
Waktu akan terus berlalu tanpa peduli bagaimana orang ingin memutarnya kembali, ia tetap pada jalannya meninggalkan detik yang telah terlewat. Tak terasa masa SMA telah berlalu tiga tahun dan hubungan keduanya masih terjalin hingga saat ini. Hubungan yang awalnya sulit untuk dijalankan namun pada kenyataannya mereka berhasil melalui semua hari-hari itu dengan baik.
Siang itu Reyna menunggu Vino yang sedang bertanding basket. Seperti biasa, ia akan selalu menontonnya untuk memberikan semangat kepada pacarnya itu. Basket adalah salah satu hobi Vino selain membaca komik.
Selesai pertandingan Vino menghampiri Reyna yang duduk di bangku penonton itu. Reyna menyambutnya dengan memberikan minuman dan membantunya mengeringkan keringatnya.
"Minum Der yang banyak".
"Iya kak, makasih".
"Hari ini aku mau ke rumah kamu, Zelfa minta ajarin tadi".
"Hmm", jawab Vino yang sekarang panggilannya adalah Deran sambil mengangguk.
"Cuma hmm ?", tanya Reyna dalam hatinya.
Deran adalah nama lain yang dibuat oleh Reyna dengan maksud memiliki panggilan yang berbeda untuk pacarnya itu. Namun pada akhirnya semua orang ikut-ikutan memanggilnya Deran bukan Vino lagi.
"Kak, pulang ini aku nggak bisa nganter ya ada kelas tambahan".
"Iya nggak masalah".
"Jangan sedih gitu dong, nanti kan masih ketemu aku di rumah", ejek Deran yang membalikkan arahnya dan berjalan mundur agar bisa melihat Reyna.
"Siapa yang sedih ?",
"Oh, nggak sedih, apa aku nggak usah pulang ?",
"Ya nggak gitu juga lah, akhir-akhir ini kita udah jarang ketemu karena sibuk sendiri-sendiri".
"Iya, iya aku pulang koq", jawab Deran sambil memeluk Reyna dan tertawa puas setelah memancing pengakuan Reyna.
"Ah, kamu ini bau keringet", kata Reyna padahal badan Deran tidaklah bau.
"Nggak lah, aku udah pake parfum sebelum main tadi".
"Lepasin, entar ada yang lihat".
"Biarin, biar semua orang bahkan dunia tau kalo kita sudah berpacaran lima tahun", kata Deran dengan bangganya.
Reyna akhirnya pasrah dalam pelukannya, orang yang sebenarnya selama ini selalu Reyna rindukan.
"Rey, yuk kita pulang", ajak Zelfa sambil menggandeng tangan Reyna.
"Yuk..."
Setibanya di rumah, Zelfa menyiapkan minuman untuk tamunya itu dan beberapa buku yang diperlukan. Dua jam kemudian, Deran tiba di rumah.
"Aku pulanggg",
Keduanya yang fokus belajar tak ada yang menanggapinya. Deran yang kesal pun menghabiskan minuman Reyna.
"Dek, itu kan punya Reyna, ambil sendiri kek", tegur Zelfa.
"Males".
"Nggak sopan".
"Lah biasanya aku juga suka minum punya kak Reyna".
"Ah, susah ngomong sama kamu".
"Nggak susah koq, ya nggak kak ?", tanya Deran kepada Reyna.
"Kadang susah kadang nggak".
"Nggak bela banget".
"Ganti baju gih sana", perintah Zelfa.
"Siap. Kak kalo udah selesai, kasih tau aku ya", kata Deran kepada Reyna.
Setelah selesai belajar, Reyna mengirim pesan kepada Deran, ia pun turun dengan membawa gitar.
"Sangat tepat waktu", celetuk Zelfa.
"Bagus dong", jawab Deran.
"Masuk kamar gih sana kak, ngapain disini gangguin orang aja kan udah selesai juga sesi belajarnya", lanjutnya.
"Aku cuma mau duduk aja disini, nggak ganggu kalian koq, emang kalian mau ngapain ?", tanya Zelfa menyelidik.
"Ada hal yang ingin kami lakukan".
Sontak Reyna langsung menatap Deran, ia justru membalas tatapan itu dengan kedipan mata. Zelfa yang melihat hal itu malah nambah curiga.
"Apa yang ingin kalian lakukan ?",
"Oh, ayolah kak jangan tanya. Suasana disini sangat tepat dengan apa yang harus kami lakukan".
Reyna yang tertunduk hanya bisa geleng-geleng melihat anak itu.
