
"Hahah oke oke aku tutup ya", kata Zelfa.
"...iya".
"Nelpon siapa kak ?", tanya Deran yang baru saja turun melihat kakaknya itu tampak sangat bahagia.
"Albert".
"Mau nikah ya ? padahal belum dapet kerja",
"Eh mulut".
"Jadi kenapa seneng gitu ?",
"Kita mau pergi besok".
"Oh".
"Yakin nggak mau ikut ?",
"Paling juga ke mall".
"Enak aja, kita mau camping di pantai".
"Yang bener aja masa' camping di pantai".
"Makanya cari referensi tempat romantis atau tempat untuk menghabiskan weekend, ini nggak, malahan ke tempat itu-itu aja. Untung Reyna nya mau, kalo aku sih nggak mau, bosenin banget".
"Dia aja udah seneng walaupun cuma kesitu-situ doang".
"Iya, iya, jadi mau ikut nggak ? coba deh tanya Reyna".
"Kalo dia nggak mau gimana ?",
"Ya nggak usah ikut".
"Nggak niat banget ngajaknya".
"Ya lagian belum ditanyain juga udah mikir dia nggak mau ikut, bukannya selama ini kemana kamu pengen pergi dia nurut aja".
"Tapi..",
"Banyak tapi-tapian, buruan telpon. Atau kamu yang sebenarnya nggak mau ikut ? ah kalo gitu biar aku aja yang telpon dia, dia pasti mau ikut"
"Jangan ditelpon, aku mau ngajak dia jalan".
"Kemana ?",
"Kesini".
"Ke rumah ini ? busett besok weekend cuma mau di rumah aja, padahal Reyna butuh refreshing juga, nggak bisa dibiarin ini", Zelfa pun langsung mencari kontak Reyna dan menelponnya dengan cara loudspeaker.
"Hallo.."
"Hallo.., kenapa Fa ?",
"Besok kita mau pergi jalan, seru loh tempatnya".
"Nggak usah ikut, kamu kan butuh istirahat dulu besok", celetuk Deran.
"Kenapa Der ?", tanya Reyna.
"Nggak usah ikut aku juga nggak ikut ".
"Oh, ya udah aku nggak ikut".
"Bentar Rey, besok kamu harus ikut karena tempat ini bener-bener seru".
"Kemana emang ? dari tadi seru-seru mulu, tapi nggak tau kemana".
"Pantai mau camping. Nggak usah ikutlah", sambung Deran.
"Wah seru, aku mau ikut, kalo kamu nggak mau ikut ya udah aku aja yang pergi besok".
"Nah loh Der, Reyna pasti mau ikut kan kamu aja nggak percaya sama aku".
"Aku naik atas dulu ya", kata Deran meninggalkan mereka berdua.
"Kenapa tuh anak Fa kamu apain lagi dia ?",
"Mentang-mentang suka ribut, jadi akunya terus yang jadi tersangka".
"Hahaha".
"Nggak tau deh kenapa tuh anak, dia bilang nggak mau ikut, ya udah kalo nggak mau ikut. Emangnya pacarnya nggak butuh refreshing juga apa".
"Hmm.. nanti aku telpon dia aja siapa tau pengen ikut".
"Tapi kalo liat dari gelagatnya, emang bener-bener nggak pengen ikut padahal dia nggak pernah ikut camping, padahal seru apalagi di pantai, heran".
"Beneran nggak pernah ikut ?",
"Waktu dulu sekolah pernah ngadain camping dan dia ikut, pas pulang malah demem tinggi dan kata gurunya waktu di lokasi dia muntah-muntah, kakinya juga banyak yang luka karena tergelincir. Setelah itu, dia nggak pernah mau ikut camping lagi".
"Oh, ya udah aku telpon dia dulu nih".
"Oke, bye, sampai jumpa besok, tunggu aku jemput ya".
"Nggak usah, biar aku aja yang langsung ke rumah kamu".
"Entar kamu capek".
"Nggak lah, santai aja".
"Hmm oke".
Panggilan pun berakhir. Selanjutnya Reyna menelpon Deran.
"Halloo.."
"Halloo".
"Kenapa kamu marah ?",
"Nggak".
"Masa' ? jadi kamu marah ya kalo aku ikut ? kalo gitu aku nggak usah ikut ya".
"Nggak. Kalo kamu mau ikut, ikut aja. Aku sih nggak".
"Yakin nggak mau ikut ?",
"Yakin".
