
Dentuman musik memenuhi telinga Reyna yang dinikmatinya dengan santai. Namun meski suara musik sudah cukup besar suara seperti orang berjalan di lantai dua terdengar sangat jelas, Reyna mencoba mengabaikannya tapi suara itu terasa sangat mengganggu.
"Vin, ada orang ya diatas ?", tanya Reyna sambil melepaskan headsetnya.
"Nggak ada siapa-siapa".
"Masa' ?",
"Iya beneran aku nggak bohong emang kenapa ?",
"Koq aku denger ada orang yang jalan ya ?",
"Salah denger kali kak".
Reyna pun kembali memasangkan headsetnya, mungkin ia salah dengar atau memang ada penunggu lain diatas, entahlah, karena lebih baik baginya kembali mendengarkan musik.
Sudah dua jam Reyna menemani Vino belajar ia pun memutuskan untuk pulang.
"Vin, aku pulang ya",
"Aku belum selesai kak".
"Lama banget kamu ngerjainnya".
"Susah kak".
"Susah ? kan tadi udah aku ajarin".
"Nggak konsen".
"Kenapa ?",
"Ada kakak di belakang aku".
"Hah ?", pekik Reyna.
"Besar banget suaranya".
"Jadi dari tadi kamu nggak ngerjain dong".
"Ngerjain kak cuma temponya lambat".
"Padahal maksud aku duduk di belakang kamu biar mudah ngasih tau kalo kamu tanya".
"Heheh".
"Tawa, tawa, buruan gih selesain".
"Kakak jadi mau pulang ? aku anterin yah".
"Tugas aja belum selesai kenapa mau
nganterin aku".
"Heheh, biar bisa lanjut ngerjainnya di rumah kakak".
"Loh, loh, koq gitu nggak bisa lah, aku kan kesini karena mau nemenin kamu, kenapa kamu mau ke rumah aku ?",
"Sekali-sekali kak aku nggak pernah ke rumah kakak".
"Kak, bangun kita udah sampe".
"Hah ?", pekik Reyna yang terkejut dengan pandangan masih membayang sebagai efek bangun tidur.
"Yuk turun".
"Ini dimana ?", tanya Reyna bingung dengan keadaannya sekarang yang sudah memakai dress dan high heels padahal tadi ia masih mengajari Vino.
"Mau ngerjain aku ? kita kan mau ngehadiri ultahan Kak Zelfa".
"Zelfa ultah ?, bukannya bulan depan kenapa cepet banget dirayain".
"Hari ini kak dia baru ultah".
"Hah aneh ?",
"Demem kak ? udah pake dress cantik juga masa' nggak tau, nggak lucu deh pura-puranya ketauan banget", kata Vino sambil mengecek dahi Reyna.
Reyna pun mencubitnya. Ia mencoba berkaca dan kaca memperlihatkan dirinya yang sudah full make up dengan anting yang menambah kesannya hari ini.
"Duh, sakit kak, nggak sama kakak kandung sendiri nggak sama kakak aku selalu aja disiksa".
"Rasain", jawab Reyna yang masih bingung mengapa Zelfa bisa ulang tahun saat ini.
Meskipun ia baru mengenal Zelfa sejak masuk SMA tapi dia sangat tahu persis kapan ulang tahun sahabatnya itu dan itu bukan hari ini.
"Ayo kak, kita nggak turun-turun dari tadi", ajak Vino sambil membuka seatbeltnya.
Ia pun mendekati Reyna.
"Kamu kenapa deket-deket ? mau ngapain ?", panik Reyna yang sebenarnya merasa deg degan melihat Vino tampil sangat tampan dengan tuxedonya.
"Biasanya juga cuma jarak 10-5 senti",
"Hah ?", plakk.. pukul Reyna.
"Duh, gilaak udah dua kali ni, pasti ada cap merahnya ini", ucap Vino sambil melepaskan seatbelt Reyna.
"Nggak lah, lain kali ngomong mau ngapain dan biar aku sendiri yang lepasinnya".
"Iya kak nggak untuk lain kali koq", jawab Vino sambil membuka pintu mobilnya.
Tak lupa Vino juga membukakan pintu Reyna dan menengadahkan tangannya menyambut Reyna.
"Thank you", ucap Reyna meski ia masih dibuat seperti orang linglung dengan mengawasi lingkungan sekitarnya.
Mereka pun berjalan menuju area pesta. Reyna tak sungkan menggandeng tangan Vino malam itu.
