
Di minggu pagi itu, Reyna datang menjenguk Deran yang sedang sakit.
"Masih demem ?", tanyanya sambil menyentuh dahi Deran.
"Masih, tapi udah lebih mendingan dari yang semalem. Kamu bawa makanan ?",
"Bawa dong".
"Suapi..",
"Dasar manja, lain kali harus makan sendiri".
"Aku kan lagi sakit".
"Sakit ?",
Plakk..Reyna memukul lengan Deran.
"Kamu mau jadi tukang pukul ya ?",
"Iya, karena itulah aku udah latihan dari sekarang".
"Kenapa harus aku ?",
"Karena aku sayang sama aku".
"Hah ?",
"Makan deh, buka mulutnya", kata Reyna sambil memberinya suapan.
Setelah lima kali suapan, tiba-tiba Deran menjadi seperti orang yang kesulitan bernafas, dia megap-megap hingga membuat Reyna panik.
"Kamu kenapa Der ?", tanya Reyna.
"A..ak..u su..sah.. naf..a..s", jawab Deran terbata-bata.
"Apa gara-gara bubur aku, padahal bubur itu nggak ada racunnya".
"A..a..",
Deran pun tak sadarkan diri. Menyaksikan hal tersebut membuat Reyna panik. Ia berteriak memanggil Zelfa.
"Fa..Deran Fa, tolong aku nggak tau harus ngapain", teriaknya.
Namun Zelfa tak kunjung datang. Reyna pun menangis histeris.
"Katanya kamu nggak akan ninggalin aku..hiks..hikss, aku minta maaf, kamu nggak boleh kayak gini, hiks hiks..", ia menangis sambil memeluk Deran kuat.
"Aku nggak kenapa-napa koq, haha hanya bercanda, kamu sampe segitunya aku kan nggak akan ninggalin kamu".
"Kamu apa-apaan sih, tau nggak kalo aku panik, mana Zelfa nggak muncul-muncul", marah Reyna dan memukul dada Deran.
"Iya, iya aku minta maaf, jangan nangis lagi dong. Kalo liat kamu kayak tadi berarti aku harus lebih kuat ke depannya supaya nggak bikin kamu nangis lagi".
"Kamu nggak harus kuat, aku cuma minta kamu selalu ada".
"Iya sayang", Deran kembali memeluk Reyna.
"Tapi kenapa Zelfa dipanggil nggak datang ?",
"Ada koq dia, nggak pergi kemana-mana. Lagi tidur mungkin, coba kamu cek ke kamarnya deh".
Reyna pergi ke kamar Zelfa dan menemukan anak itu sedang tertidur pulas.
"Rey, ke bawah yuk bosen aku di kamar", ajak Deran.
"Kenapa nggak dari tadi ?",
"Nggak tau, baru sekarang ngerasa bosennya".
"Hmm, ya udah yuk kita ke bawah".
"Tapi rasanya aku nggak kuat berjalan".
"Kamu kan cuma demem, panas kamu juga udah agak mendingan".
"Tapi aku nggak kuat berjalan".
"Ya udah diem di kamar aja".
"Bosen".
"Jadi kamu mau apa ?",
"Rangkul dong".
"Berat".
"Nggak, ayo Rey", pinta Deran dengan wajah sedih.
"Hmm..baiklah ayo", Reyna pun membangu Deran turun dari tempat tidur dan merangkulnya menuju ke ruang tamu di bawah.
Reyna merasa lelah merangkul tubuh Deran yang tinggi itu sehingga ia langsung saja menjatuhkan anak itu ke sofa.
"Aduh, gila, beratt", gerutu Reyna sambil meregangkan otot bahu dan tangannya.
"Ya maaf", ucap Deran.
"Di dapur ada minuman apa Der ?",
"Coba kamu cari aja di kulkas".
Reyna pergi ke dapur mencari minuman di kulkas dan mendapatkan susu dengan rasa buah lalu ia kembali lagi ke ruang tamu, dilihatnya Deran sedang menonton tv. Hari itu acara tv tak menarik baginya sehingga ia memasang headset di telinganya.
Dentuman musik memenuhi telinga Reyna yang dinikmatinya dengan santai. Namun meski suara musik sudah cukup besar suara seperti orang berjalan di lantai dua terdengar sangat jelas, Reyna mencoba mengabaikannya tapi suara itu terasa sangat mengganggu.
