
"Pagi-pagi udah ujan aja susah nih pasti nyari angkot", gerutu Reyna.
"Nggak usah pake sepatu dulu aja lah daripada entar malah basah", lanjutnya.
Reyna bersiap mengunci rumah dan pergi ke sekolah dengan payungnya. Ia pun berjalan mencari angkot namun telah 20 menit ia menunggu angkot tak kunjung juga tiba. Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan kaki saja meskipun cukup jauh jaraknya. Jalanan becek membuat ia harus berhati-hati jika tak ingin kecipratan air, namun meskipun ia sudah sangat berhati-hati ia masih saja terkena cipratan akibat ulah pengemudi mobil yang seenaknya ngebut hingga seragam sekolahnya menjadi kotor.
"Ah, ada apa hari ini udah nggak ada angkot sekarang baju kotor, mudah-mudahan di loker aku nggak lupa narok seragam lain".
"Duh udah jam berapa nih aku belum nyampe, udah dijamin pasti telat lagi nih, apa aku balik lagi aja ya daripada entar kena hukuman kayak waktu itu malah pingsan lagi, tapi udah nangggung juga kalo mau balik, ah masa' kena hukuman kan ini ujan tapi kan sekolahku itu sangat disiplin, astagaaa aku harus bagaimana", gerutu Reyna dibawah payungnya itu.
"Rey, yuk buruan masuk", ajak Zelfa.
"Ah, makasih Zelfa", jawabnya yang tak menyangka ada Zelfa yang lewat dan memberinya tumpangan.
"Baju kamu kotor Rey", kata Zelfa memberitahunya.
"Iya nih, tadi ada mobil yang ngebut, entar pas nyampe di sekolah aku mau ganti koq".
"Nih kak pake dulu aja", tawar Vino seraya memberinya jaket.
"Hmm..makasih Vin".
Memakai jaket Vino membuat tubuh Reyna dipenuhi oleh aroma parfumnya.
"Rey, kamu udah makan belom ?", tanya Zelfa.
"Udah tadi sedikit".
"Ya udah, nih makan sandwitch, ini buat kamu Vin".
Selama perjalanan mereka pun makan, selagi makan Vino menyempatkan diri menghapal pelajaran yang akan jadi bahan ujian hari ini. Vino sangat lantang mengucapkan hafalannya, terkadang sesekali ia melakukan kesalahan dan Reyna yang mendengar hal itu mencoba mengoreksinya, kalau biasanya dia hafalan tak ada yang mengoreksi karena Zelfa sibuk dengan aktivitasnya sendiri sehingga disaat akan ujianlah Vino baru menyadari kalau ternyata yang ia hapalkan itu salah, tapi tidak kali ini, ia bisa langsung tau kesalahannya dan segera memperbaikinya. Hingga tibalah mereka di sekolah.
"Vin, ini jaketnya", kata Reyna.
"Nanti aja kak, pake dulu nggak papa koq".
"Makasih Vin, entar pas pulang aku balikin".
"Selamanya disimpen juga boleh kak".
"Uh, lagaknya kamu nih Vin", kata Zelfa sambil menarik telinga adiknya.
"Wehh, nggak suka bilang", jawab Vino.
"Emang, kenapa ? mau ngajak berantem ?",
"Eh, eh ada Albert tuh disitu", tunjuk Vino.
Seketika konsentrasi Zelfa pecah.
"Mana ? mana ?", tanya nya.
"Iya, ada di kelas lah, aku masuk dulu yah", pamit Vino.
"Eh, vino awas kamu yah", ancam Zelfa.
Reyna pun pergi ke lokernya mencari seragam dan sayangnya apa yang ia cari itu tidak ada.
"Padahal aku udah narok disini tapi ternyata aku lupa kalo belum narok lagi, duh gimana nih masa' pake kemeja kotor", kata Reyna.
"Ya udah pake jaket aku dulu aja sampe pulang nanti nggak usah dibalikin dulu", kata Vino yang entah muncul darimana tapi sekarang anak itu benar-benar ada di hadapan Reyna.
