Still With You

Still With You
Chapter XII : Air Dialogue



"Aku pulangggg", kata Vino yang baru saja sampai di rumahnya. Raut mukanya tak dapat menyembunyikan betapa senangnya ia pada hari itu. Bibirnya selalu melengkung membuat senyuman.


"Oh bagus yah baru pulang, darimana kamu ? tau nggak...",ucap Zelfa yang dipotong dengan es krim yang ditempelkan di mulutnya.


"Kamu nyogok kakak ya ?", sambungnya.


"Nggak, buat kakak koq emang".


"Tumben beliin aku es krim".


"Hehehe".


"Kamu sakit ya ? dari tadi senyum mulu abis ketemu uang di jalan yah ?",


"Nggak, aku masuk dulu ya kak", kata Vino sambil berlalu menaiki tangga menuju kamarnya.


Ia berteriak amat senang di balik pintu kamarnya.


"Kenapa tuh anak, tadi udah pulangnya dininggalin orang sekarang dia malah seneng sendiri, keterlaluan emang, aku lupa lagi tadi jitak dia, aishh...", gerutu Zelfa sambil melahap es krimnya.


Sementara itu di lain tempat...


"Ah, aku masih nggak nyangka sama apa yang terjadi hari ini. Bener-bener nggak nyangka sekarang aku bisa jadian sama anak itu, padahal awalnya aku pikir nggak mungkin, ternyata emang bener kalo nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini. Apa yang harus aku lakukan besok ? ahhh, Reyna ini masih seperti mimpi", kata Reyna sambil menepuk-nepuk pipinya.


"Apa yang harus aku lakukan besok, tidak, tidak, pikirkan dulu cara melewati hari ini lebih tepatnya malam ini. Aku kan harus menelponnya, apa yang harus aku katakan, kenapa aku jadi lebih gugup daripada sebelum kami resmi jadian ?", tanya Vino di kamarnya sendiri.


Tok..tok..tok, suara pintu kamar Vino berbunyi.


"Siapa ?", tanya Vino dari dalam.


"Aku Vin".


"Masuk kak".


"Aku tadi belum sempet jitak kamu ya", kata Zelfa sambil melancarkan aksinya.


"Duh, sakit kak".


"Kamu kenapa malah pulang ninggalin Reyna, kalian janjian mau pergi kan ? kenapa kamunya pulang, kalo tadi dia nunggu sendirian lagi gimana ? kamu juga nggak ngasih kakak kabar, ngomong kek kalo kamu nggak bisa tadi tuh, emang kamu pergi kemana jam sekarang baru pulang padahal kamu batalin janji".


"Bukan janji, lebih tepatnya ajakan".


"Bukan janji ? ajakan ? apa-apaan kamu ? bukkk..", bunyi punggung Vino yang dipukul oleh Zelfa.


"Wah gilakk ini namanya bener-bener penyiksaan", kata Vino yang meringis kesakitan.


"Orang tu yang dipegang omongannya, kalo omongan aja nggak bisa dipegang siapa yang akan percaya ? kamu pengen orang lain percaya sama kamu tapi kamunya sendiri mengkhianati kepercayaan itu, nggak bagus loh Vin".


"Iya kak, aku minta maaf, tadi aku merasa nggak seharusnya ngajakin dia".


"Kalo gitu ngomong dong, jangan main kabur aja, jangan mentang-mentang Reyna nggak suka sama kamu malah kamu gituin dia sebagai cara bales dendam".


"Kata siapa dia nggak suka sama aku ?",


"Ya memang dia nggak suka sama kamu, kamu ngarep dia suka sama kamu ? kamunya aja model yang kayak gini, ngajak orang pergi dan malah suruh dia nunggu, ehh kamunya pulang".


"Kan itu kemarin-kemarin dia nggak suka, sekarang beda lagi lah".


"Pede banget kamu dek".


"Eh kak ya, tadi aku emang nggak bilang kalo nggak jadi pergi. Tapi takdir berkata lain, aku yang sebenarnya udah sampe rumah pergi lagi buat nyoba alat musik dan nggak sengaja liat dia. Ternyata dia pergi ke area itu buat jajan dan masuk ke perpustakaan, jadinya aku ikutin dia..", perjelas Vino.


