
Siang itu Reyna dibawa ke rumah sakit karena keadaan tubuhnya kembali drop dan tak sadarkan diri.
"Hah?? Aku dimana sekarang?? Apa aku masih di rumah sakit tapi tidak, ini seperti pondok di tengah sawah. Reyna sangat bingung karena ia sudah ada di pondok. Dilihatnya seorang petani sedang membajak sawah. Keringat pak tua itu menetes deras dengan topi khas petani dan celana penuh lumpur. Di sudut pondok ia melihat rantang beserta ceret yang airnya masih penuh. Ia pun bangkit menuju tengah sawah mendekati bapak itu.
"Pak, ini sawah milik siapa ya ?’’
"Ini kan sawah milik tunanganmu, Non ini suka bercanda".
"Hah ? Tunanganku ?", dalam hatinya bertanya-tanya sejak kapan ia tunangan padahal ia sudah lama putus. Ia pikir mungkin bapak ini yang sedang bercanda dan mengabaikan perkataannya.
"Bapak sudah bekerja sangat keras sampai keringat sudah membasahi baju bapak, ayo istirahat dulu".
Mereka pun pergi ke pondok. Pak tua itu membuka rantang yang isinya nasi beserta lauk. Di tengah makan...
"Oh yaa, tadi Aden nyari Non, saya bilang Non tertidur, jadi saya bilang kalo nanti Non sudah bangun akan saya sampaikan’’.
"Aden ? siapa ?",
Mendengar pertanyaan Reyna bapak itu tertawa bahkan sampai tersedak.
"Minum dulu pak",
"Duh, Non saya sampe tersedak denger pertanyaan Non tadi. Ada-ada aja Non ini".
"Saya beneran nggak tau siapa Aden".
"Berapa lama Non tertidur sampai lupa sama tunangannya sendiri. Jadi Aden itu Deran, tunangannya Non, kalian akan menikah tiga bulan lagi".
Reyna terdiam dan mencoba mencerna perkataan bapak ini.
"Setelah ini, saya antarkan Non temui Aden ya".
"Iya pak".
Mereka pun pergi ke rumah Deran.
"Rumahnya dimana ya pak ?’’,
"Disana, di Jalan Dauna Raya No.56. Jujur hari ini ada yang aneh sama Non Reyna".
"Bukan cuma bapak yang merasa seperti itu, saya juga ngerasa aneh sama diri saya sendiri".
Sebelum sampai ke rumah yang katanya tunangannya itu Reyna kembali tersadar. Sekarang ia sadar di bawah pohon rindang tempat seseorang.
Reyna semakin bingung ada apa dengan dirinya kenapa ia terus menerus bangun dan terbangun lagi, bukan maksudnya bermimpi dan bermimpi lagi.
"Heyy, Reyna ngapain tidur di bawah pohon ?’’, suara wanita yang dirindukannya datang menegurnya. Meskipun ia masih dalam keadaan yang teramat bingung tapi ia tak bertanya dimana ia sekarang dan mencoba menikmati waktu bersama wanita itu dan berharap ia takkan terbangun lagi di tempat lain karena di tempat ini ia merasa aman.
"Hah ? Nenek ? Nenekkk...’’ teriaknya panjang mengejar lalu kemudian memeluk neneknya.
"Ayo kita pulang Reyna, nenek sudah masak.’’
Setibanya di rumah nenek, mereka pun makan.
"Nek koq aku selalu mengalami kejadian aneh ?’’, tanya Reyna di sela-sela makan.
"Kejadian aneh ?’’, nenek balik bertanya.
"Aku terus menerus mimpi nek, sampai aku bingung mana duniaku yang nyata dan mana yang mimpi, semuanya terlihat jelas’’.
"Kamu sendiri bingung mana mimpi mana kenyataan".
"Seharusnya aku sekarang di rumah sakit karena umurku tak lama lagi’’.
"Kamu bahkan mengukur umurmu sendiri padahal hanya Tuhan lah yang mengetahui umur setiap orang’’.
"Nenekkk rambutku sudah rontok’’.
"Rontok??? Bercanda saja Reyna ini, rambut masih hitam berkilau kayak itu dibilang rontok’’.
Ia pun berkaca dan memang benar rambutnya masih indah dan memang benar-benar indah.
‘’Kamu masih muda tapi kamu lupa bersyukur, kamu terlalu menuntut dirimu untuk bermimpi dan bermimpi. Padahal kenyataan lah yang harus kamu benahi bukan mimpi. Bangunlah Reyna dunia masih bersamamu dan Tuhan masih ingin mengirimkan malaikatnya untukmu.
Reyna kembali pingsan, dan kali ini ia terbangun di sandaran bahu seorang pria.
"Kamu sudah bangun ?’’,
Reyna terkejut, ia sekarang bersama Deran, orang yang senantiasa ia rindukan kehadirannya.
