Still With You

Still With You
Chapter VI : Miror Oh Miror



"Malam hari yang indah di bawah hamparan bintang ?", gumam Vino yang masih berdiri di depan jendela kamarnya menikmati angin malam yang lembab.


"Belum tidur Vin ?", tanya mamanya yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.


"Belum ma".


"Tidur gih, entar kamu sakit lagi".


"Iya ma bentar lagi, sekarang aku belum bisa tidur nih".


"Mau mama buatin susu atau coklat panas ?",


"Hmm nggak usah ma, nanti lama-lama ngantuk juga".


"Ya udah kalo emang gitu, selamat malam Vin".


"Malem ma".


Mamanya pun pergi meninggalkan kamar anaknya itu.


Vino yang masih belum merasa kantuk pun memutuskan untuk menonton tv. Meskipun ia sedang menonton acara favoritnya tapi pikirannya masih melayang jauh dan jatuh pada kejadian tadi siang.


"Ada apa dengan Reyna ? kenapa dia mau menyeka keringatku ? Enggak bukan cuma itu kenapa dia menggambarku dengan sangat sempurna ? bukannya dia risih kepadaku", tanya Vino kepada dirinya sendiri.


"Ah, membayangkan bagaimana matanya menatapku dan bagaimana tangannya mengusap kepalaku membuat aku sulit melupakannya bahkan jika aku ingin. Seharusnya aku yang melakukannya, tapi itu tak mungkin, dia saja tak menyukaiku tapi kenapa malah dia yang melakukannya. Membayangkan mengusap tangannya benar-benar membuatku senang dan malu sendiri", kata Vino yang tanpa ia sadari mukanya cukup memerah.


"Katanya mukaku kadang memerah", Vino mencoba mengingat apa yang dikatakan Reyna. Dia pun beranjak dari tempat tidurnya untuk memastikan keadaan mukanya saat ini di cermin.


"Ah, mukaku memang memerah, kenapa kam harus menunjukkannya pada Reyna dengan memberi tanda seperti ini. Tapi kalau dilihat-lihat aku memang seperti pangeran berkuda putih persis seperti di lukisan itu", puji Vino terhadap dirinya sendiri.


Di tempat lain Reyna merutuki dirinya sendiri.


"Apa yang kamu lakukan Rey ? kenapa nggak sadar sih ? kenapa sampai harus mengusap kepalanya dan menyeka keringatnya ? biarkan saja dia banjir keringat, ah dan aku baru ingat dimana saputanganku tadi ? tanya Reyna sambil mencari saputangan di saku rok nya.


"Aku harus mengembalikan saputangan ini, apa nggak usah aku kembaliin ya ? tapi masa' aku ngambil barang orang lain, balikin aja deh entar dia malah marah lagi padahal hubungan kami udah mulai membaik, ya mungkin bisa saja dikatakan membaik", kata Vino sambil memperhatikan saputangan yang sudah ia cuci bersih tadi.


"Ah, saputanganku masih ada di anak itu, wah ada apa denganku, belum selesai terjawab mengapa aku bisa bermimpi yang terasa seolah nyata itu, malah ditambah perlakuanku yang mendadak ingin berbaikan dengan anak itu, apa benar kata Zelfa do'a anak itu terkabul ? apa yang sebenarnya ia pinta ? apa ia meminta aku dekat dengannya ? kenapa harus sampai seperti itu, dia benar-benar suka kepadaku ? anak kelas 10 menyukai orang sampai seperti itu ? menakjubkan. Tapi aku akui dengan jarak yang hanya beberapa centi, aku bisa melihat ketampanannya, pahatan yang sempurna, ah membayangkannya membuatku tersenyum sendiri".


Malam itu mereka bertanya kepada diri mereka sendiri dengan menatap cermin.


Reyna yang sudah selesai memakai krim wajah pun memutuskan untuk mengakhiri pikirannya tentang kejadian hari itu dengan tidur. Ia menarik selimut dan mematikan lampu. Begitu pun dengan Vino yang sudah merasa kantuk, ia mematikan tv dan pergi tidur. Namun ia tak pernah mematikan lampu karena takut. Vino kadang merasa minder kalau sampai Reyna tahu pasti Reyna akan tambah ilfeel kepadanya.


