
Sepanjang jam pelajaran dan selama itu juga Reyna kehilangan fokusnya ia hanya memikirkan Vino.
"Apa yang aku lakukan tadi salah ? Kenapa semua tingkahku harus terlihat jelas dan aku tak dapat menguasai mulut ini agar tak berbicara semaunya", rutuk Reyna dalam hatinya.
"Rey, kamu nggak nyatet apa yang ada di papan ?", tanya Zelfa mengacaukan pikirannya.
"Ah, aku pinjem catetan kamu dulu hari ini, yang lengkap ya nyatetnya", jawab Reyna sambil melihat jamnya.
"Iya, tenang aja, pulang masih lama loh".
"Hahah, aku cuma pengen waktu cepet berlalu aja, biar cepet tidur, ngantuk".
"Ngantuk terus, heran".
"Nggak tau nih mata, hahah".
Hari itu Reyna ingin cepat pulang dan menenangkan perasaannya.
Langit mendung siang itu berhasil menyembunyikan matahari, siang sudah tak terlihat lagi.
"Hmm..gelep banget langitnya mau ujan Rey".
"Iya Fa".
"Kamu ada payung ?",
"Nggak ada, kamu ada ? aku mau minjem".
"Cuma satu dan kemarin ada di loker Vino, nanti aku pinjemin ya".
"Eh, aku pinjam sama anak kelas sebelah aja ya".
"Loh kenapa ? Vino nggak pake koq soalnya dia bilang mau pulang sore dan pasti mau ikut temennya".
"Kamu sendiri nggak pake payung ?",
"Nggak Rey, aku ikut orang".
"Siapa ?",
"Siapa lagi ?",
"Cuma ada satu, Albert ? Beneran tu anak mau pulang sama kamu ?",
"Eits, salah dong, bukan dia, dia kan nggak deket sama aku meskipun temenan sama Vino, coba deh tebak siapa",
"Duh, males nih nebak nebak, emang siapa lagi yang deket sama kamu ?",
"Fa, kita jadi kan pulang bareng ?", teriak seorang anak yang duduk di pojok paling belakang.
"Hah ?", kejut Reyna.
Anak itu pun bergerak dari bangkunya dan menghampiri mereka berdua.
"Kalian ? Nggak mungkin", ucap Reyna sambil melotot dan menunjuk kedua temannya itu.
Namun keduanya hanya tersenyum.
"Jadi kan Fa ?",
"Bawa motor kan ? tapi mau ujan, gimana ?",
"Hahah, sejak kapan hujan jadi masalah ? tenang aja, aku ada jas hujan, ya udah sampe nanti ya", ucap anak itu meninggalkan mereka dan kembali duduk di bangkunya untuk mendengar lagu.
Jam terakhir biasanya akan dikosongkan selama setengah jam karena semua guru akan berkumpul dan memberikan review mengenai hasil pembelajaran mereka hari ini atau apapun itu mengenai kejadian di sekolah. Dan penetapan jam kosong juga memberi keleluasan siswa membereskan barang mereka maupun membersihkan kelasnya sehingga masalah seperti kelas yang berantakan atau barang yang ketinggalan bisa diminimalisir bahkan dihilangkan keberadaannya.
"Kamu sama Faldo ? Kenapa ? Nggak suka lagi sama Albert ?", tanya Reyna masih dengan matanya yang melotot tak percaya itu.
"Ya, Faldo mau ngajak aku pulang, kenapa nggak ?",
"Ah, jadi Faldo yang ngajak kamu ? tumben mau",
"Daripada pulang naik angkot terus mending bareng dialalah naik motor, nggak capek".
"Bener bener".
"Kamu gimana ? nggak masalah kan pulang sendiri ?",
"Biasanya juga aku pulang sendiri kecuali mau ke rumah kamu baru barengan".
"Iya sih ya".
"Mentang-mentang udah ada yang baru".
"Eh, nggak begitu".
"Jadi gimana ?",
Bel pun berbunyi.
Faldo langsung membawa tasnya dan menghampiri Zelfa.
"Yuk, pulang",
"Bentar Do, jadi kamu pulang gimana ujan kayak gini ?", tanya Zelfa pada Reyna.
