
Malam itu, diruang keluarga sebuah rumah bernuansa vintage terdapat seorang ibu dan anak yang tengah menonton televisi bersama.
Acara yang ditonton sebuah sinetron, tentu sang ibu lah yang memilih channel. Bahkan, remot masih dikuasai di genggaman nya.
Untungnya Gita tidak keberatan, jadi ia tidak perlu berebut channel dengan sang ibunda. Meski hari ini ada jadwal pertandingan badminton, olahraga kesukaannya.
"Ta, coba cek rak piring liat ada apa," titah sang ibu, Gita bangkit sekalian berniat untuk mengambil cemilan. Ia tidak bisa menonton tanpa ngemil.
Begitu sampai didapur, ia segera membuka rak piring sesuai perintah ibunya. Netranya berbinar melihat sebuah cemilan kesukaannya tersedia di dalam rak dengan jumlah yang banyak.
Ia berlari membawa sekaleng cemilan itu dan memeluk ibunya begitu sampai diruang keluarga.
"MAMA KOK TAU AKU SUKA GOOD TIME?!" saking bahagia nya, ia tidak sadar berteriak.
"Hus, jangan teriak-teriak. Udah malem. Ya tau lah, tiap pulang sekolah di saku kamu pasti ada good time dua bungkus. Daripada beli ketengan gitu, sekalian aja mama stock yang banyak biar puas." jelas sang ibu.
"IH PEKA BANGET MAMAKU YANG CANTIK INI, TERIMAKASIH BANYAK MAMAAAA!" Vina—ibu Gita menepis lengan anaknya yang masih setia melingkar disekitar lehernya.
"Dibilangin jangan teriak malah makin jadi."
Gita mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya, tidak lupa disertai cengiran yang khas.
"Peace!"
Selanjutnya tidak ada suara, baik Vina maupun Gita terlarut dalam alur sinetron yang mereka tonton. Gita sih tidak sepenuhnya diam, sebab mulutnya sedari tadi tidak berhenti mengunyah cemilan good time itu.
Pukul delapan tiga puluh, Gita memutuskan untuk naik ke kamarnya. Jam-jam segini biasanya ia menggunakan waktunya untuk belajar dan memilih buku yang akan dibawa esok.
Ting!
Sebuah notifikasi dari ponselnya yang sudah terisi penuh habis di-charger itu mengalihkan perhatiannya. Ia menaruh buku pelajaran hari ini terlebih dahulu, baru mencabut charger dan membuka notifikasi tersebut.
...----------------...
...Sirius Meka...
| Ngapain?
^^^Berak |^^^
| Jorok.
^^^Ya lagian gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba ngechat |^^^
^^^Ada kepentingan apa? |^^^
| Emang kalau mau ngechat harus ada kepentingan dulu?
^^^Engga juga sih, lo kan udah penting. Jadi bakal tetep gue bales |^^^
^^^Read^^^
...----------------...
"Anj*r gue ngapain ngetik begitu sih, malu-maluin aja!" Gita menaruh kepalanya diatas tumpukan buku untuk hari esok. Ia sudah tak bertenaga untuk membuka ponselnya.
Sementara itu, diwaktu yang sama dengan latar tempat yang berbeda.
"Ini dia ngetik pake mikir dulu nggak sih, c*k? Gue kan bingung mau bales apa," gerutu Rius.
Ponselnya ia putar-putar keatas bawah, depan belakang, kanan kiri sembari memikirkan jawaban atas pesan yang baru saja ia baca. Bahkan, ia masih berada di roomchat Gita.
Ting!
...----------------...
...Gita...
| mau??
^^^Mau |^^^
| Yaudah besok gue bawain
...----------------...
"Seenggaknya akhir chat nya nggak canggung," gumam Rius. Jujur, ia bingung harus membalas apalagi.
Laki-laki itu merebahkan dirinya dikasur kesayangannya. Ia baru saja selesai belajar, niatnya ingin main game bersama hingga pukul sepuluh. Tetapi rasa kantuk menyerangnya lebih dulu, bahkan dering telepon beberapa kali tak mampu membangunkannya yang sudah terlelap.
Cklek!
