SAGITA-RIUS

SAGITA-RIUS
Malu



Pagi ini Gita sudah bersiap dengan seragam sekolahnya. Waktu baru menunjukkan pukul 5.45, masih ada 15 menit lagi. Ia memang biasa berangkat jam 6.


Gita lupa menyiapkan buku semalam. Jadi, ia baru saja selesai mempersiapkan yang perlu dibawa beberapa saat lalu. Ia juga membawa jaket. Niatnya nanti ia bersama temannya akan menonton bioskop terlebih dahulu. Ada film horor terbaru yang katanya seru.


Setelah siap, ia segera mengabarkan sang ayah. Tiap pagi ia memang biasa diantar. Hanya pulang saja yang mandiri.


Melihat putrinya sudah siap, Satrio—ayah Gita pun secepatnya menyalakan mesin motornya dan melaju untuk mengantar sang putri kesekolah.


......................


Suasana pagi menjelang siang ini cukup ramai. Ada yang baru di kantin hari ini. Yaitu eskrim. Tentu saja hal itu membuat banyak murid, terutama perempuan untuk membelinya. Tak terkecuali Gita. Cewek itu sudah menarik Rista dan Kaila untuk berjalan cepat menuju kantin.


Setelah tiga gadis itu memegang eskrim, mereka melangkah mundur. Yang paling terlihat bersemangat tentu saja Gita.


"Woy, eskrim berapaan?" tanya Aldo. Dia adalah anak jurusan lain yang sudah mengenal Rista sejak lama. Makanya, nanti ia termasuk orang yang ikut ke bioskop.


"Yang gue pegang 5 ribu, punya Gita 3 ribu, punya Kaila 4 ribu." jawab Rista, Aldo pun mengangguk dan segera pergi ketempat eskrim. Dibelakang nya, ada Rama teman sekelas Aldo yang nanti juga ikut menonton.


"Lo nggak niatan beliin Rius, Ta? Siapa tau suka," rupanya, ucapan Kaila itu didengar oleh Rama dan membuatnya enggan berlalu. Merasa penasaran dengan topik yang dibahas.


"Mana ada cewek yang beliin, yang ada juga Rius harusnya beliin Gita!" pungkas Rista membuat Kaila berdecak.


"Kan biar Rius tau kalo Gita suka sama dia, peduli gitu. Nah kalo udah Rius suka balik juga pasti dia bakal beliin eskrim juga nantinya," Gita terlihat menimang-nimang saran tersebut.


Tiba-tiba Rama menyela, "Sorry motong. Tapi, Gita—lo.. Suka sama Sirius?" tanya cowok itu penasaran.


Belum sempat Gita menjawab, sesosok laki-laki yang baru saja datang mengundang Gita untuk mengarahkan telunjuk nya ke bibir. Memberi kode pada Rama agar jangan membahas hal tadi. Justru, ini membuat Rama semakin yakin dengan pertanyaannya tanpa mendengar jawaban dari mulut Gita langsung.


Rama menepuk pundak Rius, "Eh Us, apa kabar?"


"Oh, baik," Gita membelalakkan mata ketika mendengar respon Rius. Ini dia cuma sekadar jawab agar tak dibilang sombong, bukan?


"Nanti balik bareng ya, Us."


"Ih apa sih sok kenal," entah kerasukan atau apa, yang jelas kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir mungil Gita.


Rius mengacungkan jempolnya kepada Rama, kemudian menoleh kepada Gita.


"Emang kenal kok, temen SD."


"Oh— HAH?"


Mamp*s Gita.


Malu-malu dah tuh kamu.


Gita benar-benar langsung kabur tanpa mengucap apa-apa, bahkan sahabatnya masih berusaha mencerna beberapa saat sebelum menyusul gadis itu dari belakang.


Sementara itu, Rius dan Rama masih berada di tempat yang sama. Rama tertawa puas karena reaksi Gita seperti yang dibayangkan. Ia memang sengaja tidak memberitahu kalau ia adalah teman SD Sirius.


Sirius tak jauh berbeda ekspresinya. Ia tertawa karena merasa gemas ketika gadis mungil itu berlari.


......................


"SAMA ANJIR, B*GO BENER TEMEN LU HAHAHA—UHUK UHUK!"


"MAMP*S GUA MAH, KENA KARMA KAN LO BERDUA KETAWA MULU!"


