
"Ahhhhhh, nggakkk kamu bukan aku", teriak Reyna dalam igauannya dengan air mata yang masih membasahi pipinya.
"Kenapa Rey ? kamu mimpi apa sampe nangis, kamu mimpi buruk ?", tanya Deran panik.
"Aku, aku nggak tau aku mimpi apa bukan, tapi tadi aku ada di ultahnya Zelfa".
"Ah kamu mimpi, ultah kak Zelfa kan masih lama, dua bulan lagi".
"Ada orang muncul dari pecahan cermin, dia mirip banget sama aku, dia ngambil semua kehidupan aku, aku takut", cerita Reyna sambil menangis sesegukan.
"Dan lagi aku pernah ngalamin ini, aku inget aku juga pernah ngomong kayak gini, persis", lanjutnya.
Deran yang tak tega melihatnya pun langsung memeluk dan menenangkannya. Sementara Reyna yang berada di pelukan Deran mulai merasa tenang sedikit dengan tepukan di pundak yang diberikan Deran, Deran juga kadang sekali-kali mengusap rambutnya.
"Itu cuma mimpi Rey, buktinya kamu ada disini dan nggak terjadi hal semacam itu".
"Awalnya aku datang buat jenguk kamu sakit terus kita nonton tv, tapi tau-tau kamu lagi ngerjain tugas, terus tiba-tiba aku terbangun di mobil sama kamu, kita ada di pesta ultah Zelfa kata kamu, terus aku sebenarnya masih nggak percaya tapi melihat suasananya memang bener nunjukin kalo itu adalah sebuah pesta, terus pas di akhir Zelfa nyuruh kita berdua foto buat kenang-kenangan, eh tiba-tiba ada cermin pecah nggak tau kenapa, terus muncullah orang yang mirip aku. Waktu aku tanya dia siapa, dia bilang kalo dia Reyna dan disitu aku nangis waktu liat kamu..., ah sampe akhirnya aku marah-marah dan nanya lagi, dia tetep jawab kalo dia itu Reyna dan semua bagian itu adalah kehidupannya. Aku bener-bener takut", perjelas Reyna.
"Aku mengatakan hal yang sama ?", tanya Reyna dalam hatinya.
"Terus bedanya waktu dulu kamu masih manggil aku kakak dan belum pacaran, sekarang kita udah pacaran malah kamu mau ngajak aku tunangan", lanjutnya.
"Tunangan ? aku lebih seneng kalo kita langsung menikah, bahkan sekarang juga bisa kalo kamu mau", tanggap Deran.
"Sekarang ? aku lagi serius ini, aku bener-bener bingung Der".
"Tenangkan pikiran kamu Rey, tadi itu kamu cuma mimpi".
"Mana ada mimpi yang seperti nyata".
"Mungkin juga karena halusinasimu atau kamu lagi stress akibat ngerjain tugas akhir".
"Nggak aku nggak stress", jawab Reyna yang melepaskan dirinya dari pelukan itu.
"Terus di mimpi kamu tadi ngeliat aku kenapa ? kalimatmu terputus",
Reyna hanya bisa diam dan tak menggubrisnya.
"Rey, tadi kamu bilang kalo kamu nangis waktu liat aku kenapa ? aku nggak meninggal kan ?", tanya Deran yang menyadarkan lamunan Reyna.
"Hah ? itu gara-gara kamu ngeliat dia kayak liat aku, kamu berani ngasih liat pandangan kamu yang penuh makna itu ke dia padahal biasanya cuma buat aku, aku ngerasa kamu ninggalin aku", kata Reyna dengan nada yang sedikit tinggi.
Sekarang giliran Deran yang terdiam.
"Kamu kenapa nggak nanggapi ? maaf tadi aku bukannya marah aku cuma ngerasa takut", tanya Reyna sambil memegang pundak Deran.
"Kamu itu cuma mimpi, aku nggak akan ninggalin kamu".
"Tapi bentar lagi kamu mau keluar negeri".
"Aku keluar hanya untuk belajar dan aku akan kembali untuk kamu".
"Tapi nanti...",
"Jangan terlalu memikirkannya karena kalau kita jodoh kita akan bertemu apapun dan bagaimanapun jalannya. Yang penting kamu percaya sama aku", yakin Deran dengan menatap mata Reyna
"Kepala aku agak pusing nih".
"Mau pulang ? aku anterin ya".
