Still With You

Still With You
Chapter XIII : By My Side



Dret..dret..drett.., getar handphone Reyna.


"Haloo.."


"Halo kak, aku udah di depan gerbang".


"Oke oke aku keluar ya".


"Iya kak".


Setelah memasang sepatu dan mengunci pintu Reyna menemui Vino yang telah berada di gerbang rumahnya.


"Tunggu kak..", cegah Vino yang tiba-tiba menunduk dan mengikatkan tali sepatu Reyna.


"Iket tali sepatu harus kenceng-kenceng", ujarnya.


"Oke sudah".


Dia pun menengadahkan tangannya..


"Kenapa Vin ?",


"Pegangan dong kak".


"Kan nggak nyebrang, lagipula ada Zelfa malu ah".


"Iya sih, ya udah nanti nggak boleh ada penolakan ya".


"Iya Vino".


"Hmm..pagi pagi udah buat adegan romantis, butuh asupan roti nih bukan nonton film roman, iya nggak pak ?", celetuk Zelfa sambil mengajak sopirnya.


"Heheh iya non, pagi pagi udah dikasih liat film aja".


"Kak pindah ke depan", suruh Vino.


"Loh kenapa ? biasanya kan kamu yang suka duduk di depan".


"Ayolah kak pindah. Aku mau duduk di belakang aja sama kak Reyna".


"Ah, kamu ini mending tetep duduk depan aja, kakak mau minta ajarin sama Reyna ini".


"Kan kalian sebangku".


"Kan kalian bisa telponan".


"Ahh", kata Vino sambil mengacak rambutnya sendiri.


"Nggak boleh marah-marah loh", kata Zelfa.


"Pagi-pagi udah bikin kesel", decik Vino.


Reyna hanya mengelus lengan Vino mencoba menenangkannya. Selama perjalaan Zelfa sibuk belajar ujian perbaikannya.


"Ujian ya kak ?", tanya Vino kepada Reyna.


"Hanya Zelfa, dia ikutan ujian perbaikan".


"Oh, semangat kak", jawab Vino dan berusaha menyemangati kakaknya itu.


Tak lama kemudian sampailah mereka di sekolah. Vino yang lebih dulu turun dari mobil bersigap membukakan pintu untuk Reyna dan meraih tangannya. Pagi itu, Vino berjalan menuju kelasnya dengan menggenggam tangan Reyna.


"Kak, nanti jam istirahat tungguin aku ya, aku agak terlambat sedikit ada urusan, makannya barengan aku".


"Iya, aku tunggu di kelasku ya".


"Dahh, kak, semangat belajarnya".


"Iya dek", Reyna pun berlalu menuju kelasnya


.


"Hahah, adek, kesan yang manis", gumam Vino.


"Udah senyum pagi-pagi ni, dapet tambahan uang jajan ya ?", tanya Albert.


"Lebih dari uang jajan".


"Dibeliin mobil atau motor baru".


"Masih belum".


"Ah, pasti karena habis ketemu sama orang ya ? atau berhasil ngajak dia jalan ?",


"Kami jadian, hahaha".


"Hah ? Apa ?",


"Perlu diperjelas lagi ?",


"Aku nggak percaya kalau belum denger langsung dari orangnya".


"Kan aku orang yang bersangkutan".


"Nggak, nggak, kalo kamu yang ngomong aku nggak percaya, aku harus tanya langsung sama kak Reyna".


"Silahkan ditanya nanti ya pas pulang".


"Sekarang !!!".


"Mau bel masuk nih".


Tak lama dari itu bel pun berbunyi.


"Pas istirahat ?",


"Pulang".


"Kan istirahat bisa".


"Nggak, kami mau makan".


"Sombong amat".


"Nggak sombong tuh".


Sementara itu di kelas lain..


"Rey, kamu nggak salah kan bisa jadian sama Vino ?",


"Nggak, kenapa ? aneh ?",


"Iya aneh banget, padahal...",


"Padahal aku nggak suka sama dia kan ?".


