SAGITA-RIUS

SAGITA-RIUS
Overthinking



Gita baru saja menyelesaikan tulisannya dibuku diary. Ia memang suka mengabadikan kesehariannya lewat menulis, apalagi kalau itu kejadian yang menyenangkan. Ia akan membuka diary tersebut ketika sedih, dan mood nya akan membaik.


Ia berniat belajar mata pelajaran jurusan, hanya saja ia tidak paham. Jadi membutuhkan bantuan youtube, sebab ia bertanya kepada temannya pun tidak ada yang mengerti. Bahkan mereka minta diajarkan olehnya. Konsepnya bagaimana sih? Gita saja tidak paham, malah disuruh mengajari.


"Apa sih kok bisa jadi begini gimana ceritanya?" ia berbicara sendiri. Kalau mamanya dengar pasti disangka sedang bertelepon atau sedang stress.


Untungnya, sang mama sedang pergi keluar. Dan baru akan pulang sekitar dua jam lagi.


Ditengah-tengah kegiatannya menonton video youtube, sebuah notifikasi whatsapp menginterupsinya.


...----------------...


...Sirius Meka...


| Lagi belajar ya?


^^^HAH KOK TAU? |^^^


^^^Jujur lo gak pasang kamera dikamar gue kan? |^^^


| Ngaco


...Ya abis lo selalu tau gue lagi ngapain kalo dirumah |...


| Kan gue cuma nanya


^^^Iya |^^^


| ?


^^^Iya, lagi belajar gue |^^^


| Belajar apa?


^^^Itu tugasnya pak Gino |^^^


| Oh, Meka


| Mau bareng?


^^^Hah? |^^^


... ...


......................


Sebuah panggilan membuat Gita terkesiap. Ini terlalu tiba-tiba untuk dicerna. Untung saja hanya panggilan suara, bukan video call.


Jari Gita menggeser layar ponsel berwarna hijau keatas untuk menerima panggilan tersebut.


"Halo?" sapa Gita pada akhirnya, karena seseorang diseberang sana tidak mengeluarkan suara selain deru napas. Itu terjadi sampai menit kelima, Gita kan jadi geram. Dia yang menelepon, dia yang diam.


"Bagian mana yang nggak ngerti?" Gita speechless. Bagaimana bisa lelaki itu mengerti kalau dirinya tidak paham materi hari ini?


"Lah malah diem,"


Kesadaran Gita mulai kembali, "O-oh iya maaf. Itu pas bagian coding nya, kalo delay nya diubah bakal ngaruh ke rangkaian kita ngga?"


"Oh, delay. Itu mah cuma ngaruh ke waktu berfungsinya aja. Misal ya lo kasih delay 1000 buat komponen lampu, ya lampunya cuma nyala 1 detik doang karena nilai delay itu 1/1000. Mau 2 detik ya 2000, begitu seterusnya."


Gita ber-oh ria tanpa suara, meski tau Rius tidak dapat mengetahuinya. Selanjutnya yang dilakukan Gita adalah menyelesaikan tugasnya sembari mendengarkan arahan dari guru les dadakan itu.


................


Diwaktu yang sama, namun dengan latar yang berbeda. Rius masih setia menunggu seseorang diseberangnya kembali mengucapkan sepatah kata. Ia tebak, sekarang Gita sedang menulis.


Cowok itu sendiri sudah belajar satu jam yang lalu. Tugasnya juga sudah terselesaikan tanpa kurang. Jadi ia bisa bersantai, niatnya ingin menonton anime. Tetapi ia sadar kalau fokusnya susah terbagi. Kalau masih tersambung di telepon, ya sudah. Ia tidak akan melakukan hal lain karena tidak ingin mengabaikan orang di telepon.


"Udah ih, cape. Masa udah suruh ngerangkai di laptop pake tulis ulang code nya di buku," gerutu gadis diseberang sana yang membuat Rius tertawa kecil.


"Mungkin bagi dia kalau bisa dua kenapa harus satu?"