"Kan aku mau minjem payung, kamu pulang gih sana".
"Oke, kalo nggak dapet payung temuin Vino ya atau minta anter dia pulang dia pasti cari akal buat minjem motor temennya. Atau kamu dianterin sama Faldo mau ?",
"Eh apaan, nggak usahlah, kamu aja".
"Iya Rey mau aku anterin pulang ? nanti deh baru jemput Zelfanya".
"Nggak usah guys, pulang ajalah kalian".
"Hmm..ya udah, hati-hati ya, nanti kita cerita", kata Zelfa sambil mengangkat tangan yang membentuk telepon.
"Iya Fa".
Zelfa dan Faldo pun pulang meninggalkan Reyna.
"Ah, payungnya pake acara ada di anak itu lagi, nggak mungkin aku nemuin dia ngomong mau minjem payung, tadi aja aku udah ngomongin dia kayak gitu, ahhh...salah banget kamu Reyna", rutuk Reyna terhadap dirinya sendiri.
"Mau minjem sama anak sebelah, tapi mereka udah nggak ada di kelas lagi, terpaksa nunggu reda ini", ucap Reyna kepada dirinya sendiri seraya menyandang tas ranselnya.
Reyna berjalan di sepanjang koridor sekolah dengan lantai yang tampak basah karena percikan air hujan. Sesekali ia menengadahkan tangannya untuk merasakan tetesan air hujan yang jatuh dari genting.
"Hmm..pulang ini enaknya masak mi kuah pake telur sama cabe ni, pasti enak banget, tapi ujannya deres juga, aku pikir bakal berhenti kalo tau kayak gini mending pulang pas Zelfa baru pergi tadi".
Vino melihat kehadiran Reyna yang sedang menunggu hujan berhenti itu. Di satu sisi ia masih tak terima dikatakan anak kecil tapi di sisi lain ia tetap menyukai wanita itu dan merasa tak tega jika ia pulang sendirian di tengah hujan seperti ini. Vino ingin segera mungkin menyelesaikan bacaannya dan kakinya ingin beranjak mendekati Reyna tapi mengingat kejadian tadi ia mengurungkan niatnya dan kembali melanjutkan bacaannya tapi pikirannya tak lagi fokus pada buku dan hanya tertuju pada wanita itu.
"Kemana nih kak Zelfa, pulang duluan pasti, koq nggak mau nemenin dia", tanya Vino dalam hatinya.
Handphone Vino pun berbunyi menandakan pesan masuk..
***Dari : Kakak Payah**
"Dek, kakak udah pulang duluan, kamu temenin Reyna ya, kakak nggak tau dia dapet pinjeman payung atau nggak, padahal tadi kakak udah saranin dia buat minta payung ke kamu, kakak juga udah nyuruh dia pulang duluan aja sama Faldo tapi tetep nggak mau",
"Dek, kalo perlu kamu anter dia pulanglah lagian ini bisa jadi kesempatan kamu juga, kapan lagi pulang berdua di bawah tetesan hujan hahah*".
"Ah, bener kan dia udah pulang duluan. Nggak mau minjem payung sama aku ? kenapa ? karena tadi, harusnya dia nggak harus ngomong kayak gitu", decak Vino.
Sudah sejam berlalu hujan semakin bertambah deras. Vino pun memutuskan untuk pergi meninggalkan perpustakaan dan berlari. Ia melihat Reyna sudah berjalan di bawah hujan siang itu.
"Ah, pulang ini aku harus langsung mandi, besok nggak dipake juga seragamnya, sekali-sekali pulang keujanan nggak apa-apalah", ucap Reyna sendiri.
Tiba -tiba ia merasa ada yang melindunginya dari hujan dan saat ia menoleh ada Vino dengan baju yang sudah sedikit basah seperti dirinya.
"Loh..", reflek Reyna.
"Yuk, pulang aku temenin".
"Nggak, aku bisa pulang sendiri".
"Selalu nggak, kenapa ? risih ? nggak tau mau kasih jawaban apa yang pas ?", ucap Vino sambil memijat dahinya.
"Baju kamu basah", tunjuk Reyna.