"Terus, terus ?", tanya Zelfa yang penasaran dengan tangan yang dilipat di depan dada.


"Terus kami baca buku, terus aku juga anter dia pulang".


"Eh tunggu tunggu, dia yang kamu maksud itu siapa ? Reyna ? nggak mungkin".


"Iya Reyna lah emang siapa lagi yang akan aku anterin pulang kalo bukan dia orangnya".


"Terus abis pulang kenapa kamu senyum-senyum ?",


"Ah mau tau aja".


"Kamu mau dijitak lagi ya ?",


"Jangan kak. Oke deh aku ceritain. Pas pulang tadi dia bilang suka sama aku dan kami resmi jadian".


"Sukaaaa ? Jadiannn ??", tanya Zelfa dengan mata melotot dan mulut yang terbuka lebar menjelaskan betapa tak percayanya dia mendengar cerita itu.


"Kenapa Fa ? kecilin suara kamu, gede banget sampe ke bawah mama kedengeran, anak gadis koq gitu", kata mama mereka dari bawah.


"Nah loh kak, anak gadis koq gitu ?", sambung Vino.


"Maaf ma", kata Zelfa sembari menutup pintu kamar adiknya.


"Udah tau suara kayak toa, tutup dulu kek pintunya baru ngomong".


"Kalo nggak kaget ya mana mungkin suara aku harus sebesar tadi".


"Bener-bener nggak bener".


Bukkk.., lagi-lagi punggung Vino dipukulnya.


"Lanjut Vin".


"Apalagi yang harus dilanjutin, kan udah jelas kalo kami jadian, itu bagian pentingnya dan harus diinget terus".


"Kalian jadian kan nggak mungkin juga dia langsung ngomong suka".


"Ooh ceritanya yaa".


"Iya Vinooo, emosi kakak".


"Koq kakak yang emosi, santai aja dong denger berita dari artis satu ini".


"Ahhh, buruan lanjutin".


"Oke oke, jadi kata kak Reyna dia merasa hari ini adalah kesialannya yang berubah jadi keberuntungan. Dari pagi dia udah ngerasa hari ini sial, udah nggak ada angkot, seragamnya juga jadi kotor. Tapi untungnya, ada kakak yang nebengin dan jaket yang aku pinjemin. Jadi dia merasa hari ini selamat dan wangi aku selalu mengelilingi dia".


"Dia ngomong kayak gitu ? wangi kamu mengelilingi dia, emang sih kakak akui kamu wangi, tapi apa nggak salah ngomong dia sama kamu padahal selama ini kan dia kayak risih gitu sama kamu, ehh tapi kakak perhatiin akhir-akhir ini kalian jadi deket ya ?".


"Aku juga tadi tanyain dia apa salah makan, koq bisa ngomong kayak gitu tapi dia jawab nggaklah".


"Terus terus apa lagi ?",


"Dia juga bilang di balik kesialannya ada aku yang datang membawa keberuntungan".


"Wah, meleleh akunya".


"Dia juga ada bilang seneng hari ini bisa jalan sama aku, seneng berdiri di deket aku dan lebih seneng lagi waktu aku gandeng tangan dia dan dimasukin ke saku jaket, dia juga seneng aku pinjemin jaket, seneng liat aku baca komik dan jadi mulai suka sama aku".


"Hmm..hmm", tanggap Zelfa dengan hanya mengangguk-angguk.


"Udah kak gitu doang, intinya kami udah jadian".


"Luar biasa, cinta kamu berhasil Vin. Bantuin kakak juga dong", pinta Zelfa sambil menggandeng tangan Vino.


"Sama siapa ? Albert ? tapi kan kakak juga lagi deket sama kak Faldo".


"Ah, sama Faldo tuh cuma temen aja".


"Sampe pulang bareng dan ninggalin sahabat sendiri ?",


"Bukannya ninggalin, dia sendiri yang nggak mau ditungguin".


"Pinter aja alasannya, giliran aku habis-habis dipukul.


"Oh jadi kamu mau bales kakak juga ?",


"Pengennya sih gitu, tapi karena hari ini aku lagi seneng jadi aku nggak bakal bales, kakak tenang aja dan tunggu sampai waktunya tiba".


