Still With You

Still With You
Chapter IX : Miror Oh Miror



Langit gelap kemarin sudah berganti menjadi cerah bahkan dengan suhu yang lebih panas dibanding dua hari lalu. Reyna bersiap dengan seragam olahraganya ke sekolah. Rambutnya yang biasa terurai dikuncir satu. Ia tampil sangat mempesona hari ini meskipun memang setiap hari ia sudah diberkati dengan pesonanya. Ia berjalan melewati Vino dengan berpura-pura tak melihatnya padahal ia tahu Vino sedang berbincang dengan temannya di depan perpustakaan.


Pagi itu tak ada sapaan seperti hari-hari sebelumnya yang dilontarkan Vino. Hatinya merasa sedikit tak enak dan kecewa, perasaan campur aduk yang tak bisa dideskripsikannya sendiri. Untuk mengelabui perasaannya, Reyna mempercepat langkahnya memasuki kelas.


Vino yang masih di depan perpustakaan sebenarnya melihat Reyna yang berjalan di depannya meskipun saat itu ia sedang mengobrol dengan temannya,


"Ah, sangat menawan", decak Vino kagum dalam hatinya saat melihat Reyna dari belakang.


"Gaya yang menarik dan keren, benar benar...", lanjutnya sampai ia tersenyum sendiri padahal hatinya kemarin masih sakit.


"Kamu kenapa Vin ?, perasaan nggak ada yang lucu, koq senyum ?", tanya Albert.


"Loh, emang salah ya kalo senyum ? senyum kan sama dengan sedekah", jawab Vino.


"Nggak, nggak, nggak mungkin. Kita kan lagi cerita serius masa' tiba-tiba, oh atau karena tadi ada yang lewat ?",


"Ah, pinter", jawab Vino sambil menunjukkan jempolnya kepada Albert.


"Ketauan banget".


"Enggaklah, yang tau aku senyum cuma kamu".


"Nambah cantik ya kalo rambutnya dikuncir, diliat dari belakang aja udah menarik apalagi kalo diliat dari depan".


"Maksud kamu ?", tanya Vino melotot.


"Santai bro, kan memang kakak itu cantik, ya panteslah dapet pujian".


"Iya dia nambah cantik aja kalo kayak itu, wahh".


"Jadi kemarin dia yang ngomongin kamu anak kecil ?, bener dia orangnya ?", tanya Albert.


"Nggak tau".


"Kamu suka dia kan ?",


"Iya".


"Semangat bro terus yang sabar ya".


"Iya".


"Iya iya mulu dari tadi, oh ya aku denger katanya dia jutek".


"Iya tapi ngangenin", pungkas Vino sambil tersenyum.


"Terkadang kalo jatuh cinta liat macan kayak kucing emang".


"Iya bener, tapi dia nggak suka sama aku".


"Masa' ?",


"Pura-pura nggak tau atau mau ngejek ?",


"Beneran nggak tau, nggak habis pikir kalo ada cewek yang nolak kamu, padahal banyak yang ngantri malah bela-belain bawain makanan, tapi dia nggak suka kamu".


"Ya, mau gimana lagi, emang itu kenyataan yang harus aku terima".


"Padahal kamu nggak ada yang kurang, tampan, tajir, pinter, ketua kelas dan deket sama guru".


"Itu semua nggak bisa aku jadiin modal buat dia suka dan kurangnya aku itu karena.."


"Anak kecil ?", potong Albert.


"Iya, anak kecil, udahlah yuk masuk", ajak Vino.


"Yuk".


Reyna yang baru saja memasuki kelas langsung duduk di bangkunya.


"Fa, abis olahraga temenin beli salad buah ya".


"Oke", jawab Zelfa singkat sambil memainkan ponselnya.


"Beli susu kedelai juga ya".


"Oke".


"Fa, pas istirahat nanti makannya bakso aja ya".


"Oke".


"Oke oke mulu, kamu lagi chat sama siapa ?",


"Aku nggak lagi chat".


"Terus kenapa kayak sibuk banget gitu".


"Lagi maen game nih", kata Zelfa menunjukkan ponselnya.


"Sejak kapan suka main game ?",


"Sejak kemarin dikasih tau Faldo jadi pengen nyobain juga".


"Hmm"..


