
Aku dan ayah masuk ke sebuah portal
"Kalau kau tidak mau ketakutan, tutup matamu!" Perintah ayah
Kemudian aku menutup mataku dan ayah menggendongku
Di perjalanan aku hanya bisa menutup mata
Selang beberapa detik aku mulai merasakan tanah dan rumput di kakiku
"Nah, sekarang buka matamu" kata ayah
Perlahan aku membuka mataku
Cahaya mulai terlihat
Duniaku, aku kembali lagi ke duniaku
"Ini rumahmu, kan?" Kata ayah
Aku merasa terhura karena bisa melihat dunia lamaku kembali
"Terima kasih... ayah..." kataku sambil meneteskan air mata bahagia bersamaan dengan senyuman nostalgia
Ya meskipun cuman ditinggal selama 4 tahun, tapi tetap saja ini adalah momen homecoming-ku
"Sekarang kita mau kemana?" Tanya ayah
"Oh iya..." aku menghapus air mataku
"Kita akan ke kota yg dulu kukuasai, kemudian aku ingin melihat kerajaanku. Seperti apa jadinya tanpa diriku" jelasku
"Baiklah, kalau itu maumu. Apa kita punya uang?"
"Permisi?"
"Uang. Apa kita punya uang? Aku tau pasti uang duniaku dan dunia ini pasti berbeda"
"Oh iya, uang. Disini kita tidak memakai Yen, kita memakai yg namanya Ryo" jelasku
"Sebelum kita melanjutkan tentang uang, lebih baik kita harus segera bergerak" kata ayah yg mulai berjalan
Aku mengikutinya dari belakang
"Apa ayah tau dimana kotanya?" Tanyaku sambil tersenyum meledek
"Hmm... sekitar 7,95 kilometer dari sini, kan?" Jawabnya
"Ya, seperti itulah. Memang jauh, tapi kalau sudah sampai kita bisa beristirahat" lanjutku
"Tentang uang, kita tidak bisa beristirahat atau menyewa kamar tanpa uang" kata ayah
"Ah, benar. Cara mendapatkan Ryo, biasanya para petualang masuk ke dalam Dungeon"
"Dungeon? Apa dunia ini mengambil sistem RPG?"
"Bisa dibilang begitu. Kalau di dunia manusia biasa memang nampak seperti video game, tapi ini tidak ada hubungannya dengan game"
"Kalau begitu kita masuk ke Dungeon saja dulu sebelum ke kota"
"Hmm... ide bagus!"
Kita berubah arah dari kota menjadi ke Dungeon yg tempatnya di gua
"Biasanya di Dungeon ada level tersendiri. Kita akan masuk ke level 10 saja" usulku
"Memang dari level berapa sampai berapa di dalam Dungeon?" Tanya ayah
"Para petualang hanya bisa memasuki level 1 sampai 100 karena itu batas mereka, tapi aku dulu sampai ke level di atasnya"
"Level berapa?"
"Satu triliun"
"Kau bercanda?"
"Tidak! Ini serius! Level satu triliun adalah level yg bisa di kalahkan oleh raja iblis saja. Para petualang yg memasuki level itu akan langsung mati"
"Kalau begitu kita akan ke level satu triliun itu" kata ayah
Yg benar saja! Tubuhku sudah tidak bisa dibilang raja iblis lagi, jadi secara harfiah aku sudah tidak bisa masuk ke level itu
"Oi, oi, ayah. Apa ayah sudah gila? Sudah kubilang hanya raja iblis saja yg bisa memasuki level itu" kataku yg tidak percaya dengan usul ayah
"Tidak perlu khawatir" di kepala ayah, aku melihat sesuatu yg tumbuh
"Kenapa?" Itu adalah tanduk
"Karena aku disini!" Dan ayah berubah menjadi seperti iblis, meskipun aku tau dia hanya manusia
"Entah kenapa, ini lebih terdengar seperti pahlawan yg hendak menyelamatkan dibanding petualang yg hendak berpetualang" kataku sambil menatap ayah dengan bingung
"Ya, ini hanya kata-kata daripada superhero di anime" jawab ayah
Setelah perjalanan yg sangat lama, akhirnya kami berdua sampai di Dungeon level satu triliun
"Kita sudah sampai" aku menunjuk ke arah gua dengan aura jahat yg keluar dari dalamnya
"Apa halangan yg ada di dalamnya?" Tanya ayah
"Ya... hanya hewan-hewan mematikan berukuran raksasa, beberapa jebakan, ribuan penjaga harta seperti Minotaur, teka-teki sulit, puzzle yg harus dipecahkan, dan mungkin sedikit sentuhan raja iblis" jelasku
"Hm. Terdengar sepele" jawabnya dengan angkuh
"Memang terdengar sepele, tapi para petualang tidak ada yg bisa keluar, bahkan tidak ada yg bisa masuk ke dalam" balasku
"Kalau begitu kita coba saja" ayah mulai masuk ke dalamnya dan aku lebih baik menunggu diluar
Dalam sekejap ayah keluar dalam keadaan sehat walafiat dengan kantong penuh emas
"Ce-cepat sekali!" Kataku tidak percaya
"Aku lebih cepat dari penampilanku. Ayo, kita ke kota!" Ajak ayah
Antara percaya dan tidak percaya aku berjalan ke kota dalam keadaan bingung
...🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹...