"Nah, kalo lagi seneng, bantui kakak lah buat deket sama Albert".


"Sama Albert ? gimana yah ? banyak cewek yang deketin dia sih, kayak aku, jadi susah".


"Oh ayolah Vin, sebagai balasannya nanti kakak kasih tau apa aja yang disukai Reyna biar perjalanan kalian mulus".


"Aku bisa cari tau sendiri".


"Bakal susah loh, Reyna tipe tsundere, kamu pasti butuh bantuan kakak".


"Aku bisa sendiri, keluar deh kak, aku mau tidur dulu".


"Belum makan kamu tuh dek, makan dulu aja".


"Udah kenyang kak, sudah diisi oleh kebahagiaan".


"Lagaknya sok keren banget, nanti maag kamu kumat baru tau rasa".


Kruyuk..kruyukk.. suara perut Vino yang tiba-tiba berbunyi.


"Nah kan, buruan ke bawah", kata Zelfa.


"Iya deh iya".


Mereka pun keluar dari kamar dan makan siang bersama. Selesai makan siang, Vino dan Zelfa bersantai di sofa ruang tamu. Deru kipas angin yang berputar kencang membuat kantuk mereka datang dan akhirnya mereka tertidur.


Drett..drettt..drettt.., suara getar handphone.


"Dek, hp kamu begeter nih siapa yang telpon ?",


"Hah ? siapa yang nelpon nih".


"Halloo..",


"Hallo".


"Sorry, salah sambung.."


Tut..tut..tut, panggilan pun terputus.


"Siapa Vin ?", tanya Zelfa.


"Katanya salah sambung kak".


"Coba matanya dibuka dulu itu ada namanya loh".


"Ah", Vino pun mengucek mata dan menjernihkan penglihatannya.


"Reyna ?", tanya dalam hatinya.


"Temen kak".


"Temen ? aku bilangin loh besok ke orangnya".


"Bilangin aja".


"Oke aku kasih tau Reyna".


"Kakak tau ?",


"Ya iyalah, mata kakak ini tajem, tapi kenapa dia nelpon ?",


"Kenapa juga coba dia bilang salah sambung ?",


"Hahah, kocak tuh anak, entar aku tanyain dialah".


"Janganlah kak, dia aja belum cerita sama kakak kan ?",


"Iya".


"Nah tunggu sampe dia cerita sendiri".


"Hmm..okelah kalo emang gitu, aku masuk kamar dulu ya".


"Mau telponan sama Faldo ya ? padahal katanya tadi mau dibantuin deket sama Albert",


"Eh, enak aja kalo ngomong suka bener hehehe".


"Dasarrr, aku nggak akan bantuin kakak lah kalo kakak modelnya kek gitu, lagi deket sama temen sekelas malah masih pengen deketin adek kelas juga".


"Yah, daripada nggak ada kepastian, temen kamu juga nggak suka sama aku apalagi kata kamu banyak cewek yang deketin dia kan ?",


"Ya kakak harus berjuanglah".


"Ya kali cewek harus berjuang, cowoklah".


"Kenapa harus selalu cowok yang berjuang, mengambil inisiatif, dijatuhin kemudian diangkat kembali saat sadar kalo selama ini yang dia perbuat salah".


"Wah, bukannya cowok terlahir jadi pemimpin yah ?",


"Jadi cewek hanya ingin selalu menjadi pengiku ?",


"Nggak juga. Kami kan nggak mungkin kalo harus berjuang sementara yang diperjuangin nggak tau menau".


"Cowok juga gitu kak".


"Jadi kakak harus gimana ?",


"Aku bantu deh bilangin ke Albert kalo kakak suka sama dia".


"Hah ? secepet itu ?",


"Katanya tadi butuh kepastian. Dasar cewek, labil".


"Enak aja kalo ngomong, nggak semuanya labil ya, kami hanya menimbang perasaan dengan keputusan yang akan diambil supaya nggak salah pilih dan nyesel nantinya".


"Hmm..jadi apa ? id line nya aku ada, nomor hpnya juga ada, apa ?",


"Kalo kakak tiba-tiba ngechat dia kan keliatan banget, kamu bantuin supaya kakak bisa pulang sama dia, jadi pas udah sampe rumah kakak bisa minta langsung nomornya".


"Hmm licik".