"Kamu koq muncul terus, heran, ngikutin aku yah ?",
"Nggak lah kak, kebetulan aja lewat sini sekalian mau ada yang diambil juga".
"Tapi makasih Vin untuk jaketnya ini, aku bener-bener berterima kasih banget".
"Sama-sama santai aja kak, tapi makasih aja nggak cukup loh".
"Hah ? maksud kamu ? kamu mau apa ?",
"Apa ya ? bingung akunya kalo udah ditanyain gini, emm.. baru inget kenapa kita nggak ke perpus bareng aja sebagai bayarannya ?",
"Perpus bareng ? boleh, sekalian kita beli smoothies sama waffle".
"Smoothies ? waffle ? emang sekolah kita ada jual ya ?",
"Hah ? jadi maksud kamu perpus disini ?",
"Iyalah kak, kan deket nggak capek jalan jadinya, emang kakak mau aku ajak ke perpus di deket toko alat musik itu ?",
"Mau-mau aja, lagipula buku disana juga banyak dan lengkap, mau cari buku edisi pertama sampe yang terbaru pun ada".
"Hmm.. bisa dimasukin ke dalam referensi tempat tujuan nih, tapi kakak beneran nggak keberatan kalo jalan sama aku ? Aku ? Vino ?", tanya Vino yang masih tak menyangka kalau Reyna benar-benar mau jika diajak jalan berdua dengannya.
"Iya nggak masalah kan ? sekali-kali kita jalan, katanya mau temenan".
"Hmm.. lebih dari temen bisa ? aku sih pengennya gitu".
"Hah ? kita liat nanti ya".
"Aku sebenarnya nggak suka buang-buang waktu kak".
"Makanya lebih baik berhenti sekarang".
"Kita bahkan belum berawal".
"Jangan terlalu mengharap juga jadi akhir, nanti kalo jadi ke perpus kasih tau Vin, siapa tau kamu berubah pikiran", kata Reyna yang pergi meninggalkannya.
Vino hanya terdiam di depan loker miliknya sambil mencari buku yang ia ingin baca.
Waktu pun berlalu di penghujung bel pulang sekolah.
"Jadi atau nggak nih Vino ke perpus sampe sekarang koq nggak ada kabar", tanya Reyna dalam hatinya sambil mengecek handphonenya yang sebenarnya sudah seringkali ia lakukan dari tadi.
"Kenapa Rey ? nunggu orang ?", tanya Zelfa.
"Antara mau nunggu atau nggak nih".
"Dia ngasih kamu kabar ?",
"Nggak tau nih, dari tadi nggak ngomong apa-apa, ngambek ya Vino, terus dia ada kasih tau kamu ?",
"Oh ternyata Vino, tapi tuh anak nggak pernah ngambek loh, aku yang suka usilin dia aja dia nggak sampe ngambek/marah dan nggak ada juga aku dikasih tau sama dia, jadi gimana ? kamu mau nungguin dia nggak, kalo mau aku temenin jadi".
"Iya aku tungguin dia dulu aja, kamu harus temenin lah".
"Oke, kita nunggu depan bangku kelas aja".
"Oke".
Mereka pun bersiap keluar dari kelas dan menunggu selama beberapa menit. Menit yang telah berlalu membuat penantian berubah menjadi sejam.
"Wah, gilakk nih anak kenapa nggak muncul-muncul juga, mana ditelpon hpnya nggak aktif lagi, mau kena jitak emang".
Reyna hanya diam dan masih sibuk mengecek handphonenya dengan sejumlah perasaan yang ia sendiri tak mampu menafsirkannya.
"Pulang ajalah Rey, udah lama kita nunggu disini, sekolah udah sepi juga mana lagi perut aku laper".
"Pulang duluan aja Fa".
"Hoh, ayolah Rey pulang, aku nggak mungkin ninggalin kamu sendirian lagi, entar aku marahin tuh anak pas sampe rumah".
"Hmm..ya udah kita pulang sekarang".
