Still With You

Still With You
Chapter XIX : Relationship That Has Ended



Reyna terbangun di bangku panjang yang entah dimana dia sekarang.


"Apa lagi ini ?", tanya Reyna dalam keadaannya yang bingung, ia membasuh pipinya yang sudah basah seperti habis menangis.


"Apakah indahnya langit sore akan selalu seperti ini, seperti dulu saat aku bersamanya ? Ahh... semua sudah terjadi",


"Rey, masuk gih ngapain lama-lama dari tadi disitu ?", tegur Zelfa yang mengejutkan Reyna.


"Dimana ini ?",


"Kamu bercanda ? ini di rumahmu",


"Rumah aku ? tapi aku nggak tinggal disini",


"Emang kapan kamu pindah ? dari lahir sampe segede gini kamu selalu tinggal disini".


"Nggak mungkin".


"Ah sudahlah, ayo kita masuk", ajak Zelfa namun langkahnya terhenti saat menyadari mata temannya itu sedikit memerah dengan bayang air.


"Kamu masih memikirkan hal-hal yang dulu ?", tanya Zelfa.


"Entahlah".


"Kemarin telah berlalu Rey".


Mendengar hal tersebut Reyna tak kuasa lagi untuk membendung air matanya, Zelfa pun lekas memeluk dan menepuk pundaknya.


"Padahal dia bilang nggak akan ninggalin aku, apakah cinta semenyakitkan ini ?",


Zelfa tak tau harus berkata apalagi saat mendengar tangisan itu.


"Semua waktu yang pernah kita lalui nyatanya nggak bisa menjadi alasan buat dia bertahan bersamaku".


"Kamu pasti akan menemukan orang yang lebih baik lagi", kata Zelfa.


"Akan ada orang yang datang ke dalam hidupmu dan dia bisa memberimu lebih banyak kebahagiaan. Jangan terlalu menangisi hal yang sudah pergi, jika memang ia adalah takdirmu, ia akan tetap kembali dan datang memelukmu lagi entah bagaimanapun caranya, sudah jangan nangis lagi sudah beberapa bulan ini kamu terus menangisi dia. Dan sebagai kakaknya aku juga minta maaf Rey".


"Ini bukan salah kamu Fa".


"Dan iya satu lagi, keadaan langit sore akan terus berubah setiap waktu namun ia akan terasa sama jika kamu bersama dengan orang yang kamu cintai. Aku berkata ini karena aku tau kamu akan selalu merindukannya setiap menunggu senja, tapi duniamu takkan selalu tetap seperti dulu Rey, semua hal akan berubah bahkan langit soremu juga".


"Kamu benar aku tak bisa seperti ini terus tapi aku masih terjerat dalam cinta yang hampir membuatku kehilangan udara ini. Masih sangat jelas dalam ingatanku bagaimana terakhir kali pertemuan kami", ujar Reyna yang mulai menceritakan tahun lalu yang menjadi tahun terperihnya.


"...*keadaan telah memaksa kami untuk tinggal atau pergi menjauh. Dan pilihan kami adalah tinggal, karena kami yakin akan terus bersama, padahal seharusnya kami memilih atau sebagai alternatif jawaban kebingungan seyakin itukah kami akan terus bersama. Deran memilih melanjutkan sekolahnya di London dan aku harus menetap disini. Tiga tahun berhasil kami lewati dengan komunikasi yang lancar sampai tiba saatnya Deran harus menyelesaikan tugas akhirnya sebagai mahasiswa, disitulah semuanya dimulai. Komunikasi kami yang awalnya intens menjadi jarang, biasanya ia yang akan selalu mulai menghubungiku tapi ini tidak sama sekali, aku pun mencoba menghubunginya namun panggilan dariku sangat jarang diterimanya. Aku memaklumi hal itu karena tugas akhir memang butuh ketekunan yang tinggi. Aku berinisiatif pergi ke London dengan uang jajan yang sudah aku kumpulkan selama beberapa bulan itu, aku ingin memberinya kejutan. Pemandangan di dalam pesawat amatlah indah, aku benar-benar menembus awan putih, dari atas aku bisa melihat pemandangan yang disajikan bumi. Aku berharap kami bisa bersama di suatu tempat, menatap langit di ladang hijau atau mengunjungi ladang gandum yang sudah menguning itu, bahkan mengunjungi lagi pantai dan berlarian diatas pasir dengan berisiknya ombak laut. Setelah tiba di airport aku mencari taksi menuju stasiun kereta dan melanjutkan perjalanan menuju apartemennya dengan kembali menaiki taksi. Aku sangat bahagia akhirnya bisa bertemu dengannya setelah sekian lama, padahal aku sudah berkata kepadanya kalau akan datang saat dia wisuda tapi mengapa harus menunggu selama itu jika saat ini bisa kulakukan, dia pasti akan sangat terkejut dengan kedatanganku. Aku melihatnya, dalam posisi itu bukan hanya dia terkejut tapi aku juga. Bagaimana tidak aku melihat tangannya digandeng oleh wanita lain. Tapi aku masih tetap mempercayainya dan meyakinkan diriku bahwa saat itu bisa saja karena ia sedang menolong wanita itu tapi melihat caranya bergandengan tangan itu adalah cara saat dia melakukannya denganku, aku berkali-kali menepis pikiran burukku. Aku berjalan mendekatinya dan memeluknya. Tanggapan yang kuterima dingin, Deran tak pernah seperti ini.