Zelfa menjawabnya dengan anggukan.


"Entahlah, semua terjadi tanpa terduga, tapi aku merasa nyaman di dekat Vino".


Zelfa kembali menganggukkan kepalanya.


Guru pun memasuki tiap-tiap kelas dan pelajaran dimulai. Beberapa jam kemudian, tibalah bel istirahat untuk berbunyi.


"Kamu mau makan apa Rey ?",


"Kamu duluan aja Fa".


"Nggak mau nitip ?",


"Nggak, aku mau nunggu Vino".


"Hmm oke, aku duluan ya".


Zelfa pun pergi meninggalkan Reyna.


"Kak, ayo ke kantin", ajak Vino yang berani masuk ke kelas wanita itu karena sudah sepi dan menarik tangannya keluar.


"Udah selesai urusannya ?",


"Udah kak, mau makan apa ?",


"Liat di kantin dulu aja nanti".


Sesampainya di kantin semua mata tertuju pada mereka berdua apalagi anak-anak kelas 10 yang nampaknya sedang membicarakan mereka.


"Ah, jadi rame", bisik Reyna sambil memberi kode kepada Vino dengan menunjukkan tangan mereka yang masih bergandengan itu.


Vino hanya menjawabnya dengan tersenyum dan mengajaknya memesan makanan.


"Mau apa kak ?",


"Hmm..mie ayam aja deh sama jus mangga".


"Oke, bu saya pesen mie ayamnya satu, baksonya satu terus jus mangga sama jus alpukat".


"Apalagi Vin ?",


"Udah itu aja, anterin kesana bu", tunjuk Vino


"Siap Vin, tunggu bentar ya".


Mereka pun duduk di meja yang diinginkan. Di meja tersebut sudah ada Zelfa yang menunggu.


"Kalian jadi on focus hari ini", kata Zelfa.


"Hahah", jawab Vino.


"Mereka semua pasti cewek-cewek yang suka sama kamu kan Vin ?", tanya Reyna.


"Nah loh", celetuk Zelfa.


"Kayaknya iya kak, aku juga nggak tau", jawab Vino ngeles.


"Dan sebagian yang disana itu ada cowok-cowok yang suka sama kamu", pungkas Zelfa.


"Dan mereka semua menyaksikan hal yang tak mereka inginkan terjadi", lanjutnya.


"Ah, kan cuma suka", kata Reyna.


"Yap, betul lebih baik kita makan dulu aja, pesanan kita udah datang", kata Vino sambil menyambut pesanannya.


Reyna mengambil beberapa sendok cabai rawit yang telah dihaluskan.


"Ah, kenapa mengambil banyak sekali kalau sakit perut gimana ?", tegur Vino yang menahan tangan Reyna.


"Aku tidak pernah bermasalah saat makan pedas".


"Tapi maag kakak itu akan jadi masalahnya".


"Itu tidak akan terjadi aku selalu makan seperti ini".


"Oh, ayolah kak, kalau kakak sakit siapa yang akan mengurusmu ?",


"Oh, ayolah Vin, ada kamu yang akan mengurusku", jawab Reyna sambil senyum-senyum.


"Oh, ayolah kalian berdua hentikanlah, kehadiran kalian dengan berpegangan tangan tadi saja sudah cukup menarik perhatian dan sekarang kalian malah saling merayu, kasihanilah saya yang ada disini".


Keduanya pun tertawa.


"Maafkan kami Fa".


"Dan sekarang kalian bisa meminta maaf bersama-sama",


"Jadi kamu mau apa ?, minta maaf berdua, ayolah kami sudah cukup lapar untuk meladeni kecemburuanmu itu".


"Cemburu ? siapa ? aku ?",


"Iya, kamu terlalu cemburu kepadaku, lebih tepatnya kami, lebih baik kamu mencari gandenganmu sendiri".


"Ah, Vin bantu aku hari ini".