Semua mata tertuju pada mereka berdua. Penampilan yang menarik dan terlihat serasi dari keduanya tentu menjadi santapan mata pada malam itu, melihat mereka seperti pangeran dan putri yang baru saja datang dengan kereta kuda, malam itu keduanya bak cerita di negeri dongeng.
"Wah, siapa nih yang datang ? cantik banget", puji mama Zelfa.
"Makasih tan", jawab Reyna.
"Vino ini pinter kayak om, buktinya hari ini dia nggak salah pilih bawa pasangan. Om waktu muda dulu juga kayak ini, bawa mamanya mereka ke ultah temen, heheh". ucap papa Zelfa yang langsung disikut perutnya oleh mama Zelfa.
"Iya nggak salah-salah gandengan pertama Vino setelah sekian lama untuk malem ini", sambung Zelfa.
Baik Reyna maupun Vino keduanya hanya tersenyum. Reyna pun menarik tangan Zelfa untuk pergi ke tempat yang agak sepi.
"Fa, kamu ultah hari ini ?".
"Hahah, makasih Reyna atas semua do'a kamu".
"Hah ? aku kan nanya bukan ngucapin kamu".
"Gitu amat, aku ultah loh jangan dikacangin dong, masa' pas ultah malah mau jadi pasta kacang, mau jadi coklat yang manis aja hari ini".
"Jadi kamu beneran ultah hari ini".
"Iya Reyna, udah ya aku kesana dulu, kamu juga gih kasian Vino sendirian kayak tiang listrik disitu", ucap Zelfa yang kemudian berlalu pergi menghampiri tamu undangannya.
Reyna pun menghampiri Vino.
"Mau makan apa kak ?",
"Puding".
Vino pun sigap mengambilkannya dan menaruh di atas piring Reyna.
"Zelfa beneran ultah hari ini".
"Kan emang ultah, nih nih makan cake juga enak banget nih", tawar Vino sambil menyuapi Reyna.
"Ciee sweet banget suap-suapannya, suapin aku jugalah Vin", ucap Faldo yang melihat aksi mereka.
"Hahah, nggak bisa kak, tiba-tiba tangan aku nggak bisa digerakin".
"Huh dasar pelit", decik Faldo sambil meninggalkan mereka berdua.
Tiba-tiba ada yang menabrak Reyna hingga dia hampir terjatuh, tapi untungnya Vino sigap dan menangkapnya. Tangan Vino menahan pinggang Reyna dan Reyna bertahan dengan tangan yang saling betaut menggantung di leher Vino. Mereka berdua sempat bertatapan.
"Mengapa seolah waktu telah berhenti ?", pertanyaan Reyna dalam hati yang entah datang darimana.
"Biarkan waktunya berhenti dan bertahan di saat seperti ini", ucap Vino dalam hatinya.
"Para hadirin yang udah dateng malem ini, sekarang udah saatnya kita masuk ke bagian inti acara yaitu peniupan lilin", ucap MC yang mengacaukan tatapan mereka.
Reyna pun bangun dibantu oleh Vino dan mereka menuju ke tengah tempat dimana Zelfa akan meniup lilinnya. Tanpa disadari oleh Reyna sendiri ia menautkan tangannya dengan Vino dan pergi kesana dengan bergandengan tangan.
Semua orang berkumpul menyaksikan Zelfa meniup lilinnya dengan semangat.
Potongan kue pertama diberikan kepada kedua orang tuanya lalu Vino dan Reyna. Setelah pemotongan kue acara pun masih terus berlanjut.
"Kak, nanti aku juga mau ngadain acara ultah", kata Vino.
"Hah kamu ?",
"Nggak boleh ya kak, tapi aku masih mau ngerayainnya".
"Bukan nggak boleh, tapi kan aneh".
"Kenapa harus aneh ? karena aku cowok ?",
"Itu tau".
"Ya ngerayainnya nggak pake balon-balon, kuenya juga nggak warna-warni kayak gitu".
Reyna menjawabnya hanya dengan mengangguk.
"Nanti, saat potongan kue ketiga aku kasih ke kakak, aku juga mau buat pengumuman kalo kita resmi jadian".
"Aku nggak mau jadi-jadian", jawab Reyna meskipun awalnya ia tersedak gara-gara perkataan itu.
"Minum kak", kata Vino sambil memberinya minuman.
"Hahah, lucu".
"Ya, nggak masalah dong kak, pas umur 17 tahun buat pacaran dan aku juga bukan anak kecil lagi, jadi terima ya".
