
"Ah, andai aku bisa mendapatkan posisiku di hatimu melalui celah di cermin ini, aku ingin tetap tinggal selamanya sampai akhir".
Perkataan Vino siang itu menggema di dalam kamar Reyna. Suara familiar yang akhir-akhir ini selalu Reyna dengarkan. Memang mengherankan bagaimana mungkin ada suaranya disaat orangnya tidak ada. Reyna bahkan sampai menutup telinganya dengan bantal karena halusinasinya yang sudah kelewatan. Mendengar suara Vino terkadang membuat Reyna merasakan sesuatu, ada sebuah perasaan yang tak mampu ia artikan, antara cinta atau dusta. Nampaknya semenjak Vino meminta maaf kepadanya, persepsi ia kepada Vino mulai membaik dan begitu pun juga dengan perasaannya. Ia sudah tak terlalu risih lagi dengan kehadiran Vino di dekatnya bahkan terkadang ia menginginkan untuk selalu di dekat Vino namun ia sadar itu hanya sekedar obsesi yang entah datang darimana. Ingin selalu dekat dengan lawan jenis di masa sekolah bukanlah suatu hal yang baik, apalagi Reyna merasa belum cukup dewasa dan belum pantas berpacaran.
Handphone Reyna pun berbunyi dan benar orang yang ada di pikirannyalah yang menelepon saat ini.
"Haloo kak ?",
"Iya, kenapa Vin ?",
"Cuma tes aja".
Reyna pun langsung mematikan telepon karena kesal dan juga senang.
"Loh kenapa ? ilang sinyal atau marah ?", tanya Vino dalam benaknya, ia pun mencoba menelpon Reyna lagi.
"Ah, kenapa sih ni anak, nggak usah angkatlah", decak Reyna.
Tapi Vino masih saja tetap mencoba menyambungkan panggilannya, karena terusik dan merasa sedikit gemas akhirnya Reyna mengangkat telepon tersebut.
"Haloo, kenapa Vin ?",
"Heheh, maaf ganggu, lagi ngapain kak ? lagi sibuk ya ?",
"Iya nih sibuk banget", jawab Reyna padahal dari tadi kerjaannya hanya tiduran saja sambil menonton tv.
"Ya udah, aku matiin yah", kata Vino yang sebenarnya kecewa.
"Eh, jangan.. kamu ada perlu apa ?",
"Heheh, mau nanya kak ada soal yang aku nggak ngerti".
"Soal matematika lagi ?",
"Iya kak".
"Oke, kamu fotoi aja ya soalnya kirim ke line aku".
"Iya kak".
Tak lama dari itu Reyna yang menerima soal tersebut langsung mengerjakannya dan mengirim jawaban kembali pada Vino.
"Ah, kak Reyna baik sekali, puji Vino sambil menulis jawabannya". Ia pun berinisiatif menelpon Reyna kembali.
"Haloo kak, makasih ya udah bantuin aku, kakak udah tidur ?",
"Iya sama-sama, lagi belum bisa tidur nih Vin".
"Lagi banyak pikiran ya kak ?",
"Nggak juga, nggak tau nih kenapa biasanya aku nggak pernah susah tidur".
"Mau aku nyanyiin ?",
"Hah ? nggak usah Vin".
"Oh ya udah kalo nggak mau. Kakak lagi butuh temen ngobrol biar nanti lama-lama ngantuk sendiri ?",
"Mau ngobrol apa ? aku bingung, emang tugas kamu udah buat ?",
"Udah dong kak".
"Koq cepet banget".
"Iya lagipula sebenarnya udah ada beberapa soal yang aku kirim itu udah aku kerjain, cuma mau mastiin aja biar nggak salah".
"Oh gitu".
"Hmm.. aku matiin ya kak".
"Iya matiin aja, eh tunggu dulu", Reyna pun terdiam sesaat.
"Koq diem kak ? Udah tidur ya ? Ya udah aku matiin nih".
"Mm..tawaran kamu yang tadi masih berlaku ?", tanya Reyna.
"Yang mana nih ? ada dua".
"Kamu yakin bisa nyanyi ?",
"Bisa, mau bukti ? tapi nanti malah nagih".
"Masa' ?",
"Iya, mau lagu apa ?",
"Terserah".
Vino terdiam sesaat dan mulai melantunkan sebuah lagu dengan diiringi oleh petikan gitarnya...
