
Mereka pun sampai di ibukota kerajaan.
"Wau...,jadi ini adalah ibukota?..."
Sarah terkagum-kagum melihat suasana yang ada di ibukota,karena selama ini Sarah terus bekerja di desa dan tak pernah berpergian.
"Kita akan langsung ke guild..."
"Baik..."
Mengabaikan Sarah yang masih terkagum dengan suasana di ibukota, Marcel dan Naila mengajak Riko untuk pergi ke guild.
"Huh!..,tunggu!..."
Sarah pun yang menyadari kalau dia di abaikan dan tinggal,langsung mengejar Riko dan yang lainnya.
"Kita sudah sampai..."
"Huh...hah...huh..."
"Kenapa kalian meninggalkan ku!?.."
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Sarah tersebut,bahkan Riko sekalipun dia hanya terus berfokus untuk mencari tau apa yang sudah terjadi dengan keluarganya.
"Hmm..."
Mereka pun masuk ke dalam guild.
"Tunggu dulu!!...."
Tiba tiba seorang laki laki memberhentikan Riko dan yang lainnya.
"Siapa kau?..."
"Apakah,kau adalah Riko?..."
"Benar..."
"Namaku adalah Ian Ankt..."
"Aku adalah seorang petualang kelas d..."
Ian yang sedang mengenalkan dirinya ke Riko,malah diabaikan dan mereka meninggalkan Ian sendir.
"T-tunggu!..."
Ian pun mengejar Riko dan yang lainnya.
"Tunggu sebentar..."
Ian mengatakan itu sambil berdiri di depan mereka.
"Apa yang kau inginkan?..."
Ucap Naila sambil menatap tajam ke arah Ian.
"E...."
Ian pun merasa ketakutan dilihat seperti itu.
"Ada apa ini?..."
Seorang lelaki tua yang tangguh pun datang ke arah mereka.
"Tuan Robert..."
"Siapa dia?..."
"Dia adalah ketua guild ini..."
Robert Ten,dia adalah ketua guild yang ada di ibukota kerajaan dan dia juga adalah mantan petualang tingkat S.
"Tidak ku sangka, ternyata kau masih hidup..."
Robert mengatakan itu sambil melihat ke arah Riko.
"Apa kau membicarakan ku?..."
"Hm...,mari kita bicaranya di dalam ruangan ku..."
"Baiklah..."
"T-tunggu,..."
"Menyingkirkan lah!.."
Naila yang merasa terganggu pun menendang perut Ian hingga Ian terpental dan pingsan.
"Ayo kita pergi..."
Riko pun melihat kearah Sarah yang sedang cemberut,akibat tadi di abaikan dan tinggalkan begitu saja.
"Ada apa?.."
"Tidak...,hm..."
Ucap Sarah sambil memalingkan wajahnya.
Dan mereka pun berjalan ke ruangan Robert yang ada di lantai dua.
"Tuan kita sudah sampai di ibukota..."
Roy Hadsen dan para pengawalnya pun sampai di ibukota kerajaan,sesaat Riko dan yang lainnya telah sampai terlebih dahulu sebelum mereka.
"Beritahu mereka untuk mengawasi mereka..."
"Baik!.."
Roy pun menyuruh salah satu pengawalnya untuk memberitahu sebuah kelompok,yang di miliki oleh Roy dan nama kelompok itu adalah The Crows untuk mengawasi Riko dan teman temannya.
The Crows sendiri adalah sebuah kelompok kecil yang terdiri dari 6 anggota di dalamnya,dan kelompok itu di pimpin oleh Roy sebagai ketua dari kelompok itu.
Setelah memasuki gerbang ibukota,Roy pun berjalan ke kediaman miliknya.
"Silahkan duduk..."
Yang lainnya pun duduk.
"Jadi,apa kau bisa menceritakan kejadian setelah ledakan itu?..."
Tanya Riko,yang langsung ke point utama.
"Baiklah..."
Ucap Robert sambil dia bangun dari duduknya, dan mengarah ke meja samping nya untuk mengambil secangkir teh.
Dan dia pun duduk kembali.
"Boleh aku minum dulu?..."
"Silahkan..."
Robert pun meminum teh itu.
"Baik,mari kita mulai beberapa hari setelah kejadian itu..."
"Setelah ledakan besar terjadi, seluruh yang ada di sekitar kediaman milikmu telah rata dengan tanah..."
"Bahkan,bekas ledakannya pun sampai sejauh lima kilometer dari kediaman mu..."
"Sebesar itukah ledakannya?..."
Tanya Riko.
"Hm,bahkan getarannya sampai ke kerajaan tetangga yang ada di barat..."
"Jadi,apa yang terjadi dengan orang orang yang ada dekat dengan ledakan itu?..."
"Menurut penyelidikan,ada beberapa mayat yang tergeletak disana..."
"Tunggu,jika ledakannya sebesar itu...."
"Mengapa,masih ada mayat?..."
"Itulah yang jadi misteri,mereka mati tetapi mayat mereka gosong dan tidak menjadi abu"
Ucap Naila,yang menjawab pertanyaan Riko sambil mengeluarkan sesuatu yang ada di sakunya.
"Apa yang kau lakukan?..."
Ucap Riko sambil melihat Naila yang sedang mengeluarkan sesuatu.
"Lihat ini..."
Naila pun menunjukan sesuatu yang ia temukan.
"Apa itu?..."
"Benda ini aku menemukannya saat membantu membersihkan mayat yang ada di sana..."
Tiba tiba sebuah kilatan ingatan Riko,yang memperlihatkan bahwa benda yang di tunjukan oleh Naila adalah kalung yang di gunakan oleh Lily,dan kalung itu adalah buatan Riko yang dihadiahkan untuk Lily.
"Riko apa kau menangis?..."
Tanpa di sadari Riko mengeluarkan air mata tanpa sebab.
"Apa ini?,kenapa aku menangis?..."
Bahkan Riko sendiri pun heran mengapa dia bisa seperti itu.
"Anak ini,dia ternyata memiliki seseorang yang dia sangat sayangi rupanya..."
Ucap Riko dalam hati sambil terus mengeluarkan air mata.
"Hei,bisa kau berikan itu pada ku..."
"Maaf,tapi ini akan ku jadikan koleksi ku..."
Tiba-tiba saja Riko mengeluarkan sebuah aura yang mengerikan, dan membuat seluruh orang yang ada di dalam ruangan itu merasakan sebuah kekuatan yang menekan mereka sampai tidak bisa bergerak.
"A-apa ini?..."
Naila pun sampai menjatuhkan benda yang di pegang ya itu.
"Apa yang terjadi?..."
"Aura yang mengerikan..."
"Tenanglah...."
Tiba-tiba sebuah bisikan terdengar oleh Riko untuk berhenti melakukan itu.
"Siapa?..."
Ucap Riko dalam hati.
Dan Riko pun berhenti mengeluarkan aura yang mengerikan itu.
"......"
Semuanya pun terdiam dan melihat kearah Riko.
Sing!..
Marcel serentak menghunuskan pedang miliknya ke arah leher Riko.
"Apa?...,siapa kau sebenarnya!?.."
Teriak Marcel sambil mengancam Riko.
"R-riko!..."
"Apa yang terjadi?..."
Riko pun bingung apa yang sebenarnya terjadi