"Padahal seru loh camping di pantai, kamu kan udah lama nggak camping".
"Nggak mau camping lagi, lagipula kalo di pantai kan dingin terus kalo digulung ombak gimana, terbawa arus, masuk berita lagi".
"Hahah, bagus dong terkenal, nggak deh bercanda. Ya doanya jangan gitulah, kita harus selamat baik itu pergi ataupun pulang. Ayolah Der ikut, bagus loh buat kita yang udah full belajar terus ini, otak kan butuh refreshing juga".
"Nggak tau ah, takut".
"Bukannya Deran itu pemberani ya ?",
"Udah jadi penakut sekarang, kalo kamu mau ikut, ikut aja".
"Ya udah kalo gitu aku mau packing baju dulu, terserah deh kamu mau ikut atau nggak".
Reyna pun mematikan telponnya.
"Hah ? dimatiin ?", tanya Deran.
"Mending aku tidur aja lah", seraya menarik selimut.
Di lain tempat Reyna sedang sibuk menyiapkan keperluan yang harus dibawa.
"Sayang banget kalo dia nggak ikut, emang otaknya nggak butuh refreshing apa, padahal dia tekun banget belajar daripada aku, ah terserah dia lah entar juga nyesel sendiri kalo nggak ikut. Tapi kasian juga pas denger cerita Zelfa, dia camping sampe luka malahan demem lagi, aku malah ketagihan camping", gumam Reyna.
Pagi hari pun tiba..
"Oke, semua sudah siap aku tinggal pergi aja".
Reyna pun pergi ke rumah Zelfa.
"Wah, mobilnya Albert udah ada aja disini".
"Rey, udah datang, bentar ya aku lagi siapin makanan dulu nih".
"Deran mana ? udah bangun belum ?",
"Coba kamu ke kamarnya".
Tok..tok..tok..
"Nggak ada suara, apa langsung masuk aja ? iya nih nggak dikunci juga", kata Reyna dalam hatinya.
Setelah masuk ternyata Deran sedang ada di kamar mandi.
"Tas ? jadi ikut dia ?", tanya Reyna.
"Rey", sapa Deran yang baru keluar.
"Jadi ikut nih ?",
"Kalo kamu ikut aku harus ikutlah. Dimana ada Reyna sudah seharusnya juga Deran ada disitu".
"Katanya nggak mau ikut takut. Padahal bagus juga kalo kamu nggak ikut, aku bisa liat cowok yang lain kalo ketemu di jalan. Pasti banyak yang mau minta nomor aku".
"Hahah, karena itulah aku harus ikut".
"Udah siap semua nih ?",
"Tolong ambilin jaket aku yang ada di lemari itu".
"Yang mana ?",
"Ambil dua-duanya".
"Banyak banget", kata Reyna sambil menyerahkan jaket tersebut.
"Ini untuk kamu walaupun sebenarnya tanpa jaket aku bisa meluk kamu", goda Deran yang langsung memasangkan jaket untuknya.
"Iya iya".
Sontak Deran pun langsung memeluknya dan membuat Reyna kaget.
"Kenapa ?",
"Katanya tadi iya".
"Nggak gitu juga".
"Yuk turun, kayaknya udah siap mereka", kata Deran.
"Jadi ikut dek ?", tanya Zelfa.
"Jadi kak, mana Albertnya ?",
"Lagi masukin barang ke mobil, yang kamu masukin gih sana".
Deran pun keluar untuk memasukkan tasnya.
"Kamu rayu dia supaya ikut ?", tanya Zelfa.
"Nggak sampe rayu dia kali".
"Oh mungkin dia takut nyesel nggak ikut apalagi kamu kan ikut dia pasti ikut juga, yuk kita pergi".
"Vin, eh salah maksud aku Der kamu nggak bawa gitar ?",
"Terserah kamu mau panggil Vino atau Albert kita juga udah temenan lama. Tapi buat apa bawa gitar ?",
"Harus disamain biar nggak bingung, lagipula kebanyakan emang manggil Deran. Ambil gih sana gitarnya".
"Nggak usahlah nyempitin tempat aja".
"Apa guna mobil ini, kamu pikir mobil aku sempit, heh mobil yang aku pake ini punya papa aku yang biasa di bawa dia kalo kami mau keluar kota, yah luas lah. Padahal level kamu tinggi dalam mencintai orang, masa' nggak tau hal-hal seperti ini, kamu nggak pernah ikut camping ya ?",
"Terakhir kali waktu sekolah dasar. Oh supaya romantis, oke aku ambil dulu".
