
Hari kamis merupakan hari dimana pelajaran olahraga dikelas sepuluh Mekatronika berlangsung. Sang guru semalam sempat menginformasikan di grup tentang materi hari ini, yaitu bulutangkis.
Para murid tengah sibuk berganti pakaian. Yang cowok sih santai, dikelas saja gantinya. Sementara itu anak cewek berebut kamar mandi dengan sistem siapa cepat dia dapat.
Gita yang badannya kecil pun menyelip-nyelip untuk masuk ke kamar mandi. Meski ia termasuk orang yang sabar, tapi kalau masalah rebutan gini dia maju di garda terdepan.
..........
Para murid perempuan sudah kembali ke kelas dan memakai sepasang baju olahraga lengkap. Guru mereka belum memberi informasi atau arahan untuk turun ke lapangan seperti biasa. Jadi, mereka tentunya memilih dikelas saja. Berhubung AC sedang menyala dan suhu ruangan menjadi dingin.
Anak laki-laki juga masih lengkap didalam kelas. Bahkan, mereka tengah bermain game bersama menggunakan ponsel masing-masing. Teriakan heboh mereka terdengar memenuhi seisi kelas.
"Assalamualaikum guys,"
"Waalaikumsalam, itu tembak disana o*n malah lari!" salah satu anak laki-laki masih tetap fokus pada ponselnya, tidak mengetahui siapa yang baru saja mengucapkan salam.
"Ehem, Assalamualaikum!"
"Ih orang udah dijawab juga, Waalaikumsa—"
"Lam." Abian hanya dapat menyegir lebar kala netra nya bertubrukan dengan manik sang guru olahraga.
Satu kelas tertawa. Sirius yang berada disamping nya hanya dapat geleng-geleng kepala. Ia sudah menyikut laki-laki itu dan mematikan ponselnya, tetapi Abian malah asik sendiri dan mengabaikan kode itu.
"Udah-udah, semuanya ke aula sekarang! Bawa raketnya." pak guru pun berjalan keluar kelas.
Diantara ketiga puluh tiga murid X Mekatronika, hanya 3 orang yang membawa raket masing-masing dari rumah. Sisanya memilih bergiliran meminjam raket diruang olahraga saja, anti ribet.
Mereka pun masuk ke aula. Anak laki-laki tergerak untuk membantu pak guru memasang net. Sedangkan anak perempuan, mengambil raket diruang olahraga.
Sistem pelajaran olahraga yaitu tes materi terlebih dahulu, nantinya hasil para siswa akan dimasukkan ke dalam buku nilai. Setelah tes materi, baru lah mereka bebas untuk bermain apa saja. Duduk saja juga boleh. Tetapi kebanyakan dari mereka memanfaatkan kesempatan untuk bermain bola, dan olahraga lainnya. Sebab jika bukan dipelajaran olahraga, jarang diperbolehkan.
"Yang tes anak perempuan dulu ya," ujar sang guru yang mendapat respon antusias dari para siswi.
"Loh loh pak, biasanya cowok dulu?" protes Reno.
"Justru karena biasanya cowok, sekarang gantian!" sanggah Gita.
"Betul!" sahut para siswi cepat.
Murid perempuan segera melakukan tes sesuai urutan absen. Selesai itu, mereka duduk di tepi dan menunggu anak laki-laki selesai tes.
Sebagian masih belum merasa lelah, jadi mereka memutuskan untuk kembali bermain. Bahkan ada juga yang mengajak guru olahraga bertanding.
"Yuk main Ris," ajak Kaila.
"Lah terus gue??" tanya Gita.
"Bertiga aja bareng," ucap Rista.
"Sama gue aja kalo nggak Ta," Abian muncul entah darimana. Sepertinya anak cowok sudah selesai melakukan tes.
"Yaudah, ayo!" Gita sudah bersiap dengan raket ditangan kanan nya.
"Apaan sih, Yan? Katanya main sama gue," Reno tiba-tiba berjalan kearah mereka.
Abian mengerjapkan mata tak paham, tetapi Reno justru mengedipkan matanya berulang kali seolah memberi sebuah tanda. Reno mengarahkan ujung matanya kearah seorang laki-laki yang hanya memandangi teman-temannya tanpa minat bergabung.
Menjentikkan jarinya, Abian pun segera menyatukan kedua tangannya memberi gestur permintaan maaf.
"Aduh, Ta. Maaf ya gue lupa udah janji main duluan sama Reno. Lo sama Rius aja gimana?"
Rius yang merasa namanya disebut memberi tanggapan melalui alisnya yang terangkat sebelah. Respon yang diberikan justru membuat Gita merasa gugup, kesal, dan tak enak disaat yang bersamaan.