"Kayaknya Zelfa udah bangun, tuh anak bener-bener deh masa' udah siang baru bangun", kata Reyna sambil melepaskan headsetnya.
"Nggak ada siapa-siapa di atas".
"Hah ?, nggak ada orang gimana ? kan ada Zelfa", kejut Reyna.
"Iya beneran aku nggak bohong emang kenapa ? kalo kamu ada perlu sama dia nanti aku telponin",
"Zelfa kan tadi lagi tidur",
"Tidur ? dari kemarin dia pergi ikut mama, kamu ngigau ? lagian nggak ada suara apa-apa, kamu salah denger kali atau lagu kamu itu".
Reyna pun kembali memasangkan headsetnya, mungkin Deran sedang bercanda, karena lebih baik baginya kembali mendengarkan musik.
Sudah dua jam berlalu, Reyna pun memutuskan untuk pulang.
"Der, aku pulang ya", pamit Reyna tanpa memperhatikan Deran.
"Aku belum selesai Rey".
"Durasinya berapa ? lama ya acaranya".
"Durasi, aku lagi ngerjain tugas nih, sulit tau".
Reyna pun kaget melihat apa yang dilakukan Deran sekarang, kenapa ada banyak buku di atas meja dan sejak kapan tv itu mati.
"Sulit ? dari tadi kerjaan kamu cuma nonton, kenapa sekarang ?".
"Dari tadi aku buat tugas".
"Hah ? suhu badan kamu naik lagi ?", pekik Reyna.
"Besar banget suaranya, aku juga nggak demem, kamu kali yang demem".
"Tapi tadi kamu demem dan sekarang, jadi dari tadi kamu ?".
"Aku ngerjain tugas".
Reyna masih menatapnya tak percaya
"Jadi mau pulang ? aku anterin yah".
"Aku pulang sendiri aja, tugas kamu kayaknya banyak banget".
"Aku bisa lanjutin lagi nanti, lagipula aku kan pacar kamu udah seharusnya aku nganter kamu pulang, itu udah jadi kewajiban aku".
"Oke kalo udah jadi kewajiban, kamu memang harus nganter aku, tapi tugasmu",
"Aku akan nyelesainnya nanti setelah kamu sampe rumah dengan selamat".
"Rey, bangun kita udah sampe".
"Hah ?", pekik Reyna yang terkejut dengan pandangan masih membayang sebagai efek bangun tidur.
"Yuk turun".
"Ini dimana ?", tanya Reyna bingung dengan keadaannya sekarang yang sudah memakai dress dan high heels.
"Mau ngerjain aku ? kita kan mau ngehadiri ultahan Kak Zelfa".
"Zelfa ultah ?, bukannya bulan depan kenapa cepet banget dirayain".
"Hari ini Rey dia baru ultah".
"Hah aneh ?",
"Kamu demem ? udah pake dress cantik juga masa' nggak tau, nggak lucu deh pura-puranya ketauan banget", kata Deran sambil mengecek dahi Reyna.
"Duh, sakit Rey, kenapa nyubit aku dan kenapa aku selalu aja disiksa".
"Rasain", jawab Reyna yang masih bingung mengapa Zelfa bisa ulang tahun saat ini. Dia adalah sahabat Zelfa dan sangat tahu persis kapan ulang tahunnya dan itu bukan hari ini.
"Ayo Rey, kita nggak keluar-keluar nih dari tadi", ajak Deran sambil membuka sealtbeltnya.
Ia pun mendekati Reyna.
"Kamu kenapa deket-deket ? mau ngapain ?", panik Reyna yang sebenarnya merasa deg degan melihat Deran tampil sangat tampan dengan tuxedonya.
"Biasanya juga cuma jarak 10-5 senti, aku tidak akan menciummu tiba-tiba",
"Hah ?", plakk.. pukul Reyna.
"Duh, gilaak udah dua kali ni, pasti ada cap merahnya ini", ucap Deran sambil melepaskan sealtbelt Reyna.
"Nggak lah, lain kali ngomong mau ngapain dan biar aku sendiri yang lepasinnya".
"Iya nggak untuk lain kali koq", jawab Deran sambil membuka pintu mobilnya.
Tak lupa Deran juga membukakan pintu Reyna dan menengadahkan tangannya menyambut Reyna.