*When the visions around you, bring tears to your eyes
And all that surrounds you, are secrets and lies
I'll be your strength, I'll give you hope
Keeping your faith when it's gone
The one you should call, was standing here all along
And I will take, you in my arms, and hold you right where you belong
Till the day my life is through, this I promise you
This I promise you
I've loved you forever, in lifetimes before
And I promise you never, will you hurt anymore
I give you my word, I give you my heart (I give you my heart)
This is a battle we've won
And with this vow forever has now begun
Just close your eyes, each loving day
And know this feeling won't go away, no
Till the day my life is through, this I promise you
This I promise you
Over and over I fall, (over and over I fall), when I hear you call
Without you in my life baby
I just wouldn't be living at all
And I will take, (I will take you in my arms), you in my arms
And hold you right where you belong (right where you belong)
Malam itu Reyna berdebar mendengar lagu yang berjudul This I Promise You, suara Vino berhasil menenggalamkannya dan memberi ketenangan malam itu. Perasaan gelisah Reyna melayang entah kemana hingga kantuk mulai menyerang Reyna dan malam akan mulai berlalu menemui fajar.
"Ah, perasaanku masih berdebar", kata Reyna sambil tersenyum sendiri memegang dadanya.
Rasanya ia ingin mendengar kembali suara itu lagi dan lagi.
"Kak..", sapa Vino saat melihat Reyna yang baru datang.
Namun Reyna berusaha bersikap sedingin mungkin terhadapnya dan melangkah secepat mungkin menjauhi Vino. Vino kembali bingung apa yang terjadi sampai dia kembali mendapat perlakuan dingin padahal baru semalam dia menyanyikan lagu untuk wanita itu. Selama ini dia tak pernah melakukannya bahkan jika diminta.
Reyna merasa sedikit bersalah dengan perlakuannya tadi padahal Vino hanya menyapanya. Reyna menghela nafas di tengah rasa sesal yang juga berselimut dalam hatinya, mengapa ia tak jawab saja sapaan itu. Perasaan itu akhirnya mulai membuai ketika pelajaran dimulai.
Tibalah waktu isirahat, bel pun berbunyi...
"Rey, buruan yuk ke kantin", ajak Zelfa yang menarik tangan Reyna.
"Nggak ah, aku males", jawabnya yang masih bertahan dalam posisi duduk padahal Zelfa sudah mengeluarkan tenaga untuk menariknya.
"Ayolah Rey kalo nggak makan nanti sakit lagi, kalo kita makin lama sampe, kantin makin rame".
"Sekarang aja kantin udah meluap pasti, males ah rame, kamu aja gih yang pergi aku mau nitip aja".
"Apa ?"
"Mau makan bakso tapi gak mood terus juga nggak bisa makan pake mangkok entar nggak puas".
"Jadi kamu mau apa ? Buruan Rey".
"Beliin aku mi tumis aja deh".
"Oke minumnya apa ?",
"Es tapi males, air putih biasa bosen, minum kopi nggak cocok, teh juga apalagi, kalo susu kan nggak mungkin juga".
"Jadi kamu mau apa Rey ?", tanya Zelfa yang mulai kesal.
"Es teh aja".
"Tadi katanya kalo es males, teh nggak cocok".
"Buruan pergi Fa entar terlambat".
"Hebat banget, malahan ni anak yang ngusir, aku memang udah terlambat, gara-gara siapa coba ?",
"Heheh, Zelfa kan anak yang sabar, buruan jalan gih entar kehabisan".
"Palingan makanan kamu aja yang nggak aku beliin", jawab Zelfa sambil berlari meninggalkan kelas.
Reyna yang hanya sendirian di kelas pun menelungkupkan kepalanya di atas meja karena merasa sedikit mengantuk.
"Kak, nggak ke kantin ?", tanya seorang laki-laki yang mengetuk mejanya.
"Ah, ngantuk nih, Eh..", jawab Reyna yang kaget dan mulai membenarkan posisi duduknya.
"Ngapain kamu kesini ?", tanya Reyna menyambung perkataannya tadi yang terputus karena kaget siapa yang lagi-lagi menghampirinya itu.
"Aku liat kakak sendirian aja, jadi aku masuk lah".
