
"Leen lu ada masalah lagi?" ucap mizka. aleen terdiam sejenak ia ingin berbicara tetapi ia masih belum begitu siap.
"kalo belum siap ga papa gua tunggu sampe lo siap cerita semuanya, jadi semangat terus" ucap mizka dan menepuk nepuk pelan bahu aleen sambil tersenyum.
"miz.. apa ini semua salah gua ya?" ucap aleen tiba-tiba, dan raut wajahnya kini berubah menjadi sendu.
"ha? salah gimana ?" tanya mizka kepada aleen, karena bingung dengan pertanyaan yang aleen tanyakan.
"apa gua salah atas kematian ara?" ucap aleen. kini ia menundukkan kepalanya dan menutupi wajahnya yang ingin menangis saat itu juga.
"gak lu gak salah mereka cuman ngambil kesimpulan dari apa yang mereka tau aja, dan mereka gak mau denger apa yang mau lu jelasin ke mereka semua" ucap mizka lalu berhadapan dengan aleen dan memegang kedua bahu aleen, tetapi aleen tetap menundukkan kepalanya.
setetes air mata yang jatuh di paha nya yang sudah tidak bisa ia tahan lagi. tetapi ia masih tidak mau terlihat menangis dan mencoba menahan air mata nya agar tidak jatuh lagi.
'kenapa lu selalu gini leen? selalu nutupin sosok asli lu yang begitu rapuh kesemua orang?' batin mizka bertanya.
"tapi kenapa gua selalu begini? ga ada celah sedikit pun untuk gue berbicara. bahkan mereka seolah gak pernah anggap gua ada? kenapa gak sekalian bunuh gua aja? kenapa gak masukin gua ke penjara dan gak anggap gua bukan bagian dari keluarga mereka lagi? gua cape... gua cape kaya gini mulu. gua ada, tapi mereka anggap gua kaya hantu. hanya ada tapi tidak di perdulikan. gua pengen semua ini berakhir. andai ini cuman mimpi buruk, mungkin gua bisa bangun sekarang dan ngelupain semuanya. tapi ini bukan mimpi ini hidup gua, mizz... " ucap aleen, dan masih menundukkan kepalanya. airmata nya turun kembali.
nafasnya kini terengah-engah seperti orang yang berlari jauh. mungkin karena ia berbicara sembari menahan air matanya, walau kini telah tumpah membasahi pipinya. ia menangis tanpa suara. kini celana yang ia gunakan perlahan lahan mulai membasa dibasahi oleh air matanya sendiri.
ia tetap menangis tanpa suara, walaupun menyakitkan. ketika kita menangis tanpa suara, beban yang ada juga tidak akan hilang, mungkin malah menjadi lebih dalam. tetapi itu sudah sering aleen lakukan hingga itu sudah tidak terpengaruh pada aleen. luka yang ada pada aleen tetap tersimpan utuh didalam hati dan fikiran nya. dan terus bertambah hingga kini.
tidak ada kebahagiaan didirinya yang sekarang, ia tertawa dan tersenyum selama ini bukanlah keaslian tapi kepalsuan yang dibuatnya secara paksa untuk terlihat baik baik saja.
mizka yang melihat aleen terus menangis ia pun tidak tega dan langsung memeluk nya dengan erat. tetapi tidak ada balasan dari aleen, ia hanya menangis terus menerus. mizka pun ikut menangis tak tahan melihat aleen yang begitu sedih.
"udah leen jangan nangis lagi, gua akan selalu disamping lu saat lu susah atau pun seneng. gua janji gak bakal ninggalin lu leen. udah ya jangan nangis lagi". ucap mizka, sambil mengelus elus punggung aleen agar lebih tenang.
aleen hanya membalas ucapan mizka dengan anggukan ringan. "ya udah jangan nangis lagi, kan aleen yang gua tau itu kuat. semangat dongg" ucap mizka sambil menggoda aleen.
"iya iya" ucap aleen sambil tersenyum.
.
.
.
kini aleen dan mizka sedang membaringkan tubuhnya diatas ksur milik mizka, mereka kini terdiam melihat langit langit atap kamar mizka. tak lama mizka pun tertidur, dan kini tinggal aleen yang belum tertidur.
suasana rumah mizka kini hening dan sepi. waktu menujukkan 01.35 dini hari tetapi aleen masih belum bisa tertidur. ia memikirkan jalan kehidupannya nanti, sampai ia tertidur.
alarm berbunyi pukul 04.00 pagi ini. aleen terbangun dan ia merubah posisi nya dari terbaring ke posisi duduk, aleen mengumpulkan tenaga nya. setelah itu ia pun pergi menuju kamar mandi, dan segera mandi.
setelah selesai ia pun memakain pakaian nya dan mengambil air wudhu untuk shalat subuh. setelah itu ia pun mengerjakan shalat dan berdoa kepada sang pencipta.
saat aleen berdoa mizka pun bangun dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi tanpa bersuara agar aleen berdoa dengan sungguh sungguh. setelah mizka selesai dia pun melihat aleen yang tengah memainkan handphone miliknya.
"lu mau langsung pulang leen?" tanya mizka kepada aleen.
"iya nih" ucap aleen menanggapi pertanyaan mizka tadi.
"gak mau sarapan dulu?" tanya mizka.
"gak usah deh nanti aja dirumah" ucap aleen.
lalu mereka berdua keluar dari kamar mizka dan pergi menuju pintu rumah. setelah sampai di didepan pintu, aleen pun berpamitan pada mizka walau tak sempat kepada kedua orang tua mizka.
"gua balik duluya, salam aja ke tante sama om gua balik gitu" ucap aleen lalu membuka pintu.
"iya nanti gua sampein". balas mizka.
"yaudah gua balik sampe nanti disekolah". ucap aleen sambil melambaikan tangannya.
"iyaa hati hati" balas mizka.
aleen pun menaiki motor nya dan segera pergi kerumah nya agara tidak terlambat kesekolah nanti.
•tbc•
follow instagram aku @nsanahh