"Hmm",
"Ada yang tinggal ?", tanya Reyna yang menarik tangannya
"Hati aku yang ketinggalan, aku ambil dulu ya", Deran pun berlari mengambil gitar tersebut.
"Ah, membuatku panas", kata Zelfa sambil mengipas-ngipas mukanya.
Setelah semua siap, mereka pun pergi.
"Jauh ya ?", tanya Deran.
"Lumayan, perkiraan tiga jam lagi baru nyampe", jawab Albert.
"Kamu nggak tau dimana lokasinya ?", tanya Albert.
"Awalnya dia nggak mau ikut", jawab Zelfa.
"Oh, terus kenapa jadi ?",
"Itu penyebabnya", tunjuk Zelfa ke Reyna melalui spion dalam.
"Hmm..",
Reyna membuka kaca mobil untuk merasakan derunya angin yang deras. Tiba-tiba terdengar suara nafas dan wangi parfum, ternyata Deran ingin ikut merasakannya.
"Kenapa ?", tanya Reyna melotot karena merasa gugup dengan posisi keduanya yang terlalu dekat hingga telinganya bisa mendengar hembusan nafas Deran.
"Mau ngerasain angin juga".
"Kan disana ada kaca juga".
"Nggak bisa buka".
"Sini aku bukain".
Reyna yang harus membuka kaca di seberangnya itu malah membuat posisinya tambah mendekati Deran yang duduk seperti posisi semula. Wajah Deran yang terasa sangat dekat kembali membuatnya gugup.
"Kenapa sih ni anak ?", tanya Reyna dalam hatinya.
"Nah, udah dibuka nikmatin disana aja, kamu kenapa sih senyum-senyum terus, berenti senyum deh pusing liatnya, liat sana aja", kata Reyna sambil mengarahkan kepala Deran ke kaca yang sudah dibukanya tadi.
Sementara Zelfa dan Albert yang duduk di depan hanya bisa tersenyum melihat mereka berdua.
"Bert, kaca mobil ini pernah rusak memangnya ya ?", tanya Zelfa untuk memancing Deran bicara.
"Nggak pernah, nggak ada tenaga aja kali bukanya", jawab Albert.
"Siapa yang nggak ada tenaga ?", sahut Deran yang mengetahui arah pembicaraan mereka.
"Loh, kenapa tadi nggak bisa buka ?" sambung Reyna.
"Tadi memang susah bukanya, tiba-tiba hilang tenaga", elak Deran.
"Emang bisa tenaga tiba-tiba hilang ?", tanya Reyna kembali sambil menyentil dahi Deran.
"Aduhhh",
"Hahaha", tawa Zelfa dan Albert.
Deran pun memasang wajah cemberut tapi Reyna malah mengacuhkannya dengan tetap melihat keluar kaca mobil. Setelah merasa puas merasakan angin, Reyna kembali menutup kaca mobil dan melihat wajah Deran masih masam. Ia melihat keadaan bangku depan melalui spion dan ternyata Zelfa sudah tertidur. Ia pun mengambil inisiatif untuk mengembalikan mood Deran dengan mencubit pelan pipinya.
"Ah, wajahmu ini kenapa ?",
"Nggak kenapa-napa".
"Baguslah", kata Reyna yang kemudian menyenderkan kepalanya di bahu Deran dan tertidur.
"Dasar nggak peka", decik Deran.
"Kamu ngomong apa ?",
"Nggak ada yang ngomong",
Mendengar jawaban tersebut, Reyna pun menarik tangan Deran dan menggenggamnya hingga Deran diam-diam kembali tersenyum.
"Baiklah kita sudah sampai...", ujar Albert.
Baik Zelfa maupun Reyna keduanya takjub melihat keindahan pantai.
"Wahh bagus banget", kagum Zelfa.
Ia pun menarik tangan Reyna ke bibir pantai untuk merasakan air yang suaranya sudah memanggil.
Deran dan Albert sibuk menurunkan perlengkapan yang dibawa. Mereka membangun tenda.
"Kamu yakin cuma camping pas dulu masih di sekolah dasar ?", tanya Albert.
"Iya".
"Kenapa bisa secepet itu tendanya berdiri ?",
"Semuanya perlu teknik", jawab Deran.