"Hah ? Deran ? ini beneran kamu ?’’, tanya Reyna sambil menangis.
"Iya sayang", jawab Deran lembut.
"Kamu mantan apa tunanganku ?",
"Aku nggak mau jadi mantan kamu karena aku ingin selalu bersamamu".
"Tapi nanti kamu akan meninggalkan aku lagi".
"Hah ?",
"Jangan pergi Deran, aku beneran nggak selingkuh, aku nggak tau siapa yang edit foto aku sama orang lain, selama tiga tahun itu aku hanya menunggumu kembali. Jangan menyuruhku mengakhiri hubungan ini dan berhenti untuk dekat-dekat dengan wanita lain".
"Hah ? kamu kenapa Rey ? selingkuh ? kamu selingkuh ? tapi aku akan tetap mempertahankan hubungan kita dan menyuruhmu meninggalkan orang lain dan aku juga hanya dekat kamu. Kamu habis mimpi buruk ?",
"Bukan cuma mimpi buruk tapi aku terbangun dan terbangun kembali di tempat asing dengan cerita yang berbeda. Aku takut kalau aku akan tertidur lagi dan kembali ke cerita menyedihkan".
"Tenanglah Rey, kamu akan baik-baik saja", jawab Deran sambil memeluk Reyna dan menepuk pundaknya pelan memberikan ketenangan.
"Heyy, Reyna..ngapain tidur dibawah pohon, ayo pulang ajak Deran sekalian kita makan bersama, masakan nenek sudah siap", teriak seorang wanita dari kejauhan.
Mereka pun makan bersama.
"Nek, abis makan aku mau ngajak Reyna nonton", izin Deran.
"Hati-hati ya bawa mobilnya".
Setelah makan mereka pun pergi, di perjalanan ia melihat sawah dan juga ia melihat Jalan Sakura JY.
"Loh koq kebalik yaa nama jalannya ?’’,
"Kebalik gimana ?", tanya Deran.
"Iya, beneran kebalik, itu kan harusnya jalan Dauna Raya, nama Sakura itu jalan yang di deket trotoar yang ada taman bunganya’’.
"Emang dari dulu nama jalan Itu Sakura JY, kamu lihat dimana jalan Dauna Raya ?’’,
"Jalan Sakura JY itu pernah aku lewatin dan bukan disitu. Seharusnya nama jalan itu Dauna Raya".
"Jalan Dauna Raya itu letaknya jauh dari sini dan kita nggak pernah lewat situ".
"Bangunlah Reyna karena dunia masih bersamamu", suara bisikan yang entah darimana asalnya.
Reyna sangat bingung sampai akhirnya ia pingsan lagi dan lagi. Kali ini Reyna tersadar kembali di ruangan terang dengan bunyi detak jantungnya yang seakan menggema.
"Ahh, sekarang di rumah sakit ?", tanya Reyna dalam hatinya.
"Sebentar ya saya periksa dulu".
Dokter pun memeriksa detak jantungnya dan mengatakan kalau ia masih harus istirahat.
Reyna pun mencoba bangun dan dibantu oleh mamanya, ia bisa melihat mamanya kembali setelah sekian lama.
"Mama ? ini beneran mama ? aku nggak mimpi kan ? mama koq kelihatan nyata banget’’.
"Nyata ? maafin mama yang sibuk bekerja sampai lupa memberi perhatian buat anak mama sendiri’’.
Reyna bingung.
"Kamu sudah koma selama 2 bulan’’.
"Hah ? 2 bulan bukankah itu waktu yang lama untuk penderita kanker sepertiku’’.
"Kanker ? kamu ini ada-ada aja, kamu masuk sini karena pingsan setelah terbentur meja saat merayakan hari ultah temanmu".
"Jadi ultah itu beneran ada ? brapa umurku ?’’,
"20 tahun sayang, kamu lupa semuanya ? tapi dokter bilang kamu tidak amnesia".
"Zelfa mana ?",
"Kak Zelfa nanti sore akan datang lagi", jawab seorang pria yang baru masuk dengan membawa bunga dan buah.
"Deran yaa ? Beneran Deran ?’’,
"Syukurlah, akhirnya kamu sadar, kami selalu berdoa agar kamu segera sadar".
"Kamu punya sawah ?’’,
"Hah ? setelah sadar aku diberi pertanyaan mendadak. Aku nggak punya sawah yang punya sawah itu nenekmu’’, jawab Deran sambil tersenyum.
"Kita pernah ke tempat nenekku?’’,
"Belum pernah’’.
"Kamu tau jalan Sakura JY ?’’,
"Itu rumahmu Rey, kamu lupa ?’’,
"Jalan Dauna Raya ?’’,
"Itu rumahku".
Reyna termenung, kedua jalan tersebut memang benar ada dan Jalan Sakura JY itu ternyata rumahnya dan Dauna Raya itu benar rumah pacarnya yang bisa menjadi tunangan bahkan suaminya.
