SAGITA-RIUS

SAGITA-RIUS
Memastikan



Pagi ini berjalan cukup baik. Suasana cukup tenang diluar, tetapi tidak dengan kelas 10 Mekatronika. Para murid laki-laki tengah bermain game online bersama. Teriakan demi teriakan serta absen kebun binatang memenuhi seisi ruang kelas.


Sementara para siswi, kini tengah membelah menjadi dua kubu dan melakukan kegiatan yang berbeda. Di sisi depan, tengah berkumpul dan bergosip mengenai tingkah random orang di sekolah. Contohnya seperti orang yang mengirim pesan lewat akun menfess yang ditujukan untuk seorang tukang proyek pembangunan gardu.


Dan satu lagi berkumpul membahas make up sekaligus mencoba nya bergantian. Agak berisiko, untung sedang tidak ada razia. Tetapi untuk meminimalisir, mereka berkumpul di baris belakang.


Gita masuk kedalam kubu pertama. Gadis yang notabene nya memiliki selera humor yang receh itu sejak tadi tidak dapat berhenti tertawa. Sekarang, ia memegangi perutnya yang terasa pegal karena terlalu banyak tertawa.


Beberapa saat kemudian, tawanya mereda. Ini karena tema cerita yang berubah menjadi gosip serius. Bukannya memicu tawa, justru memancing emosi.


Gita tidak terlalu memperhatikan, indra penglihatan nya kini terpatri kepada seorang siswa yang tepat berada dibangku sebelah kirinya. Cowok itu sedang fokus pada layar ponsel dan mulutnya tak berhenti mengucap sumpah serapah.


Anehnya, biasanya Gita akan merasa ilfeel atau kurang respect jika mendengar orang mengucap kata kasar. Ini berbeda. Gita merasa sudah terbiasa mendengarnya. Padahal, ini kali pertamanya mendengar secara jelas dari mulut laki-laki itu.


"G*blok!" Rius membanting hp nya ketika mendapati dirinya kalah dalam permainan. Selanjutnya, ia menoleh kearah kanan dan membuat netra nya bertubrukan dengan mata mungil milik perempuan mungil yang entah beberapa hari ini selalu kebetulan berada didekatnya.


Gita tentu terkejut. Badannya seolah kaku. Ingin memalingkan wajah tetapi gerakannya seolah terkunci. Matanya seolah tersihir dengan tatapan meneduhkan lelaki itu.


"Ta! Kantin yuk!" tanya Rista membuat Gita kembali ke alam sadarnya. Oh, ia sampai tidak sadar bahwa sekarang sudah jam istirahat. Jadi, sedari tadi mereka itu dalam keadaan jamkos sebab guru yang mengajar sedang tidak hadir.


Gita mengiyakan ajakan tersebut dan segera bangkit. Meninggalkan ruang kelas, dan seseorang yang kini masih enggan mengalihkan pandangannya dari pintu kelas yang tertutup.


......................


Gita dan teman-teman menetap di kantin. Biasanya mereka makan dikelas, cuma karena ingin merasakan suasana yang berbeda. Disinilah mereka berada. Rista dan Kaila tengah menyantap mie ayam, sementara Gita membeli batagor. Ia sedang tidak terlalu lapar jadi tidak ikut makan mie ayam.


"Eh, Ta. Gue mau nanya deh," Gita menautkan alisnya, tumben sekali sahabatnya itu izin dulu sebelum bertanya. Biasanya langsung ceplas ceplos.


Gita masih terdiam, menunggu pertanyaan sesungguhnya yang akan dilontarkan sang sahabat. Ia meminum es nya dengan tenang.


"Lo beneran suka Sirius?" Gita yang masih dalam posisi minum itu tersedak. Ia memegangi lehernya ketika tenggorokan nya terasa tercekat karena batuk.


"Buset santai aja, Ta. Respon lo gini udah membuktikan, berarti bener." Kaila tersenyum usil.


"Lo pada denger kabar gituan dari mana?" tanya Gita setelah mulai menetralkan napasnya.


"Ada lah. Lagian keliatan, b*go! lo kan orangnya ekspresif. Sikap lo ke dia sama ke anak kelas yang lain juga beda," Rista menjentikkan jari, setuju atas opini Kaila.


"Gak juga ah, gue ke dia kaya ke temen yang lain kok. Lo pada tau kan gue berteman sama siapa aja," elak Gita yang dihadiahi gelengan keras dari kedua sahabatnya.


"Justru karena lo temenan sama siapa aja, keliatan deh mana yang lo anggep temen dan lebih dari temen." Gita mengerjap, ucapan Rista itu mampu membuatnya bungkam.


Emang keliatan banget ya? Batinnya.


Ia sebenarnya masih denial. Ia merasa senang ketika berada didekat Sirius. Tetapi ada bagian dari hati kecilnya yang seperti enggan mendekat kepada lelaki itu. Entah karena masa lalu nya yang selalu nice try ketika mempunyai crush atau faktor lain yang belum pasti.