"Kamu kan demem, eh kamu demem apa lagi ngerjain tugas ya aku jadi bingung gara-gara mimpi tadi".
"Aku demem...karena kamu".
"Hah ?",
"Kamu kesini karena jengukin aku".
Reyna akhirnya bisa sedikit lega setidaknya hal yang awalnya ia alami memang benar terjadi dan bukan mimpi, tapi ia berharap orang dari cermin itu adalah mimpi.
"Der ada orang ya diatas ?", potong Reyna.
"Mana ada orang kan kak Zelfa belum pulang ".
"Ada Der, dengerin deh".
"Nggak ada orang Rey".
"Aku jadi takut Der".
"Aku yang takut sama kamu, kalo ngigau serem, mending kamu minum dulu deh, aku ambilin ya".
"Aku ikut", kata Reyna dengan menarik tangan Deran
"Tapi..",
"Kamu harusnya takut karena cuma ada aku".
Reyna pun mencubit Deran.
"Sakit Rey".
"Rasain, orang lagi serius".
"Aku juga serius, lebih dari serius".
Reyna pun melepaskan genggamannya dan kembali duduk di sofa sambil memijat kepalanya sementara Deran pergi ke dapur mengambilkan Reyna segelas air.
"Nih, minum dulu..", kata Deran seraya memberikannya segelas air.
Reyna pun meminumnya dengan mata yang sesekali melirik ke tangga.
"Kamu masih denger suara orang ?",
"Nggak, tapi aku yakin diatas ada orang".
"Ya udah, sekarang kita liat diatas", ajak Deran.
"Ada aku", kata Deran meyakinkan Reyna yang masih tampak ketakutan.
Deran menggenggam tangan Reyna dan mengajaknya ke atas untuk meyakinkan Reyna kalau memang tidak ada orang selain mereka berdua.
"Sumpah, jantung aku kayaknya mau copot", kata Reyna yang berjalan di belakang Deran.
"Tenang, tenang ada aku",
"Kita cek yah seluruh ruangan".
Setelah mengecek, memang tidak ada orang selain mereka berdua. Tiba-tiba ada suara benda terjatuh yang membuat mereka kaget.
"Der, kejadian persis sama kayak mimpi aku, nggak ini deja vu, nggak..nggak ini pernah terjadi".
"Ngiiingggg...", terdengar suara nyaring yang membuat Reyna terduduk dan menutup telinganya.
"Kamu kenapa Rey ?",
"Nggak-nggak aku nggak mau buka telinga aku, terlalu bising".
"Nggak ada suara apa-apa Rey".
Deran pun membantu Reyna berdiri.
"Awwww...sakittt", teriak Reyna hingga ia pingsan.
Deran sangat panik ia tak tau apa yang terjadi pada kekasihnya, ia pun menggendong Reyna dan membaringkannya di kamarnya. Dua jam kemudian Reyna akhirnya sadar.
"Kamu...", entah apa yang harus Deran tanyakan padanya tapi lebih baik ia memberi Reyna minum terlebih dahulu.
"Aku ambil minum dulu ya",
"Jangan...", cegah Reyna.
"Tapi kamu harus minum dulu".
"Nggak, aku takut Der ditinggal sendirian, aku denger suara yang bising banget sampe telingaku sakit, kamu nggak boleh kemana-mana harus tetep disini karena kalo emang bener hal ini akan terjadi maka ada cermin yang akan pecah", kata Reyna ketakutan.
"Aku disini Rey, tenangkan dulu dirimu, kita ke dokter ya buat periksa telinga kamu dan semoga apa yang kamu katakan itu tidak akan terjadi", kata Deran menenangkan Reyna dengan memeluknya.
Reyna pun menangis dalam pelukannya.
"Maaf Der kalo aku aneh tapi aku bener-bener takut".
"Kita ke dokter ya, kalo dibiarin entar telinga kamu tambah sakit".
"Iya Der".
Saat Deran membantu Reyna bangkit dari tempat tidur tiba-tiba cermin di kamar itu pecah dan membuat mereka berdua kaget.
"Der..",
"Tenang Rey".
Suara bising pun kembali menyerang telinga Reyna yang membuatnya kesakitan. Deran ikut membantu menutup telinganya dengan bantal. Tak lama kemudian, suara itu menghilang dan muncullah orang dari cermin itu.
"Der, dia beneran datang, dia ada di cermin itu", tunjuk Reyna hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.