"Rey, bangun Rey", kata seorang laki-laki membangunkan Reyna yang masih terlelap di balik selimutnya.


"Ah, ini baru jam berapa ?",


"Bangunlah, kamu bisa terlambat hari ini".


"Tunggu, berani sekali kamu memanggil namaku, panggil aku kakak", kata Reyna dengan nada kesal.


Ia mulai tersadar dan terkejut ada dimana dia sekarang dan kenapa Vino yang membangunkannya. Saat ia memperhatikan dimana ia tertidur, sudah dipastikan kalau itu adalah kamarnya sendiri.


"Ah, mengapa harus dia lagi dan lagi", gerutu Reyna.


Lalu saat melihat jam betapa terkejutnya ia sudah pukul 6.30. Ia pun melompat dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi dengan uring-uringan mengejar waktu. Selang beberapa menit kemudian setelah menyelesaikan mandinya, ia mengecek handphone namun nihil tak ada satu pesan pun untuknya.


"Kenapa aku begitu mengharapkan ada pesan masuk ?", tanya Reyna dalam benaknya.


Pagi itu ia hanya sarapan dengan selembar roti yang diisi selai karena tak sempat memasak sehingga perutnya masih merasa lapar. Namun karena takut ketinggalan angkot dan terlambat Reyna harus menahannya. Meskipun ia sudah berusaha secepat mungkin tapi ia masih saja terlambat dan menyebabkan ia kena hukuman.


"Reyna kenapa kamu bisa terlambat hari ini ?", tanya guru piket.


"Iya bu, maaf, saya terlambat bangun".


"Jangan diulangi lagi besok-besok, sebagai hukumannya hari ini kamu harus membersihkan toilet".


"Iya bu, sekali lagi saya minta maaf".


"Sudah, cepat sana kamu kerjakan".


"Iya bu".


Reyna pun bergegas pergi ke toilet dan membersihkannya. Selama menyikat toilet pula perutnya berbunyi, namun ia harus menahannya.


Di lain tempat, tepatnya di kelas...


"Dimana Reyna ini ? Nggak masuk atau terlambat ?", gerutu Zelfa.


Sejam telah berlalu, toilet sudah bersih, Reyna merasa perutnya sangat sakit gara-gara menahan lapar. Ia berjalan di koridor menuju ruang kelasnya sambil memegangi perut. Vino yang saat itu baru keluar dari ruang guru melihat cara berjalan Reyna yang aneh dan tertatih. Vino pun menghampirinya.


"Kak, kamu kenapa ? sakit ?", tanya Vino sambil memegang pundak Reyna.


"Duh, aku sakit perut, laper", jawab Reyna lirih.


Rasanya Vino ingin tertawa tapi dia rasa itu bukan saat yang tepat.


"Yuk ke kantin, kita makan", ajak Vino.


"Tapi, aku mau masuk kelas dulu nanti ketinggalan pelajaran".


"Kakak duluan deh ke kantin entar aku nyusul, biar aku yang minta izin sama guru kakak".


"Heh kamu ? anak kelas 10 mau minta izin sama guru yang ngajar kelas 11, emang bisa ?",


"Bisa kak, tenang aja, percaya sama aku, mending kakak buruan deh ke kantin, sekalian pesenin aku bakso pake mi tapi nggak pake saos".


"Kamu ketua kelas koq jajan jam sekarang ? aduh makin melilit", kata Reyna menahan sakitnya.


"Buruan ke kantin deh kak".


Reyna pun berlari menuju kantin dan memesan makanan. Tak lama kemudian, Vino datang menghampirinya dengan membawa obat maag.


"Nih kak, makan obat, aku pikir mungkin saja maag kakak kumat".


"Makasih, kamu udah izin sama guru aku ?",


"Sudah dong kak".


"Hebat, makasih ya Vin", puji Reyna.


Mereka pun makan bersama.


"Emang kalo ketua kelas bisa ya makan pas jam pelajaran ?",


"Bisa dong aku kan spesial".


"Masa' ?",


"Sebenarnya aku dikasih izin buat makan karena tadi pagi aku juga nggak sempet sarapan".