"Ih apa-apaan! Justru kalau udah satu kenapa harus dua?" Ketika Gita berkata 'ih', Rius spontan membayangkan ekspresi gadis itu. Pasti bibirnya sedang cemberut diakhir kalimat. Itu yang sering ia perhatikan belakangan ini.


"Udah jam 10," ujar gadis itu, Rius melihat jam dinding dikamar nya dan mengangguk walau tak dapat terlihat.


"Baru jam 10," sahutnya santai.


"Tapi kan belajarnya udah selesai?"


"Ya terus?"


"Ini nggak mau end call?"


"Oh, nanggung si. Bentar lagi durasi nya tiga jam." tunggu, Rius baru sadar kalau secara tak langsung ia berucap bahwa ingin berlama-lama bertelepon dengan Gita.


"Jangan kepedean. Gue cuma nggak suka aja kalo sesuatu nggak genap gitu."


Rius sudah tahu kalau Gita menyimpan perasaan padanya. Dan ia tidak mau gadis itu berpikir bahwa ia membalas perasaan itu. Ia hanya takut kejadian yang dulu terulang lagi.


"Iya."


Sebenarnya Rius peka, nada lemas Gita dan satu kata yang ia ucapkan cukup membuat Rius sadar bahwa Gita kecewa atas ucapan sebelumnya.


Ya, lagian siapa yang tidak kecewa? Ditelepon tiba-tiba oleh pujaan hati, diajarkan tugas yang belum dimengerti, crush bilang belum ingin mematikan telepon, tapi ternyata bukan karena ingin berlama-lama dengan nya.


Rasanya seperti diterbangkan ke langit ketujuh, lalu dihempaskan ke bumi sekencang-kencangnya.


Rius juga tidak tahu kenapa kalimat itu begitu mudah terucap. Ia tidak bermaksud untuk mengecewakan Gita, tetapi—ah sudahlah, semua ini terjadi karena rasa takutnya yang terlampau besar.


................


Besoknya, disekolah. Gita terlihat ceria seperti biasanya, seolah-olah semalam tidak terjadi apa-apa. Tetapi ada yang beda, yaitu ia belum menyapa Rius sama sekali hari ini. Padahal biasanya modus menanyakan tugas atau minta tolong sesuatu.


Waktu menunjukkan pukul sebelas tiga puluh siang. Dimana sudah memasuki waktu istirahat kedua. Biasanya, Gita, Rista, dan Kayla akan ke taman untuk mengobrol sekaligus menghabiskan makanan yang dibeli dari kantin. Tapi, kini Rista dan Kayla masih ada di kantin karena antrian lumayan panjang siang ini.


Gita sendirian. Ia sedang mengerjakan tugas yang akan dikumpulkan di jam terakhir. Ia biasanya mengerjakan malam hari, tetapi karena semalam ketiduran jadi ia memutuskan untuk mengerjakannya sekarang.


Ia masih fokus menulis. Sampai sebuah suara menginterupsi kegiatannya.


"Woy, Ta!" Gita menghentikan laju pena nya. Ia menoleh ke sumber suara. Alisnya bertaut begitu mengetahui oknum yang barusan memanggilnya.


Oknum itu tidak langsung mengatakan tujuannya, melainkan duduk diam diseberang Gita.


"Apa deh? Kalo gak jelas mending pergi, Deon." Deon tertawa kecil seraya menyisir rambutnya.


"Sok ganteng lo," celetuk Gita geleng-geleng kepala.


"Emang ganteng o*n!" balasnya percaya diri.


"Lo beneran suka sama Rius?" tanya Deon tiba-tiba.


Gita tidak lagi terkejut mendengar pertanyaan itu, sepertinya sekarang fakta itu sudah menjadi rahasia umum antar teman sekelasnya.


"Kenapa emang?" tanya Gita balik.


"Nggak apa-apa sih, cuma gue mau kasih tau aja," Deon menjeda kalimatnya.


"Kalau mau mundur, mending dari sekarang. Soalnya Sirius tipe yang anti maju duluan, takut lo capek maju terus."


Deon menepuk puncak kepala Gita dua kali. Setelahnya, ia pergi begitu melihat kedatangan Rista dan Kaila.