Mereka pun pulang. Saat di depan gerbang, Zelfa ternyata dijemput oleh supirnya.
"Yuk Rey masuk, barengan aja pulangnya".
"Nggak Fa aku mau naik angkot aja, mau cari jajanan juga".
"Hmm.. aku tungguin kamu sampe dapet angkot aja deh".
"Makasih".
Tak lama kemudian, angkot pun datang dan Reyna menaikinya. Tujuan Reyna adalah membeli jajanan di dekat toko alat musik, yah seberang perpustakaan yang tadi sempat ia bicarakan dengan Vino.
Sambil menyeruput smoothiesnya Reyna memandang langit yang masih nampak mendung.
"Ah, kenapa aku bisa berhalusinasi ?", tanyanya dalam hati.
"Aku nggak salah lihat kan ? orang yang lagi main gitar di toko itu Vino, kayaknya udah stress ini, masa' gara-gara nggak jadi diajak ke perpus aku malah liat dia disitu, ah sudah-sudah lebih baik aku jernihkan dulu pikiran ini, apa karena aku pake jaket dia, wanginya aja sampe sekarang masih nempel", kata Reyna sambil membaui jaket Vino.
"Tapi nggak mungkin juga kalo aku lepasin, kemeja aku kan kotor".
Reyna pun melahap wafflenya dan masuk ke perpustakaan untuk mencari novel. Saat ia mencarinya di rak, tangannya disentuh oleh seseorang.
"Jadi kesini ?", kata Vino yang sudah membalikkan badannya dan menyender di rak buku.
"Hah kamu kesini, aku pikir kamu udah pulang, hati-hati ya sampe di rumah nanti kamu bakal dijitak Zelfa".
"Aku udah hampir sampe rumah koq tadi".
"Ooh,..."
"Aku nggak ngasih kabar emangnya nggak kepengen tau kenapa ?",
"Pengen, tapi kamu berhak membatalkan janji tiba-tiba".
"Janji ? padahal itu ajakan".
"Aku pikir itu janji, tapi ternyata salah".
"Kita ubah pertemuan kita jadi disini".
"Iyaa, aku juga sudah dapet novel yang aku cari", kata Reyna sambil memperlihatkan novelnya.
"Ayo duduk disana", tunjuk Vino.
Sesampainya di meja membaca itu betapa terkejutnya Reyna melihat tumpukan komik yang banyak.
"Itu..., sebanyak itu ?", protes Reyna.
"Luangkan waktu sampe jam 6 atau 7 nanti malem", kata Vino.
"Hah ?",
"Semua komik ini baru selesai dibaca sampe jam itu dan bahkan bisa lebih, tapi aku akan membacanya cepat".
"Yah sampe jam 6 aku rasa cukup dan kamu pasti nggak bisa nyelesain bacanya karena udah sebanyak itu, lain kali aja kamu baru baca lagi".
Namun Vino sudah asyik membaca komiknya dan tak lagi menghiraukan perkataan Reyna. Sudah enam komik yang ia baca dan sudah beberapa kali pula ia mengganti ekspresinya mulai dari tertawa sendiri, sedih, ketakutan dan mukanya yang merah karena emosi. Reyna sampai tak bisa menahan senyumnya melihat Vino yang lucu itu. Sesekali Vino kadang mencicipi smoothies Reyna.
"Vin, kamu nggak beli minum tadi ?",
"Nggak, lagian ada yang punya kakak juga".
"Diluar lagi ujan dan nggak ada payung".
"Kamu tau darimana ?",
"Nih jam", tunjuk Vino memperlihatnya jam canggihnya.
"Aku nggak minum lagi koq kak abis ini", sambungnya.
Namun, setelah beberapa menit kemudian, Vino mulai serak. Reyna pun menyodorkan smoothiesnya.
"Minum aja Vin".
"Boleh ?",
"Iya, kamu lagi nggak pilek juga kan ?",
"Waduh aku pilek kak, gimana dong ? besok berarti kita bisa nggak masuk sekolah sama-sama, kalo gitu kita kesini aja kak, daripada di rumah sumpek, udah sakit, malah diem aja di rumah".
