Still With You

Still With You
Chapter XIV : Ferris Wheel



"Oke aku sudah siap, sepatu sudah diikat, semua buku sudah dibawa", kata Reyna yang menunggu kedatangan Vino.


Tak lama dari itu, orang yang ditunggu-tunggu pun datang. Reyna bergegas mengunci pintu dan gerbang rumahnya.


"Wah, jadi kita naik sepeda hari ini ?",


"Iya kak".


"Kamu baru beli ?",


"Sepeda lama, cuma semenjak masuk SMA aku nggak pake lagi".


"Oh".


"Udah yakin nggak ada yang tinggal ?",


"Yakin".


"Oke, ayo naik", ajak Vino.


Mereka pun pergi sekolah.


"Kak, nanti pulang sekolah ada waktu ?",


"Maunya pulang nanti nonton tv aja sih".


"Bersedia pergi ?",


"Pergi ? kemana ?",


"Ke tempat yang pasti kakak suka".


"Baiklah aku akan datang menghampirimu di kelas".


"Lebih baik tidak usah".


"Kenapa ?",


"Banyak anak yang suka melirik kakak".


"Hahah, melirik aku ?",


"Iya, kakak cukup populer di kelas 10 apalagi di kelas kami, lebih baik aku saja yang ke kelas kakak".


"Ah, ternyata begitu, tapi kalau kamu masuk ke kelasku itu juga akan menjadi pusat perhatian".


"Aku akan menggunakan masker".


"Kalau begitu aku juga bisa ke kelasmu dengan memakai masker bukan ?",


"Jangan".


"Jadi kamu ingin aku menunggu dimana ? perpus ?",


"Jangan, disitu juga ada banyak orang".


"Padahal sebelum jadian kita sering bertemu disitu. Ah, kamu menginginkan tempat sepi tapi bagaimana ya sekolah kita kan selalu ramai kecuali kalo udah sore dan aku nggak mau nunggu sampe sore".


"Bedanya sekarang kita udah pacaran. Dan ya bukan juga tempat sepi seperti yang kakak maksud, tunggu aku di lapangan".


"Bukankah lapangan juga rame ?",


"Terserah kakak saja menunggu dimana asal jangan di kelasku", jawab Vino yang mulai kesal karena perkataannya selalu dibantah.


"Hohoh, jangan marah adikku yang menggemaskan ini, aku akan menunggumu di parkiran ini, oke ?", kata Reyna sambil mengusap kepala Vino.


"Hmm..baiklah".


"Aku masuk duluan ya Vin".


"Iya kak".


"Jangan terlalu memikirkan hal seperti dimana aku akan menunggumu karena saat ini aku tidak akan pergi lagi, bukankah sudah pernah kukatakan mari kita bersama untuk hari berikutnya dan selanjutnya", kata Reyna sebelum masuk kelas sambil mengelus kepala Vino.


"Maaf kak jika aku menyulitkanmu".


"Kamu tak pantas meminta maaf padaku. Dan aku juga paham perasaan apa yang kamu rasakan, tenang saja aku takkan pergi lagi".


"Terima kasih kak", jawab Vino yang tengah menggenggam tangan Reyna.


Kemudian ia mengambil daun yang menyangkut di rambut Reyna.


Angin bertiup menerbangkan daun kering yang sudah berjatuhan memberi arti segala sesuatu akan berlalu pergi sesuai waktunya dan sesuatu yang hanya akan bertahan adalah hal yang sudah ditetapkan bahkan sebelum dunia terbentuk dan kehidupan dimulai menjadi ukiran cerita.


Waktu pun kembali berlalu hingga tibalah jam pulang sekolah.


"Rey, kami duluan ya", ucap Zelfa yang berboncengan dengan Albert saat berpapasan dengannya.


"Iya, hati-hati".


Motor Albert pun melaju kencang meninggalkan sekolah.


"Ah, maaf kak lama ya ?", ucap Vino yang baru saja tiba di parkiran.


"Nggak lama, aku juga baru keluar koq, udah beres semua tugas kamu ?",


"Sudah kak".


"Ayo kita pergi".


Vino tersenyum kemudian membalikkan posisi sepedanya dan siap pergi dengan Reyna.


"Kita mau kemana Vin ?",


"Bentar lagi kakak akan tau".