"Biarin, gara-gara siapa coba ? oh ya nggak ada yang nyuruh kan ? dasaran akunya sendiri yang mau",
Reyna pun menarik Vino mendekat padanya supaya terlindung di bawah payung. Mereka pun saling bertatapan satu sama lain. Reyna melihat tatapan ketulusan dari sorot mata tajam itu.
"Ayo pulang", ajak Reyna.
"Kan nggak mau pulang sama aku".
"Ah, sudahlah ayo, hujan nggak berhenti lagi sampe sore nih bahkan sampe malem", ajak Reyna menarik tangan Vino. Bukan menarik, lebih tepatnya tanpa sadar ia sudah menggenggam tangan anak itu. Saat sadar apa yang dilakukannya, ia cepat-cepat melepaskannya.
Tiba-tiba ada mobil yang melaju kencang dan menyipratkan air di jalan untungnya Vino sigap menarik lengan Reyna hingga wanita itu bergeser dan berdiri di depan tubuhnya.
"Kakak, berdiri di depan aku biar nggak kena lagi", kata Vino.
Reyna hanya diam, ia tak tau harus mengatakan apa bahkan menoleh pun ia tak sanggup. Sementara Vino hanya memperhatikannya dari belakang. Ingin rasanya ia memeluk namun ia tak pantas melakukan itu. Hingga tibalah mereka di depan pagar rumah Reyna.
"Ah, jadi sebenarnya seperti inilah posisi kami, aku yang selalu menghadap kepadanya sementara ia membelakangiku", ucap Vino dalam hatinya dan tanpa permisi air matanya lolos.
Reyna yang tiba-tiba berbalik badan melihat air mata itu keluar, ia pun mengusap dengan tangannya.
"Ah, air ujannya masih netes kena muka", elak Vino.
"Mana ada air hujan bisa netes kalo ada di bawah payung, payung juga nggak bocor", kata Reyna dalam hatinya.
"Maaf", ucapan itu lolos dari mulut Reyna dengan tangan yang masih meraih wajah tampan itu.
Vino melongo tak percaya jika Reyna mengucapkan maaf itu sambil menyentuh wajahnya. Kali ini ia melihat tatapan Reyna yang menunjukkan kalau ia merasa tak tega padanya.
"Maaf, aku keterlaluan Vin", sambung Reyna dan menarik tangannya kembali.
"Maaf, kalo kata-kata aku kasar, maaf aku bersikap dingin, maaf atas semua perlakuan aku, tapi kamu pantasnya menyukai orang lain yang juga menyukaimu dan itu bukan aku".
"Biarkan aku tetap di dekatmu seperti ini dan bertahanlah sebentar lagi walau kakak merasa risih karena aku akan membuat kakak menyukaiku. Ah, aku pulang dulu kak", pamit Vino.
"Pulang langsung mandi Vin, biar nggak sakit".
"Berhenti mengkhawatirkan fisikku, cukup dengan kakak yang hanya perlu tak mengabaikanku saja", kata Vino sembari meninggalkan Reyna.
Reyna hanya melihat punggung Vino sampai punggung itu menghilang ia baru masuk ke dalam rumah. Reyna langsung merebahkan tubuhnya di sofa.
"Sekecewa itukah dia ?, aku merasa sangat bersalah padanya melihat dia masih mengkhawatirkanku sampai harus mengantar pulang".
Reyna pun beranjak pergi dan membersihkan tubuhnya.
Vino berjalan pulang membawa serta kehampaannya di bawah payung tempat dimana ia melihat gambaran posisinya selama ini.
"Kenapa air mataku sampai harus menetes di saat yang tak tepat, kenapa harus di depan dia, aku benar-benar membuktikan kalau aku anak kecil".
"Aku pulang",
"Kamu anter Reyna kan ?", tanya Zelfa.
"Mama mana ?",
"Kata memo itu mama pergi lagi keluar kota".
"Sampe kapan ?",
"Seminggu".
"Uwahh, semua pergi".
"Kamu kenapa Vin ? matamu merah, abis nangis ?",
"Siapa yang nangis ? orang kelilipan".
"Oh, jadi tadi kamu anter Reyna pulang kan ?",
"Besok-besok tungguin temennya atau pulang barengan. Jangan ditinggalin mentang-mentang ada yang nebengin".
