SAGITA-RIUS

SAGITA-RIUS
Official



Hari demi hari, kedekatan Sagita-Rius sudah berkembang pesat. Sagita yang dibantu oleh Rista untuk memberi kode tertentu. Dan Rius yang dibantu Hanan untuk mencoba melangkah lebih dulu.


Seperti semalam. Kedua remaja itu membicarakan tentang cetakan cupcake. Gita ingin membuat cupcake, dan kebetulan mama Rius itu jago soal dapur, apalagi di bidang kue dan roti.


Tidak ada perayaan khusus mengapa Gita ingin membuat cupcake. Ia dan Rista mencoba hal random saja. Yaitu merayakan valentine. Aneh bukan? Padahal ini tanggal 14 Mei, bukan 14 Februari. Ini ide Rista sih sebenarnya.


"Buat aku mana?" Gita menunjukkan kedua telapak tangannya yang kosong dan mengedikkan bahu.


Gadis itu sengaja tidak memberi tahu terlebih dahulu kalau ia juga sengaja membuatkan Sirius. Biarlah ketika sepi nanti baru ia beri secara langsung.


"Dih gitu, harusnya buat aku ada juga," keluhnya tak terima, terlihat lucu dimata Gita.


"Iya, maaf yaa. Nanti kalo aku buat lagi, penerima utamanya pasti kamu!" cewek itu menepuk bahu Rius untuk memberi semangat. Membuat laki-laki itu mendengus kesal.


......................


Kelas olahraga, diisi dengan materi lempar lembing dan tolak peluru. Seperti biasa, pengambilan nilai untuk materi ini dimulai berdasarkan absen. Dan tidak disesuaikan gender, alias bercampur laki-laki dan perempuan.


Huruf demi huruf terlewati. Kini pemanggilan absen sudah berada di inisial S.


"Sagita Miranda."


Gita yang tadinya berada di posisi jongkok pun berdiri. Tangannya bergerak melempar kedua benda berat itu agar sesuai dengan garis atau jarak yang ditentukan.


"Lumayan bagus, 82." titah sang guru begitu Sagita menyelesaikan materi dengan baik.


"Sirius Dalawangsa."


Sirius pun maju. Kepalanya menoleh kesana dan kemari untuk mencari peluru yang dipakai untuk kaum laki-laki.


"Itu loh, sayang." tunjuk Gita menggunakan dagu ketika sebuah peluru untuk putra tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Gita belum sadar kalau ia telah mengatakan itu.


"Makasih, sayang."


Mata Gita terbelalak. Baru menyadari apa yang ia katakan beberapa saat lalu. Astaga, bisa-bisanya?! Sang guru sampai dibuat melongo atas interaksi mereka.


"Kalian pacaran?"


"Iya pak!" bukan mereka yang menjawab, melainkan teman sekelas.


"Cocok, lucu. Semoga langgeng ya!"


Tolong, bawa Gita pergi ke Mars karena DIA KELEWAT MALU SAAT INI JUGA!


......................


Sepulang sekolah. Gita memberanikan diri untuk memberi Sirius cupcake buatannya. Ada juga surat yang terselip diluaran cupcake dan dilapisi menggunakan sebuah label kecil.


Baik Gita maupun Rius enggan beranjak. Padahal, didepan kelas tersisa mereka berdua saja.


"Mau eskrim?" tawar Rius tiba-tiba.


Gita mengangguk semangat mendengar tawaran itu.


"Beli lah."


Melihat raut wajah cemberut Gita membuat Rius tertawa.


"Bercanda, ayo beli. Kamu nggak rapat kan?" Gita mengangguk antusias seraya tersenyum.


......................


Kedua remaja itu benar-benar datang ke kedai eskrim dan menikmati makanan dingin itu bersama. Terasa nikmat karena dilahap bersama pujaan hati.


Mereka mengobrol ringan. Sampai dimana, entah dorongan siapa Gita ingin membahas perihal 'mereka' yang berjalan tak pasti.


"Orang-orang ngira kita backstreet." awalan itu dibuka oleh Gita.


"Bukannya orang taunya kita pacaran ya malah?" tanya Rius balik.


"Ya tapi kan kita nggak pacaran, itu cuma asumsi mereka aja jadi kesannya pura-pura," Gita menyedot minumannya yang sisa sedikit hingga tandas.


"Kalau gitu..." Rius menggantung ucapannya.


"Kita pacaran beneran aja." jawabnya, membuat Gita melongo. Tidak menduga bahwa itu jawaban yang akan diberikan. Ia pikir Rius akan berhenti disini.


"Lo jangan bercanda, gue nggak mau yang dulu keulang lagi." Gita memberanikan diri untuk berbicara setelah menetralkan detak jantungnya yang menggila.


Sirius menghela napas dalam, sebelum berkata.


"Gue suka lo, Sagita Miranda. Lo berhasil luluhin gue dengan usaha lo dulu-dulu. Dan gue kemakan omongan sendiri karena nggak nyangka bakal jatuh juga ke pesona lo. Lo lucu, positive vibes, dan gue seneng setiap kali ada disamping lo."


"Tapi gue ragu, karena kita bakal sekelas selama tiga tahun. Gimana kalau putus dan canggung? Itu pikiran gue awalnya. Dan sekarang berubah. Lo mau nggak nemenin gue selama tiga tahun itu dan mempertahankan agar apa yang gue takutin nggak terjadi?"


Gita benar-benar terkejut sampai tak mampu berkata-kata. Yang dapat ia lakukan hanya menyodorkan jari kelingking nya dihadapan Rius.


"Please don't say gue. Aku mau. Aku mau kita bareng, bahkan lebih dari tiga tahun yang kamu minta itu. Aku juga sempet ragu karena insiden kita dulu, tapi sekarang ragu itu udah hilang. Kamu punya aku, aku punya kamu. Kita adalah kita mulai sekarang dan seterusnya. janji?"


Sirius menautkan kelingking nya pada jari mungil tadi.


"Janji."


...END...