"Dengan Albert ?",


"Iya dong".


"Oh, aku pikir sudah berpindah ?",


"Tidak semudah itu, aku setia".


"Iya iya iya. Vin, kenapa kamu meminum jus ku ?",


"Aku pikir itu rasanya enak dan ternyata memang enak".


"Kamu benar-benar ingin mencicipi mangganya atau sedotannya ?", tanya Zelfa.


"Mangganya", jelas Vino padahal saat itu mukanya hampir memerah sama seperti Reyna yang duduk di depannya.


Zelfa ternyata sudah menghabiskan makanannya.


"Kalian sudah selesai ?",


"Tunggu sebentar lagi", jawab Reyna.


"Kak tunggu..", kata Vino seraya membersihkan makanan yang menempel di sudut bibir Reyna dengan jemarinya.


"Ah, thanks".


Mereka pun pergi meninggalkan kantin.


Waktu terus berlalu hingga ke jam pulang sekolah.


"Mau kemana ?",


"Ke kelas Vino".


"Tumben ?",


"Gantian dong".


"Ya udah bareng aja, aku mau pulang bareng sama Albert juga".


"Wah, akhirnya, semoga berhasil".


"Hahah iya terima kasih".


Reyna dan Zelfa duduk di depan kelas Vino.


Tak lama dari itu..


"Ah, kak padahal aku yang akan ke kelas menjemputmu", kata Vino.


Meskipun siang itu panas dan waktu belajar yang pastinya akan membuat otak berpikir keras telah berlalu beberapa jam tapi Vino tetap tampan. Gayanya yang keren saat menyandangkan tas dengan satu sisi bahunya dan tangan yang satunya lagi dimasukkan ke saku celana tentu membuat banyak wanita terpana kepadanya.


"Kenapa dia masih tetap segar di siang hari ini, tidak bukan segar tapi tampan", kagum Reyna dalam hatinya.


"Mengapa tidak dari dulu saja rasa nyaman ini ada, ah tapi kapan cinta akan datang siapa yang tau ? hahah cinta, tampaknya aku benar-benar telah jatuh cinta kepadanya", lanjutnya.


"Kenapa bengong kak ?",


"Ah, tidak kamu terlihat masih segar padahal sudah siang bolong, bukan, maksudku bagaimana mungkin kamu tetap terlihat tampan ?", puji Reyna.


"Kenapa kakak terlalu jujur untuk mengakui ketampananku ?", tanya Vino yang tersenyum sambil mencubit pipi Reyna.


"Hey Vino", tegur Zelfa.


"Kak Reyna begitu menggemaskan aku tak tahan ingin mencubit pipinya".


"Aku juga menggemaskan Vin dan aku kakakmu".


"Kakak amat sangat tidak menggemaskan dan silahkan pulang bersama Albert, mana nih anak lama banget di beresin bukunya", Vino pun memanggil Albert.


Reyna yang duduk di bangku terbuai dalam kemanisan.


"Ah, aku ingin berteriak, jantungku berdegup sangat kencang, apa pipiku sudah terlihat memerah ?", tanya dalam benaknya.


"Ayo kak, pulang", ajak Albert.


"Nah, aku duluan ya, silahkan lanjutkan kebersamaan kalian", kata Zelfa seraya meninggalkan mereka berdua.


Vino kembali menarik tangan Reyna dan mengajaknya pergi.


"Kita jadikan ?",


"Jadi kak".


Reyna dan Vino pun pergi menaiki bis. Vino menyuruh Reyna agar duduk di dekat jendela supaya ia bisa melindungi Reyna jika ada penumpang lain yang memiliki maksud tersembunyi. Selama di perjalanan Vino hanya diam begitu pun dengan Reyna. Mereka nampak sedikit canggung karena biasanya mereka tidak naik bis. Hingga tibalah mereka di lokasi tujuan.