"Der, siapa dia ?", tanya wanita di sebelahnya.


"Pacarku".


"Ah, ini pacar yang menyelingkuhimu itu".


"Apa ?", tanyaku kaget.


"Kamu memang cantik tapi kenapa kamu harus sampai menyelingkuhi Deran ku ini ? dan kenapa kamu mau datang jauh-jauh kesini setelah kamu mengkhianatinya ? kamu mau minta maaf kepadanya ? bukankah sudah terlambat, harusnya kamu tau kenapa selama ini Deran tak lagi menghubungimu itu karena ia ingin hubungan kalian berakhir tapi ia ingin kamu sendiri yang mengakhirinya karena ia sangat mencintaimu tapi kamu malah seperti itu".


"Apa maksudnya ?",


"Ah, seharusnya kamu menyadari kesalahanmu dari awal Rey, bukankah kamu sendiri yang bilang tidak suka dengan pengkhianatan. Lebih baik kamu akhiri hubungan ini sekarang", kata Deran yang sangat mengejutkanku.


"Aku ?",


"Pacarmu ini kenapa ?",


"Lebih baik kita akhiri ini sekarang, aku memang tak cukup berani untuk mengakhirinya denganmu tapi melihatmu sekarang yang tampak merasa tak bersalah menjadi kekuatanku memintamu mengakhirinya", jawab Deran tegas.


"Kamu ngomong apa Der ? aku mengkhianatimu ? bukankah saat ini sudah jelas kamu sedang bersama wanita ini, sementara aku menunggu kabarmu, aku datang jauh-jauh kesini untuk menemuimu karena aku merindukanmu tapi kamu malah mengatakan aku yang salah".


"Aku tak menyuruhmu datang jauh-jauh kesini, aku hanya menyuruhmu bersabar dan tunggulah aku bukannya malah menjalin hubungan dengan orang lain. Aku tau kamu pasti merasa bosan dan kesepian tapi apakah sampai harus menyelingkuhiku dan kamu juga berbohong saat kutanya ada dimana, kamu malah menjawab sedang bekerja tapi apa ? kamu malah jalan dengannya".


"Kamu kenapa Deran ? aku tak pernah menyelingkuhimu, aku bahkan tak menyangka sifatmu ternyata seperti ini menuduh orang tanpa bukti yang jelas".


"Oke aku hargai keberanianmu untuk datang kemari dan lagi aku tak mungkin menuduhmu tanpa bukti, sebaliknya kamu yang berbohong kepadaku. Lebih baik kamu pulang saja, aku tak mungkin bersama seorang pengkhianat".


"Berikan aku bukti kalau aku selingkuh dan aku akan mengakhiri hubungan kita".


"Ah, mengakhiri hubungan ini saja susah sekali kalian ini".


"Diam", kompak Reyna dan Deran.


"Kamu pikir mudah mengakhiri hubungan yang sudah 5 tahun ini dan aku dituduh selingkuh", tanya Reyna kepada wanita itu.


"Tunjukkanlah padanya Der, biar dia cepat pulang".


Deran pun mengeluarkan handphonenya dan menunjukkan beberapa foto yang memperlihatkan kedekatan Reyna dengan seorang pria.


"Ini editan Der, kamu harus percaya padaku".


"Aku tidak sebodoh itu Reyna, siapa juga yang akan mengedit foto seperti ini, dan kamu memakai barang yang aku berikan padamu".


"Itu hanya mirip dan itu bukan aku".


"Aku memberikan barang yang tidak ada dua atau bahkan tiganya, kamu masih menyebutnya mirip ?",


"Aku benar-benar tidak menyelingkuhimu Deran".