"Itu yang namanya cermat, oke ?",


"Iya iya, masuk gih sana".


"Iya ini mau masuk, malu banget sih, yang baru resmi ini memang beda".


"Aku aja mau masuk kamar".


Setibanya di kamar, Vino menelpon Reyna.


"Haloo..",


"Haloo".


"Kenapa tadi telpon kak, aku tidur jadi nggak sadar".


"Oh, aku salah pencet tadi Vin", bohong Reyna padahal tadi ia menelpon ingin mendengar suara Vino tapi karena malu ia malah memutuskan panggilannya.


"Terus kenapa tadi bilang salah sambung ?", tanya Vino sambil senyum-senyum.


"Salah ngomong tadi aku Vin".


"Oh gitu, jadi sekarang kakak lagi ngapain ? nonton ?",


"Kenapa kamu yang jawab ?",


"Karena biasanya gitu kan ?",


"Hahah iya, kamu udah ngerjain tugas dek ?",


"Adek ?",


"Kan emang kamu adek kelas".


"Hahah, iya iya. Nggak ada tugas hari ini".


"Enak banget, setahu lalu waktu mendekati ujian kayak gini kami banyak tugas loh, mau mgeringkas, nyari jawaban yang bener dari kesalahan waktu tugas kemarin sama bolak balik ke ruang guru buat minta tugas tambahan karena takut dapet nilai kecil padahal belum ujian hahah..".


"Aku udah nyiapin semua itu dari sebulan lalu, jadi aku cuma sibuk waktu di sekolah aja".


"Keren".


"Iya dong, siapa dulu Vino. Membanggakan sekali bukan punya pacar kayak aku ? nggak akan nyesel deh karena aku akan selalu berusaha yang terbaik"..


"Hahah iya iya aku bangga, punya pacar yang rajin, terkenal, tampan, baik, sabar, keren".


"Heheh terima kasih pujiannya, salam ku pada angin malam untuk kakak, hahah, anginnya mau sampe tu".


"Angin apa Vin ? angin sejuk yang kamu kirim ?,


"Angin bukan sembarang angin, itu angin yang menyampaikan perasaanku pada kakak".


"Iya, iya anginnya udah sampe, aku kirim balik juga ya".


"Oh ya Kak, besok aku jemput ya pergi sekolahnya ?",


"Naik angkot nggak masalah Vin ?",


"Tenang aja kak, besok supir mama masih ada jadi nggak susah nyari angkotnya kak".


"Hmm, oke kalo gitu bagus deh, pulangnya mau barengan juga ?",


"Kalo kakak mau, aku siap nganter kakak pulang, oh ya besok pulangnya kita beli smoothies ya yang kemarin itu nggak lepasin dahaga".


"Boleh, boleh, emang besok kamu nggak ada kegiatan ketua kelas ?",


"Nggak kak, kebetulan banget emang nggak ada. Kayaknya udah ditakdirin buat besok kita jalan kak".


"Jalan ? kan kita cuma mau beli smoothies".


"Bagi aku, walaupun itu cuma jalan di sekitar rumah tetep aja namanya jalan-jalan karena itu dilakuin sama kakak".


"Wahh, Vin kata-kata manismu memang nggak bisa dikurangin yah ?",


"Nggak bisa kak karena udah sepaket sama tampangku yang rupawan ini, hahah".


"Iya iya, serah deh, aku mulai ngantuk nih Vin".


"Hmm oke, selamat tidur kak, sampe ketemu besok".


"Selamat tidur Vin, sampe ketemu besok dan besoknya lagi".


Panggilan mereka pun berakhir.


"Wah, sampe ketemu besok dan besoknya lagi", kata Vino yang sangat kegirangan.


Sementara Reyna sudah tertidur lelap.


Sesederhana dan semanis itulah percakapan diantara mereka. Malam itu mereka merasakan kebahagiaan tentang bagaimana jika cinta yang selalu bertanya itu akhirnya mendapat jawab. Pada akhirnya, penantian itu takkan pernah terbuang sia-sia jika kau mengharapnya dengan penuh ketulusan dan kesungguhan. Penantian akan menjadi terbuang percuma jika yang kalian perjuangkan adalah orang yang tidak tepat dan pada takdir yang salah.