Bel masuk pun berbunyi, semua anak di kelas itu pergi ke lapangan. Sebelum masuk ke bagian inti, mereka melakukan pemanasan terlebih dahulu. Setiap anak secara bergiliran menghitung gerakan yang mereka lakukan. Pemanasan pun dilanjutkan dengan berlari mengelilingi lapangan sebanyak dua kali putaran.


"Kenapa perasaanku agak nggak enak ya ?", tanya Reyna dalam benaknya.


Ia pun sempat berhenti berlari.


"Kenapa Rey berhenti ?", tanya Zelfa.


"Nggak apa-apa, aku cuma capek aja. Yuk lah lanjut lagi entar malah kena marah", elak Reyna.


Dua jam telah berlalu hal itu berarti jam pelajaran olahraga telah usai. Semua anak memggantu pakaian mereka dengan seragam yang telah sekolah tetapkan untuk hari itu.


"Panas banget Rey hari ini".


"Iya Fa, yuk lah kita ke kantin".


"Yuk".


Setibanya di kantin..


"Bu, pesen saladnya satu, eh Fa kamu mau juga ?",


"Nggak, aku susu aja bu".


"Iya bu, jadi kami pesen salad satu sama dua botol susu kedelai".


"Ditunggu ya dek, lagi disiapin".


"Iya bu".


Mereka pun mencari tempat duduk. Disana ada Faldo yang melambaikan tangannya dan mengajak mereka untuk bergabung.


"Rey, situ aja", tunjuk Zelfa.


"Wih, gila panas banget hari ini", ujar Faldo sambil mengipaskan wajahnya dengan potongan kardus.


"Iya panas banget, gerah", tanggap Reyna.


"Eh tapi muka kamu baik-baik aja kan ? kayak lesu gitu, keringetnya banyak banget keringin gih, nih mau minjem kardus ?", tawar Faldo.


"Aku cuma kegerahan aja, boleh Do pinjem dulu ya", jawab Reyna seraya mengambil kardus dari tangan Faldo.


"Do, kamu nggak makan ?", tanya Zelfa.


"Udah pesen aku".


"Pesen apa ?",


"Nasi goreng, nggak makan nih tadi pagi, kalian pesen apa ?", jawab Faldo sambil mengelus perutnya.


"Salad sama susu".


"Nggak laper ?",


"Nggak, soalnya nanti mau makan bakso".


"Nah itu pesenan aku datang", tunjuk Faldo.


Ibu kantin pun menyajikan nasi goreng dengan satu telur mata sapi beserta air putih.


"Hmm..harum, tampak sangat menggiurkan", kata Faldo yang sudah tak sabar lagi menyantap nasi gorengnya.


"Makan duluan ya temen-temen", sambungnya.


"Iya".


Faldo pun menyantap makanannya, tak lama dari itu salad dan susu yang sudah dipesan lun datang sementara Faldo sudah menghabiskan makanannya.


"Udah selesai ?", tanya Zelfa.


Namun Faldo hanya menjawabnya dengan tersenyum.


"Cepet banget".


"Ya udah aku duluan masuk kelas ya, mau tuker baju juga, dari tadi nggak sempet soalnya laper banget, itu makanan kalian udah dibayar belum ?",


"Belum", jawab Zelfa.


"Aku yang bayarin ya, duluan", kata Faldo sambil melambaikan tanggannya.


"Makasih Faldo", jawab Zelfa.


"Makasih Do", ungkap Reyna.


"Udah selesai Rey ?",


"Udah Fa".


"Yuk masuk".


Pelajaran selanjutnya pun dimulai.


"Anak-anak, kumpulkan tugas kalian ya", ujar guru.


"Iya bu", jawab semua siswa.


Reyna gusar karena mencari bukunya namun tak kunjung ketemu.


"Kenapa Rey ?",


"Buku aku nggak ada, ketinggalan, gimana nih Fa".


"Coba sekarang kamu tulis dulu jawabannya, aku ada bawa buku yang belum kepake".


"Emang masih sempet ?", tanya Reyna panik.


"Kamu tulis dulu aja, ibunya belum jalan kesini juga".


Reyna mempercepat gerakan tangannya menulis.


"Hey, itu kenapa baru buat sekarang ?", tunjuk gurunya kepada Reyna sambil berjalan mendekatinya.