Reyna hanya mengangguk-angguk saja.
"Jadi beneran diterima ?", tanya Vino.
"Liat nanti deh tahun depan gimana".
"Sini kalian", panggil Zelfa.
Mereka pun mendekat.
"Kalian ambil pose gih disini, bagus nih tempat, sayang kalo nggak foto", ucap Zelfa.
"Ayo kak", ajak Vino.
Saat Reyna berjalan, cermin besar yang setinggi dirinya pun pecah secara tiba-tiba hingga membuat semua orang yang ada disitu panik. Reyna tak bisa berkata apa-apa lagi ketika melihat ada orang dengan wajah yang mirip dengannya berdiri di atas pecahan cermin itu. Reyna menunjuk orang itu dan berteriak...
"Siapa kamuuu ?",
"Kamu yang siapa ?",
Reyna pun tersungkur ke bawah.
Vino dan Zelfa hanya menatapnya padahal biasanya mereka akan membantu Reyna. Mereka seperti tak lagi mengenal Reyna, mereka malah menyambut kedatangan orang itu. Saat Reyna menatap mata Vino, Vino malah membuang mukanya dan menatap orang dari cermin itu dengan tatapan dalam penuh makna yang biasanya hanya Reyna yang bisa melihat dan merasakan ketulusan itu. Reyna menangis sejadi-jadinya merasa ada yang hilang dalam tubuhnya. Reyna kesakitan sambil memegangi dadanya sementara air matanya menetes tanpa bisa ditahan lagi. Ia kembali berteriak.
"Siapa kamuuu ?",
"Aku adalah Reyna, kamu yang siapa ?",
"Pergilah, kamu bukan Reyna, aku yang Reyna".
"Aku Reyna dan semua yang ada disini adalah bagian kehidupanku".
"Tidakkkk, ini adalah kehidupanku", teriak Reyna sambil menutup telinganya karena saat itu ada suara dengungan yang entah berasal darimana.
"Ahhhhhh, nggakkk kamu bukan aku", teriak Reyna dalam igauannya dengan air mata yang masih membasahi pipinya.
"Kenapa kak ? kakak mimpi apa sampe nangis, kakak mimpi buruk ?", tanya Vino panik.
"Aku, aku nggak tau aku mimpi apa bukan, tapi tadi aku ada di ultahnya Zelfa".
"Kakak mimpi, ultah kak Zelfa kan masih lama, dua bulan lagi".
"Ada orang muncul dari pecahan cermin, dia mirip banget sama aku, dia ngambil semua kehidupan aku, aku takut", cerita Reyna sambil menangis sesegukan.
Vino yang tak tega melihatnya pun langsung memeluk dan menenangkannya. Sementara Reyna yang berada di pelukan Vino mulai merasa tenang sedikit dengan tepukan di pundak yang diberikan Vino, Vino juga kadang sekali-kali mengusap rambutnya.
"Itu cuma mimpi kak, buktinya kakak ada disini dan nggak terjadi hal semacam itu".
"Awalnya aku bantuin kamu ngerjain tugas, terus tiba-tiba aku terbangun di mobil sama kamu, kita ada di pesta ultah Zelfa kata kamu, terus aku sebenarnya masih nggak percaya tapi melihat suasananya memang bener nunjukin kalo itu adalah sebuah pesta, terus pas di akhir Zelfa nyuruh kita berdua foto buat kenang-kenangan, eh tiba-tiba ada cermin pecah nggak tau kenapa, terus muncullah orang yang mirip aku. Waktu aku tanya dia siapa, dia bilang kalo dia Reyna dan disitu aku nangis waktu liat kamu..., ah sampe akhirnya aku marah-marah dan nanya lagi, dia tetep jawab kalo dia itu Reyna dan semua bagian itu adalah kehidupannya. Aku bener-bener takut", perjelas Reyna.
"Kakak mimpi sama aku ? sering atau baru kali ini ?", tanya Vino.
"Nggak tau ah", jawab Reyna yang melepaskan dirinya dari pelukan itu.
"Kakak bilang tadi nangis waktu liat aku kenapa ? aku nggak meninggal kan ?".
"Hah ? apaan sih ? itu gara-gara kamu ngeliat dia kayak liat aku, kamu berani ngasih liat pandangan kamu yang penuh makna itu ke dia padahal biasanya cuma buat aku", kata Reyna yang keceplosan dan segera menutup mulutnya.