"Koq bisa gitu ?",


"Bisa kak, waktu awal masuk sekolah aku nyertain surat sakit".


"Oh kamu maag juga ?",


"Iya".


"Jadi itu sebabnya kamu harus masak pagi-pagi ?",


"Iya kak dan buat alasan lain juga, mama kan suka keluar kota, jadi aku harus bisa masak, tau sendiri kan kalo kak Zelfa nggak bisa masak, bangun pagi aja susah".


"Hmm..iya iya bener".


"Kamu kan yang bayar makanan ini Vin ?",


"Iya kak, kan tadi aku bilang kalo aku yang traktir, tenang aja".


Mendengar jawaban Vino, Reyna tak bisa menyembunyikan senyumnya.


"Oh ya kak, aku ganti nomor", kata Vino.


"Jadi ?",


"Minjem hp kak".


"Buat apa ?",


"Buat simpen nomor aku".


"Kenapa ?",


"Siapa tau penting".


"Kayaknya nggak deh".


"Kalo suatu saat kakak ada perlu sama kak Zelfa bisa aku sampein, atau nanti kak Zelfa ada pesen sama kakak kan bisa juga".


"Hmm, ya udah nih", jawab Reyna sambil memberikan handphonenya kepada Vino.


"Jadi, dia nggak nge chat karena ganti nomor, ah kenapa juga harus nungguin chat dia, nggak, nggak, nggak bener ini", gumam Reyna dalam hatinya.


"Udah selesai kak ?"


"Udah Vin, yuk masuk kelas".


"Nanti kak".


"Kenapa ?",


Tiba-tiba tangan Vino mendekati bibir Reyna.


"Ini, ada bekas tisu kak".


"Ah, iya makasih ya", jawab Reyna yang sedikit kaku.


Nyatanya bukan cuma Reyna saja yang menjadi kaku tapi suasana juga berubah jadi kaku karena jari Vino tak sengaja menyentuh bibir mungil Reyna.


"Aku masuk kelas ya Vin", ucap Reyna meninggalkan Vino sendiri.


"Iya kak", jawab Vino singkat karena menahan jantungnya yang hampir meledak setiap saat berdekatan dengan Reyna apalagi kalau tak sengaja menyentuhnya.


"Udah nggak sakit lagi bu, terima kasih atas izinnya".


"Iya nak. Nanti kalo sakit ke uks aja".


(Unit Kesehatan Sekolah)


"Iya bu".


Reyna pun kembali ke tempat duduknya.


"Pulang ini kamu harus ke rumah aku", perintah Zelfa.


"Aku mau langsung pulang aja, mau istirahat".


"Pokoknya ke rumah aku, istirahat di rumah aku, mama masak banyak hari ini".


"Ada acara apa ?",


"Nggak ada apa-apa, aku aja yang minta mama masakin banyak abis tau kalo kamu maag".


"Eh, ngerepotin banget Zelfa".


"Nggak, pokoknya harus datang", tekan Zelfa.


Waktu berputar dan berlabuh sampai di jam pulang sekolah.


Vino ternyata sudah menunggu Reyna dan kakaknya di depan kelas.


"Pulang bareng kak", ajak Vino.


"Kamu nggak ke perpus dulu ?", tanya Zelfa.


"Nggak kak".


"Oh oke, yuk".


Mereka bertiga pun pulang bersama. Vino duduk tepat di sebelah Reyna dimana lengan mereka bisa saling bersentuhan karena tempat duduk angkot yang sempit dipenuhi oleh penumpang. Reyna tampak berkeringat, ia pun mengeluarkan kipas portabel dari dalam tasnya dan menghidupkannya. Vino yang merasakan hal sama pun mendekatkan wajahnya ke kipas yang digenggam Reyna.


"Kepanasan Vin ?",


"Iya kak".


Reyna pun mengubah letak kipasnya dan menggenggamnya dengan tangan kanan. Tanpa aba-aba, lagi-lagi Reyna terkejut karena Vino ikut menggenggam tangannya.


"Biar aku aja kak yang pegang".


"Ah iya", jawab Reyna sambil mencoba melepaskan genggaman Vino.