"Akan kuadukan sama mama".
"Silahkan".
"Kamu semakin berani ?",
"Harus".
Deran pun mulai mendekati tempat Reyna duduk dan...
"Kenapa kamu mau deket-deket gitu ?", tanya Zelfa.
"Salahkah ?",
"Salah".
"Ajaklah Albert kesini kalau ingin juga".
"Aku tak ingin".
"Ya sudah, naik sana".
"Nggak".
"Baiklah, aku akan melakukannya disini".
Deran pun mulai memetikkan senar gitarnya,
.....
"Kamu mau nyanyi ?",
Deran menjawabnya dengan anggukan dan mulai melantunkan lagunya..
Whenever I'm weary
From the battles that raged in my head
You made sense of madness
When my sanity hangs by a thread
I lose my way, but still you
Seem to understand
Now & Forever,
I will be your man
Sometimes I just hold you
Too caught up in me to see
I'm holding a fortune
That Heaven has given to me
I'll try to show you
Each and every way I can
Now & Forever,
I will be your man
Now I can rest my worries
And always be sure
That I won't be alone, anymore
If I'd only known you were there
All the time,
All this time.
Selama Deran menyanyi, Reyna merasa tersentuh dan meresapi lagu itu dalam-dalam, dimana makna dari lagu itu adalah ia menjadi kekasih dari Reyna.
Until the day the ocean
Doesn't touch the sand
Now & Forever
I will be your man
Bahkan sampai hari dimana lautan tidak bertemu pantai lagi. Lagu ini benar-benar menghanyutkannya.
Now & Forever,
I will be your man
Deran mengakhiri lagunya dengan senyuman dan meletakkan gitarnya.
"Wahhh...", ungkap Reyna sambil memegang pipinya sendiri.
"Luar biasa", tambah Zelfa.
"Kamu benar-benar pandai berkencan sekarang Der", puji kakaknya itu.
"Hahah, hebat bukan".
"Patut diacungi jempol. Jadi bagaimana Reyna apa balasanmu untuk lagu ini ?",
"Bersalaman dengan penyanyi nya sebagai ucapan terima kasih", jawab Reyna yang sekarang menggenggam tangan Deran.
"Ah, iya iya, sudah cukup hari ini aku menyaksikan pertunjukkan ini, aku naik dulu ya".
"Harusnya dari tadi", kata Deran jengah.
Bantal pun melayang mengenai mukanya sementara Zelfa sudah berlari ke arah tangga.
"Ah, aku ditimpuk bantal", ucap Deran dengan manja.
"Mau ditimpuk lagi ?", tanya Reyna yang sudah memegang bantal.
"Jangannn", kata Deran sambil menutup mukanya dengan tangan.
Namun ternyata Reyna malah mencubit pipinya.
"Hohoh, tertipu".
Dan Reyna yang kakinya tak sengaja tersandung karpet jatuh di pelukan Deran namun ia tak sampai mengenai tubuh anak itu karena tangannya menahan di pegangan sofa. Mata keduanya saling bertatapan. Tiba-tiba tangan Reyna mulai goyah hingga membuat bibirnya tak sengaja mengenai bibir Deran. Reyna menahan nafasnya dan kemudian segera bangkit. Sementara Deran terdiam kaku. Rasanya langit ingin runtuh bukan bahkan dunia ini yang luluh lantah.
"Ah, maaf, aku ke toilet dulu", katanya yang salah tingkah hingga harus berlari ke toilet.
Sementara Deran masih tak percaya apa yang barusan terjadi dan memegangi bibirnya.
"Inikah ciuman ? sebutannya ciuman ?", tanya Reyna dalam hati.
"Kenapa suasana jadi panas ? pipiku juga memerah, oh tidak, sebaiknya aku berdiam dulu saja disini sampai perasaanku tenang".
Sudah sejam Reyna berada di toilet, hal itu membuat Deran cemas, ia pun mengetuk pintu untuk memastikannya tidak terjadi apa-apa.
"Kak, ada masalah ?", ketuk Deran.
"Hah, dia, dia", panik Reyna dalam hatinya.
"Masih di dalem kak ? ada masalah ?",
Reyna yang masih dalam keadaan panik dan terkejut pun terpeleset saat berdiri, untungnya suara di kamar mandi tidak terlalu jelas jika tidak berteriak.
"Aduhhh..",
Namun ia berusaha tetap bangkit walau menahan harus menahan sakit dan membuka pintu.
"Nggak ada masalah", jawab Reyna yang berlalu pergi melewati Deran dengan perasaan gugup.