"Dan pasti kamu sudah mempelajarinya dari buku, yah sudah kuduga".
"Sini biar aku yang lanjutkan".
Tenda pun sudah siap untuk ditempati. Mereka berlari menyusul dua orang yang dari tadi asyik sendiri tanpa menghiraukan bagaimana keadaan perlengkapan mereka.
"Der, sini", ajak Reyna dengan menarik tangan Deran.
"Dingin".
Karena kesal Reyna pun menyipratkan air ke arahnya. Namun, sepertinya ada sesuatu yang masuk ke mata Deran hingga ia kelilipan.
"Maaf Der", kata Reyna seraya berjinjit untuk meniup matanya.
Belum sempat ditiup, Deran yang semula terpejam membuka matanya dan meniup Reyna kembali. Mereka berempat pun saling menyipratkan air.
Setelah selesai dengan permainannya, mereka menyiapkan makanan yang akan disantap.
"Yuk, kita lihat langit sore", ajak Reyna.
"Yuk", jawab Deran.
Mereka berjalan dengan berpegangan tangan menyusuri pantai untuk mencari tempat yang tepat menyaksikan pemandangan indah itu.
"Disini aja Rey", kata Deran.
"Oke".
Keduanya duduk dan menatap jingganya langit saat melepas matahari yang pergi meninggalkan siang. Diam-diam Deran memotret Reyna yang siluetnya tampak sangat cantik.
"Kamu cuma foto aku ?",
"Hahah iya".
"Ayo kita foto berdua".
Deran pun duduk mendekati Reyna dan berfoto bersama.
"Kamu suka langit sore ini ?", tanya Reyna.
"Lebih dari itu...", Deran terdiam sejenak lalu melanjutkan kalimatnya kembali.
"Aku lebih suka saat dimana kita bisa duduk bersama seperti ini, aku suka saat kita berpegangan tangan, aku suka saat kita berdebat dan kembali berdamai dan hal yang paling aku suka adalah kamu yang sampai saat ini masih mencintaiku".
"Ah kamu pandai berkata-kata manis", tanggap Reyna yang sebenarnya mulai salah tingkah.
"Aku bersungguh-sungguh".
"Iya aku percaya".
"Lalu, kamu apa yang kamu suka padahal sudah dari kecil bisa lihat langit sore dan hampir semuanya sama",
"Aku suka saat melihatmu".
"Hanya itu ?",
"Aku ingin selalu menjadi ada disaat kamu ada".
"Lalu ?",
"Aku suka denganmu, aku suka menyadari fakta bahwa aku benar-benar mencintaimu".
Deran tak bisa berkata apa-apa lagi, ia menatap Reyna, wajahnya tampak semakin dekat dan ia reflek mendaratkan bibirnya di bibir merah wanita itu. Seolah mereka berdua menjadi patung, diam dan tak mampu bergerak lagi. Sadar akan hal yang dilakukannya, namun Reyna tetap tidak mengelak berarti ia tak mencuri ciuman wanita itu. Dengan jarak yang amat sangat dekat Reyna bisa melihat mata Deran yang terpejam.
Sore itu menjadi saksi mereka adalah dua orang yang saling mencintai dan sore itu juga kembali menunjukkan bukti kalau Reyna punya tujuan lain yang harus dicapainya selain diri sendiri yaitu Deran. Begitu pun Deran, ia tak salah jatuh cinta kepada mata dengan tatapan tajam, tempat sekarang bahkan besok dimana ia akan datang dan terus kembali.
"Waktu seperti berhenti", gumam Reyna dalam hati.
"Jantungku ingin meledak karena nya", ujar Deran dalam hatinya.
Deran pun membuka matanya dan mulai menjauhkan jaraknya.
"Ayo kita kesana, makanan sudah masak sepertinya".
Ia membantu Reyna berdiri. Dilihatnya muka wanita itu sedikit memerah.
"Aku minta maaf kalau aku salah".
Namun Reyna tak menjawabnya.
Mereka pun menghampiri Zelfa dan Albert.
"Ayo, ayo makan", ajak Zelfa.
Deran pun menyantapnya dengan terburu-buru.
"Ditiup dulu dek, kan masih panas", tegur Zelfa.
Deran tak menghiraukannya ia tetap melahap makanan yang masih berasap itu. Melihat hal itu Reyna sigap meniup bakso dan menyodorkannya kepada Deran. Deran tersenyum kemudian memakannya.
"Fa, aku juga mau ditiupin kayak gitu", pinta Albert.