Selama perjalanan, banyak penumpang yang sudah sampai tujuan sehingga angkot tersebut hanya tersisa mereka bertiga saja.


"Ah, kenapa siang ini panas sekali padahal kemarin-kemarin juga panas", celetuk Zelfa padahal kipas portabelnya hanya dinikmati oleh dia sendiri.


"Iya ya kenapa ? gara-gara kamu ini Fa, coba aja kamu berhasil deketin Albert, kan kita bisa nebeng naik mobil dia".


"Kakak suka sama Albert ?", tanya Vino.


"Kamu nggak tau Vin, dia ini tergila-gila sama Albert, waktu kemarin aja dia yang ngajakin buat nonton tanding basket", jawab Reyna.


"Apaan sih Vin, kamu kan udah tau", sambung Zelfa.


"Loh kamu udah tau ? terus pake pura-pura nggak tau",


"Heheh, iya kak, maaf".


Reyna yang mengetahui hal itu pun kesal dan menepuk lengan Vino, tepukan itu terdengar keras sampai ia pun terjatuh di pelukan Vino dengan memegang tangannya.


Zelfa hanya bisa tersenyum melihat hal itu ia tau betul adiknya yang polos itu sebenarnya jahil tapi terkadang kejahilannya berbuah keuntungan bagi dirinya sendiri.


Reyna yang menyadari posisinya segera bangkit.


"Aww, sakit kak", keluh Vino sambil memegang lengannya.


"Rasain", ketus Reyna.


"Maaf kak".


Namun Reyna hanya diam saja.


"Udah-udah, kita udah sampe ni", kata Zelfa.


Mereka pun turun.


Zelfa berlari menuju gerbang rumahnya meninggalkan Vino dan Reyna di belakang. Suasana antara mereka berdua menjadi kikuk kembali.


Angan Zelfa ingin cepat masuk rumah terhalang, nyatanya gerbang masih terkunci dan dia lupa membawa kuncinya sehingga ia menunggu Vino.


"Cepet Vin, aku lupa bawak kunci", teriak Zelfa sambil melambaikan tangan.


Vino dan Reyna pun mempercepat langkahnya.


"Makanya kunci itu jangan lupa dibawa", kata Vino sambil menggeser posisi kakaknya.


"Ya elah, baru kali ini juga lupa".


"Baru kali ini ? Udah yang ke berapa kali ini kak".


"Kecilin suara kamu Vin, kamu malu-maluin aku", bisik Zelfa dengan tangan yang menarik bibir Vino.


"Berhenti menyiksaku kak, mamaa aku pulang, kakak nyiksa aku terus nih, kirim aja dia keluar kota jangan kasih pulang", teriak Vino memasuki rumahnya.


"Ah, anak ini memang harus dihajar", kata Zelfa sambil melemparkan sepatu ke punggung adiknya itu.


"Maaa, kakak buang sepatu sembarangan, sita uang jajannya ma", teriak Vino lagi.


Reyna tertawa melihat hal itu. Sebuah keharmonisan yang ia dambakan.


Reyna yang baru memasuki rumah itu melepaskan sepatunya dan Vino kembali keluar menaruh sepatu Zelfa di rak dengan memegangi punggungnya, tempat Reyna menaruh sepatunya juga, setiap melempar sepatu Zelfa pasti akan langsung masuk ke kamar.


"Sabar ya Vin, ini cobaan, hahah", kata Reyna sambil menepuk pundak Vino.


"Semoga segera berakhir", jawab Vino pasrah.


Mama Zelfa yang melihat Reyna sudah datang segera menyuruhnya naik ke atas menyusul Zelfa. Siang itu, Reyna tak perlu repot lagi mengambil pakaian dan beberapa perlengkapannya karena ada yang ia tinggalkan di kamar Zelfa.


Beberapa menit kemudian, mereka sudah berganti pakaian dan siap menyantap makan siang.


"Rey, kata Zelfa maag kamu kumat ?", tanya mama Zelfa.


"Iya tan".


"Nah sekarang kamu makan yang banyak ya".


"Jadi ngerepotin tan".


"Nggaklah, makan aja, jangan sampe maag kamu kumat lagi bahaya loh, Vino aja pernah sampe harus dibawa ke rumah sakit", kata mama Zelfa sambil menaruh nasi dan lauk di piring mereka bertiga.