"Vin, mau rasa apa ?",


"Aku ? apa yang enak ?",


"Coba campuran coklat, vanila dan cappuccino".


"Baiklah aku mau itu satu".


"Yakin satu ? enak banget itu loh bakalan nagih".


"Hmm.. satu aja deh, nanti baru beli lagi".


"Nanti kehabisan".


"Masih ada kan kak ?",


"Tinggal sisa dua gelas".


"Nah kan, ya udah kak kita ambil ya yang dua itu, sama aku mau satu smoothies rasa blueberrynya".


"Oke, ada lagi ?",


"Udah itu aja kak".


Lima menit kemudian smoothies yang mereka pesan pun siap.


Vino langsung menyeruputnya.


"Hmm.. enak".


"Percaya deh sama aku, pasti enak apa yang aku rekomendasiin, kamu mau makan apa nggak ?",


"Boleh".


"Ya udah, ayo, disana ada sosis bakar", ajak Reyna yang menarik tangan Vino.


"Kak, beli sosisnya lima tusuk ya, kamu berapa Vin ?",


"Aku dua aja".


"Dikit banget Vin, lima juga kak, jadi totalnya sepuluh".


"Rasanya kayak biasa ?", tanya penjual itu.


"Yang lima kayak biasa, yang dua nggak usah pedes, yang tiganya rasa lada hitam".


"Ini pasti pacarnya ya ?", tanya penjual.


"Iya", jawab Vino.


"Soalnya nggak ada cowok yang pernah diajak kesini selain temennya yang cewek itu".


Vino hanya menanggapinya dengan tersenyum. Tak perlu menunggu terlalu lama, sosis bakar itu pun siap disantap.


"Kita duduk di depan itu aja Vin", ajak Reyna.


"Kamu coba deh rasanya gurih banget".


"Hmm..iya enak".


"Habis ini pulang ?",


"Mau pulang kak ?",


"Kamu mau kemana ?",


"Mau beli komik kak".


"Hmm..boleh boleh, tapi tumben mau langsung beli biasanya mau baca di perpus dulu".


"Tidak untuk hari ini".


"Kamu mau kemana lagi ?",


"Kita ke mall dulu".


"Hmm..oke".


Setelah membeli komik, mereka pergi ke mall. Vino menarik tas ransel yang digendong Reyna.


"Ini pasti berat biar aku yang bawa".


"Nggak usah Vin, nggak berat, lagian nggak besar juga kok ukurannya".


"Tapi isinya pasti cukup banyak. Udahlah, aku aja yang bawa, kakak hanya perlu berjalan mengikutiku saja".


"Baiklah".


Mereka pun memasuki ruang aksesoris.


"Kak sini deh", panggil Vino.


Reyna pun mendekatinya. Vino tiba-tiba menunduk dan mensejajarkan pandangannya pada wajah wanita itu.


"Kenapa Vin ?",


Vino meraih rambut Reyna dan menguncirnya.


"Oke sudah".


"Ah, kuncir tapi aku ada satu di tas".


"Ini hadiah dariku".


"Baiklah terima kasih".


Setelah membayar mereka pun keluar. Melihat Vino dari belakang yang berjalan membawakan tasnya Reyna merasa kasihan dan kekagumannya juga bertambah. Ia mempercepat langkahnya dan menggenggam tangan Vino. Vino nampak terkejut namun ia juga senang.


"Kita harus mengeratkan genggaman kita seperti ini", kata Vino sambil menautkan jarinya di jemari Reyna.


"Baiklah, sekarang kita mau kemana lagi ?",


"Kakak sendiri ada yang mau dibeli ?",


"Nggak ada".


"Ya udah sekarang kita pulang. Nampaknya kita harus meluangkan waktu kembali agar bisa berjalan kesini lagi".


"Hahah, iya padahal rencana kita hanya ingin beli smoothies tapi akhirnya kita malah bisa berjalan ke mall".


"Ayo lakukan kembali di lain hari".


"Baiklah".