"Tugasnya udah dikerjain, tapi bukunya ketinggalan bu", jawab Reyna dengan nada sedih.


"Kamu kan tau kalo saya nggak suka alasan ketinggalan, lupa bawa, nggak ngerti cara buatnya atau alasan apapun itu, jadi semuanya.. hey, hey dengerin yang itu jangan sibuk sendiri, siapa yang nggak bawak tugas/nggak buat, akan saya beri hukuman tapi kalo masih mau nilai besok harus dikumpul tapi konsekuensinya nilai kalian akan saya potong, sekarang yang nggak bawa tugas ataupun nggak buat silahkan keluar", tegur guru itu.


Reyna pun bangkit dari bangkunya.


"Yang tabah Rey", ucap Zelfa.


Reyna meninggalkan kelas dengan keadaan lesu dan sedih karena hari itu untuk pertama kalinya ia tak membawa tugas.


"Jadi hukuman buat kalian adalah membersihkan halaman sekolah dan lari sebanyak tiga kali keliling lapangan".


"Tapi bu..", cegah Rio.


"Nggak ada tapi tapi, saya kan sudah kasih peringatan yah jangan sampai dilanggar, ini adalah hukuman buat kalian, sekarang lebih baik kalian kerjakan biar tidak membuang waktu lagi".


"Iya bu", jawab mereka.


Reyna bersama Rio mulai mengambil sapu di gudang dan membersihkan halaman.


"Rey, kamu nggak kenapa-napa kan ?, keringet kamu banyak baget, kalo capek istirahat dulu aja biar aku yang nyelesain", kata Rio.


"Nggak apa-apa koq, hari ini panas banget soalnya dari pagi".


"Duh, sabar ya Rey, tapi aku nggak nyangka kamu bisa ketinggalan buku".


"Iya, nggak biasanya nih aku bener-bener lupa".


"Muka kamu sampe merah, beteduh dulu gih".


"Tapi kan harus cepat selesai".


"Biar aku aja yang ngerjain".


"Nggak bisa gitu lah".


"Udahlah biar aku aja, nanti wajah cantik kamu malah jadi kepiting rebus".


"Lama-lama juga nggak masalah".


Reyna hanya menghabiskan waktu sekitar 5 menit untuk berteduh dan melanjutkan kembali tugasnya.


"Loh, kan aku bilang biar aku aja".


"Nggak enak lah, kan aku juga dihukum nggak bawa tugas", jawab Reyna kembali menyapu.


Halaman yang tadinya penuh oleh daun kering pun sudah bersih, mereka melanjutkan hukuman mereka untuk berlari keliling lapangan.


Reyna tetap memaksakan kakinya untuk bergerak padahal tubuhnya sudah sangat letih. Vino yang baru saja keluar dari ruang guru untuk membagikan buku-buku temannya yang sudah diberi nilai pun melihat keringat Reyna yang bercucuran dan itu menurutnya itu tak wajar, melihat orang berkeringat seperti orang yang disiram air. Ia pun mencoba mendekati, namun teringat akan apa yang ia bawa ia memutuskan untuk pergi ke kelasnya dulu.


Reyna merasa pandangannya mulai mengabur, badannya terasa dingin dan larinya jadi tak beraturan. Seketika ia pun pingsan. Rio yang melihat hal itu bermaksud ingin membawa Reyna ke UKS namun berhasil dicegah oleh kecepatan Vino. Vino berlari secepat mungkin. Perasaan Vino tak pernah salah ketika melihat Reyna dan terbukti ia tau kalau saat itu Reyna sudah keletihan.


"Kak, biar aku aja yang bawa kak Reyna ke UKS".


"Beneran ?", tanya Rio.


"Iya".


"Oke, hati-hati".


Vino menggendong Reyna dan berlari menuju UKS. Perasaannya sangat khawatir apalagi melihat wajah Reyna yang biasanya berseri menjadi pucat. Sesampainya di UKS, Vino disambut oleh petugas disana dan ia pun membaringkan Reyna di atas kasur.


"Vin, ini obatnya terus sama air hanget", kata petugas.


"Iya terima kasih kakak".


"Dia pasti kecapekan, kakak mau gantiin bajunya dulu basah semua itu".