Reyna hanya mengangguk ia menikmati saat seperti ini, merasakan deru angin saat dibonceng Vino. Laki-laki yang mampu membuatnya jatuh cinta untuk pertama kali. Orang yang mampu membuat jantungnya berdegub kencang.


"Oke kita sudah sampai".


"Wahana permainan ?",


"Iya kak, ayo masuk".


"Hahah aku tak menyangka kamu mengajakku kesini, aku sudah lama ingin kesini padahal sebenarnya aku pernah kesini bersama Zelfa. Tapi maksudku, ini impianku untuk menghabiskan waktu disini bersama orang yang aku cintai".


"Wah, aku tidak salah mempercayakan hal seperti ini pada penasehat".


"Kamu bertanya kepada Zelfa ?",


"Iya dan aku ingin mewujudkannya".


"Terima kasih Vin".


Keduanya pun membeli tiket masuk.


"Vin, kita naik roller coaster ya ?",


"Hah ? boleh-boleh".


Saat roller coasternya beraksi Reyna sangat menikmatinya, beberapa kali ia berteriak tanpa rasa takut. Setelah turun Vino ternyata muntah-muntah, Reyna yang melihat hal itu pun menjadi cemas.


"Pantas saja dia diam saja saat naik tadi, aku pikir dia memang tak suka berteriak", ucapnya dalam hati.


"Kamu kenapa Vin tadi nggak bilang kalo nggak bisa naik itu ?", tanya Reyna sambil menepuk pelan pundak Vino.


"Gengsi lah kak dan aku juga mau nemenin kakak".


Mendengar jawaban Vino, Reyna ingin tertawa tapi rasanya tak tepat jika dilakukan saat ini. Ia juga merasa kagum atas apa yang dilakukan Vino, Vino rela naik permainan itu padahal sebenarnya ia tak sanggup.


"Sampe kayak gini, minum dulu ya habis itu kita pulang".


"Jangan pulang dulu kak, habis ini aku juga baikan".


"Kita cari makan dulu ya, kamu tunggu disana aja biar kakak yang beliin".


"Aku ingin ikut", kata Vino menarik tangan Reyna.


"Kamu tunggu disini saja, pulihkan dulu mabukmu itu karena habis ini aku akan mengajakmu ke wahana yang menggertak nyali seperti tadi".


"Hah ?",


"Hahah, nggak koq, nggak sampe mabuk cuma pingsan aja dan karena itulah kita perlu mengisi energi kita".


Vino pun melepaskan tangan Reyna. Tak lama kemudian, Reyna pun kembali dengan membawa beberapa bungkus makanan.


"Ayo kita habiskan ini".


"Iya".


"Lesu banget Vin, kalo nggak sanggup buat makan aku bisa habiskan semuanya".


"Jangannn..aku bisa makan dengan baik", jawab Vino sambil melahap sosis bakar berukuran jumbo.


"Nah udah selesai makan, ayo kita ke permainan selanjutnya yang aku katakan tadi".


Vino masih enggan berdiri meskipun tangannya sudah ditarik-tarik oleh Reyna.


"Kamu mau pulang ?",


"Nggak kak".


"Lalu ?",


"Apa wahana selanjutnya seseram tadi ?",


"Sangat seram lebih mencekam dari yang tadi".


"Ah, aku nggak bisa naik yang seperti tadi lagi".


"Ini bukan wahana yang mengaduk perutmu, tenang saja".


"Benarkah ?",


"Kamu nggak pernah kesini ya ?",


"Pernah waktu masih di taman kanak-kanak".


"Ah, sedih sekali kamu Vino".


Vino akhirnya hanya menurut saja saat tangannya ditarik oleh Reyna.


"Ini ?",


"Ayo masuk".


"Ternyata ini permainan yang sangat menyeramkan itu", gumam Vino dalam hatinya.


Baru memasuki pintu Reyna sudah berteriak karena dikejutkan oleh hantu yang tiba-tiba muncul dihadapannya. Vino yang melihatnya mencoba menyembunyikan tawanya. Mereka pun berhasil melewati pintu pertama dan selanjutnya...


"Aaaa,..", teriak Reyna yang bersembunyi di balik punggung Vino saat kakinya ditarik.


"Tenanglah kak, kita bisa melewati ini".


"Aaaaa...", lagi dan lagi Reyna berteriak sangat keras.


