
Kelas Mekatronika tengah ricuh perkara tugas Informatika. Dimana mereka harus membuat dua kelompok untuk project film pendek dengan tema bebas.
Tidak ada yang ingin berpisah dengan sahabat masing-masing, sehingga terjadi beberapa kali perdebatan barulah mencapai kesepakatan diakhir jam pelajaran.
Gita dan Rius satu kelompok tanpa direncanakan. Gita hanya ikut Rista yang ingin berada di kelompok 1, juga Rius yang mengikuti Abian.
Sebelumnya mereka enggan satu kelompok lagi setelah mata pelajaran agama pada awal pertemuan. Gita sih yang menolak garis keras. Masalahnya, nanti ia akan sulit fokus kalau terus-terusan berdekatan dengan Rius.
Rius nya sih biasa saja. Pernah sekali sejarah ia dan Abian ingin bergabung dengan Gita. Tetapi ditolak mentah-mentah. Ini sebelum Rius tau bahwa Gita menyukainya, makanya ia bingung kenapa gadis itu menolak untuk sekelompok dengannya.
Kelompok 1 mulai membagi tugas. Gita mendapat double job yakni menjadi penulis naskah dan aktris. Rista menjadi sutradara sekaligus aktris. Hanan dan Abian menjadi kameramen. Dan sisanya berperan dalam film.
Gita memilih agar scene nya tidak begitu banyak. Usai selesai dengan 5 scene, ia meminta pendapat dengan teman-temannya.
"Apaan ini kok gue pemeran utama? Nggak mau!" tolak Reno mentah-mentah.
Gita memijat pelipisnya dan mencatat peran mana saja yang harus diubah. Kemudian, ia kembali bertanya untuk memastikan.
"Ini harus banget Rius sama gue se-circle jadi murid teladan?" Gita baru menyadari apa yang ia catat.
Semuanya mengangguk antusias, membuat Gita menghela napas pasrah. Demi tugas. Ia harus profesional tanpa melibatkan perasaan. Doakan saja.
"Yaudah, mulai cicil syuting dulu aja."
Mereka semua mengangguk setuju dan mengikuti arahan Rista serta Hanan untuk bertanya mengenai scene yang akan di take.
......................
"Kita gak ada scene kan?"
Gita menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan itu. Ia berjalan menjauhi teman sekelompok nya yang tengah menjalankan reka adegan untuk tugas pembuatan film pendek mereka.
"Lo ngapain ngikutin gue?" sadar bahwa ia tak melangkah sendirian, Gita menaikkan sebelah alisnya.
Rius hanya memperlihatkan deret giginya yang rapi seraya berkata, "Hehe. Gue nggak tau mau ngapain." ucapnya jujur, teman-teman nya sedang sibuk take. Tetapi karena kontribusi nya di film sangat minim, disinilah ia sekarang. Bingung ingin melakukan apa.
Gita yang tadinya kesal kini memelankan langkahnya agar Rius tak lagi berjalan dibelakang nya, tapi disampingnya. Gadis itu berniat mencari udara segar agar mendapat inspirasi untuk kelanjutan naskah kelompok 1.
"Mau beli jajan nggak?" tanya Rius.
Belum sempat Gita menjawab, sebuah panggilan dengan volume keras mampu membuat sepasang insan itu menoleh.
"Gita! Git! Sini dulu!" keduanya berlari karena mengira sesuatu yang penting terjadi.
"Coba liat dulu, kalo menurut lo kurang kita ulang." Hanan menyerahkan kameranya kepada Gita untuk ditinjau melalui perspektif gadis itu.
"Udah bagus kok, lanjut aja ke scene berikutnya." Gita tersenyum puas melihat hasil rekaman yang diberikan Hanan.
"Tapi lo jangan jauh-jauh, deket sini aja biar enak kalo butuh bantuan," ujar Hanan sebelum Gita kembali menjauh.
"Tau lo, berduaan mulu," cibir Deon. Rius tak ambil pusing, meski ia berasumsi bahwa sahabatnya itu cemburu. Tidak apa, ia merasa menang.
Gita mengangguk, tapi langkahnya berhenti di tepi taman. Tidak ingin mengganggu proses syuting sebelum ada yang butuh bantuannya. Ia membuka laptop, berniat melanjutkan naskah.
"Sini gue aja yang ketik," Gita mengernyit, namun tak menolak ketika laptop miliknya sudah berpindah tangan pada Rius.
Mereka tidak membahas apapun selain naskah. Dan selama itu juga, tidak ada yang mengganggu mereka. Seperti memanggil Gita layaknya sebelumnya, atau mungkin memanggil Rius.
"Itu dulu deh, otak gue mentok." Rius tertawa mendengar keluhan Gita.
"Emang tugas film deadline nya kapan?"
Gita mengambil alih laptop dari tangan Rius dan menutupnya. Telunjuk nya berada di dagu, berusaha mengingat untuk dapat memberi jawaban yang pas.
"Tanggal 20 bulan ini." mulut Rius membentuk huruf O.
Proses syuting masih berlangsung. Keduanya enggan beranjak. Sebenarnya sedari tadi Gita sudah ancang-ancang berdiri, tetapi Rius bilang kalau mereka bergabung sekarang hanya akan merepotkan.
Jadi, ya sudah lah. Disini mereka. Hening, sebelum Rius ingin meluruskan masalah kemarin.
"Ta, maaf." Gita tersenyum paksa.
"No need, Rius." jawabnya santai.
"Itu perlu. Gue nggak cuma kasian doang, yang kemarin itu—"
"Terus apa kalo nggak kasian? Lo suka balik sama gue?" potong Gita, Rius terdiam.
"Diem kan lo? Gue nggak apa-apa, lo nggak perlu minta maaf. Oh, atau permintaan maaf lo juga cuma atas dasar kasian?" cerca Gita seraya berdiri, membuat Rius mau tak mau ikut bangkit.
"IYA, GUE SUKA SAMA LO TA!" Gita melongo tak percaya.
"bullsh*t. Please Rius, nggak usah ngarang demi nyenengin gue. Gue nggak butuh dikasihani." Gita menghela napas pasrah.
"Gue serius, Ta. Harus lakuin apa gue biar lo percaya?" tanya nya serius, menatap dalam manik mata lucu milik Gita. Dari tatapan nya, tidak ada kebohongan didalamnya. Tetapi Gita terlalu takut untuk menyelami manik itu lebih dalam.
"Lo nggak harus ngapa-ngapain. Ikutin apa yang hati lo bilang itu udah lebih dari cukup buat buktiin apa yang lo bilang tadi bener atau nggak."