SAGITA-RIUS

SAGITA-RIUS
Cemburu?



Hubungan Rius dan Gita kian membaik. Rius sih yang harus mendekati gadis itu duluan. Namun setidaknya respon Gita lebih baik dibanding sebelumnya. Gadis itu sempat bersikap masa bodoh setelah insiden itu. Sekarang, sepertinya sudah lumayan terbiasa.


Hari ini Rius dan Deon tidak ada dikelas. Mereka tengah mengikuti ujian Bahasa Indonesia tingkat provinsi. Gita merasa sedikit kosong. Percaya atau tidak? Sudah beberapa hari ini Rius selalu mengajaknya mengobrol dan membahas hal-hal random jika tidak ada guru.


Ia awalnya berpikir kalaupun kisahnya dengan Rius berjalan mulus, tetapi sulit untuk menyatukan isi pikiran mereka menjadi padu. Dari segi kepribadian saja sudah berlatar belakang, itu yang membuat nya ragu.


Gita ekstrovert. Rius introvert. Bukankah lebih baik begitu? Jadi bervariasi rasanya jika mereka benar-benar bersama nantinya. Pasti menyenangkan. Dan itu yang ditunggu anak-anak dikelas. Mereka kelewat geram dengan interaksi keduanya yang sudah seperti pasangan baru dimabuk asmara tetapi tak kunjung ada kepastian.


Gita, cewek itu menghela napas begitu mengingatnya. Ia tidak pernah meminta lebih dari ini, dekat saja cukup. Dulu. Saat ia yang mendekati Rius duluan. Sekarang kenapa rasanya lain ya? Sangat terasa jelas bahwa ia digantung. Dan itu tidak enak, mengganggu pikirannya.


Akankah Rius hanya main-main kepadanya? Bukannya apa, hanya ia yang diperlakukan seperti ini oleh lelaki itu. Anak cewek lain bahkan berinteraksi dengannya hanya saat kerja kelompok.


Masa iya Gita yang notabene nya perempuan harus menyatakannya terlebih dahulu? Kan tidak elit!


Cklek!


Pintu terbuka. Membuat pikirannya yang bersifat macam-macam itu pun sirna. Gita menahan senyum kala tau siapa sosok yang membuka pintu. Seseorang yang selama ini, contohnya tadi, mengganggu pikirannya.


Rius terlihat memasang wajah puas, skor nya yang tertinggi diantara peserta tadi. Sementara Deon, ia tersenyum miring kearah Rius.


"Cie cie yang dimintain nomor WA sama cewek," godanya, Rius hanya berdeham acuh untuk merespon nya.


"Rius? Dimintain nomor?" tanya Abian tak percaya. Kawannya itu memang keren, tetapi sangat buruk dalam hal komunikasi atau berkenalan dengan orang baru. Apalagi terhadap kaum perempuan.


"Iya, serius. Katanya sih temen SMP nya," jelas Deon mengingat-ingat.


"Terus dikasih nggak?" Hanan ikut penasaran dengan topik pembicaraan para temannya.


"Dikasih, gampang banget. Sekali minta langsung dikasih," Abian merespon nya berlebihan, sampai menutup mulutnya tak percaya.


"Namanya siapa?" tanya Abian, sebab ia dulu satu sekolah dengan Rius dimasa SMP. Siapa tahu Abian mengenalnya.


"Jihan,"


"OH, DIA! Kenal gue, Us."


Apalagi, diseberang meja yang Rius duduki ada kobaran api cemburu yang menyala layaknya api unggun. Gita meremat kertas ditangannya sampai tak berbentuk. Dirasa puas, ia akan merobek kertas tersebut menjadi bagian yang kecil-kecil.


"Nanti malem sih kayanya bakal ngechat," ujar Deon, sepertinya sengaja membuat keadaan semakin panas.


"Yah Gita, cemburu ya Ta," kalimat itu membuat Rius menoleh sepenuhnya ke meja seberang.


"Ngga kok, apaan sih. Aman gue," elaknya, tetapi kedua sahabatnya jelas tahu jika raut wajah gadis itu berubah. Tidak bersemangat seperti tadi diawal-awal.


Katanya sih aman. Tetapi meja digebrak cukup keras barusan. Untung gurunya baru masuk setelah meja digebrak.


Sang guru memberi isyarat untuk berdoa. Semuanya dengan khusyuk berdoa sebelum memulai pembelajaran. Beliau rupanya tidak memberi materi baru hari ini. Melainkan hanya mengambil nilai dari tugas minggu lalu.


Gita maju untuk mengumpulkan tugasnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Padahal, biasanya ia akan menawarkan kepada yang lain ingin menitip atau tidak.


Yang merasakan perubahan itu ternyata bukan hanya Rista dan Kaila saja. Namun, Rius juga. Cowok itu memberanikan diri untuk bertanya kepada mereka berdua mengenai apa yang terjadi pada Gita.


"Marah sama lo," kata Rista setengah berbisik. Rius menggaruk kepalanya bingung.


"Kenapa sama gue?"


"Ih, blo*n ya. Lo kan ngasih nomor ke cewe jurusan lain itu!" seru Kaila geram.


"Kan cuma bagi nomor bukan bagi hati," jawab Rius enteng, Kaila dan Rista saling berpandangan sebelum saling menepuk jidat masing-masing.


"Tetep aja. Kok lo bisa segampang itu ngasih?"


"Karena dia satu SMP sama gue, gapapa lah," sanggah Rius.


"Alah b*doamat ya, Us. Lo urus tuh Gita, kita mah udah peringatin kalo dia lagi marah," Kaila menggantung ucapannya.


"Last info sih, Gita tipe orang yang cemburuan."