Sebenarnya teriakan itu amat sangat memekakkan telinga namun bagi Vino itu adalah kejadian lucu dimana biasanya orang galak seperti singa yang suka memarahi orang itu bisa ketakutan hanya dengan melihat hantu apalagi ini hanya hantu di wahana permainan. Vino baru saja mengetahui sisi lain dari Reyna yang tak pernah ia lihat sebelumnya.


"Jangan mendekattt..aaaa", teriak Reyna yang tanpa ia sadari tengah memeluk Vino saat ada zombi yang menggigitnya dan gigi palsu dari zombi itu menempel di lehernya.


Vino terkejut saat Reyna memeluknya, ia mencoba meminimalisir kegugupannya dengan mengambil gigi itu dan melemparkannya. Vino pun mencoba membalikkan tubuh Reyna dan menghadapkannya ke depan.


"Tenang kak, aku akan menutup matamu sampai kita keluar dari sini".


Mereka berdua pun berjalan dengan Vino sebagai pemandu. Ia menutup mata Reyna dengan tangannya dan terus berjalan hingga bisa keluar dari rumah hantu tersebut.


Selepas keluar dari situ, keringat Reyna terlihat bercucuran.


"Ah, akhirnya berakhir juga".


"Aku nggak tau kalo kakak ternyata takut hantu", kata Vino sambil memberikan tisu kepada Reyna.


"Ah, hari ini kamu menyaksikannya sendiri".


"Kenapa mau nyoba masuk ?",


"Aku takut hantu, tapi aku suka adegan yang bisa memompa detak jantung lebih cepat dan aku minta maaf teriakanku tadi pasti membuat telingamu sakit".


"Minta maaflah juga kepada hantu-hantu itu", kata Vino sambil tersenyum.


"Hentikan senyummu itu, sudah berapa kali kamu tersenyum hari ini".


"Aku tak akan berhenti tersenyum apalagi melihat hal tadi".


"Hahah, kamu suka melihat tadi dan aku juga suka mengetahui kalo anak yang dieluh-eluhkan sebagai laki-laki tertampan di sekolah tidak sanggup naik roller coaster dan dia mabuk".


"Hahah, kita punya kelebihan dan kekurangan satu sama lain. Orang lain juga pasti seperti itu ada yang takut naik roller coaster, ada yang takut masuk ke rumah hantu bahkan takut bertemu badut".


"Badut ? aku baru ingat kalau kita juga harus berfoto dengannya. Kamu pernah berfoto dengannya ?",


"Belum, aku juga belum berfoto dengan kakak".


"Ah, iya kita belum pernah mengabadikan momen kebersamaan kita, ayo sekarang kita lakukan, badutnya ada disana", tunjuk Reyna.


Setelah berfoto dengan badut Reyna mengajak Vino berfoto bersama.


"Ayo Vin", ajak Reyna.


"Habis ini kita masuk ke akuarium besar ya, disana bagus banget loh buat foto".


"Baiklah".


"Sini..sini Vin", ajak Reyna.


Mereka pun berfoto bersama.


"Ikannya lucu", tunjuk Reyna.


"Hahah iya, aku juga kak", tunjuk Vino kepada dirinya sendiri.


"Hahah".


"Yuk kita keluar, kita harus naik yang satu ini dan jangan sampai terlewat".


"Tunggu kak, aku mau beli kembang gula dulu".


"Iya".


Tak lama kemudian, Vino datang dengan membawa dua buah kembang gula.


"Ayo kita naik itu kak".


"Iya, aku nggak sabar ngeliat pemandangan diatas sana, kata temenku indah banget".


"Kakak belum pernah naik ?"


"Sudah sih".


"Terus kenapa kata temen ?",


"Soalnya kata temen aku dia pergi sama orang yang ia cintai dan saat berada diatas pemandangannya jadi lebih indah".


"Ah, seperti itu baiklah kita harus mencobanya".


Mereka pun menaiki bianglala itu.


"Ada apa dengan aku yang tersenyum berkali-kali hari ini, aku benar-benar tidak mengejekmu kak".


"Ah, kamu mau tau aja".


"Disini anginnya terasa lebih sejuk", kata Reyna yang memeluk tangannya sendiri.


Vino yang duduk di depannya pun memberikan jaket padanya.


"Pakai ini kak".


Saat memakaikan jaketnya pada Reyna, mata keduanya bertemu.


