SAGITA-RIUS

SAGITA-RIUS
Dasi



Hari ini merupakan hari terakhir Penilaian Akhir Semester. Murid-murid SMK Sainteka sedang berada diambang kecemasan. Entah bagaimana nanti hasilnya, yang jelas mereka sudah berusaha semaksimal mungkin.


Jemari Sirius menari dengan indah untuk membuat goresan demi goresan tinta diatas lembar jawaban. Otaknya encer, dan hampir 90% yang ia pelajari sesuai dengan soal yang muncul kali ini. Semoga saja hasilnya sesuai dengan ekspektasinya.


Pengawas mereka hari ini amat tegas. Bahkan ketika kalian hanya membungkuk untuk mengambil pulpen yang terjatuh pun akan menjadi pusat perhatiannya. Jadi, harus tenang dalam mengerjakan soal.


Tuk tuk tuk


"Hei yang ketuk-ketuk pulpen ke meja, diam!" sentak si pengawas, membuat Gita—yang melakukan hal tersebut pun terperanjat.


"Maaf pak!" tuturnya.


Tangan kanan nya mengepal, kesal sendiri sebab dirinya membuat masalah dihari terakhir. Padahal ia bermaksud menyelesaikan ujian kali ini tanpa terlibat insiden dengan pengawas.


Sirius melihatnya. Kaki kiri lelaki itu mencoba menyenggol kaki kanan milik Gita untuk membuat Gadis itu menoleh kepadanya. Untungnya tindakan tersebut tidak menimbulkan suara.


Gita tidak menoleh sepenuhnya. Hanya melirik sedikit dan menggerakkan tangannya membentuk sebuah tanda tanya, pengganti kata 'apa'?


Sirius menuliskan sesuatu dijari kelingking nya. Ia mengepalkan tangan dan mendekatkan kepalan itu sampai perbatasan meja mereka berdua. Kelingking nya bergerak lucu untuk memberi kode agar Gita mau melihatnya.


'Semangat!'


Gita menahan senyumnya agar sang pengawas tidak menaruh curiga pada mereka berdua. Salah satu manfaat memiliki nama awalan S, dapat posisi duduk dibelakang ketika ujian karena urutan bangku disusun berdasarkan absen.


................


Ujian telah usai. Semua murid masih harap-harap cemas karena belum diumumkan lolos dari remedial atau tidak.


Gita dan Rista baru saja selesai makan. Kini mereka ingin mengisi waktu kosong dengan menyetel musik dan bernyanyi bersama. Mengapa tidak ada Kaila? Entahlah, sudah semingguan gadis itu menjauh dari Gita dan Rista tanpa berkata sesuatu.


Keduanya sudah bertanya apa ada sesuatu yang salah dari mereka berdua, sehingga Kaila bersikap demikian. Tapi Kaila bungkam. Enggan menanggapi mereka dan justru melengos kalau ditanya secara langsung. Rista yang notabene nya emosian saja sudah malas menghadapi dia lagi.


Prinsip Gita-Rista kali ini : kalau mau berteman silakan, tapi kalau nggak juga nggak apa-apa.


Kursi yang kosong itu diisi oleh Sirius. Ini juga akal-akalan Hanan sih sebenarnya. Ia tahu kalau sahabatnya itu betul-betul tengah kasmaran. Tetapi b*dohnya, dia masih bingung bagaimana caranya bergerak maju.


Semalam kedua laki-laki yang umurnya berjarak tiga bulanan—lebih tua Hanan itu mengobrol di telepon kurang lebih selama dua jam. Lebih tepatnya konsultasi sih. Sirius sangat b*doh dalam masalah percintaan soalnya. Habis sudah semalam Hanan puas mengata-ngatai cowok itu.


"Tolong iketin dasi."


Gita melotot, berusaha menolak.


"Kenapa gue?" tanya nya.


"Ya karena disamping gue ada lo," sergah Sirius.


Gita merotasikan bola mata. Tidak salah sih jawabannya. Tapi kenapa tidak minta temannya yang cowok saja? Kan jarak antar bangku tidak begitu jauh. Tapi ya sudahlah, ia sedang malas berdebat.


Ia mengalungkan dasi tersebut ke lehernya sendiri untuk membuat bentuk segitiga.


"Kok lo pake? Pakein langsung kesini lah."