
Setelah beberapa hari akhirnya aku sudah sembuh
Meskipun sudah sembuh aku masih perlu istirahat terakhir
Sedangkan Ayah masih menyuapiku dengan bubur buatannya sendiri
"Apa ayah tidak kelelahan? Ayah sudah 4 hari tidak makan, tidak minum, tidak tidur" kataku yg khawatir dengan kondisinya, meskipun kondisiku yg lebih diutamakan
"Aku tidak bisa merasakan apapun bahkan lelah, tapi aku masih bisa merasakan rasa makanan. Lapar, haus, kantuk, aku tidak merasakan itu semua, bahkan sakit" jelas ayah sambil memasukkan sesendok bubur ke mulutku
'Aum'
Setelah habis, ayah langsung membereskan mangkoknya dan memberiku segelas susu hangat lagi
"Ayah, apa ayah sudah menemukan siapa pembunuh Papa?" Tanyaku setelah meminum segelas susu
Ayah melipat jarinya sambil menatap ke arahku
"Memang apa yg ingin kalian lakukan kalau sudah ditemukan pembunuhnya? Balas dendam?" Jawab ayah dengan pertanyaan yg cukup intimidatif
"Bu-bukan begitu! Aku dan Akira hanya ingin pembunuhnya mendapat hukuman setimpal saja, hanya itu saja!" Jawabku
"Pembunuhnya belum ditemukan, bahkan temanku yg cukup profesional dalam kasus pembunuhan saja masih belum menemukan pembunuhnya" jawabnya
"Oh, begitu ya"
"Tidak enak di dengar Akira yg masih kecil soal pembunuhan-pembunuhan, cukup sampai disini dulu topik pembicaraan ini"
Aku terdiam setelah mendengar ucapan ayah
"Sudah tidur lagi sana, nanti siang kita melanjutkan misi kita"
Aku pun berbaring lagi dan tidur dengan dibayang-bayangi kematian Papa dan Mamaku
...🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹...
Aku melihat ayah yg berdiri di antara mayat kedua orang tuaku dengan pedang katana di tangannya
Mataku membulat melihat itu
"Ayah... ayah yg membunuh mereka?" Tanyaku dengan rasa takut
"Lalu kenapa kalau aku yg membunuh orang tuamu?" Tanya ayah balik
Emosiku tak tertahankan lagi
Air mata pengkhianatan menetes
Amarah dendam meluap
Rasa penasaran misteri hilang
Semua itu tercampur dalam kesedihan dan amarah
Aku berlari ke arahnya dengan tanganku yg penuh kekuatan dan kepercayaan untuk memukul dan air mata kesedihan
"HAAAAAAAAAAAA!!!"
...🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹...
"HUAAAAAAAAAAA!!!"
"Rex! Rex! Kau kenapa?! Rex!" Ayah memanggilku
Aku sudah duduk di ranjang tanpa kusadari
"Kau kenapa, Rex? Kau mengigau?" Tanya ayah
Aku langsung memeluk ayah
"Kau itu kenapa sih?" Tanya ayah lagi sambil mengelus lembut kepalaku
"A-aku bermimpi... a-ayah lah yg membunuh Papa dan Mama!" Kataku sambil menangis
"Mimpi tenyata. Dengar ya, kau yg sudah berumur ribuan tahun pasti sudah bisa membedakan yg mana yg mimpi dan mana yg asli. Apa jangan-jangan ini sedang Akira?"
"Ini masih Rex! Tapi... tetap saja rasa penasaran menghantuiku"
"Sudah, sudah. Mimpi itu bunga tidur, jadi tidak perlu khawatir kalau mimpi itu nyata apa tidak. Mana ada seorang pembunuh mengadopsi anak dari keluarga yg dia bunuh. Kalau pembunuh sedang mmembunuh mereka tidak akan menyisahkan siapapun bahkan sanksi mata" jelas ayah
Aku mengangguk dan ayah menghapus air mataku
"Sudah jangan menangis. Ayo kita lanjutkan perjalanan kita!"
