelas, bersama laki-laki. Sekarang aku patut menanyakannya."
Seline menatap tak suka Vivian. Ah, dia ingat bagian plot ini. Ini adalah bagian saat Lila menjebaknya dan membuat kesuciannya terenggut.
"... Apakah ibumu benar-benar bisa mendidik mu dengan baik?" Tatapan mata yang merendahkan, Vivian melemparkan foto-foto tidak senonoh kepada ke wajah Seline.
"Beraninya mengotori muka keluarga, apakah kau sudah lupa dengan status mu sebagai pewaris utama perusahaan. Kau harusnya menunjukkan kepada dunia, kalau keluar Elson adalah orang yang bermartabat, menjaga nama baik." Vivian menghentikan kata-katanya.
Plak!
Seline melayangkan sebuah tamparan di wajah Vivian. Wanita tua itu menatap Seline tidak percaya, begitu juga dengan orang-orang di sana.
Tio yang sedari tadi mengamati, akhirnya mendekat.
"Kau berani menamparku?" Vivian menatap Seline dengan mata terbelalak, terkejut atas tindakan Seline yang tidak pernah dia duga-duga.
"Kenapa?" Seline balik bertanya, "apakah kau tidak pernah menyangka akan ditampar oleh seorang sampah? Nyonya Elson yang terhormat, kau bilang aku mengotori muka keluarga, lalu apa yang dilakukan anak-anak mu yang lainnya?" Seline melangkahkan kakinya mendekati Vivian, membuat wanita itu refleks melangkah mundur.
"Ayahku, karena tidak tahan dengan sikap para paman dan bibi baru memutuskan untuk membuat perusahaan sendiri, meskipun dia tidak tahan dengan sikap kalian, dia masih menghormati mu sebagai keluarga. Kau semena-mena menjadikan ku sebagai ahli waris, padahal kau hanya mencari alasan agar dapat mengikat ayahku agar dapat kau manfaatkan. Biar ku tanyakan satu hal, bukankah yang kau inginkan hanyalah perusahaan ayahku?"
"Kau anak tidak tahu diri, beraninya berkata kasar kepada ibu!" Novi menghampiri Seline hendak menampar wajahnya.
Sayangnya, Tio dengan sigap menahan tangan Novi dan mencengkram dengan kuat.
"Jangan berani kau menyentuhnya." ucapnya dingin, Tio sudah berusaha menahan diri, akan tetapi perkataan Vivian sudah benar-benar membuatnya ingin menghapuskan kebenaran wanita itu dari muka bumi ini.
"Tio, kau tidak bisa seperti ini. Seline memang sudah keterlaluan. Apakah kau tahu apa yang dia lakukan saat kau tidak bersamanya, dia malah tidur dengan banyak pria dan melakukan hal yang tidak senonoh."
Seline tersenyum mendengar perkataan Seline, dalam hati Seline bersorak gembira karena bisa menemukan orang yang berniat menjebaknya dengan sangat mudah, meskipun sebenarnya Seline sempat curiga.
"Benar. Dia adalah seorang pel*cur sama seperti ibunya. Keluarga Elson telah menjagamu sampai sekarang, setidaknya kau harus membalas pengorbanan kami. " Novi berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Tio.
"Bicara satu kata lagi, kau pasti akan kehilangan kedua tanganmu." Tio menatap Novi dengan tatapan mata yang dipenuhi dengan amarah.
"K-Kau!" Pekiknya saat Tio meremas pergelangan tangan Novi dan membuat tulangnya patah.
Seline hanya terdiam menatap Tio, lain kali dia tidak akan membuat Tio marah.
"Bibi kau sepertinya tidak ingat, Tio adalah anak angkat papaku. Dia tidak ada kaitannya dengan keluarga Elson."
"Asal kau tahu kau juga bermarga Elson," jelas Lila.
Sekarang yang dia pikirkan adalah mempermalukan Seline dan membuatnya diusir dari rumah, tapi dia tidak menyangka kalau gadis pengecut yang dia temui ternyata bisa begitu menakutkan seperti ini.
"Lagi, pula kau harusnya sadar diri, sudah tidur dengan berbagai laki-laki malah bersikap seperti seorang yang tidak bersalah," tambahnya.
Tio melepaskan tangannya Novi, dia hendak memukul Lila, karena telah berani mencemarkan nama baik Seline.
"Aduh, di foto yang buram ini kau ingin membuktikan siapa yang tidur dengan banyak pria?" Seline menunjukkan tekuk lehernya, tidak ada bekas apapun di sana.
"Percintaan sepanas itu, tentu saja akan meninggalkan bukti yang banyak di tubuh." Dia berjalan ke arah Lila. Membisikkan sesuatu, "kalau kau mau, aku bisa menunjukkan siapa orang sebenarnya di foto itu. Kau pasti mengingat dengan jelas, bukan? Bukankah tempat itu adalah tempat yang sangat familiar?"
💮💮💮
Yuk, jangan lupa like dan komentarnya