SAGITA-RIUS

SAGITA-RIUS
Aku-kamu



"Kok lo pake? Pakein langsung kesini lah." Sirius menunjuk kerah seragamnya.


Gita berdecak, tapi tak ingin membantah dan menguras tenaga nya lebih banyak. Ia menarik kerah seragam lelaki itu. Rupanya tenaga Gita agak kencang begitu menariknya, sehingga jarak wajah mereka sangat minim. Mungkin hanya sekitar beberapa centimeter.


Indra penglihatan gadis itu mengerjap cepat. Ia meneguk saliva nya menyadari hal bodoh yang baru saja ia lakukan. Tetapi tak kunjung bergerak. Justru terpaku akan wajah tampan dan tidak membosankan dihadapannya.



1 detik...


'matanya bersinar, bikin siapa aja ikut jatuh kedalam netra gelap itu'


2 detik...


'hidungnya bangir, kaya perosotan hihi. itu kalo aku cubitin pasti gampang merah karena kulitnya putih. eh, kalo lagi flu gimana ya?'


3 detik...


'baru sadar rambut dia agak panjang, pasti lucu dimainin. eh atau kalau lari, tuing tuing gitu pasti gemeees. aduh lupa juga, paling bentar lagi potong atau kena razia sih.'


4 detik...


'alisnya udah kebentuk alami gitu ya, tebalnya pas lagi. nggak perlu ribet kaya cewek dipensilin lagi. bulu matanya juga perfect lentik, idaman cewek-cewek.'


5 detik...


'bibir. bagaimana bisa bibirmu berwarna merah muda alami seperti itu? apa kamu pakai perawatan madu lemon gula gitu ya? jadi pengen—'


Astaga! Cukup!


Pikirannya tidak jelas. Semua ini karena tipu muslihat dari wajah sang rupawan seorang Sirius Dalawangsa. Sudah beberapa minggu ini mereka kembali dekat sih. Rius juga sudah meluruskan masalah waktu itu, hanya saja belum menyatakan perasaannya secara langsung dan berkata ia menyukai Gita.


"Malah bengong, gue tau gue ganteng." ujar cowok itu percaya diri, Gita semakin ingin menenggelamkan wajahnya di dalam danau terdekat dari sini.


Gita ingin segera menyelesaikan kegiatan mengikat dasi ini.


"CIEEE, udah cocok jadi pasutri!" seru salah satu anak kelasnya.


"Alah calon istri calon istri, minimal jadian dulu lah dek!" imbuh Abian membuat seisi kelas bersorak, mendukung apa yang laki-laki itu katakan barusan.


"TAU HUUU!"


......................


"IH, CHOKI-CHOKI GUE MANA RISTA?"


Gita lupa untuk mengecilkan suaranya, menyebabkan seisi kelas menoleh ke bangku belakang. Ia menyatukan kedua tangannya sebagai tanda permintaan maaf karena telah mengganggu kenyamanan mereka dalam beraktivitas.


"KAN TADI ELO TARO DITEMPAT BOTOL MINUM YANG SAMPING KIRI!" Rista ikut berseru, kesal karena sifat pelupa yang dimiliki sahabatnya.


Dahulu HP, hampir ketinggalan. Lalu earphone, yang ditemukan oleh temannya yang piket. Untung teman sekelas nya masih mau jujur. Botol minum juga pernah, sampai ia lama sekali memikirkan jawaban yang akan dia beri untuk mamanya nanti.


"Ih, padahal mau gue taro diatas cupcake ini biar coklat nya mantep." gumam Gita yang rupanya dapat didengar Dimas, salah satu tim sukses Sagita-Rius.


"TA TADI COKLAT LO SAMA RIUS TA!" seru Hanan.


"HAH? KOK BISA?" tanya nya tak percaya.


Hanan mengangkat Choki-choki didepan meja Rius tinggi-tinggi, "NIH, INI KAN?" ucapnya semangat.


"Oh, punya kamu ya?" tanya Rius, Gita mengangguk cepat.


Tunggu.


Ada yang janggal.


KAMU?!


'Rius kesambet kah?' Batin Gita.


"Maaf ya, soalnya tadi jatuh aku pikir bukan punya kamu. Udah aku gigit, nanti aku ganti 5. Serius."