SAGITA-RIUS

SAGITA-RIUS
Act of service



10 Mekatronika dalam keadaan jam kosong sampai istirahat kedua. Hal ini membuat para murid tengah bersantai. Ada yang bermain game, menggosip, scroll tiktok, atau membaca novel. Ada juga yang mengisi waktu luang ini dengan kegiatan produktif, misalnya melukis.


Ada juga yang suka menjahili temannya, misalkan—


"WOI RENO! BOTOL MINUM GUE SINIIN!"


Reno yang memegang botol minum berwarna hijau milik Gita hanya menjulurkan lidah nya untuk meledek gadis itu. Gita berlari mengejar cowok itu, namun langkahnya terhenti ketika oknum yang ditujunya berhenti terlebih dahulu dan menaruh botol minum tersebut dimeja Rius.


Rius mengangkat botol minum itu dan menyodorkannya kepada Gita. Cewek itu langsung mengambilnya agar cepat terbebas dari situasi bersama Rius.


"Makasih," ucapnya yang dibalas anggukan serta senyuman dari laki-laki yang duduk di baris depan itu.


"Ah nggak seru lo, Us! Masa dikasih gitu aja? Harusnya isengin dulu!" Reno merotasikan bola matanya, membuat Rius menanggapinya dengan gelengan kepala.


Sementara itu, terdengar suara riuh dari bangku belakang. Sudah tiga harian Gita, Rista, dan Kaila mengambil bangku dibelakang. Gita sih yang mengajak, meminimalisir untuk berinteraksi dengan Sirius.


Suara riuh tadi diciptakan oleh Rista dan Kaila yang malah sibuk meledek sahabatnya. Sebab keduanya tahu, Gita tidak akan berpindah hati secepat itu. Dan mereka berasumsi kuat bahwa yang terjadi antara sepasang remaja itu hanya kesalahpahaman semata.


Bukan karena mereka membela Rius atau ingin membiarkan Gita sakit hati. Hanya saja, mereka yakin kalau dua orang ini menyimpan perasaan yang sama. Tidak mungkin kapal yang ditumpangi mereka akan karam. Walaupun mereka terhalang gengsi dan minim pengalaman. Mereka butuh dipancing terlebih dahulu untuk melakukan sesuatu.


Insiden botol minum tak hanya berakhir sampai disitu. Selain Reno, ada Hanan, Dimas, dan Abian yang mengoper botol itu layaknya bola tangan. Untung saja sudah tidak ada isinya. Sayang kan kalau masih banyak isinya lalu digoyang-goyang seperti itu. Nanti tidak higienis kalau kata Rista.


BRAK!


Sebuah suara yang bersumber dari baris terdepan membuat seisi kelas diliputi keheningan. Pelakunya adalah Sirius. Cowok itu mengambil botol minum berwarna hijau yang menjadi bahan candaan teman-temannya sedari tadi dan memasukannya kedalam tas miliknya.


Ia mengetikkan sebuah pesan singkat melalui ponselnya.


...----------------...


^^^Di gue dulu ya botol nya |^^^


^^^Takut dimainin lagi |^^^


^^^Nanti pulangnya gue kasih kok |^^^


...----------------...


Ekspresi Gita yang semula cemberut bahkan hampir menangis itupun berganti menjadi sumringah. Ia memang tidak pandai menyembunyikan perasaannya. Kalau senang, ya tergambar dari raut wajahnya. Begitu pula bila sedih melanda, bibirnya akan mengerucut dan ia bisa terdiam sepanjang hari.


Meski ia terlibat permasalahan—kesalahpahaman sih kalau kata orang-orang, ia tetap saja tidak dapat menyembunyikan raut bahagia nya.


Saat Rius berbalik, Gita segera mengucapkan kata terimakasih. Tanpa suara sih, takut ketahuan soalnya. Ya, walau sekarang kelihatannya anak-anak pun sudah tahu sih. Terbukti dari cara mereka memandang keduanya dengan senyum penuh arti, beberapa anak cowok bahkan bersiul.


Sedangkan para pelaku seperti Hanan, Reno, Dimas, dah Abian saling ber-tos ria begitu melihat rencana yang mereka susun berjalan lancar. Belum tahu saja bahwa teman satunya lagi tengah dilanda galau.


