
Gita masih memikirkan kata-kata Deon tadi siang. Ia juga sebenarnya tahu, kalau Rius tipe orang yang sulit didekati. Ia juga tidak ada niat lebih dari ini kok, jadi tidak terlalu banyak berharap. Ya, sebelum perlakuan Rius terkesan 'istimewa' seperti akhir-akhir ini sih.
"Lo kenapa?" Gita menggeleng, membuat Rista menyatukan alis.
"Nggak mungkin, diem gitu tiba-tiba. Masalah apa? Sirius?" Gita mengangguk lesu, sudah malas menutupi nya. Lagi pula, ia termasuk kedalam golongan orang yang sulit berbohong. Jadi, kalau ia berkata tidak apa-apa Rista tidak akan percaya.
"Gue bingung deh Ris," Rista terdiam, menunggu sang sahabat melanjutkan kalimatnya.
"Ini gue kesannya beneran berjuang sendiri kah?" Gita menghela napasnya sesaat.
"Gue kayanya terlalu pede buat deketin dia, padahal respon dia ya sebagaimana biar nggak dianggap cuek doang,"
"Eh tapi Ta, dia juga sering loh kaya deketin lo duluan gitu,"
"Nitip HP, ngajarin lo dan nanyain bagian mana yang nggak ngerti, minta obat padahal tau lo bukan anak PMR," sela Rista mengingat-ingat kejadian beberapa minggu lalu.
"Itu modus, Ta! Dia nggak tau dengan cara apa lagi harus interaksi sama lo, jadi sebisa mungkin cari kesempatan." lanjutnya.
"Emang iya?" tanya Gita setengah tak percaya. Ia kira memang kebetulan hanya ia yang berada didekat Sirius, makanya cowok itu meminta tolong kepadanya.
"Tapi balik lagi ke lo sih. Mundur ya sana, cuma kalo lo mau maju ya gue dukung garis keras. Semua keputusan ditangan lo, hati juga hati lo. Lo yang bakal ngerasain nantinya."
Gita kembali menghela napas, memikirkan apa yang baru saja diucapkan sahabatnya.
"Hati gue kaya nya nggak mau nyerah deh, Ris. Sadarin gue kalo gue mikir buat mundur lagi." tegas Gita.
"Nah, gitu dong! Baru sahabat gue ini," Rista mengajak Gita untuk melakukan tos.
"Tapi tetep ya Ta. Kalo misalkan dia kasih kode penolakan atau bikin lo sakit hati, harus bilang gue. Biar gue yang nonjok langsung."
......................
"Lanjut minggu depan ya, hati-hati pas pulang."
Sang guru kelihatan buru-buru, beliau langsung meninggalkan kelas setelah materi hari ini selesai. Sudah biasa terjadi ketika pelajaran seni musik. Beliau menjadi salah satu guru aktif yang multitasking¹.
Para murid mulai sibuk memasukkan alat tulis nya kedalam tas masing-masing. Murid yang hari ini bertugas piket juga mulai menyapu dan membersihkan ruangan ini. Tentunya, ini dilakukan setelah berdoa bersama.
Bel pulang masih akan berbunyi 5 menit lagi. Kelas mereka ada di lantai 2. Jadi, murid yang tidak piket masih setia menunggu diluar ruangan. Kata mereka sih, lebih baik turun bersama-sama.
Gita asik memainkan ponselnya, belum sadar bahwa disampingnya sudah ada Abian.
"Gue mau ngasih tau sesuatu, tapi takut lo sakit hati," gadis itu menoleh kepada oknum yang berbicara.
"Soal Rius?" tanya gadis itu. Abian mengangguk.
"Gue udah nanya ke dia soal perasaan dia ke lo, tapi.." Abian hanya menggeleng, tidak berniat melanjutkan ucapannya.
"Dia cuma kasian."
Itu Deon. Entah dari kapan laki-laki bertubuh kekar itu berada didekat mereka.
Gita menggigit bibir bawahnya begitu mendengar pernyataan tersebut. Entah yang dikatakan teman dekat Rius itu benar atau tidak, Gita terlalu malas memastikannya sendiri.
