
Duar....
Wush....
Para monster masih melakukan serangan beruntun,untuk menghancurkan penghalang yang di buat oleh warga desa Cadiz untuk melindungi desa mereka.
"Membagi?"
"Ya..."
"kita akan membagi menjadi tiga kelompok..."
"Diantara tiga tersebut, setiap kelompok memilki peran masing-masing"
"Baiklah..."
"Kelompok satu..."
"Kalian akan melawan langsung mereka,saat penghalang itu hancur"
"Baik!..."
"Ta-tapi...,mereka..."
"Tenang lah,pasukan penyihir dan aku akan membantu kalian dari belakang"
"Selanjutnya kelompok dua...."
"Kalian,saat kelompok satu mulai berperang"
"Kalian cari lah celah dan keluar dari desa"
"Setelah itu,pergilah ke kerajaan dan meminta bantuan"
"Baik!.."
"Dan sisanya, kelompok tiga..."
"Tugas kalian adalah,untuk melakukan serangan beruntun menggunakan sihir kalian"
"Kalian,yang memiliki keahlian sihir tingkat dua gunakan seluruh elemen dan serang mereka menggunakan kekuatan penuh"
"Baik!..."
"Dan aku akan ikut berperang,bersama kelompok satu dibarisan depan..."
"Tuan apakah anda yakin?..."
Semuanya pun melihat kearah Edwin, seakan akan rencana Edwin tidak akan bisa mengalahkan monster - monster tersebut.
"Aku yakin..."
"Hm...."
"Semuanya!!...ambil posisi kalian
Penjelasan tentang strategi yang dibuat oleh Edwin,Edwin membagi pasukan yang berjumlah seratus tujuh belas termasuk pasukan pribadi Edwin,menjadi tiga kelompok.
Kelompok pertama yang terdiri dari lima puluh sembilan pasukan,di perintahkan oleh Edwin untuk melakukan serangan langsung dengan para monster,sesaat penghalang yang dibuat warga desa telah hancur.
Kelompok dua yang berjumlah kan lima pasukan,memiliki perintah dimana saat kelompok satu memulai serangannya dan berperang melawan para monster,mereka di perintahkan untuk pergi ke kerajaan untuk meminta bantuan.
Dan kelompok tiga memiliki perintah untuk membantu kelompok satu,yang sedang berperang melawan para monster,dengan menggunakan serangan sihir beruntun tingkat dua.
Kediaman keluarga Ken,dua hari setelah kepergian Edwin dari rumah ke selatan.
"Dinding batu...."
Wush......
Sebuah dinding yang terbuat dari batu yang kuat,yaitu batu gros pun muncul di depan Riko.
"Hebat..."
"Terimakasih"
"Ngomong ngomong,tuan Riko batu apa yang kau gunakan untuk membuat dinding itu?
"Sepertinya ini adalah batu gros"
"Ba-batu gros!?"
"Ya...,apakah ada yang aneh?"
"Apa tuan tidak tau,batu gros adalah batu yang memilki kekerasan yang setara dengan kerasnya kulit naga"
"Sepertinya aku mengacau lagi nya?"
"Oh iya,hei Lily apakah kamu bisa menggunakan sihir?"
"Saya...,tidak bisa menggunakan sihir...."
Lily pun mengatakan itu sambil memasang wajah bersedih.
Lily adalah seorang anak perempuan dari keluarga biasa, yang berada di desa dalam hutan dekat ibukota Yurius,dari nama nya saja sudah di ketahui bahwa dia adalah anak dari keluarga biasa yang tidak memiliki pangkat bangsawan atau pun pahlawan.
Mengapa Lily tidak bisa menggunakan sihir?,itu dikarenakan dirinya tidak memiliki energi mana yang mencukupi,bagi manusia jika seseorang ada yang tidak memiliki energi mana yang cukup untuk menggunakan sihir,maka mereka akan di asing kan dari keluarga mereka sendiri.
"Maafkan aku,aku seharusnya tidak menanyakan itu.."
"Tidak...,tidak apa - apa lebih baik juga kalau tuan tau tentang hal ini bukan?"
"Lily ke marilah.."
"?.."
Lily pun berjalan kearah Riko.
"Sekarang diam lah sebentar"
"Apa yang tuan ingin lakukan?"
"Tenanglah aku akan,melihat energi mana milikmu"
"Tapi..."
"Tenang kan pikiran mu"
"Mata Idra!..."
Riko memulai mendeteksi energi mana milik Lily,yang perlu diketahui Riko dia adanya anak dari Edwin Ken sehingga dia memiliki mata Idra seperti milik ayahnya.
"Hmm..., energi mana miliknya ternyata sangat kecil"
"Walaupun begitu sepertinya dia memiliki potensi untuk menggunakan sihir"
"Itu tidak ada gunanya tuan,aku ditakdirkan memang untuk tidak memiliki energi mana sama sekali"
"Itu tidak benar,kau masih memilki potensi untuk menggunakan sihir"
"Tuan..., terimakasih sudah ingin membuat ku merasa senang karena perkataan itu"
"Akan tetapi..."
"Tidak, kau masih memiliki sedikit harapan untuk bisa menggunakan sihir"
"Tapi itu sedikit bukan!!?"
Lily pun mengatakan itu menggunakan nada tinggi,sambil menangis.
"Maafkan saya tuan..."
Lily pun membalik badannya,dan mulai berjalan kearah dalam rumah.
"Tunggu Lily!.."
"Penghalang itu mulai retak!"
"Semuanya siapkan posisi kalian!"
Seluruh pasukan pun menyiapkan posisi meraka masingmasing,dan Edwin berdiri di depan pasukan kelompok satu yang akan langsung berhadapan dengan para monster.
Rarr....
Boomm...
Setelah itu pun penghalang pun hancur dan para monster mulai menyerang.
"Lihat kakek,penghalang itu hancur"
"Semuanya serang!!"
Kelompok pasukan satu,mereka serentak langsung menyerang para monster dengan kepemimpinan Edwin, kelompok pasukan satu saat ini masih bisa melakukan serangan yang menguntungkan.
"Sekarang kelompok dua!!"
"Baiklah!!"
Kelompok pasukan dua pun keluar dari desa.
Ting! ting!
Duar!
Boom..
"Kelompok tiga sekarang giliran kalian!"
"Baiklah..."
Kelompok tiga pun melakukan serangan beruntun menggunakan sihir tingkat dua, kearah para monster.
"Hiya!!..."
"Tuan, semuanya sesuai rencana"
"Bagus sekarang, lakukan tugas kalian berikutnya"
"Baik.."