UKS di sekolah itu memang selalu menyediakan kaos untuk berjaga-jaga.


"Baik kak, saya keluar dulu, nanti kalo sudah panggil saja".


"Kamu nggak balik ke kelas dulu ?",


"Nggak kak".


"Kamu kayaknya khawatir banget sama dia, sampe nggak mau ninggalin. Mending kamu ke kelas gih. Tenang aja entar kalo dia sadar, kakak kasih tau kalo kamu yang gendong dia kesini".


"Tapi, kak..",


"Udah, udah masuk sana, nanti surat izin sakitnya kakak yang urus, kamu belajar yang rajin aja sana ketua kelas".


"Ya udah deh kalo gitu, aku masuk dulu, padahal pengen nungguin sekali-kali nggak ikut belajar mungkin nggak masalah",


"Nggak boleh gitu, masa' kamu mau liatin ke dia kalo kamu itu sebenarnya anak nakal yang mau bolos nungguin dia, pasti dia nggak suka sama kamu kalo tau pas dia baru sadar kamu malah bela-belain bolos",


"Emang dia nggak suka aku".


"Apa ?", tanya petugas itu dengan melotot tak percaya bagaimana mungkin ada yang berani menolak Vino.


"Hmm.. bener juga kata kakak aku masuk kelas dulu ya".


Dengan perasaan kecewa Vino meninggalkan UKS.


"Lama banget Vin izin keluarnya ?", tegur guru.


"Iya bu, tadi mampir ke UKS dulu".


"Oh, ya udah kamu boleh duduk".


"Siapa yang sakit Vin ?", tanya Albert saat Vino sudah ada disampingnya.


"Kak Reyna pingsan".


"Hah ?",


"Iya, jadi aku bawa ke UKS dulu",


"Digendong ?",


"Digigit kayak anak kucing".


"Luar biasa", jawab Albert.


Saat bel istirahat berbunyi Vino langsung keluar meninggalkan kelas.


"Buru-buru amat tu anak", ujar Albert.


"Mau nyusul atau nggak yah, tapi kalo nyusul ngapain juga, jenguk orang sakit ? entar malah Vino marah tapi aku pengen tau. Ah, sabar Albert kamu tunggu disini aja dan dengerin kabar selanjutnya dari Vino", gumam Albert.


"Sendirian lagi deh makan hari ini, nasib kamu Bert", lanjut Albert lagi.


Vino yang berlari sampai terengah-engah akhirnya tiba di UKS.


"Udah dateng aja Vin, padahal baru bel itu", tegur petugas.


"Heheh iya kak, gimana udah sadar kak Reyna nya ?",


"Belum Vin, coba kamu liat deh".


Vino pun menggeser kain gorden yang menutupi tempat Reyna berbaring, ia duduk disampingnya.


"Kakak kecapekan sampe pingsan", ujar Vino yang sedang menggenggam tangan Reyna.


"Maaf, aku lancang megang tangan kakak, kalo kakak bangun dan liat ini pasti nggak suka. Tapi plis, biarin aku genggam tangan kakak dulu kayak gini".


Tangan Reyna sudah tak sedingin tadi saat Vino menggendongnya.


Vino pun mengusap kepala Reyna dan Reyna pun akhirnya tersadar.


"Ah, aku dimana ? kepala aku masih sakit ni", kata Reyna dengan suara lemahnya.


Vino yang kaget, reflek melepaskan genggamannya.


"Di UKS kak, tadi kakak pingsan. Nih minum dulu airnya, ah udah nggak anget lagi, padahal tadi disiapin masih anget tapi kakak nggak bangun juga, aku ambilin dulu ya".


Vino kembali membawa air hangat dan membantu Reyna meminumnya dengan menegakkan badannya.


"Minum obatnya kak".


"Iya".


"Jadi siapa yang bawa aku kesini ? Jangan bilang kalo itu kamu",


"Aku kak, maaf ya, soalnya keadaannya genting".


"Iya, makasih Vin, makasih banyak".


"Sama-sama kak".


Keadaan Reyna nampaknya sudah sedikit membaik, Vino bisa melihatnya tersenyum.


"Kamu nggak cari kesempatan kan tadi waktu bawa aku kesini ?", selidik Reyna karena ia ingin melihat ekspresi Vino yang lucu saat dia marahi.