"Ya elah, kan tadi aku sudah kasih tau kalo dianya nggak mau, maunya pulang sendiri, tau sendiri kan kalo tu orang kayak batu".
"Kenapa masih ditemenin udah tau kayak batu".
"Kamu kenapa Vin ?",
Vino pun langsung naik ke atas dan mengabaikan pertanyaan kakaknya itu.
"Hmm kenapa lagi tuh anak ? patah hati lagi kah ?, telpon Reyna dulu ah".
"Haloo",
"Halo",
"Kamu udah sampe rumah ?",
"Sudah".
"Dianterin nggak sama Vino ?",
"Iya".
"Ah, tapi kenapa tu anak kayak gitu. Ah sudahlah nanti baikan lagi juga", Zelfa pun meneruskan ceritanya tentang mengapa ia bisa pulang sama Faldo.
Reyna yang mendengarkan hanya mengiyakan saja seolah dia paham padahal dalam pikiran bertanya bagaimana keadaan Vino dan haruskah ia menelpon tapi ia tak tau harus membicarakan apa kalau sampai salah ngomong dia mungkin akan menyakiti hati anak itu lagi.
"Haloo Rey, kamu masih dengerin ?", tanya Zelfa.
"Iya masih, tapi aku mau nonton dulu nih ya ada film bagus", jawab Reyna.
"Hmm..oke",
Percakapan itu pun berakhir.
Hujan siang tadi berhenti saat malam hari.
Vino keluar dari kamarnya dan turun makan.
"Kak, udah diangetin kan ?",
"Udah, kamu pikir aku mau makan makanan dingin ?", jawab Zelfa yang sedang mengambil lauk.
"Yah kali aja".
Mereka pun menyantap makan malam dalam hening.
"Piringnya kakak aja yang cuci", kata Zelfa memecah keheningan.
"Yah bagus deh, harusnya dari kemarin-kemarin, tumben rajin".
"Ya bagus dong kalo aku jadi rajin".
"Iya, teruskan sampe selanjutnya ya", kata Vino yang bangkit dari bangkunya.
"Kamu mau kemana ?",
"Ke kamar".
"Cepet banget mau naik".
"Ngapain lama-lama di bawah, nanti ada penindasan lagi".
"Enak aja kalo ngomong, tapi kadang suka bener",
"Ada tugas Vin ?",
"Nggak, emang kenapa ?",
"Biasanya kalo ada tugas aja baru cepet-cepet ke kamar".
"Kan aku udah bilang takut ada penindasan terus juga mau cari ketenangan".
"Ada masalah ?",
"Banyakk, sama kakak salah satunya".
"Gitu amat, timpuk loh nanti".
"Sebelum itu terjadi aku akan berada di pos pertahanan dulu".
"Ya udah buruan sana naik, dimakan hantu baru tau rasa".
"Kakak hantunya, eh kak itu di belakang ada siapa ?", tunjuk Vino.
"Siapa Vin, jangan nakutin", jawab Zelfa ngeri.
"Ada bayanganlah kak, kaburrr.."
"Bener-bener tuh anak", decak Zelfa.
Di dalam kamar, Vino menatap langit malam selepas hujan.
"Ah, langit malem ini cerah, enak dilihat, padahal tadi hampir setengah hari ujan terus. Pangeran di bawah bintang itu kayaknya bukan aku, cuma mirip aku aja. Huh, kenapa sih Vin mikirin lukisan itu lagi itukan cuma lukisan, orang yang ngelukisnya aja cuma lukis-lukis aja karena mau dapet nilai, koq kamu yang kepikiran terus Vino. Tapi nggak bisa dibohongin aku penasaran lagi ngapain dia sekarang, apa dia lagi nggak bisa tidur kayak kemarin. Padahal baru aja kemarin aku seneng akhirnya bisa nyanyi dan didenger orang yang aku suka, tapi hari ini rasanya kayak berjalan di atas jarum. Cinta pertama koq gini amat yah ?", tanya Vino sambil menghadap langit malam.
"Coba aja dia bisa denger dan rasain apa yang aku rasakan sekarang, mungkin hatinya akan berubah atau jangan-jangan malah tambah ilfeel".