Gita sudah malu sebab perkara dikantin, dan kini ia harus menanggung kesal karena ditertawakan oleh kedua sahabat nya itu.


"Kai, tukeran sih. Gue ditengah," mohon Gita.


Bagaimana tidak? Posisi duduk Gita dipinggir, dan disebelah kiri nya langsung meja Sirius. Kalau begitu caranya, ingatannya mengenai kejadian tadi akan terus berputar. Malu masalahnya, malu! Kalian tahu tidak?


"Gak gak, abis ini PKN. Nanti gue jadi korban tunjuk guru itu kalo disitu, nggak mau!" tolak Kaila keras. Gita pun beralih kepada Rista dan memberikan tatapan melas.


"Ristaaa cantiiiik, hehe gue di pojok ya? Pleaseee!"


Rista memberikan senyum manis, membuat Gita ikut menyunggingkan senyum karena pasti sahabatnya itu tak akan menolak permintaannya.


"Hehe, gak bisa. Udah enak gue dipojok bisa nyender."


Gita refleks menendang meja sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras dan membuatnya menjadi pusat perhatian selama beberapa detik. Setelahnya, anak kelas kembali beraktivitas meski menggelengkan kepala sebab menganggap Gita aneh.


Bel masuk berbunyi. Gita berharap semoga Rius sudah melupakan kejadian tadi. Atau, sebisa mungkin gadis itu tidak memberikan interaksi sebelum rasa malu nya mengenai kejadian tadi berkurang.


Semua murid yang tadinya masih diluar kini semua sudah ada didalam kelas. Termasuk Sirius. Ia beberapa kali menoleh kearah Gita, membuat gadis itu menahan diri untuk tak ikut menoleh dan menyebabkan eye contact.


Tidak ragu lagi, Rius betul-betul berhenti menoleh dan fokus memandang Gita tanpa berkedip. Gita mengetahuinya. Pipinya yang memerah sudah membuktikan bagaimana keadaan jantungnya saat ini. Ia menopang pipinya menggunakan tangan kirinya agar Rius tak dapat melihat jelas semburat merah di pipinya. Apalagi kalau sampai ketahuan sebab ia blushing adalah gara-gara ditatap selekat itu oleh dirinya.


Untungnya, sang guru sudah masuk ke kelas. Membuat Rius yang tadinya menidurkan kepalanya dimeja sekarang duduk dengan tegak.


Sang guru memberi tugas merangkum dan membuat seisi kelas hening. Sedang mode rajin, jadi segera mengerjakan tugas. Biasanya mah, boro-boro.


Santai dulu gak sih? Kata anak 10 Meka.


Pluk!


Pulpen Gita terjatuh. Ia pun berinisiatif untuk mengambilnya dengan cepat. Namun, kejadian tak terduga rupanya benar-benar terjadi. Bagaikan di drama-drama, tangannya bertumpuan dengan tangan Rius.


Rius juga tidak tahu mengapa ia ingin sekali mengambil pulpen tersebut dan berniat mengembalikannya. Niatnya. Ia tidak tahu akan terjadi insiden bersentuhan tangan.


Baik Gita maupun Rius terpaku selama beberapa saat. Tak lama kemudian, terdengar deheman sang guru.


"Ehem, lagi waktunya pelajaran ya ini. Pacaran nya nanti lagi," sindirnya.


"Tapi kita gak—" belum saja Gita selesai membantah, suara Rius terlebih dahulu menginterupsinya bersama sang guru.


"Iya bu, maaf ya." ujar Rius membuat Gita menganga. Ini cowok tidak ada niat menyangkal apa ya? Kan mereka tidak berpacaran.


Tidak munafik sih sebenarnya, Gita senang Rius tidak menyangkalnya. Tapi masalahnya, Gita jadi bingung ini orang apakah suka balik kepadanya atau hanya bercanda saja? Nanti udah baper, eh ternyata main-main saja. Tidak lucu kan? Jadi badut.


Lagipula, perlakuan Rius selama ini memang abu-abu dan penuh tanda tanya. Tidak pernah menolak perhatian Gita, tetapi tidak juga maju untuk memberi perhatian balik. Gita kan jadi bingung mau maju terus atau berhenti saja.


Tetapi untuk saat ini, Gita akan berusaha mendekat agar dapat memastikan nya sendiri. Semoga saja baper nya tidak meningkat, sehingga nantinya tidak terlalu sakit hati.