"Gue masih belum tau, tapi kayanya iya." Rista dan Kaila ber-tos ria karena Gita mau berterus terang. Mereka hanya tidak ingin Gita menyimpannya sendiri. Sekalipun nanti hasilnya tidak sesuai ekspektasi, setidaknya mereka bisa menemani nya ketika berada di fase galau.


"Gapapa, Ta. Nanti kita bantu biar Rius peka!" ucap Kaila menggebu-gebu disertai anggukan semangat dari Rista. Ini membuat Gita tertawa kecil. Sebenarnya ia tak berharap banyak, tetapi kalau bisa dicoba kenapa tidak?


......................


Hari sudah menjelang sore. Bel pulang kira-kira 5 menit lagi akan berbunyi. Maka dari itu, para murid yang piket hari ini mulai menjalankan tugasnya membersihkan kelas. Sementara yang lain menunggu diluar kelas selagi gerbang belum dibuka. Panas katanya kalau menunggu dekat gerbang nya langsung.


"Cakep ya?" Gita menoleh dan menaikkan sebelah alisnya. Reno justru menunjuk sesosok laki-laki yang kini berada diseberang mereka seraya memainkan ponselnya.


"Oh,"


"Kok 'oh'?" protes Reno, tidak terima akan tanggapan yang diberikan perempuan disebelahnya.


"Ya terus?"


"Lo kan suka Sirius, harusnya jawab cakep kek atau apa kek," Gita membelalakkan matanya, siapa lagi yang menyebarkan informasi ini?


Tetapi reaksi terkejut itu hanya terjadi beberapa saat, ia segera menampilkan senyum kecil sebelum benar-benar menjawab teman sekelas nya itu.


"Kalau lo tau gue suka, harusnya gak perlu nanya lagi. Udah ketebak sendiri kan jawabannya?" Reno merotasikan bola mata.


"Jadi beneran suka?" Gita mengendikkan bahunya acuh. Ia sedikit heran sebenarnya, kenapa Reno begitu penasaran untuk memastikan perasaannya terhadap Rius?


"Dia orangnya cuek sih, tapi ngeliat perlakuan dia ke lo selama ini kayanya lo ada peluang. Gue bakal coba pancing pelan-pelan,"


"Gak usah, gue pengen dia tau dari perjuangan gue," tolak Gita.


"Biarin, biar kalian berdua sama-sama berjuang." Gita terlihat ragu, tetapi tepukan di bahu nya membuatnya bergeming.


"Percaya sama gue, lo gak akan berjuang sendirian."


......................


Bel pulang berbunyi. Sekarang para siswa sudah mulai memenuhi area gerbang. Ada yang sudah menyeberang untuk naik transportasi umum, serta ada yang tengah menunggu jemputan. Ada juga sih, yang pulang bersama pacarnya.


Gita sudah berpisah dengan kedua sahabatnya, karena mereka dijemput. Ia memang tidak pernah dijemput karena ayahnya termasuk kategori yang sibuk, selalu pulang malam. Kalaupun tidak, ia tidak mau merepotkan dan membuat ayahnya lelah.


Jarak sekolah dengan rumahnya begitu jauh sehingga membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam jika menempuh perjalanan menggunakan motor. Sedangkan untuk transportasi umum, kira-kira waktu yang dibutuhkan adalah satu jam lebih.


Ini juga alasan Gita selalu terburu-buru keluar ketika bel pulang berbunyi dan sedang tidak ada kegiatan OSIS. Agar ia bisa sampai dirumah tidak terlalu sore. Bahkan sampai malam.


Ia memencet tombol lampu merah untuk menandakan bahwa ia ingin menyeberang. Tetapi sebuah tangan yang bersentuhan secara tiba-tiba itu mampu menghilangkan fokusnya. Ia menoleh kebelakang karena merasa kenal dengan tangan itu. Semoga saja ini bukan khayalannya.


"Eh? Rius?" Gita mengerjapkan matanya tak percaya karena sosok dibelakang nya benar-benar sesuai dengan harapannya.


"Ayo, keburu abis waktunya."


Rius menarik tangan gadis itu agar cepat menyeberang. Bagaimana tidak? Ketika waktu menyeberang sudah dimulai Gita malah terdiam ditempat dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berjalan. Rius kan jadi greget.


Tidak tahu saja dia, bahwa tindakan gegabah nya ini mampu membuat lutut Gita melemas. Ketika berhasil menyeberang, Gita sedikit menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Bahaya kalau ketahuan.


Bus ke arah rumah Rius pun datang, laki-laki itu tersenyum kecil sebagai salam perpisahan. Gita refleks melambaikan tangannya.


"Dadah!"


Dari dalam bus, tangan Rius ikut melambai disertai senyuman yang lebih lebar daripada tadi.