"Emang kenapa kalo aku natap dia ? kakak tau kalo selama ini aku cuma bisa ngasih tatapan aku buat kakak ?", tanya Vino dengan gaya melipat tangannya di dada.
"Ya taulah", ketus Reyna.
"Jadi kenapa kalo aku natap dia ? belum dijawab tadi kak".
"Nggak tau".
"Nggak tau mulu, sebelum itu terjadi makanya terimalah perasaanku ini".
"Vin, tugas kamu udah selesai ?", potong Reyna.
"Kan aku nggak lagi buat tugas".
"Oh berarti cuma mimpi tadi".
"Kakak kan datang kesini soalnya ada perlu sama kak Zelfa, ya udah aku temenin kakak nunggu dia pulang, pas ngobrol kakak malah tidur".
"Vin ada orang ya diatas ?", potong Reyna.
"Mana ada orang kan kak Zelfa belum pulang, potong aja terus omonganku".
"Nggak salah aku Vin, masa' kamu nggak denger ?",
"Nggak ada orang kak".
"Merinding aku Vin".
"Aku yang takut sama kakak, kalo ngigau serem".
Reyna pun mencubit Vino.
"Sakit kak".
"Rasain, orang lagi serius".
"Aku juga serius, lebih dari serius, ke atas deh coba liat sendiri ada orang nggak".
"Nggak berani aku Vin".
"Jadi minta ditemenin nih ?",
"Iya Vinoo, atau nggak kamu ajalah yang liat, aku tunggu disini".
"Nggak bisa gitu dong, kan kakak yang mau memastikan ada orang atau nggak koq aku yang disuruh ngecek sendirian".
"Ya udah, yuk, awas kalo nanti ada apa-apa kamu ninggalin aku, ****** kamu Vin hari ini".
"Uh atut, tenang aja kak aku nggak akan ninggalin kakak".
Mereka pun naik ke atas untuk melihatnya.
"Sumpah, jantung aku mau copot, takut ketemu hantu", kata Reyna yang berjalan di belakang Vino.
"Jantung aku deg-degan soalnya deket-deket sama kakak",
"Ah selalu kayak gitu, meding kamu kurang-kurangin deh kata-kata manismu itu".
"Nah kan nggak ada orang", kata Vino.
"Tapi kayak ada orang".
"Kita cek yah ke seluruh ruangan".
"Iya yah nggak ada".
"Salah denger kali kak".
Tiba-tiba ada suara orang menangis yang membuat mereka ketakutan. Suara itu semakin lama semakin terdengar mendekat.
"Bwaaaaa", kejut suara itu hingga membuat Reyna terduduk sambil menutup telinganya.
Ternyata itu adalah suara tangis Zelfa yang baru saja pulang.
"Kamu kenapa Rey ?",
"Iya kak, ini kak Zelfa nggak perlu takut".
"Nggak-nggak aku nggak mau buka telinga aku, terlalu bising".
Zelfa memaksa tangan Reyna untuk membuka telinganya.
"Awwww...sakittt", teriak Reyna hingga ia pingsan.
"Nah kak, kenapa kak Reyna ?", tanya Vino panik.
"Kakak nggak tau, tadi kakak cuma lepasin tangannya aja".
"Beneran sakit kak kayaknya telinganya, dia denger suara bising".
Reyna pun dibawa masuk ke kamar Zelfa. Dua jam kemudian ia pun tersadar.
"Gimana Rey ? Telinga kamu masih sakit ?", tanya Zelfa.
"Iya Fa masih sakit".
"Bentar kamu minum dulu, lagi diambilin Vino".
Reyna hanya diam saja.
"Kamu kenapa sih Rey ?",
"Aku nggak tau, suaranya terlalu bising, telinga aku sampe sakit".
Setelah menjawab pertanyaan Zelfa, telinga Reyna kembali sakit dan ia menutupnya sambil menangis.
"Tenanglah Rey", kata Zelfa.
Reyna pun menunjuk cermin yang ada di depannya, tempat biasa Zelfa merias diri. Ia berteriak dan cermin itu pun pecah. Vino yang baru saja masuk kamar terkejut menyaksikan hal itu begitu pula dengan Zelfa.
"Dia ngomong Fa, Vin", kata Reyna dengan ekspresi ketakutan.
"Siapa ? nggak ada orang lagi disini cuma ada kita bertiga, jangan nakutin aku Rey", kata Zelfa.
"Dia Fa, dia ngomong".
"Ngomong apa ?", tanya Zelfa.
"Aku ada..."