SAGITA-RIUS

SAGITA-RIUS
Jangan nangis



Hari ini di SMK Sainteka tengah mengadakan Penilaian Akhir Semester. Semua siswa dan siswi tengah sibuk berkutat dengan pena dan kertas yang ada diatas meja masing-masing. Urutan tempat duduk ditentukan melalui absen.


Sirius dan Sagita yang absen nya berdekatan pun ditakdirkan duduk bersebelahan. Gita merasa ini bukan takdir yang baik. Bukan masalah apa, tetapi membayangkan mengerjakan soal disamping Rius saja ia belum yakin akan fokus atau tidak.


Bagaimana kalau justru ia tidak fokus? Salah menjawab? Atau lebih parahnya seakan otaknya kosong dan malah kertasnya kosong tak bercoret? Kemungkinan terakhir hanya memiliki persentase 60%.


................


Ujian matematika baru saja berakhir, ditandai dengan bel yang khas setiap penilaian akhir tahun. Banyak murid yang langsung berhamburan keluar kelas.


Gita memijat pelipisnya agak kencang demi menghilangkan pusing yang tak mempan diminumi obat. Ini namanya serangan matematika, memusingkan.


"Ish," Gita mendesis ketika menyadari botol minum nya tidak berada pada bagian samping tas. Ini pasti lagi-lagi ulah Reno dan kawan-kawan.


"Apa kenapa? Botol minum lagi?" tanya Kaila, Gita menganggukkan kepala.


Gita mengitari kelas untuk mencari dimana botol nya disembunyikan. Menjelajahi bangku satu persatu, tapi tak kunjung menemukannya.


Dibelakang kelas, terdapat sebuah lemari kayu yang biasa digunakan untuk menyimpan buku paket atau alat olahraga seperti tali skipping atau kok bulutangkis. Lemari itu besar dan tinggi. S*alnya, diatas lemari tersebut lah terdapat sebuah objek yang sedang dicarinya.


Ia hanya terdiam dan memandang objek tersebut beberapa saat. Baru lah ia mengambil bangku untuk menggapai botol minumnya. Tidak ada tenaga untuk berteriak lagi, nanti saja marah-marahnya.


Belum sempat naik ke bangku, seseorang meloncat dibelakang nya dan meraih botol tersebut.


"ANJ*Y ACT FOOL ACT FOOL ACT FOOL!"


Gita membalikkan badan. Sedikit mengangkat kepalanya karena oknum yang sejak tadi menjadi pusat perhatian satu kelas itu lebih tinggi darinya.


Sirius, tangan cowok itu menyodorkan botol minum yang baru saja ia ambil dari atas lemari. Ia mensejajarkan tingginya dengan Gita dan menepuk puncak kepala gadis itu dua kali.


"WOAHHHH ACT FOOL ACT FOOL ACT FOOL!"


Seisi kelas semakin riuh. Rius menggelengkan kepalanya sebab tahu bahwa konsekuensi yang akan dia terima dari tindakannya ya kurang lebih seperti ini. Sudah diperkirakan terlebih dahulu.


"Makasih" ucap Gita tanpa suara. Rius membalasnya dengan senyuman manis.


................


Suasana hati Gita sangat buruk. Setelah mata pelajaran bengkel yang menguras otak, ditambah anak kelas yang suka bertanya mengenai pelajaran. Bukannya pelit, cuma tahu lah rasanya saat kamu sendiri pun kebingungan malah ditanya. Tentu makin pusing.


Gadis itu menelungkupkan kepalanya ke meja. Beruntung sudah tidak dibengkel dan berpindah kelas. Juga ia yang mendapat tempat duduk tepat dibawah Air Conditioner. Setidaknya dapat mendinginkan kepalanya sedikit.


Dikabarkan bahwa sang guru yang mengajar dua jam kedepan tidak masuk, rencananya ia akan tidur sekejap untuk menghilangkan rasa kantuk dan penatnya.


"Git,"


"Ta,"


"Gita,"


Sayangnya, semua tak seindah ekspektasi nya. Suara-suara yang memanggilnya itu membuatnya tidak jadi terlelap.


"BERISIK!" ia berteriak kesal seraya menggebrak meja. Sudah kepalang naik darah.


Ia kembali menelungkupkan kepalanya. Isak tangis mulai keluar karena ia terlalu lelah. Ia memang cengeng bila sudah kelewat lelah. Sudah ia coba untuk dewasa, namun rupanya masih ada sisi lemah yang harus terlihat disekolah. Padahal, ia sudah berjanji untuk menunjukkan sisi lemahnya hanya kepada dirinya sendiri.


Tiba-tiba, bahunya dirangkul dan ditepuk berulang kali oleh seseorang.


"Makanya jadi tinggi."


Gita mendongakkan kepalanya tanpa menengok kesamping kanan. Dengan amarahnya yang memuncak, ia menendang sosok disampingnya. Lumayan kuat tendangannya, hingga Rius meringis.


Dirasa emosi Gita tak terkontrol, Rius berdiri dan memegang pundak gadis itu dengan sedikit kencang. Membuat badan Gita mau tak mau menghadap kepadanya. Ia meneliti wajah mungil gadis itu yang masih ditandai jejak-jejak air mata. Tangannya mengusap jejak-jejak tersebut dan mengakhirinya dengan tepukan di pucuk kepala gadis itu, seperti biasanya.


"Jangan nangis."