"Thank you", ucap Reyna meski ia masih dibuat seperti orang linglung dengan mengawasi lingkungan sekitarnya.
Reyna merasa sepertinya pernah mengalami kejadian ini entah beberapa tahun lalu. Mereka pun berjalan menuju area pesta. Reyna berjalan sambil menggandeng tangan Deran malam itu.
Semua mata tertuju pada mereka berdua. Penampilan yang menarik dan terlihat serasi dari keduanya tentu menjadi santapan mata pada malam itu, melihat mereka seperti pangeran dan putri yang baru saja datang dengan kereta kuda, malam itu keduanya bak cerita di negeri dongeng.
"Wah, siapa nih yang datang ? cantik banget", puji mama Zelfa.
"Makasih tan", jawab Reyna.
"Deran ini pinter kayak om, buktinya hari ini dia nggak salah pilih bawa pasangan. Om waktu muda dulu juga kayak ini, bawa mamanya mereka ke ultah temen, heheh". ucap papa Zelfa yang langsung disikut perutnya oleh mama Zelfa.
"Iya dari dulu Deran nggak salah pilih wanita yang akan digandengnya ini, kalian bener-bener menyilaukan mata", sambung Zelfa.
Baik Reyna maupun Deran keduanya hanya tersenyum. Reyna pun menarik tangan Zelfa untuk pergi ke tempat yang agak sepi.
"Fa, kamu ultah hari ini ?",
"Hahah, makasih Reyna atas semua do'a kamu".
"Hah ? aku kan nanya bukan ngucapin kamu".
"Gitu amat, aku ultah loh jangan dikacangin dong, masa' pas ultah malah mau jadi pasta kacang, mau jadi coklat yang manis aja hari ini".
"Jadi kamu beneran ultah hari ini".
"Iya Reyna, udah ya aku kesana dulu, kamu juga gih kasian Deran sendirian kayak tiang listrik disitu", ucap Zelfa yang kemudian berlalu pergi menghampiri tamu undangannya.
Reyna pun menghampiri Deran.
"Mau makan apa Rey ?",
"Puding".
Deran pun sigap mengambilkannya dan menaruh di atas piring Reyna.
"Zelfa beneran ultah hari ini".
"Kan emang ultah, nih nih makan cake juga enak banget nih", tawar Deran sambil menyuapi Reyna.
"Ciee sweet banget suap-suapannya, suapin aku jugalah Der", ucap Albert yang melihat ulah mereka.
"Hahah, nggak bisa, tiba-tiba tangan aku nggak bisa digerakin".
"Huh dasar pelit", decik Albert sambil meninggalkan mereka berdua.
Tiba-tiba ada yang menabrak Reyna hingga dia hampir terjatuh, tapi untungnya Deran sigap dan menangkapnya. Tangan Deran menahan pinggang Reyna dan Reyna bertahan dengan tangan yang saling betaut menggantung di leher Deran. Mereka berdua sempat bertatapan.
"Mengapa seolah waktu telah berhenti ? dan kenapa juga setelah sekian lama aku berpavaran dengannya aku selalu merasa seperti ini setiap menatapnya", pertanyaan Reyna dalam hati yang entah datang darimana.
"Biarkan waktunya berhenti dan bertahan di saat seperti ini", ucap Deran dalam hatinya.
"Para hadirin yang udah dateng malem ini, sekarang udah saatnya kita masuk ke bagian inti acara yaitu peniupan lilin", ucap MC yang mengacaukan tatapan mereka.
Reyna pun bangun dibantu oleh Deran dan mereka menuju ke tengah tempat dimana Zelfa akan meniup lilinnya. Reyna pun menautkan tangannya dengan Deran dan pergi kesana dengan bergandengan tangan.
Semua orang berkumpul menyaksikan Zelfa meniup lilinnya dengan semangat.
Potongan kue pertama diberikan kepada kedua orang tuanya lalu Deran dan Reyna. Setelah pemotongan kue acara pun masih terus berlanjut.
"Rey, nanti aku juga mau ngadain acara ultah", kata Deran.
"Hah kamu ?",
"Nggak boleh ya Rey, tapi aku masih mau ngerayainnya".
"Bukan nggak boleh, tapi kan aneh".