POV SIRIUS


Kejahilan demi kejahilan yang terjadi dihidup Gita rupanya tak terjadi sekali-dua kali. Kini, hampir tiap hari anak-anak dikelas berusaha menjahili nya. Entah mengambil suatu barangnya lalu malah dioper kepadaku, atau berbicara sesuatu yang berakhir menaikkan emosi.


Misalnya, dikatai pendek dan semacamnya. Padahal Gita tidak pendek. Kalian nya saja yang kelewat tinggi. —Sagita Miranda 2023 tapi diwakilkan oleh Sirius Dalawangsa.


Aku sendiri memilih menghabiskan waktu untuk bermain game bersama para sahabatku. Sayangnya, ketika sedang fokus, sebuah kejadian menarik perhatianku.


Yaitu pemandangan dimana Gita dan Rista baru saja masuk kedalam kelas. Sepertinya habis dari toilet. Pantas, aku cari-cari tidak ada yang berisik sedari tadi. Ternyata orangnya pergi toh.


Jamkos yang lagi-lagi terjadi membuat banyak murid diserang kantuk. Tak terkecuali Gita. Dia berusaha menidurkan diri di meja dengan posisi wajah yang ditutupi oleh lipatan tangan.


Tentunya aku tahu. Aku memang terlihat fokus dengan layar hp, tetapi aku cukup dapat menebak bahwa yang dia lakukan saat jamkos tak lain dan tak bukan adalah tidur. Atau mungkin membaca novel online di sebuah platform menggunakan hp.


"Tukeran dong," Kaila entah sejak kapan berdiri disamping mejaku. Aku menunjuk diriku sendiri untuk memastikan apakah benar aku yang dia ajak bicara?


"Iya, elo. Males dibelakang dingin banget." penjelasan itu tak mampu menghilangkan tanda tanya di benak ku. Malas berdebat atau berbicara banyak, aku dengan cepat pindah ke kursi belakang.


Oh, baik. Sekarang aku paham. Kursi yang kosong itu disebelah Gita. Pasti alasan utama Kaila meminta tukar bangku adalah agar aku dapat duduk disamping Gita. Bukan karena suhu nya dingin. Sebab dibangku depan suhu jauh lebih dingin dibanding disini.


Apapun itu, terimakasih Kaila. Kamu memang sahabat terbaik Gita. Tunggu, memangnya Gita mau duduk disampingku? Orangnya sedang terlelap, aku tak kuasa membangunkannya. Ketika bangun, bagaimana reaksinya ya kalau tahu disampingnya bukan lagi ada Kaila melainkan aku?


Rista mengucapkan sesuatu, memberitahu kalau meja milik Gita itu sudah lapuk dan mudah bergoyang. Untungnya untuk saat ini otak ku dapat diajak berkompromi dan memahami ucapan Rista dengan baik.


Aku menaruh hp ku sejenak dan menahan bagian atas meja menggunakan tangan kiriku. Tangan kanan ku kembali memegang hp. Namun, tidak lagi bermain game. Membaca komik online saja agar lebih mudah dijangkau dengan satu tangan.


Cewek disampingku tipe yang tidak mudah terbangun rupanya. Keadaan kelas yang seberisik ini saja ia dapat tertidur nyenyak. Telinganya sebenarnya terbuat dari apa? Itulah yang aku pikirkan beberapa kali.


Anehnya, kalau sudah sadar dan bukan dalam keadaan tidur, dia sangat peka dan cepat tanggap soal pelajaran. Di hal lain agak lemot sih pemikirannya. Itu yang aku lihat belakangan ini.


Tidak lama, Gita melenguh sedikit. Perlahan, netranya membuka.


"Loh, perasaan tadi masih goyang?"


Gita dibuat heran dengan kondisi meja nya yang mulus dan bagus. Padahal, tadi pagi meja nya masih yang lapuk dan kayu alas nya bergoyang membuat ia tidak nyaman dalam menulis.


Ia menoleh, dan baru sadar kalau—


"LOH, LO NGAPAIN DISINI?!"


Ada aku disampingnya. Bukan lah Kaila lagi. Tentu saja ia terkejut.


Sebelum sempat ia berteriak lagi, aku segera membekap mulutnya dengan telapak tanganku. Ia memberontak lewat kontak matanya yang seakan mencuat keluar.