"Kamu selalu berdalih, padahal kamu sendiri kadang bingung bukan setelah bangun dari mimpi ? kasihan sekali orang yang berhubungan denganmu itu, kamu bisa dengan mudah melupakannya dan sebenarnya aku juga kasihan kepada diriku sendiri bertahan dengan wanita yang tak bisa menjaga komitmen", kata Deran dengan nada mengejek.


"Luar biasa sekali pacarmu ini dia bahkan masih bisa menyangkal setelah melihat bukti yang dipintanya", lanjut wanita di sebelahnya itu.


"Kenapa kamu selalu ikut campur, aku bahkan tak mengajakmu bicara, kenapa kamu harus ikut menanggapinya, ini masalah antara aku dan Deran. Walaupun aku suka bermimpi buruk tapi aku tau hanya ada satu orang yang aku cintai dan itu adalah Deran, aku tak mungkin jalan dengan orang lain".


"Akhiri saja semuanya disini Reyna, aku jenuh mendegar bualanmu".


"Tapi Der*",


"*Kamu masih tak mau mengakhirinya, kamu mau memiliki 2 orang sekaligus dalam hidupmu ? hidup ini hanya akan ada 1 yang bertahan".


"Aku nggak tau harus jelasin gimana lagi, tapi sumpah aku nggak pergi dengan siapapun tanyakan saja pada kakakmu".


"Aku sudah bertanya tapi bagaimana bisa aku mempercayai kalian berdua, dia memang kakakku tapi dia lebih memilih membelamu, aku harus percaya ?",


"Deran yang kukenal tidak seperti ini, sekarang aku berhadapan dengan orang lain yang tak ingin mendengarkan penjelasan lagi, orang gegabah, seseorang yang mudah ditipu".


"Aku tetaplah Deran yang kamu kenal, tapi sayangnya aku yang tak benar-benar mengenalmu. Jadi kamu mau mengakhiri hubungan ini ?",


"Kalau itu yang kamu mau pergilah Der, karena kamu bukanlah orang yang aku kenal, kita berakhir disini", ucap Reyna yang sudah meneteskan air matanya sementara Deran pergi meninggalkannya.


Reyna merasa tak bertenaga hingga ia terduduk dan masih memikirkan apa yang terjadi.


*Flashback berakhir


"Di hari aku merasa bahagia karena dapat bertemu dengannya, di hari itu juga aku terbunuh oleh cintanya".


Reyna pun berhenti bicara dan melamun menatap langit.


"Aku tidak ahli dalam percintaan, tapi aku minta maaf. Aku benar-benar tak menyangka adikku benar-benar sudah berubah, dia tidak percaya lagi denganku, kakaknya sendiri dan sekarang dia sudah pergi meninggalkan rumah...",


"Memikirkannya membuatku sakit kepala, aku hanya kasihan dengan mama yang senantiasa menunggu kabar darinya. Ah sudahlah Rey, kepalaku mulai terasa sakit lagi, ayo kita masuk..",


"Perlahan tapi pasti kamu pasti bisa melupakannya".


Saat ingin masuk ke rumah Reyna merasa sakit teramat sakit pada kepalanya.


"Tunggu Fa, kepalaku juga sakit sekali".


"Ada apa ini ? kenapa kita sakit bersamaan ? lebih baik kita lekas masuk dan minum obat".


Sebelum sampai di dalam rumahnya, Reyna jatuh pingsan. Saat ia sadarkan diri, ia melihat Zelfa menangis di sebelah ranjangnya.


"Kamu kenapa Fa ?", tanya Reyna yang mengedip-ngedipkan mata mencoba memperjelas penglihatannya.


"Syukurlah kamu sudah sadar Rey".


"Kamu ini kenapa ?",


"Aku..aku nggak bisa mengatakannya".


"Aku harus tau Fa".


"Kamu sakit Rey".


"Sakit apa ? bukannya aku hanya sakit kepala biasa kenapa kamu sampai menangis seperti itu ?",


"Ini bukan sakit ringan tapi kamu terkena kanker Rey".


"Hah ? jangan bercanda Fa".


"Aku serius Rey".


Mengetahui kondisinya yang sekarang, Reyna tambah kehilangan semangatnya. Ia bahkan sampai tak makan sama sekali selama dua hari namun hal itu berhenti karena Zelfa berhasil membujuknya. Hari demi hari yang dilaluinya terasa amat sangat berat tanpa mama dan cinta dari Deran namun baginya sakit itu menjadi secercah harapan agar ia bisa meninggalkan dunia yang terasa menyesakkan ini.