"Kenapa harus aneh ? karena aku cowok ?",
"Itu tau".
"Ya, nggak pake balon-balon, kuenya juga nggak warna-warni kayak gitu".
Reyna menjawabnya hanya dengan mengangguk.
"Nanti, saat potongan kue ketiga aku kasih ke kami, aku juga mau buat pengumuman kalo acara itu sekalian peresmian tunangan kita".
Reyna yang mendengar hal tersebut pun menjadi tersedak.
"Minum Rey", kata Deran sambil memberinya minuman.
"Kayaknya aku pernah ngalamin ini".
"Hah ? maksud kamu deja vu ?",
"Bisa dibilang begitu, ini bener-bener mirip cuma ada sedikit perbedaan kecil aja".
"Kadang orang bisa ngerasa deja vu, karena sebelum lahir manusia akan ditunjukkan takdir hidupnya, itulah terkadang kita suka ngerasa pernah ngunjungin tempat yang sama".
"Benarkah ?",
"Iya, ayo kita ngobrol disana aja".
"Baiklah".
"Jadi kamu bersedia kan menikah denganku ?",
"Menikah ?",
"Kalau kamu takut terburu-buru kita bisa tunangan dulu".
Reyna yang kaget pun hanya diam.
"Apa aku tak ada di rencanamu ?", tanya Deran.
"Hah ? Aku malah yang ingin menanyakannya padamu, apa aku masuk ke dalam rencanamu selain bersekolah di luar negeri ?",
"Tentu kamu ada di dalamnya. Aku sudah berjanji selalu ada untukmu, aku tak akan meninggalkanmu, apa kamu hanya ingin aku ada bukan..",
Reyna mencegah Deran melanjutkan perkataannya dengan memegang tangan Deran.
"Aku ingin menikah denganmu, tapi aku masih tak menyangka..",
"Apalagi yang tidak kamu sangka, aku pasti akan menikahimu, aku tidak ingin kehilanganmu, aku ingin kita menua bersama", kata Deran yang langsung memeluk Reyna.
"Hey, sini kalian apa yang kalian lakukan disana sampe peluk-pelukan ini bukan film", panggil Zelfa.
Mereka pun mendekat.
"Kalian ambil pose gih disini, bagus nih tempat, sayang kalo nggak foto", ucap Zelfa.
"Ayo Rey", ajak Deran sambil membenarkan rambutnya.
"Rapi nggak Rey ?", tanya nya pada Reyna.
"Kamu akan tetap tampan meskipun rambutmu acak-acakan", jawab Reyna.
Saat Reyna berjalan, cermin besar setinggi dirinya yang berada tak jauh dari tempat itu pun pecah secara tiba-tiba hingga membuat semua orang yang ada disitu kaget. Perasaannya menjadi tak enak dan Reyna tak bisa berkata apa-apa lagi ketika melihat ada orang dengan wajah yang mirip dengannya berdiri di atas pecahan cermin itu. Reyna menunjuk orang itu dan berteriak..
"Siapa kamuuu ?",
"Kamu yang siapa ?",
Reyna pun tersungkur ke bawah.
"Aku kenapa ? aku pernah mengalami ini, mengapa hal ini kembali terjadi ?", Reyna memegang kepalanya.
Deran dan Zelfa hanya menatapnya padahal biasanya mereka akan membantu Reyna. Mereka seperti tak lagi mengenal Reyna, mereka malah menyambut kedatangan orang itu. Saat Reyna menatap mata Deran, Deran malah membuang mukanya dan menatap orang dari cermin itu dengan tatapan dalam penuh makna yang biasanya hanya Reyna yang bisa melihat dan merasakan ketulusan itu. Reyna menangis sejadi-jadinya merasa ada yang hilang dalam tubuhnya. Reyna kesakitan sambil memegangi dadanya sementara air matanya menetes tanpa bisa ditahan lagi. Ia kembali berteriak.
"Siapa kamuuu ?",
"Aku adalah Reyna, kamu yang siapa ?",
"Pergilah, kamu bukan Reyna, aku yang Reyna".
"Aku Reyna dan semua yang ada disini adalah bagian kehidupanku".
"Tidakkkk, ini adalah kehidupanku", teriak Reyna sambil menutup telinganya karena saat itu ada suara dengungan yang entah berasal darimana yang membuat ia tak sadarkan diri.