Ia kembali duduk di sofa dan bayangan kejadian tadi masih menghantui pikirannya.
"Der, aku pulang dulu ya".
"Aku anter".
"Nggak usah".
"Aku anter aja".
"Hmm.. ya udah aku tunggu di teras ya".
Deran pun bersiap memakai hoodienya.
"Ayo kak", ajak Deran yang sudah menaiki motornya.
Reyna pun bergegas naik. Mereka berjalan menikmati langit sore dan di tengah perjalanan Deran memperlambat lajunya.
"Kak, kita duduk disana dulu ya ?",
"Hah ? dimana ?",
"Di deket danau itu".
"Hmm oke".
Reyna sudah berjalan lebih dahulu sementara Deran memarkirkan motornya. Reyna merentangkan kedua tangannya, dia benar-benar merasa sangat rileks. Angin sore yang berhembus berhasil memberinya ketenangan. Tak lama dari itu Deran datang.
"Gimana bagus kan suasananya ?",
"Habis belajar sih memang enaknya santai-santai kayak gini, aku sering kesini".
"Kamu ?",
"Tenang, aku sendirian aja koq".
"Aku nggak nanya kamu sama siapa".
"Membuat pernyataan".
"Oke", jawab singkat Reyna sambil manggut-manggut.
Ia pun duduk di sebelah Deran.
"Tadi itu nggak sengaja Der", ungkap Reyna tiba-tiba.
Deran yang tau kemana arah pembicaraan ini pun langsung menanggapinya.
"Disengaja juga nggak masalah",
Mendengar tanggapan tersebut Reyna langsung melotot ke arahnya.
"Ah, maksud aku lakukan saat kakak siap, aku tak akan memulainya duluan, kecuali..",
"Kecuali apa ?",
"Entahlah, apa yang akan terjadi nanti ataukah aku memang menginginkannya tapi sebelum itu aku pasti akan izin terlebih dahulu, kalau pun nggak, aku akan tau dari cara kakak apakah akan mengelak atau nggak".
Reyna tak menjawab apapun.
"Lagipula itu adalah yang pertama", perjelas Deran.
"Aku tau".
"Ya iyalah pasti tau, kan nggak ada wanita lain yang aku deketin".
"Sudah sore Der, yuk pulang, sekalian aku mau masak".
"Apakah ini sebuah undangan ?",
"Bisa dibilang seperti itu".
"Baiklah dengan senang hati saya akan menghadirinya", jawab Deran yang tersenyum dengan lebarnya.
Mereka pun pergi menuju rumah Reyna.
Sesampainya di rumah, Reyna melepas sepatunya.
"Motornya masukin aja, nggak usah tarok di depan gerbang".
"Iya kak".
Hari ini adalah hari pertama Deran memasuki rumahnya Reyna padahal mereka sudah berpacaran cukup lama tapi baru sekarang ia mengajaknya.
"Aku tuker baju dulu ya".
"Iya kak".
Selagi menunggu Reyna mengganti pakaiannya Deran melihat-lihat foto yang dipajang dan beberapa penghargaan yang diterima Reyna. Hingga ia berjalan sampai ke dapur.
"Memang hebat", puji Deran dalam hatinya.
"Mau minum apa Der ? semuanya ada".
"Jus nanas".
"Nggak ada".
"Jus melon ?",
"Nggak ada".
"Jus mangga ?",
"Nggak ada juga".
"Tadi kakak bilang semuanya ada".
"Ada, kalo kamu pergi beli dulu".
"Ya elah, kopi ada ?",
"Ada".
"Ya udah teh aja".
"Hah ? tadi kamu kan nanya kopi".
"Aku kan cuma nanya bukan berarti mau minum, hahahah, kita seri".
"Awas kamu Der. Kamu duduk aja di ruang tamu entar kalo udah beres aku panggil kamu".
"Baiklah".
Deran pun pergi meninggalkan dapur.
"Ini teh nya tuan".
"Terima kasih dear".
"Hah ?",
"Dear, or beb or honey or wife ?",
"Whatever".
"Oke, Reyna".
"Udah berani panggil nama ?",
"Kita kan udah sama-sama duduk di bangku kuliah".
"Oh begitu, padahal waktu itu kita juga sama-sama SMA".
"Beda, kan sekarang kuliah, umur kita juga cuma beda satu tahun. Jadi panggil nama ya ? ayolah, boleh kan ?",
"Hmmm.."
"Oke Reyna ?",
"Yah terserah kamu lah".