"Nggak koq kak, aku nggak cari kesempatan".


"Hahaha, iya iya, aku ngetes aja, kamu ada makanan ?",


"Nggak ada kak, ini juga baru bel istirahat".


"Lama juga aku pingsannya. Tapi makasih Vin udah nolong, tapi kemana Rio ?", Reyna kembali menyelidiki karena tadi ia sedang bersama Rio dan tidak ada Vino disitu tapi kenapa Vino yang membawanya.


"Tadi emang ada kakak itu, tapi aku nggak mau kalo dia yang bawa kakak, jadi aku aja, kebetulan tadi mau abis dari ruang guru".


"Oh gitu, laper nih Vin nggak ada makanan ?",


"Baru bangun makanan aja yang dicari".


"Maunya siapa yang dicariin ? kamu ?",


"Kalo kakak maunya gitu akusih nggak masalah dicariin terus",


"Ah, lagi dan lagi", jawab Reyna sambil memutar bola matanya.


"Heheh, aku beliin makanan dulu yah", pamit Vino.


Reyna pun mencegahnya pergi dengan menarik tangannya.


"Tunggu, aku minta maaf yah kalo aku berat heheh".


"Nggak koq, walaupun kakak berat aku bakal keluarin semua tenaga aku".


"Ah, ngawur".


"Beneran kak, jadi masih belum mau ngelepas tangan aku ?",


"Iya ya, tadi kamu megang tangan aku juga kan ?",


"Maaf kak".


"Iya iya, aku nggak marah koq, muka kamu biasa aja",


"Takut".


Plakk.. Reyna memukul tangan Vino.


"Sakit kak, padahal baru aja sadar tapi tenaganya kuat banget".


"Nah hati-hati loh kalo aku sehat lebih kuat dari ini, oh ya kamu masih udah nggak marah lagi kan sama aku ?",


"Marah buat apa ?",


"Aku ngomongnya kelewatan pake ngatain anak kecil",


"Oh soal itu aku sih sebenarnya kecewa dan selalu bertanya-tanya emang aku belum dewasa ya ? tapi aku nggak bisa marah sama kakak".


Reyna hanya menggangguk dan melepaskan tangan Vino.


"Ya udah, sana gih beliin makanan".


"Mau makan apa kak ?",


"Apa ya, ada soto ? kalo ada beliin kalo nggak ada beliin aku bakso aja".


"Oke kak, tunggu ya".


"Iya Vin".


Vino pergi ke kantin dan kembali beberapa saat setelahnya.


"Mau aku suapin ?",


"Nggak usah Vin".


Reyna pun mengangkat mangkuknya, tapi goyang dan berhasil diambilalih oleh Vino.


"Nah kan sini aku aja yang suapin".


"Hmm..ya udah deh, padahal aku yakin tenaga aku sudah pulih buktinya pukulan tadi kedenger keras".


"Ah, keras itu sakit banget loh, tapi kan itu nggak membuktikan".


"Maaf Vin sengaja mukul tadi, heheh".


Selama menyuapi Reyna, Vino tidak berbicara apa-apa Reyna pun bingung dibuatnya karena biasnya anak itu suka bertanya banyak hal.


"Kenapa diem aja Vin ?",


"Lagi konsentrasi".


"Hah ? nyuapin aja sampe konsen".


"Iya, sebenernya aku gugup juga kak".


"Gugup ? ya ya, lucu lucu".


"Kak, jadi kita sekarang bisa temenan ?"


"Kamu maunya gitu ya boleh, dari awal aku juga gak ngelarang koq".


"Tapi waktu itu..",


"Aku cuma suka kesendirian dan aku juga takut sama kamu", tunjuk Reyna.


"Takut ? sama aku, aku ni nggak serem loh".


"Iya, nggak serem tapi ganteng banget sih, hahah", ceplos Reyna.


Vino yang mendengarnya kaget dan diakhiri dengan senyum.


"Aku takut juga karena tau kalo kamu suka sama aku",


"Kenapa takut suka ?",


"Iya kurang lebih gitulah".


Mereka pun mulai akrab dan saling melempar senyum satu sama lain.


Hari itu menjadi jawaban atas penantian Vino selama ini, akhirnya ia bisa akrab dan mengambil hati Reyna untuk dekat dengannya.