"Oh, pengen kayak gitu juga, bakarin lagi dong bakso nya kurang nih".
"Tapi kalo aku bakarin kamu tiupin juga yah".
"Iya".
Disaat mereka berdua sibuk membakar kembali baksonya, Deran tak berani membuka suaranya.
"Aku nggak tau harus ngomong apa", ujar Reyna.
Mereka berdua pun tertawa.
"Banyak hal yang sepertinya ingin aku lakukan bersamamu", kata Reyna.
"Baiklah, ayo kita lakukan semuanya bersama".
Sore telah benar-benar berlalu, waktu sudah berhasil terlewati, hingga tibalah malam hari. Malam itu Deran memetik gitarnya dan bernyanyi, sesekali ia bergantian dengan Albert. Zelfa pun tak mau kalah, ia menyanyi dengan diiringi oleh petikan gitar Albert.
"Kamu mau nyanyi juga ?", tanya Deran kepada Reyna.
"Bentar aku mikir dulu".
"Oh, kamu tau chord Heaven ?", sambung Reyna.
"Bryan Adams ?",
"Yaps".
"Tau-tau", Deran pun mulai memetikkan senar gitarnya.
...*Oh, thinkin' about all our younger years
There was only you and me
We were young and wild and free
Now nothin' can take you away from me
We've been down that road before
But that's over now
You keep me comin' back for more
Baby, you're all that I want
When you're lyin' here in my arms
I'm findin' it hard to believe
We're in heaven
And love is all that I need
And I found it there in your heart
It isn't too hard to see
We're in heaven
Oh, once in your life you find someone
Who will turn your world around
Bring you up when you're feelin' down
Yeah, nothin' could change what you mean to me
Oh, there's lots that I could say
But just hold me now
'Cause our love will light the way
And, baby, you're all that I want
When you're lyin' here in my arms
I'm findin' it hard to believe
We're in heaven
Yeah, love is all that I need
And I found it there in your heart
It isn't too hard to see
We're in heaven
I've been waitin' for so long
For somethin' to arrive
For love to come along*...
Reyna bernyayi sambil menatap Deran, tatapan penuh makna dan dalam begitu pun juga Deran. Setidaknya melalui lagu ini, Deran tau apa yang dirasakan Reyna. Lagu yang pertama kalinya ia dengar dari suara wanita cantik itu. Lagu yang juga penuh makna berarti dimana ia menginginkan hidup bersama bahkan hingga di sudah ada di surga, ia ingin mengulang kembali masa mudanya bersama. Hati Deran malam itu benar-benar terpaku kepada Reyna, dan hati Reyna bergetar menatap mata yang saat ini menjadi tempat ternyamannya ingin bangkit, pergi, dan kembali.
...*Now our dreams are comin' true
Through the good times and the bad
Yeah, I'll be standin' there by you
And, baby, you're all that I want
When you're lyin' here in my arms
I'm findin' it hard to believe
We're in heaven*
*And love is all that I need
And I found it there in your heart
It isn't too hard to see
We're in heaven, heaven
You're all that I want
You're all that I need
We're in heaven
We're in heaven
We're in heaven*...
Setelah selesai menyanyikan lagu itu, Reyna memeluk Deran. Tak terasa, air matanya menetes tanpa aba-aba. Ia hanya ingin menangis dalam pelukannya.
"Ah, kami kesana dulu yah", kata Zelfa yang kemudian menarik tangan Albert.
Setelah mereka pergi, Deran pun membalas pelukan Reyna dan mendekapnya lebih erat.
"Ah jangan menangis".
"Aku tidak menangis".
"Aku dapat merasakannya, hentikanlah air matamu itu dan menangis lah bahagia saat aku melamarmu dan menikahimu nanti".
Air mata Reyna tetap lolos bahkan setelah mendengar perkataan itu.
"Aku tak akan meninggalkanmu, seperti lagu yang tadi kamu nyanyikan, kita akan terus bersama dan mengulang masa muda kita. Aku akan ada untukmu".
"Terima kasih Der".
"Sudah, berhentilah menangis, aku seperti orang jahat saja".
"Hahah", Reyna kembali tersenyum dan memukul pelan Deran.
"Aku ini apa ? kenapa selalu dipukuli".
"Hahaha".
"Ayo kita lihat bintang".
"Ayo".
Pemandangan malam itu sangatlah indah dengan bintang yang cahayanya terang.