
Gita baru saja selesai mandi. Niatnya ia ingin membaca novel karena paket per-order nya baru saja sampai. Tetapi, bunyi notifikasi mengalihkan atensinya untuk membuka buku itu.
...----------------...
...Sirius Meka...
| Git, besok jadi?
| Git?
| Sagita?
^^^^^^Apa? |^^^^^^
| Itu yang lo ajak kemarin
^^^?? |^^^
| Itu loh, fotbar
| Besok puncak bulan bahasa kan?
^^^^^^Oh, gajadi lah. Males |^^^^^^
| Git, sorry
^^^No need |^^^
| But..
| Besok jadi ya?
^^^...Sibuk gue jadi panitia |...^^^
| Gita
^^^...Ga janji |...^^^
| Oke
...----------------...
Gita baru ingat bahwa kemarin ia mengajak Rius untuk berfoto bersama. Bila kemarin Rius yang membalas 'tidak janji' maka hari ini kebalikannya. Sekelebat bayangan ketika Rius mengatakan soal perasaannya kembali menghantui pikirannya. Ia mendengus kesal.
Tak dapat dipungkiri, melupakan tak semudah membalikkan telapak tangan. Rasa nya masih utuh, hanya berkurang sedikit tergantikan dengan rasa malas untuk berinteraksi. Tetapi kalau ada yang bertanya apakah hatinya sudah bukan untuk laki-laki itu, maka jawabannya tidak. Pemiliknya masih sama.
Untuk waktu yang cepat, Gita jatuh. Ia bukan tipikal orang yang mudah jatuh hati, apalagi sampai tahap sayang. Ini terbilang sangat cepat untuk hatinya jatuh kepada orang yang—entahlah, Gita belum dapat menyimpulkan bahwa Rius adalah orang yang salah.
Sebagian hatinya ingin melupakannya karena penegasan cowok itu tadi sore. Tetapi sebagian lainnya terus-menerus menghangat dengan mengingat kejadian membahagiakan yang dilalui keduanya.
Gita tidak menduga bahwa Sirius akan mengingat ajakannya kemarin, bahkan cowok itu yang menanyakannya terlebih dahulu. Ia tidak berpikir akan benar-benar berfoto dengan laki-laki pujaan nya itu.
Terlintas sebuah momen kemarin siang, dimana Deon mengatakan kepadanya perihal Rius.
"Kalau mau mundur, mending dari sekarang. Soalnya Sirius tipe yang anti maju duluan, takut lo capek maju terus."
Tidak, ia tidak mau maju. Biarlah hatinya tetap menginginkan Sirius atau apa. Yang jelas, jangan harap ia bertindak lebih dulu dan akan mendapat respon kasihan. Karena ia tidak mau bersikap sama seperti cowok itu. Respon yang ia berikan tulus, tanpa iming-iming rasa kasihan.
Gita menepuk bibirnya begitu mengingat janji yang ia buat dengan diri sendiri bahwa ia tidak boleh menyimpan rasa terhadap teman sekelas. Ia dulu berniat mencari pacar atau gebetan seorang kakak kelas karena agak dewasa vibes nya, namun ternyata ia berhasil menjilat ludah sendiri.
Yang ia takutkan bila menyukai teman sekelas ya begini, takut akan canggung bila tidak berjalan mulus. Tapi ya sudahlah, semua sudah terlanjur. Biarlah hatinya menangani ini, semoga hasilnya baik.
......................
Keesokan harinya, Gita bangun agak pagi. Niatnya ia ingin berangkat lebih pagi karena panitia acara harus menyiapkan beberapa alat yang dibutuhkan untuk acara puncak seperti mic, atau beberapa kursi untuk para guru.
Ia tidak lupa memakai make up karena dalam acara spesial seperti ini sekolah tidak melarang siswi untuk berdandan. Jarang-jarang kan ada momen seperti ini, jadi Gita tidak akan menyia-nyiakannya dan berusaha tampil dengan cantik.
Bukan ya, ia tampil cantik bukan untuk mencari perhatian Sirius. Ya karena ia memang ingin tampil cantik saja, apalagi dia panitia.
Dirasa sudah cukup, ia pun turun kebawah menemui sang ayah dan berangkat menuju sekolah.
......................
Sirius tidak kalah heboh, mama nya sampai geleng-geleng kepala pagi ini. Tidak biasanya anaknya itu memiliki minat yang tinggi pada acara seperti ini. Ia pikir anaknya hanya akan antusias mengenai pelajaran akademik.
"Ma, kurang wangi nggak?" sang mama refleks menutup hidungnya begitu anak sulung nya itu mendekatkan dirinya.
"Kamu udah semprot parfume sampai hampir sebotol ya, Sa. Udah cukup buat seminggu itu wanginya." Grania—mama nya yang sudah kelewat geram itupun meninggalkan sang anak.
Sekadar info, Grania memanggil anaknya dengan nama 'Asa' yang diambil dari nama belakang, yaitu Dalawangsa.
Sirius beberapa kali bercermin untuk memastikan dirinya sudah tampan, rapi, dan wangi. Barulah ia turun kebawah untuk berpamitan kepada sang mama.
......................
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Acara juga sedang berada di fase istirahat. Siswa-siswi diperbolehkan masuk ke kelas untuk beristirahat dan kembali berkumpul di lapangan lagi jam 1 siang.
Sirius sudah dikelas sedari tadi, tetapi sosok yang dicarinya tak kunjung datang. Apa kepanitiaan sesibuk itu? Bukankah sekarang sedang masa istirahat? Gita pasti akan mampir ke kelas kan?
Belum sempat memikirkan kemungkinan lainnya, suara pintu yang dibuka mampu membuat perhatiannya teralihkan.
Itu sosok yang mengganggu pikirannya sejak tadi. Sagita Miranda. Make up gadis itu sedikit luntur, tetapi tidak menghilangkan kecantikan nya dimata Rius.
Sirius secepatnya menghampiri gadis itu dan mengajaknya keluar. Tidak lupa ia menutup pintu agar teman-temannya tidak mengintip kegiatan mereka. Pede sekali, siapa juga yang ingin mengintip mereka berdua?
"Ih main tarik aja," gerutu Gita yang dibalas kekehan oleh Sirius.
Kebetulan, Rista lewat. Cewek itu sudah mengetahui perihal hubungan Gita dan Rius yang renggang. Makanya ia bingung begitu melihat kini keduanya bersama dan meminta tolong untuk difoto.
Apalagi yang meminta Sirius. Setelah apa yang dikatakannya kemarin? Rista jadi ragu akan kejadian kemarin. Bukannya apa, Rista ini pandai menilai hati seseorang. Menilai bahwa Rius memiliki rasa yang sama dengan sahabatnya bukanlah hal sulit.
"Satu, dua, tiga!" beberapa kali Rista memotret, hingga sebuah ide terlintas dikepalanya. Sekaligus untuk membuktikan asumsi nya mengenai perasaan Rius.
"Ganti gaya dong, deketan juga."
Rista sudah bersiap memotret. Tiba-tiba, mulutnya terbuka menyiratkan rasa terkejut. Bagaimana tidak? Di jepretan pertama, Rius nampak menepuk puncak kepala Gita. Dan pada jepretan terakhir, cowok itu merangkul pundak Gita.
Untuk dua gambar spesial itu, biarlah menjadi rahasia antara mereka bertiga. Selain hasil yang bagus, ada beberapa foto yang diluar ekspektasi.