"Seolah waktu berhenti", dalam hati Vino.


"Apa aku berhasil membunuh waktu ?", tanya Reyna dalam hati.


Vino bisa dengan jelas melihat wajah cantik Reyna dengan matanya yang indah, tempat dimana ia ingin selalu ada disana. Begitu pun dengan Reyna ia bisa melihat kembali dengan jelas wajah rupawan Vino dengan hidung mancung dan mata dengan ketulusan yang membuatnya nyaman.


"Ah, bianglala nya berhenti, kita tepat berada di atas", kata Vino menghentikan tatapannya itu.


"Iya kita sudah ada di atas, aku selalu senang setiap berada di posisi seperti ini".


"Kakak memang keren, tidak takut ketinggian".


"Kenapa aku harus takut ketinggian karena pada akhirnya aku akan kembali ke atas langit dan hanya bisa melihat bumi dari jauh. Tapi kali ini aku lebih senang, bisa naik ini bersamamu".


"Kita harus memotret hal ini juga", kata Vino sembari pindah duduk ke sebelah Reyna.


"Iya, pemandangan disini sangat bagus.


Tangan kamu dingin Vin", tegur Reyna yang tak sengaja menyentuh tangannya.


"Ah, biasa karena udaranya juga sejuk".


Reyna pun menarik tangan Vino dan memasukkannya ke jaket sambil tetap menggenggamnya.


"Lakukan hal ini jika kamu kedinginan, aku juga akan melakukan hal yang sama", kata Reyna sambil menyenderkan kepalanya di bahu Vino.


Vino hanya diam dan menikmati momen ini, dia berharap waktu tak akan bergerak karena ia ingin selalu seperti ini.


"Tahun berikutnya aku ingin kita terus kesini dan naik ini. Aku ingin selalu melihat hal indah bersamamu", ujar Reyna yang tak lagi menyender di bahu Vino dan menatap matanya.


"Baiklah, setiap tahun kita akan ke wahana ini", jawab Vino singkat karena ia tak mampu berkata-kata banyak, Reyna berhasil meluluhlantakkannya.


"Oh ya kak kalau wahana nya tutup bagaimana ?", lanjut Vino.


"Kita cari tempat lain karena yang terpenting adalah kita bisa merasakan momen seperti ini, berada di atas seolah kita berhasil membunuh waktu dan melupakannya".


"Ah, aku pikir hanya aku saja yang merasa seperti itu, ternyata kakak juga merasakannya. Seolah waktu berhenti, tapi aku tak ingin melupakan waktu ?",


"Kenapa ?",


"Meski kita berusaha keras membunuhnya agar berhenti kita tak harus melupakannya karena kita bisa disini adalah berkat waktu".


"Kamu benar, kenapa harus melupakannya. Ah, aku salah".


"Aku mengerti maksud kakak, tapi untuk apa kita melupakan hal-hal penting yang akan menjadi kunci setiap peristiwa dalam hidup, kita harus terus mengingatnya meskipun itu adalah saat paling membahagiakan ataupun sebaliknya".


"Aku tak bisa berkata apa-apa lagi mendengar jawabanmu".


"Kakak hanya perlu menghargai dan mensyukuri apa yang terjadi karena setiap peristiwa akan mendatangkan atau membuat sesuatu pergi".


"Hmm", Reyna kembali menyenderkan kepalanya di bahu Vino.


"Ah, kita sudah turun",


"Iya ayo kita pulang".


Mereka berjalan dengan tangan Vino yang masih ada dalam jaket yang dikenakan Reyna.


"Kak, mau ke rumah aku ?",


"Hah ?",


"Makan tempat aku".


"Boleh, kamu yang cepet dayuhnya, biar cepet sampe perutku udah bunyi lagi".


"Padahal tadi banyak jajan".


"Hahah itu hanya cemilan. Oh ya, terima kasih Vin hari ini kamu udah ngajak aku main di wahana".


"Iya kak sama-sama, aku juga berterima kasih karena kakak mau pergi sama aku".


"Kenapa aku harus menolak pergi denganmu ?",


"Baguslah kalo gitu kita bisa pergi lagi".


"Iya, tapi jangan sampe lupa belajar".


"Siap, kak. Makanan udah nunggu kakak hahah".


Hingga tibalah mereka di rumah Vino.