"Loh, emang boleh anak kelas 10 masuk ke kelas 11 ?", tanya Reyna sambil menaikkan alisnya dengan melipat tangan di dada.
"Loh, emang ada larangannya ? aku nggak pernah tau lagipula kan aku ada kepentingan kesini dan tak membuat keributan juga".
"Belum ada larangan, tapi mulai sekarang aku yang akan ngelarang".
"Lah, emangnya kenapa ?",
"Anak kelas 10 kan punya kelasnya masing-masing kenapa harus masuk ke kelas lain apalagi ruang kakak kelas, nggak ada kepentingan yang mendesak banget juga".
"Oh gitu, tapi aku merasa nggak perlu takut sama larangan itu dan disini aku juga udah pasti diperbolehkan oleh guru untuk masuk ke kelas 11 karena aku salah satu orang berprestasi dan kebanggaan sekolah, emang kepentingan mendesak apa yang baru boleh masuk ?",
"Kamu udah ngelawan ya sama kakak kelas ? Kalo ada yang sakit, barang ketinggalan, atau ada informasi penting baru boleh masuk, emang kamu ada kepentingan itu ? nggak kan ?",
"Aku bukan melawan, aku hanya menyampaikan pernyataan yang benar dan aku ada kepentingan buat ngembaliin barang sama keperluan lain".
"Kalo mau balikin barang, tunggu pas semua orang udah rame di kelas aja".
"Karena bukan semua orang yang jadi kepentingan aku".
Reyna kembali mengangkat sebelah alisnya.
"Nih, aku mau balikin saputangan, dari kemarin aku lupa terus", kata Vino sambil mengeluarkan saputangan dari sakunya.
"Dan satu lagi aku mau kakak nggak bersikap kayak tadi pagi, apa aku melakukan kesalahan ? perasaan nggak deh, kakak masih dendem ? aku kan udah minta maaf, terus sekarang apa masalahnya ?",
"Emang aku bersikap kayak gimana, aku memang kayak gini".
"Dingin. Padahal kemarin aku merasa hubungan kita membaik karena kita udah mulai dekat tapi hari ini kakak kembali dingin sama aku, bukan itu kak yang aku mau".
"Itu juga bukan keinginanku, kamu terus bertanya kenapa padahal aku sendiri taktau apa jawaban yang tepat harus aku keluarkan".
"Bukan keinginan ? Semua nada marah, kesal, ekpresi jengah itu bukan keinginan ?", tanya Vino mulai mendekatkan wajahnya kepada Reyna mencoba mendapat jawaban yang ia cari selama ini.
"Aku..akuu", jawab Reyna gugup karena jaraknya yang terlalu dekat itu.
"Aku apa ?".
"Aku takut dengan perasaan yang ingin membunuhku sendiri", jawab Reyna yang mulai beringsut melangkah ke belakang.
"Ah, akan sangat sulit untuk aku menafsirkannya berikan aku jawaban pasti bukan bahasa puisimu".
"Kalau aku mulai tertarik padamu apa kamu mau menyambutku ? Kalau aku sampai jatuh cinta padamu apa kamu mau membantu aku melupakanmu".
"Ternyata kakak mulai tertarik padaku ? Terus kenapa aku harus membantumu melupakanku ? bagaimana dengan aku yang sudah lama menyukaimu ?",
"Karena kita berada di usia dan pola yang tak pasti, aku tak ingin meninggalkan tapi juga tak mau ditinggalkan sedangkan hukum hidup adalah yang datang pasti akan pergi. Bagaimana aku akan tau pasti kalau kamu tak akan meninggalkanku ? karena itu aku meminta bantuanmu supaya aku tak menyukaimu dan aku tak harus bersusah payah melupakanmu".
"Kenapa kakak berpikir terlalu jauh seperti itu ?",
"Ini pertanyaan yang aku butuhkan, terlalu jauh bukan untuk usia saat ini memikirkan cinta yang dianggap sebagai sesuatu yang sebenarnya hanya sebuah lagu yang harus dinikmati tanpa harus berpikir apa yang terjadi selanjutnya jika sudah berhenti, dan inilah alasanku tak menyukai anak kecil sepertimu".
"Ah, lebih baik kakak makan dulu roti ini, aku mau masuk kelas, dan maaf karena anak kecil ini menyukaimu", kata Vino seraya menaruh roti diatas meja Reyna dan beranjak pergi meninggalkannya sendiri.