"Buset si abang, udah ngebo aja," adik perempuan Rius masuk dan menggelengkan kepala begitu melihat abangnya tidur masih menggenggam ponsel.
"Woy bang, makan dulu sana!" Aurora mengguncang tubuh abangnya yang kalau sudah tidur seperti hibernasi, menurutnya.
"Hem, ganggu aja lo!" sungut Rius kesal, hendak melempar bantal kearah adiknya. Namun, secepat kilat Aurora menghindar dan keluar dari kamar tersebut agar tidak terkena serangan macan.
Ia pun turun kebawah, teringat kalau ia memang belum makan malam.
......................
Sebenarnya, tas nya sudah ia taruh di baris pinggir dekat pintu. Lebih tepatnya, dibaris 2 berbanjar. Sistem bangku kelas mereka yaitu siapa cepat dia dapat. Jadi siapapun yang datang lebih dulu bebas memilih bangku dimana saja.
Tak lama, dugaan cuaca yang diprediksi orang-orang beberapa saat lalu betul-betul terjadi. Rintik hujan mulai turun, kian deras seiring berjalannya waktu.
Rius masih berada dalam bus sekolah. Ia memang terbiasa berangkat jam segini, tetapi ia tidak menyangka kalau hari ini akan turun hujan. Harusnya tadi iya mengiyakan perintah sang mama untuk membawa jas hujan atau hoodie.
Bus pun berhenti tepat didepan halte depan sekolah. Ia menarik napas dan membuangnya, sebelum keluar dan menerobos hujan untuk masuk kedalam sekolah. Sejenak ia berhenti di halte untuk melepas sepatunya dan menaruhnya di tas. Untung ada jas hujan bawaan sebagai pelindung tas dan buku-buku didalamnya.
Ia bernapas lega begitu sudah sampai di lobby sekolah. Meski seragamnya agak basah karena hujan nya cukup deras. Ia pun menaiki tangga untuk mencapai kelasnya yang berada di lantai dua.
"Assalamualaikum, Loh? Tumben sepi,"
Gita menoleh ke sumber suara dan menjawab salam tersebut. Untuk pertanyaan Rius, ia hanya membalas nya dengan gelengan pertanda tidak tahu.
Rius menaruh tas nya dibarisan tengah dan bangku paling depan. Tempat duduknya juga ditengah, biasanya. Samping kanan nya biasa diisi Deon, dan Kiri nya diisi Abian.
Kali ini berbeda, ia menaruh tas nya ditempat yang biasa diisi oleh Deon. Semoga saja sahabatnya itu tidak banyak protes nantinya.
"Oh iya," suara Gita memecah keheningan yang terjadi beberapa saat lalu. Rius menaikkan sebelah alisnya mendengar itu.
Gita menghentikan kegiatan memandang awan nya dan beranjak menuju tempat duduknya sendiri. Tangannya membuka tas dan mengambil sebuah makanan yang sudah ia siapkan dari malam.
"Nih good time nya," Rius menerima nya dan mengucapkan terimakasih. Ia tidak langsung memakan jajanan itu, melainkan memasukan nya kedalam tas. Ia berniat memakan nya ketika jam istirahat. Setelah makan nasi, tentunya.
Selanjutnya, ia menyodorkan tiga buah jajanan yang berbentuk stick cokelat. Melihatnya, Gita berbinar. Itu adalah jajanan favorit nya setelah good time!
"WAH CHOKI-CHOKI! Buat gue semua ini?" tanya nya antusias.
"Gak, satu doang," Rius menjauhkan dua buah choki-choki membuat Gita mengerucutkan bibir.
"Bercanda, nih semuanya."
Gita dengan senang hati menerimanya. Senyum lebar tak luput dari wajah cantiknya.
Tak lama kemudian, murid lain mulai berdatangan. Baik Gita atau Rius sudah duduk dibangku masing-masing, sehingga tidak mengundang rasa penasaran anak-anak lain. Karena jujur, mereka tidak pernah terlihat berinteraksi secara intens. Yang melihat hanya sahabat terdekat masing-masing saja.
Tunggu, mereka memang tidak dekat kok! Sepertinya..