Setelah itu aku ganti baju dan mulai keluar dari hotel itu dan melanjutkan perjalanan, yaitu melihat siapa raja iblis ketika aku menghilang
Setelah lama perjalanan akhirnya kami sampai di depan gerbang istana raja iblis itu
"Kenapa istana raja iblis ditempatkan dekat dengan kota?" Tanya ayah
"Karena tugas raja iblis adalah melindungi kerajaan mereka" jawabku penuh kebanggaan
"Bukankah banyak yg mencoba untuk membunuhmu?" Tanya ayah lagi
"Itu hanya sebuah tes, tapi kalau ada yg menantangku, aku tidak segan-segan menghancurkan mereka. Hihihehehe" aku tertawa jahat, meskipun terkesan lucu dan imut
"Kau tidak beda jauh denganku. Oh tentu, kau adalah putriku" balas ayah sambil menggosok pipinya dengan pipiku
"Hehehehe" tawaku
"Bentar, aku kan cowok. Bodo lah"
"Coba aku mau tanya bagaimana kemajuan kota ini setelah raja iblis Rex turun tahta" kata ayah mulai mendekati orang sekitar
"Permisi, apakah anda tau siapa yg menjadi raja baru disini?" Tanya ayah ke bapak-bapak lewat
"Jadi anda orang baru, ya? Hm. Katanya dia anak dari keturunan bangsawan Swan, tapi saya tidak tau pasti siapa dia. Semenjak dia yg menjadi raja kota ini kurang aman dari serangan luar" jelas bapak-bapak itu
"Begitu ya. Terima kasih, maaf mengganggu" kata ayah sambil membungkukkan badannya
"Ah iya, sama-sama" kata orang itu sebelum pergi
"Jadi bagaimana tentang tahtanya?" Tanyaku
"Katanya yg menjadi raja baru adalah keturunan bangsawan Swan, tapi tidak ada yg tau siapa itu" jawab ayah
"Pasti dia... Angelo angsa II!" gumamku
"Siapa dia?"
"Dia orang yg bertanggung jawab atas perginya aku dari dunia ini"
"Kalau begitu mari kita rebut tahta itu kembali" kata ayah
"Meh, biarkan saja dia" aku mulai meninggalkan area
"Kau tau, ketika dia menjadi raja, kota ini sering mengalami kekalahan dari serangan luar"
Aku berhenti melangkah dan berbalik
"Mari kita hajar dia" kataku
"Tadi katanya tidak mau" jawab ayah sambil mencubit pipiku
"Hehehe" meskipun dicubit aku tidak kesakitan, malahan geli
Dan kami mulai memasuki istana yg tak ada penjaga gerbang depannya itu
Kami mulai berjalan menuju arah tahta tanpa ada gangguan sedikitpun
"Ini kau-nya yg teledor atau memang tidak ada penjaga disini?" Tanya ayah dalam perjalanan
"Memang tidak ada yg menjaga disini karena perebutan gelar raja terbuka untuk umum" jawabku
Dan pada akhirnya, kami sampai di ruangan tahta raja
Di depan kami ada seorang gadis yg sedang duduk
"Loh? Kok bukan dia?" Aku terkejut karena bukannya si Angelo itu malah seorang gadis
"Dia siapa?" Tanya ayah
"Sebenarnya yg terakhir mengalahkanku adalah seorang pria bukan wanita" jawabku
"Rexy, apa kau memikirkan apa yg aku pikirkan?" Tanya ayah
"Yap. Dia adalah gadis sedih yg menjadi raja. Ratu dalam kasus ini" jawabku
"Apakah kita akan melepas tanggung jawabnya sebagai ratu?"
"Ide bagus, ayah!"
Ayah melangkah lebih maju dan melepas topinya dan membungkuk dengan sopan
"Perkenankan saya untuk memperkenalkan diri saya, sang ratu yg agung. Nama say-"
"Rex!"
"Hmm?"
"Kau maou-sama Rex, kan?!" Kata gadis yg nampak lega
"Rexy, bagaimana ini?" Bisik ayah
"No idea, sir!" Bisikku balik
Gadis itu mulai mendekati ayah
"Incoming!" Gumamku
Gadis itu langsung memegang tangan ayah
"Tolonglah! Hidupku bergantung denganmu, maou-sama Rex!" Mohon gadis itu
"Tunggu, tunggu. Aku ini bukan Rex. Kau belum pernah dengar dari moyangmu kalau Rex sudah dipindahkan ke dunia lain?" Tanya ayah
"Iya, aku sudah mendengarnya. Kau kembali lagi ke sini pada akhirnya"
"Rex yg kau maksud adalah anak ini" ayah menunjukku
Aku melambaikan tanganku sambil tersenyum
"Jadi dia maou-sama Rex?" Tanya gadis itu
Ayah dan aku mengangguk sambil melipat tangan secara bersamaan
"D-dia..." gadis itu berhenti sejenak
"Hm?"
"Kawaii..." gadis itu langsung mengusap pipinya ke pipiku
"O-oi, oi!"
"M-maaf! Aku tidak bisa menahan nafsuku" jawab gadis itu yg mulai melepaskanku
"Dia... dia lolicon yg berbahaya" pikirku sambil menatapnya dengan tajam
"Rex-sama kecil namanya siapa?"