Sementara Reyna terpaku,
"Ah, maafkan aku Vin".
Tak lama dari itu Zelfa baru kembali dari kantin dan menegur adiknya.
"Eh, Vin kakak baru balik dari kantin kenapa ? ada perlu apa sampe ke kelas ?", tanya Zelfa yang penasaran melihat adiknya dengan rambut acakan dan ekspresi yang tak dapat didefinisikan antara ingin menangis, tertawa atau sedang kecewa atau merasa puas.
"Iya kak, nanti pulang duluan yah aku mau ke perpus dulu kayaknya sore baru pulang", jawab Vino sambil berjalan.
"Kenapa tuh anak ? dimarahin Reyna lagi, perasaan kemarin udah baikan, dia juga udah seneng bisa deket, ah pusing liatnya", gumam Zelfa yang mulai menghampiri Reyna. Ia melihat Reyna sedang melahap roti.
"Nih, Rey mi sama es nya, terus kenapa tuh anak tadi kesini ? roti dari dia ?", tanya Zelfa yang penasaran dengan apa yang terjadi antara mereka berdua selama ia tak ada.
"Nggak kenapa-napa koq, oh balikin saputangan tadi dia, iya nih roti dari dia", jawab Reyna sambil memperlihatkan saputangan.
Ekspresi Reyna menunjukkan ia sedang murung dan hal itulah yang dapat ditangkap Zelfa.
"Yang ini murung, yang satunya nggak terbaca, kenapa ni ? kalo dia marah sama Vino pasti mukanya jengkel koq ini nggak, nggak mungkin juga Vino marahin ni anak mau mati di tempat hari ini tu anak, aneh, aneh, aku nggak ngerti", gumam Zelfa dalam hatinya.
Vino yang kembali ke kelasnya masih bingung sekaligus terkejut dengan perkataan Reyna tadi.
"Apakah sesulit dan serumit itu baginya untuk jatuh cinta ? mulai tertarik apanya, yang ada dia yang terus menarik diri supaya enggak mungkin bisa buat dikejer. Dan lagi, aku ? aku anak kecil ?", gerutu Vino sambil menjambak rambutnya sendiri.
"Woi, kenapa Vin ?", tegur Albert temannya Vino.
"Aku anak kecil ?",
"Udah setinggi tiang listrik gitu dibilang anak kecil ? nggak salah ?",
"Loh koq nanya balik ? tapi bener juga masa' udah tinggi kayak gini masih dibilang anak kecil".
"Yah, aku bingung aja koq ada yang bilangin kamu anak kecil, walau memang pernyataannya itu bener".
"Pernyataan ? sejelas itukah aku seperti anak kecil, tapi tadi katanya aku bukan anak kecil, jadi mana nih yang bener ?",
"Yah, kan kadang kayak anak kecil kadang kayak udah dewasa gitu, tapi kalo lagi menjiwai peran sebagai ketua kelas, bener-bener kayak orang dewasa, tapi kalo pas main nggak deh, mending ke laut aja gih sana".
"Maksud kamu ? Apa kamu yang mau aku lempar ke laut pulang nanti ?", tanya Vino marah.
"Eitss, jangan marah-marah dong, kita harus mendikusikannya dengan kepala dingin, emang siapa yang ngomong ?",
"Ada lah, mau tau aja".
"Huh, dasar. Tapi ya, kita ini kan udah beranjak dewasa, lagipula dewasa itu yang kayak gimana sih ? bingung akunya. Orang dewasa aja ada yang nggak bersikap dewasa, anak kecil bersikap dewasa memang bagus tapi bagi sebagian orang ada yang nganggep apa nggak terlalu cepet buat jadi tua. Emang dewasa itu harus tua ?",
"Bener tuh, emang dewasa harus jadi tua dulu, terus pas udah tua masih belum juga dewasa jadi kapan dewasanya. Emang dewasa tu yang kayak gimana ? persepsi orang tentang dewasa aja beda-beda. Tumben hari ini kamu pinter Bert ?",
"Udah lama sih pinternya, cuma kependem aja", jawab Albert sambil membenarkan kerahnya yang sebenarnya sudah rapi.
Vino pun mulai memikirkan apa yang baru saja ia bicarakan dengan Albert. Dewasa yang dimaksud oleh Reyna itu seperti apa.