Santapan siang hari itu benar-benar sedap, tidak kalah dengan menu restauran.


"Hmm, enak banget tan", puji Reyna.


"Mau nambah Rey ?", tanya mama Zelfa.


"Iya nambah aja Rey, nggak usah malu-malu anggap aja rumah sendiri", sambung Zelfa.


"Eh, beneran boleh ?", tanya Reyna.


"Iya dong, gratiss tiss tiss..", jawab Zelfa.


Reyna pun menambah lagi porsinya, melihat hal itu Vino hanya tersenyum. Hal yang baru ia ketahui tentang Reyna karena selama ini ia tak pernah makan bersama kalaupun sampai makan bersama ia hanya melihat Reyna makan satu porsi dan baru kali ini ia melihat wanita yang tidak malu saat harus makan banyak.


"Kamu kenapa Vin ?", tanya Zelfa.


"Kenapa emangnya ? aku nggak ngapa-ngapain, udah deh kak, lagi makan ni malah mau ajak perang".


"Aku kan cuma nanya aja, koq kamu gitu sih, pukul loh nanti".


"Pukul aja, nanti aku bakal kasih tau sama si A..."


Zelfa buru-buru menginjak kaki Vino. Vino pun berteriak kesakitan.


"Sudah-sudah, jangan ribut makan dulu entar kalian lanjutin perang kalian yang nggak pernah selesai itu", lerai mamanya.


Keadaan pun menjadi hening dan satu persatu piring menjadi bersih tanpa sisa makanan.


Zelfa mengajak Reyna ke ruang tamu untuk bersantai sebelum naik ke atas. Sementara Vino membantu mamanya membersihkan piring. Melihat hal itu, Reyna merasa tak enak hati sehingga ia juga ikut membantu dan meninggalkan Zelfa sendirian yang sedang sibuk membersihkan giginya. Melihat keberadaan Reyna di dapur membuat Vino membeku.


"Eh, Rey, kamu masuk aja, biar tante sama Vino yang bersihinnya".


"Nggak bisa gitu te, aku juga mau ikut bantu, mending tante aja yang istirahat. Tante pasti capek abis masak makanan enak kayak tadi".


"Ah, kamu bisa aja, ya udah tante tinggal ya, makasih atas bantuannya Rey",


Reyna membantu Vino mengelap piring yang sudah dicuci. Saat mengambil piring yang barus selesai dibersihkan, Reyna melihat ada busa di rambut Vino, ia pun mencoba membersihkannya. Saat tangan Reyna ada di atas kepala Vino, Vino menahan tangan Reyna.


"Udah dong kak, jantung aku rasanya mau meledak terus kalo kakak kayak gini", kata Vino yang mulai melangkah mundur.


Reyna yang sedikit terkejut dengan ucapan Vino, ia tak dapat berkata apa-apa lagi.


"Aku masuk duluan kak, kalo udah dikeringin semua, taruh disana aja", Vino pun pergi meninggalkan Reyna sendirian.


"Meledak ?", tanya Reyna dalam hati yang masih sibuk mengeringkan beberapa piring.


Setelah meninggalkan dapur, Vino langsung masuk ke kamarnya. Ia pun berjalan menuju cermin.


"Dia selalu melakukannya dengan biasa saja sementara aku yang harus selalu berdebar. Hey, Vino berusahalah bersikap biasa saja, dia saja tidak peduli betapa berdebarnya jantungmu bahkan sampai meledak pun dia akan tetap membeku", kata Vino sambil menunjuk dirinya dalam cermin.


"Apa dia berpikir kalau ini hanya cinta monyet ? mungkin bukan cuma dia bahkan semua orang, tapi aku tidak merasa begitu. Ataukah memang benar kalo setiap kali jatuh cinta orang akan selalu merasa bagaikan cinta pertama tapi ini memang pertama kalinya aku menyukai orang. Akankah aku bisa merasakan ini jika bukan kepada Reyna ?",


"Ah, andai aku bisa mendapatkan posisiku di hatimu melalui celah di cermin ini, aku ingin tetap tinggal selamanya sampai akhir".