Lalu, ada seseorang mengetuk pintu. Dan masuklah pak tua yang pernah dilihatnya,
"Ini, pesenan Nyonya tadi buat Non. Akhirnya Non sudah sadar".
"Iya, pak’’.
"Bapak ini petani kan ?’’,
Semua orang di ruangan itu melongo dibuat bingung oleh pertanyaan aneh Reyna. Reyna seperti orang yang amnesia.
"Ini, sopir kita, pak Anthony".
"Iya, Non saya ini pak tua yang suka nganter Non kalo mau pergi kemana-mana. Non, lupa sama bapak ?’’,
"Apa ingatan Reyna ada yang hilang tante ?’’ tanya Deran.
"Nggak, dokter bilang Reyna hanya perlu istirahat. Dia nggak amnesia’’.
Masuklah salah satu dokter memeriksa keadaan Reyna.
"Neneek.. Ini beneran nenek ?’’
"Masih muda gitu kenapa kamu panggil dia nenek, Reyna..Reyna", ucap mamanya sambil geleng-geleng kepala.
"Maaf, sekarang saya akan memeriksa kembali keadaan pasien diharapkan semua orang meninggalkan ruangan ini sebentar sampai saya selesai melakukan pemeriksaan".
Mereka semua keluar.
Selagi dokter memeriksa, Reyna bertanya,
"Nenek, salah maksudku dokter aku masih bingung, apa ternyata ini kenyataan yang sebenarnya ?",
"Kenyataan ?’’,
"Nenek juga pernah berkata itu sebelumnya. Nenek adalah nenekku, maksudku dokter adalah nenekku yang selalu memasak makanan lezat untukku".
"Benturan itu mungkin terlalu keras. Sampai kamu lupa mana mimpi dan mana kenyataan atau mungkin dulu kamu lupa waktu, lupa cara menghargai dan memanfaatkannya",
"Iya dok, mungkin benar dulu saya selalu menuntut mimpi",
"Tapi bersyukurlah sekarang kamu sudah bangun, dan saya ucapkan selamat karena dunia masih bersamamu dan Tuhan memang mengirimkan malaikatnya untukmu’’.
Dokter itu menarik Deran yang menunggu di depan pintu saat pemeriksaan selesai.
"Apakah orang yang dimaksud itu adalah Deran ? benar-benar Deran ?", tanya Reyna dalam hatinya.
Reyna pun memeluk Deran dan menangis dalam pelukannya.
"Deran maafkan aku yang salah’’.
"Kamu tidak salah cuma terkadang kamu hanya kurang bersyukur’’,
"Aku koma selama 2 bulan ?",
"Iya".
"Selama itu juga aku mengalami perjalanan yang panjang, ada banyak kisah di tempat berbeda yang membuatku terus menerus bingung. Ada juga kisah dimana titik kerapuhanku ada, yaitu saat kamu pergi meninggalkanku dan aku tak ingin itu terjadi".
Deran hanya diam menatap Reyna dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tapi kamu tidak lupa bukan dimana pertama kali kita temukan cinta ini ?",
"Seingatku, kamu dulu adalah adik kelas yang selalu mengejarku karena kamu menyukaiku tapi aku selalu menolakmu sampai akhirnya aku merasa ada sesuatu dalam dirimu yang membuatku nyaman dan saat itulah aku jatuh cinta padamu".
"Terima kasih kamu masih mengingatnya dan terima kasih sudah menjadi cinta pertamaku. Mari kita lakukan yang terbaik untuk hubungan ini", kata Deran yang langsung memeluknya. Mereka berpelukan melepas semua rindu selama dua bulan ini.
"Aku juga berterima kasih padamu atas segalanya, atas semua waktu yang kita habiskan dan membuat kenangan bersama, aku berjanji akan mensyukuri atas apa yang aku punya dan tak ada lagi mimpi yang kutuntut dan satu lagi..aku ingin menghabiskan hariku selalu, selamanya, dan bersamamu’’.
"Sungguh ?’’, tanya Deran.
"Tak ada waktu yang ingin kuabaikan, tak ada mimpi yang ingin kutuntut, dan tak ada takdir yang salah, kamulah malaikatku’’.
"Hahah malaikat, aku bisa menjadi apa saja untukmu Reyna bukan hanya sekedar menjadi malaikatmu. Aku akan selalu ada disampingmu, aku ingin kita melalui waktu seperti saat pertama kali kita saling jatuh cinta. Mari kita bertahan walau dalam keadaan sulit sekalipun".
"Kamu benar Deran".
Mimpi Reyna telah berakhir tapi tidak dengan waktunya, hidupnya sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya. Bersama Deran, dunia mendukungnya. Bukankah mimpi itu datang tanpa diatur dan diduga seperti kenyataan??