"Heh tuyul, kenapa pindah lo?" tanya Deon ketika bangku yang biasa ia tempati sudah terisi oleh sang sahabat.
Rius hanya mengedikkan bahu, "Kepengen."
Deon dan Abian saling melempar pandangan bingung. Padahal biasanya cowok itu ingin duduk ditengah agar setidaknya siluet tubuhnya tidak begitu kelihatan begitu pintu kelas dibuka.
Sudahlah, hanya Sirius Dalawangsa lah yang tahu alasannya.
......................
Mata pelajaran terakhir dihari kamis adalah Seni Budaya. Khusus untuk mapel tersebut, para murid akan pindah ke ruangan khusus setelah mendapat arahan dari sang guru.
Dan kini, semuanya sudah berkumpul di ruang seni budaya. Pak guru sudah siap di kursi guru nya. Beliau menjelaskan bahwa materi kali ini masih sama seperti minggu yang lalu. Yaitu bermain alat musik pianika dan angklung.
Kalau yang membawa pianika akan memainkan nya, sedangkan yang tidak bawa akan memainkan angklung yang tersedia di ruangan tersebut.
Gita sendiri memilih membawa pianika sebab ia tidak bisa memainkan angklung. Ya memang sih, nanti pasti diajarkan. Hanya saja, ia malas. Lagipula ia lumayan sering memainkan pianika dirumah, jadi tidak terlalu kaku.
"Gita, lo gak mau pindah ke depan?"
Gadis berambut sebahu itu menoleh kearah sumber suara. Tangannya diarahkan ke meja depan untuk memastikan apakah tempat disamping Rius lah yang dimaksud Abian barusan?
"Gak usah, di belakang a—"
"Iya neng, kamu depan aja."
Gita baru saja akan melayangkan protes yang sayangnya tidak sempat ia utarakan sampai habis. Yang terakhir berbicara adalah sang guru, ia tidak kuasa untuk menolak titah tersebut. Terpaksa ya, ini terpaksa. Batin Gita.
Ia memindahkan tas dan bertukar pandang sebentar dengan Abian. Karena cowok itulah yang menggantikannya duduk di baris belakang.
Rupanya bukan tanpa sebab ia disuruh oleh sang guru untuk pindah. Dikelas ini, hanya ada dua orang yang membawa pianika. Yaitu dia dan Sirius. Alasan utama pak guru menyuruhnya pindah adalah untuk menyesuaikan tempo keduanya agar terdengar selaras.
"Anak-anak lain gak ada yang bawa, males katanya," ujar Rius, menghilangkan tanda tanya yang berputar dikepala Gita.
Gita mengangguk paham mendengar penuturan tersebut. Untuk mempersingkat waktu, ia memulai sesi penyesuaian nada nya dengan Rius.
Naasnya, ini tak semudah yang diperkirakan. Jari nya beberapa kali melemas dalam memencet tuts dengan detak jantung yang terpompa cepat. Ia menjauhkan jarak bangku nya dengan bangku Rius, karena dirasa itulah penyebab utama ia sulit fokus saat ini.
Ternyata masih sama saja, maka dari itu ia semakin menjauhkan bangkunya. Sampai ia hampir mendapat setengah meja saja.
Sret!
Bangkunya kembali ditarik mendekat. Sang pelaku tak lain dan tak bukan adalah rekan pianika nya hari ini, yakni Sirius Dalawangsa. Rupanya tiap gerak-gerik Gita sudah ia perhatikan sedari tadi dan itu membuatnya geram. Bahkan ia sempat bertanya kepada dirinya sendiri, mengapa gadis itu terkesan tidak ingin berdekatan dengannya?
Namun, tindakan itu justru membuat Gita semakin lemas. Ia izin sebentar untuk minum dan menetralkan detak jantungnya yang berdebar menggebu-gebu.
"Kalem, Ta. Bentar lagi berhasil kita. Kalau berhasil gue kasih choki-choki lagi besok,"
Bagai anak kecil yang tergiur ditawari permen cokelat, Gita menjadi bersemangat dan berusaha menyamakan tempo dengan baik. Rius yang belum mengalihkan pandangannya dari gadis itu sama sekali pun tersenyum disela-sela kegiatan meniupnya.