"Baiklah, mulai sekarang aku panggil kamu Rey".
"Aku masuk dulu ya, mantep-mantep disini".
"Siap laksanakan".
Reyna mulai sibuk menyiapkan masakannya tapi tak lama dari itu Deran masuk.
"Kan tadi aku udah bilang nunggu di depan aja".
"Bosen, aku mau kesini aja".
"Kan tinggal hidupin tv".
"Kan akunya bosen".
"Ah, terserah kamu Der".
"Heheh, jangan kesel gitu dong kan jadi makin gemes", kata Deran sambil mencubit pipi Reyna.
"Hus..huss..duduk aja kamu disana biar aku nyelesain ini".
"Padahal aku mau bantu".
"Nggak usah, duduk aja".
Deran pun masih tetap berdiri disitu.
"Hmm nih anak emang nggak bisa dibilangin, ya udah kamu bantui aku cuci sayurnya".
"Nah gitu dong, aku nggak biasa kalo cuma duduk-duduk doang. Ah, atau nggak biarin aku aja yang masak Rey".
"Nggak boleh, karena aku selaku tuan rumah yang ngundang kamu maka aku yang harus masakin makanannya".
"Hmm..ya udah aku bantuin bagian cuci-cucian aja yah".
"Iya iya".
Beberapa menit kemudian, mereka pun menyantap masakan yang sudah matang tadi.
"Gimana ?", tanya Reyna.
"Enak".
"Bagus deh".
"Kamu besok ada kelas ?",
"Nggak ada, mau jalan ya ?",
"Temenin aku cari referensi buat tugas akhir".
"Oh, perpus, pulangnya kita jalan ya ?",
"Iya".
"Sini Rey, piringnya aku cuciin".
Reyna pun menyerahkan piringnya kepada Deran. Tiba-tiba terdengar hujan turun, Reyna pun keluar untuk mengeceknya.
"Ah, hujan", kata Deran yang tiba-tiba sudah ada di belakang Reyna.
"Tunggu ujan berhenti aja baru pulang".
"Iya, kita nonton aja".
"Kamu pilihlah mau yang mana".
"Action, mau ?",
"Boleh".
Setelah tiga jam menunggu, hujan tak kunjung berhenti juga.
"Ah, kayaknya nambah deres", kata Reyna.
"Iya aku pulang ajalah, tapi sayangnya malah pake acara jas ujan nggak dibawa lagi".
"Deres banget itu".
"Aku boleh nginep ?",
"Kalo jam 12 nanti nggak berhenti juga kamu boleh nginep".
"Hmm..",
"Sebaiknya ngomong dulu sama mama kamu".
"Mama lagi keluar kota".
"Oh cuma ada Zelfa".
"Iya cuma ada si ngeselin".
"Hahaha, masih aja suka ribut padahal dua-duanya sama-sama ngeselin, kamu kasih tau gih entar dia khawatir".
"Kamu aja, entar dia banyak tanya sama aku".
"Bentar ya aku telpon dulu".
"Iya".
"Halloo...",
"Halloo, kenapa Rey ? oh ya Deran mana kenapa dia belum pulang-pulang ?", tanya Zelfa.
"Cuma ngasih tau aja kalo Deran masih di rumah aku".
"Oh, mana tuh anak aku mau ngomong".
"Nih Der, Zelfa mau ngomong".
"Apa ?", dengan terpaksa Deran berbicara kepadanya.
"Enak ya ? Bisa nginep", kata Zelfa.
"Aku jadi nginep kalo jam 12 nanti ujan masih nggak berenti".
"Awas ya kalo kamu macem-macem".
"Iya kak, aku kan cuma nunggu sampe ujan berenti aja".
"Oke, bagus. Ya udah aku mau ngomong sama Reyna".
"Kenapa Fa ?",
"Aku masih ada yang nggak ngerti kamu ajarin aku lagi ya".
"Siap".
Telepon mereka pun berakhir.
Deran pun membaringkan badannya dengan kepala yang berada di pangkuan Reyna.
"Rey, entar kalo ujan udah berhenti kamu bangunin aku ya".
"Iya Der".
"Tapi aku belum ngantuk".
"Hah ? gimana sih tadi katanya...",
"Iya, aku pengen tidur tapi nggak bisa".
"Hmmm...",
Reyna pun mengusap kepala Deran untuk membantunya tidur, perlahan mata Deran pun terpejam, ia malah menarik tangan Reyna yang satunya dan menggenggamnya. Malam itu, hujan deras berhasil melarutkan mereka ke dalam nyamannya tidur.