Mereka pun pergi mencari bis. Di perjalanan pulang kali ini, Reyna tak bisa menahan tidurnya. Kepalanya selalu tertunduk tapi ia juga selalu membenahi posisinya. Melihat hal itu, Vino ingin tertawa namun menahannya ia pun meletakkan kepala Reyna di bahunya. Sinar mentari di sore itu sangat menyilaukan mata. Iya, mereka sudah menghabiskan waktu bersama bahkan sampai sore. Beberapa kali Reyna merasa risau dalam tidurnya karena sinar matahari yang mencoba menusuk matanya. Vino pun menghalangi sinar itu dengan menggunakan tangannya hingga Reyna kembali merasa nyaman.


"Kak bangun udah sampe", tegur Vino.


"Ah sudah sampe, maaf aku ketiduran".


Vino mengantar Reyna pulang sampai ke rumahnya.


"Makasih kak untuk hari ini".


"Hahah, aku yang makasih Vin, ayo lakukan untuk hari berikutnya dan selanjut-lanjutnya".


"Benarkah ?",


"Apa kami tidak ingin berlanjut ?",


"Aku hanya tidak menyangka kalau kakak menginginkan hari berikutnya".


"Ah, tentu aku menginginkan hari-hari setelah ini, kenapa aku harus menolaknya ? kalau dipikir-pikir mengapa dulu aku selalu menghindarimu kalau aku tau akan senyaman ini".


"Entahlah aku juga selalu bertanya-tanya apa karena aku anak kecil".


"Hahah, anak kecil yang menggemaskan, jangan kamu ingat lagi perkataanku yang pedas-pedas itu, aku akan berusaha lebih baik lagi".


"Aku juga akan berusaha lebih baik lagi, mari kita lakukan yang terbaik untuk hubungan ini".


"Iya lakukan semua hal yang terbaik, ah kalau dipikir-pikir aku menjauhimu itu karena aku takut".


"Takut apa ?",


"Takut jatuh cinta kepadamu".


Vino tertegun mendengar jawaban Reyna.


"Aku takut jatuh cinta karena aku takut tersakiti, padahal cinta memang seperti itu akan ada hal yang menyakitkan dan itu akan terjadi bahkan bukan cuma cinta, kehidupan memang sudah dihiasi oleh kata suka maupun duka".


"Awalnya aku juga takut jatuh cinta, tapi saat aku merasakannya kepada kakak aku rasa aku siap menghadapi rasa sakit itu. Bukankah rasa sakit akan tergantikan jika melihat orang yang kita cintai bahagia".


"Bagaimana kamu bisa bertahan setelah beberapa kali aku tolak ?",


"Aku hanya bertahan pada keyakinanku kalau aku dapat memasuki hatimu dan menetap di dalamnya".


"Bagaimana bisa seorang anak kelas 10 bisa sepuitis ini ?", kata Reyna mengelus kepala Vino.


"Bisa saat orang ada didekatku adalah kakak".


"Wah, kamu tampak semakin menggemaskan", kata Reyna yang sekarang menyubit pipi Vino dengan kedua tangannya.


"Sakit kak", kata Vino sambil memegangi pipinya yang sudah memerah.


"Ah, maaf", kemudian Reyna mengelus pipinya.


"Tetaplah seperti ini kak", kata Vino yang menahan tangan Reyna agar tetap memegang pipinya.


"Tetaplah ada dan terus ada", lanjutnya.


"Baiklah, kalau itu yang kamu mau, kamu juga harus selalu ada".


"Akan aku usahakan, karena aku ingin kita bertahan dalam keberadaan kita satu sama lain, aku ingin kita tetap mencintai bahkan jika cinta itu sudah tak ada lagi di dunia".


"Iya Vino, mari kita hidup bersama untuk waktu yang lama", kata Reyna sambil tersenyum.


"Aku pulang kak".


"Hati-hati Vin".


"Iya kak, sampai bertemu besok".


"Sampai besok".