"Nggak bener nih anak, koq bisa ya jadi ketua kelas ?",
"Bisalah, karena aku memang berbakat jadi ketua kelas, selain itu aku juga berkarisma dan punya penampilan yang oke".
"Ya ya ya terserah deh".
Meskipun Vino sedang asyik membaca komiknya tapi ia selalu mengusik konsentrasi Reyna, lebih tepatnya bayangannya.
"Ah, kenapa aku malah jadi nggak konsen gini kalo di deket dia", tanya Reyna dalam hatinya.
"Kak pulang yuk udah jam 5 lewat nih".
"Oh, sadar juga mau pulang, bacaan kamu pasti belum kelar kan ? beli aja komiknya".
"Nggak mau, aku mau baca disini aja".
"Ya terserah deh Vin".
Melihat Vino yang sangat menyukai komik namun ia harus berhenti membaca karena sudah waktunya pulang, Reyna tergerak untuk membelikannya.
"Loh apa ini kak ?", tanya Vino yang kaget.
"Buat kamu baca di rumah".
"Makasih kak, baik banget, padahal aku pengen baca disini terus".
"Iya kalo ada waktu".
"Harus ada dong kak, aku bakal luangin waktu buat kesini kakak juga harus gitu, pergi sama aku".
"Kenapa harus pergi sama kamu, aku kan bisa pergi sendiri".
"Ya walaupun bisa pergi sendiri tapi lebih baik perginya ditemeninlah", kata Vino sembari menggenggam tangan Reyna dan dimasukkan ke jaketnya.
"Loh ?", kaget Reyna atas apa yang dilakukan Vino dan melepaskan tangannya.
"Kakak kedinginan loh, tangannya juga udah membeku kayak es", kata Vino yang kembali menarik tangan Reyna dan memasukkan ke saku jaketnya.
Aliran kehangatan berjalan menelusuri tangan Reyna bahkan sampai ke hatinya, ia bisa merasakan kalau tangan Vino yang menggenggamnya ternyata lebih besar dari tangannya.
"Lakukan hal ini bahkan jika nggak mau", kata Vino yang berusaha tetap cool di depan Reyna padahal rasanya ia ingin melompat kegirangan disaat seperti ini.
Sementara Reyna hanya memandangnya saja lalu kembali membuang muka. Selama di perjalanan, Reyna mencoba meyakinkan hatinya mengenai apa yang ia rasakan.
"Kamu bisa sampe kayak gitu ya kalo baca komik ?", tanya Reyna.
"Iya, baca komik bisa seasyik itu loh", ungkap Vino.
"Jadi, kapan kita bisa ke perpus lagi ?", lanjutnya.
"Akhir pekan".
"Beneran ?",
"Iya".
"Hmm..oke".
"Tadi kamu ngapain ke toko alat musik ? mau beli gitar baru ?",
"Nyoba-nyoba aja".
"Kamu sering kesitu ya ?",
"Iya lumayanlah, buat nyoba aja".
"Kalo ke perpus ?",
"Udah pernah juga tapi ini baru kali ketiga".
"Loh bukannya kamu penggemar komik ?",
"Nggak sempet, apalagi mau deket ujian ini aku harus bolak-balik ke ruang guru, jadi cuma bisa nyempetin diri ke perpus sekolah aja".
"Oh gitu".
"Cuma segitu pertanyaannya ? emang udah ngejawab semua ?",
"Kamu suka ditanya-tanya ?",
"Nggak juga, tapi aku suka kalo kakak yang nanyain aku".
"Ah, berhenti merayu".
"Aku nggak merayu, aku serius".
"Iya iya, udah hampir sampe aja tuh ke rumahku".
"Aku nggak menyangka hari ini bisa ke perpus".
"Padahal kamu tadi udah nyampe rumah kan ?",
"Iya, aku juga nggak nyangka bisa liat kakak ada di seberang jalan".
"Hahah, aku pikir tadi aku yang berhalusinasi liat kamu".