"Umm? Akira... Vince" jawabku gugup
"Akira-sama, salam kenal. Aku Angela Swan III" gadis itu memberi tangannya untuk salaman
Aku juga meladeninya dengan salaman dengannya
"Mohon maaf kalau saya lancang, tapi anda siapanya Akira-sama?" Tanya Angela ke ayah
"Aku? Aku ayahnya" jawab ayah dengan singkat
"Ayahnya? Tapi dilihat dari umur anda... apakah anda berumur 15 tahun?" Tanya gadis itu sambil memperhatikan ayah
"Tidak umurku baru 14 tahun"
"EH?!?!" Aku terkejut
"Ayah masih berumur 14 tahun?! Tapi sudah menikah dan punya anak?!" Tanyaku
"Kau salah paham. Ceritanya nanti saja" jawab ayah
"Jadi Angela-chan, ada yg bisa aku, maou-sama Rex, bantu?" Tanyaku dengan berlaga
"Akira-sama, saya mohon kepada anda untuk kembali lah menjadi raja di sini lagi. Aku tidak sanggup menanggung beban ini, bahkan aku sempat putus asa dan ingin segera mengakhiri hidupku sendiri" jelasnya
Aku tidak dapat berkata-kata lagi
Aku masih punya dendam di duniaku yg baru, sedangkan aku punya tanggung jawab disini
PUSING TUJUH KELILING!!!
"Angela, bisa kita bicara ini berdua saja?" Pinta ayah
"B-baik tuan!" Ayah dan Angela masuk ke ruangan khusus
Aku sendiri menunggu sambil duduk di tahta lamaku
"Lihat, Arny! Kita sudah kembali! Tapi ini bukan berarti kita akan tinggal selamanya disini" kataku ke Arny yg ada di tanganku
Beberapa menit kemudian ayah dan Angela kembali
Aku spontan langsung berdiri karena merasa tidak sopan
"M-maaf karena sudah lancang" kataku sambil membungkukkan badan
"Tidak apa-apa. Lagipula tahtanya memang seharusnya milik anda, kan?" Jawab Angela dengan senyuman manisnya
"Jadi, apa buah hasilnya?" Tanyaku
"Begini, kami seharusnya memintamu untuk menjadi rajanya atau ratu dalam kasus ini. Tapi kau juga punya kehidupan di dunia lain" jawab ayah
"Jadi?"
"Kita biarkan kerajaan ini terbengkalai"
"Nani?!?!"
"Benar, Akira-sama. Sebenarnya saya tidak ingin menjadi ratu, tapi ayah menyuruhku untuk menjadi penerusnya. Kita akan biarkan kerajaan ini terbengkalai!" Jawab Angela
"Hei, hei, hei, hei! Yg benar saja donk! I-ini cuman bercanda, kan? Ya kan, ayah?! Kan?!" Aku tidak bisa menerima ini semua
"Yg benar saja! Masa kerajaan yg sudah diwariskan turun-temurun akan dibiarkan begitu saja! Aku tidak bisa menerima ini!" Pikirku yg sudah tidak bisa menahan emosi lagi
"Rexy, kau harus menerimanya. Bagaimana dengan saudaramu, Rio, kalau kau tinggal disini? Dia pasti sedih karena kau pergi tanpa ucapan selamat tinggal" jawab ayah yg malah membuatku geram
Amarahku meluap
"K-kau! Kau tidak akan mengerti bagaimana rasanya meninggalkan rumah sendiri!" Kataku sambil memukuli perut ayah
'Bug bug bug bug'
"Akira-sama, tolong mengerti lah. Saya tau ini sulit untuk anda, tapi ini jalan terbaik untuk pergi dari belenggu tanggung jawab ini. Saya tidak bisa menjadi ratu yg baik, dan anda tidak bisa berada di dua tempat dalam satu waktu" kata Angela yg makin membuatku marah
"Rexy, sudahlah..." kata ayah yg menerima pukulanku tanpa kesakitan
"Tapi... tapi..." aku mulai berhenti memukul dan menatap ayah dengan mata yg berkaca-kaca
"Tidak usah tapi-tapian, Rexy! Sekarang atau tidak selamanya" kata ayah
Ayah mulai menatap wajahku yg mengeluarkan air mata sambil jongkok
"Sudah tidak usah sedih. Angela akan ikut dengan kita ke dunia kita" kata ayah sambil mengelap air mataku
"B-baik..." jawabku
Ayah mulai membuka portal menggunakan pedangnya
"Tunggu dulu! Tidak semudah itu, Ferguson!" Kata seseorang dibelakang kita
Kami langsung melihat ke belakang dan ternyata itu...
...To Be Continued......