Gadis itu tersenyum paksa, "Oh gitu, oke deh. Makasih ya infonya." Gita turun terlebih dahulu tanpa menunggu teman sekelasnya.
......................
"T*lol banget lo ah, harusnya nggak usah dikasih tau begitu!" Abian tak habis pikir dengan jalan pikiran Deon. Apa dia tidak memikirkan perasaan gadis itu?
"Justru kalo nggak dikasih tau sekarang, nanti dia makin berharap. Makin sakit juga pas tau kebenarannya!" sungut Deon tak mau kalah. Apa yang dikatakannya memang benar sih, tapi— ah sudahlah.
Perdebatan itu masih berlanjut, sehingga menarik perhatian Rius.
"Apaan sih ribut-ribut? Bahas apa?" Rius merangkul pundak Abian, membuat cowok itu mendengus dan merotasikan bola matanya malas.
"Bahas elo, bego!" seru kedua nya bersama-sama, Rius pun terperanjat kaget. Ia menunjuk dirinya sendiri.
"Gue? Kenapa gue?" tanya nya bingung, baru datang sudah diteriaki seperti itu. Mana topik pembicaraan nya dia pula, tega.
Abian menutupi matanya dengan telapak tangan dan tertawa kecil, "Pake nanya!" ia menoleh kearah Deon, memberi isyarat bahwa tidak mau menjelaskan.
"Itu si Gita," ujar Deon.
"Kenapa lagi?" tanya Rius.
"Suka sama lo kan,"
"Ya terus?"
"Tadi Deon bilang lo deketin dia balik karena kasian doang," Abian geram sendiri mendengar obrolan kedua sahabatnya yang mengalir lambat itu.
"Oh," respon Rius yang kelewat santai membuat Abian membelalakkan mata tak percaya.
"KOK OH DOANG SI ANJ*R? LO NGGAK NGERASA GIMANA GITU?" Abian sudah tak kuasa menahan emosinya.
Bukannya apa ya, ia mendukung hubungan Sagitarius garis keras. Dan dia sudah menganggap Gita sebagai adiknya sendiri. Maklum, anak tunggal. Ia ingin punya adik perempuan, dan yang menurutnya tingkahnya kekanakan dan lugu ya Sagita.
"Ya gue harus gimana? Emang bener kok," Rius menggantung ucapannya.
"Bener kalo respon gue ke dia selama ini cuma kasian. Lagian cewe kok keliatan ngejar, nggak elit banget. Daripada dia malu atau gue dibilang sombong, ya gue kasih respon aja," lanjutnya, membuat Abian kehilangan kata-kata. Ia pikir, secuek-cuek nya Rius dengan perempuan, tidak akan separah ini. Bahkan sampai memberi harapan kepada perempuan itu.
"Dengan lo respon gitu dia malah berharap, g*blok! Harusnya dari awal bilang kalo nggak mau, masih banyak yang mau sama dia dan bikin dia mundur dari lo!" untuk kali ini Deon angkat bicara, entah dorongan dari mana.
Saat tengah panas-panasnya, suara seseorang menginterupsi ketiga laki-laki itu.
"Permisi," sapaan halus itu membuat ketiga laki-laki itu membulatkan matanya serentak.
"G-git? Lo dari kapan disitu?" ya, betul. Yang baru saja mengucapkan 'permisi' adalah oknum yang menjadi perbincangan hangat mereka.
"Dari Abian marah-marah deh kaya nya. Belum lama kok, gue cuma mau ambil tempat pensil doang yang ketinggalan." ucapnya santai lalu melangkah kedalam kelas.
Begitu sudah mengambil apa yang ia butuhkan, ia berjalan melewati ketiga lelaki itu tanpa mengucapkan sepatah kata.
Selangkah, dua langkah, lalu ia membalikkan tubuhnya.
"Gue nggak butuh dikasihani."
Ketiga nya saling berpandangan dengan ekspresi yang sulit diartikan,
"G*BLOK BANGET SIH KITA!"