Kesal karena Abian dengan seenak jidat berganti teman main, gugup karena Abian justru mengusulkannya untuk bermain bersama Rius. Dan tak enak karena takut berbuat kesalahan selama bermain.
"Ayo main, gue gak jago kok kalau lo takut bakal kalah."
Mereka pun memulai permainan. Servis dilakukan oleh Rius. Keduanya bermain dengan tenang hingga beberapa ronde.
Seiring berjalannya waktu, entah karena permainan semakin memanas atau apa. Keduanya begitu semangat dan memukul kok dengan keras.
Gita beberapa kali melompat karena kok nya melambung tinggi.
"Rius, jangan tinggi-tinggi!" gerutu Gita. Diseberangnya, Rius terkekeh.
"Lo nya aja yang pendek," ledek nya semakin membuat Gita geram. Tetapi tetap menuruti ucapan gadis itu.
Mereka belum sadar bahwa anak kelas, bahkan sang guru olahraga kini fokus menonton mereka. Sang pelaku yang menjadi biang kejadian ini, alias Reno dan Abian pun ber-tos ria.
Saat kok turun dan jatuh di wilayah Gita, gadis itu membungkuk untuk mengambilnya. Sebelum kembali memulai servis, ia menatap kesekeliling. Ia memiringkan kepala heran ketika semua mata kini tertuju padanya.
Segera lah penonton tanpa dibayar itu kembali ke aktivitas masing-masing. Murid perempuan sih sudah mencapai titik lelah, makanya kini mereka duduk ditepi dan hanya menonton permainan anak laki-laki. Oh, beserta Gita.
"Katanya nggak jago, tapi kok selalu jatuh ditempat gue," cibir Gita.
"Emang nggak jago itu, lo nya aja nggak becus." Rius mengendikkan bahu tanpa menghilangkan fokusnya.
Tetap saja meski terlihat tak peduli, Rius sengaja mengalah sehingga ia terus mendapat giliran mengambil kok. Sepanjang permainan mereka diselingi dengan obrolan ringan yang membuat suasana tidak membosankan. Padahal Rius pikir, bermain dengan siswi akan menjadi hal terburuk dan membosankan tadinya.
Obrolan seperti,
"Dari kelas 4 sd gue udah suka sama badminton," Gita bercerita.
"Lalu? Kenapa nggak ikut ekskul nya aja? Kan ada tuh tiap selasa," Gita menggeleng.
"Gue rapat mingguan OSIS tiap selasa, susah ah bagi waktunya,"
"Berarti lo main kalo ada materi penjas kaya gini doang disekolah?" tanya Rius penasaran. Tanpa sadar, Abian memperhatikan dengan senyuman kecil. Tidak biasanya sahabatnya itu penasaran dengan kisah hidup lawan jenis.
"Nggak juga. Kalau minggu nih, biasanya gue sama papa bakal main disekitar rumah." Rius mengangguk-angguk paham.
Oh atau,
"Lo sama Abian temen SMP kah?" tanya Gita.
"Yoi."
"Terus lo nyangka gak bakal ketemu lagi di SMK ini?"
"Ya, nggak lah. Gue aja kaget pas MPLS kemarin nama dia disebut, sekelas lagi." dari nada nya Rius sepertinya muak, tapi Gita yakin dalam hatinya tidak begitu. Bukankah malah menyenangkan kembali bersekolah ditempat yang sama dengan teman baik kita?
"Sialan lo!" Abian memukul kepala Rius dari belakang. Membuat cowok itu sedikit tersentak dan mengerutkan alisnya marah.
"Sakit bego!" Rius membalasnya dengan pukulan yang dilayangkan di lengan Abian.
Gita yang melihat nya pun hanya tertawa kecil, lucu saja interaksi mereka menurutnya. Ia pun menggelengkan kepala dan menjauh untuk bergabung bersama Kaila dan Rista. Tetapi sebelum benar-benar jauh, ia sempat berkata,
"Permainan lo bagus!" puji nya dengan jujur. Rius berdehem berusaha tidak menampakkan senyum nya.
Gita sudah bergabung dengan sahabatnya setelah mengucapkan itu. Tak lama setelahnya, ada seseorang yang memanggil namanya.
"Git, tangkap!" seseorang melempar sebotol air mineral kearah nya secara tiba-tiba, yang untungnya berhasil ia tangkap dengan baik.
Itu dari Sirius. Botol itu disertai dengan notes di bawah label kemasan nya.
"Kamis depan main bareng lagi ya."
Gita menatap seseorang diseberangnya dan mengacungkan jempol seraya mengucapkan terimakasih.
Oh tidak, bagaimana ia tidak makin kasmaran kalau begini ceritanya?