"Hahah, maaf juga kak tadi aku nggak ngasih kabar, tadi aku sempet kesel".
"Nggak heran sih, omongan aku tadi pagi emang ngeselin jadi aku pikir itu pasti alasannya dan aku pikir kamu akan tetep ngabarin aku makanya aku nunggu kamu".
"Nunggu aku ?",
"Iya, tanya deh sama Zelfa, makanya tadi pas di perpus aku ada bilang hati-hati entar pulang dijitak dia".
"Kacauuu, tapi aku beneran minta maaf kak, karena aku yang terlalu ambil hati, kakak sampe nunggu aku, pasti lama".
"Sejam".
"Hah ? sejam ?",
"Sejam nggak masalah dengan semua kesialan yang aku alami hari ini".
"Kesialan ?", tanya Vino bingung.
"Udah ujan, angkot nggak ada yang lewat, seragam kena cipratan pula, untung ada tumpangan dan jaket dari kamu".
"Iya ya, belum lagi kakak yang harus nunggu gara-gara aku nggak ngasih kabar".
"Hahah, tapi aku merasa kesialan hari ini adalah keberuntunganku".
"Hah ? iya sih nggak semua kesialan itu selalu buat jadi sengsara".
"Aku dapet keberuntungan yang nggak terduga".
Vino diam kemudian memandang Reyna dengan tatapan penuh tanya.
"Aku bisa ke perpus dan ini..", kata Reyna sambil menarik tangan Vino dan tangannya yang masih di dalam saku jaket.
"Wangi kamu juga seharian ini bisa mengelilingi aku", lanjutnya.
Vino dibuat tambah kaget dan bingung.
"Wah, nggak ngerti ya Vin ? padahal nggak puitis loh kata-kataku kali ini".
"Masih ambigu kak".
"Aku senang dibalik kesialanku ternyata ada kamu yang datang membawa keberuntungan".
"Yah aku pikir aku nggak salah ngomong kali ini", sambung Reyna yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.
"Kakak nggak salah makan kan tadi ? koq ngomongnya kayak gitu".
"Nggaklah, emang aku ngomongnya aneh ya, padahal kata-kataku ini pasti yang kamu tunggu-tunggu dari dulu".
"Aku siap mengatakan hal ini, karena aku telah sadar", kata Reyna dalam hatinya.
Vino masih diam dan tak terasa kaki mereka sudah melangkah masuk ke gerbang rumah Reyna.
"Aku seneng hari ini bisa jalan sama kamu, aku juga seneng berdiri di deket kamu dan aku lebih seneng lagi waktu kamu gandeng tangan aku dan dimasukin ke saku jaket, belum lagi kamu yang minjemin aku jaket, aku seneng semua hal itu, aku seneng liat kamu baca komik tadi dan..", ungkap Reyna.
"Dan ?",
"Dan aku mulai menyukai kamu".
"Hah ? kakak nggak salah ngomong ?",
"Nggak", jawab Reyna singkat sambil menarik tangan Vino dan menggenggamnya.
Vino sempat terdiam dan akhirnya kembali menanyakannya.
"Kakak udah suka sama aku ? jadi hari ini kita resmi jadian ?",
"Iyaa".
"Wah gilakk mau meledak rasanya", ungkap Vino dan ekspresi yang menunjukkan ia senang tiada tara.
"Pulang gih, persiapkan diri ya dijitak Zelfa", kata Reyna sambil mengelus kepala Vino.
"Ah, soal itu biarin ajalah, yang penting hari ini kita jadian, aku pulang kak".
"Iya, hati-hati Vin".
Vino pun pergi dan tiba-tiba ia berbalik kembali mengejar Reyna yang hampir menutup pintu rumahnya.
"Makasih kak, udah nerima aku dan merasakan apa yang aku rasakan, terima kasih sudah menjawab perasaanku dan terima kasih juga sudah menungguku hari ini, aku akan melakukan yang terbaik untuk hubungan ini".
"Dan hari ini aku tidak menyesal sudah menunggu kamu dan pergi ke kawasan perpus itu".