"Hah... hah... hah..." aku berhenti berjalan karena kecapean
"Hmm? Kau capek?" Tanya ayah
"Sedikit, tapi tak masalah. Raja iblis sudah menghadapi ini selama ribuan tahun" jawabku
"Memangnya umurmu berapa?"
"Eh? Umurku? Hmm... sekitar 446664 ribu tahun di tambah umur Akira 5 tahun jadi sekitar... 446669 ribu tahun" jawabku
"Memang benar kau punya ribuan tahun pengalaman, Rex. Tapi aku bisa punya lebih banyak pengalaman dibanding dirimu" balasnya
"Apa kau bilang?!" Aku sedikit ke trigger
Ayah kemudian jongkok berlawanan arah denganku
"Ayo naik! Biar aku gendong sampai tujuan" katanya
Aku bingung mau digendong apa gak ya?
"Kalau digendong masa raja iblis digendong, kalau gak kan capek" pikirku
"Ah! Persetan dengan menjadi raja iblis! Aku bersarang di tubuh anak kecil jadi tidak perlu yg namanya wibawa raja iblis" aku tidak banyak bicara langung naik ke punggungnya
Ayah kemudian berdiri dan mulai berjalan lagi
Perjalanan masih bisa dibilang sekitar 100 meter lagi dan kami sudah menempuh sekitar 1 jam 19 menit
"Itu dia kotanya!" Aku menunjuk ke arah kota yg dikelilingi tembok putih
"Kota yg besar juga, ya? Kau yg membuatnya?" Tanya ayah
"Tentu bukan! Aku hanya menguasainya pada masa kekaisaranku" jawabku
Ayah mulai berjalan lagi dan masih menggendongku tanpa kelelahan
"Oi, ayah tidak capek?" Tanyaku yg jujur khawatir dengannya
"Tidak juga. Aku tidak bisa merasakan apa itu lelah. Secara harfiah aku tidak bisa merasakan" jawabnya tanpa kelelahan ataupun suara nafas yg terengah-engah
"Apa ini efek dari Yami-nya?" Pikirku
"Kalau kau berpikir ini efek dari Yami-ku, iya itu benar" jawab ayah seakan membaca pikiranku lagi
"Lagi-lagi, ayah membaca pikiranku" kataku sambil tersenyum
"Sudah kubilang, aku membaca psikologis sesorang bukan pikirannya" jawab ayah
"Jujur, membaca psikologis seseorang agak sulit, terlebih lagi aku punya gangguan psikologis" gumam ayah yg hampir tidak kedengaran di bagian akhir
"Hm? Tadi bilang apa?" Tanyaku
...🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹...
Akhirnya kita masuk ke dalam kota yg luas dan ramai
"Dari luar kelihatan kecil tapi di dalamnya kelihatan besar" kata ayah
"A-ah, lebih baik kita memanggilnya kerajaan, karena ini memang sebuah kerajaan bukan kota" kataku dengan gugup
"Benar juga. Kerajaan dan kota jauh berbeda. Apa nama kerajaan ini?" Tanya ayah
"Rexodium" jawabku
"Seriously?"
"Memang itu namanya Rexodium. Ya... itu nama ketika masanya aku berkuasa"
Di perjalanan di dalam kota ayah selalu dilihati layaknya seorang penjahat yg masuk kota
"Kita pergi ke tokoh baju dulu" kata ayah
"Pasti untuk menutupi identitas ayah karena ayah selalu dilihati layaknya penjahat, ya?" Ejekku
Ayah hanya mengangguk
Di depan sebuah tokoh baju aku mulai turun
Lalu kami masuk ke tokoh itu
"Selamat datang! Ada yg bisa saya bantu?" Kata pemilik tokoh
"Iya, apa ada jubah dan baju untuk anak ini?" Tanya ayah ke pemilik tokoh
"Tunggu sebentar! Meskipun aku sebenarnya laki-laki, tapi setidaknya belikan aku baju yg anggun layaknya seorang tuan putri donk" pikirku
"Ayah!" Aku menarik jubah yg ia kenakkan
"Hm?" Ayah menurunkan kepalanya dan aku membisikkan apa yg aku inginkan
"Maaf, baju dan jubahnya tidak jadi, tapi apa ada gaun seperti gaun tuan putri? Anak ini ada-ada saja" kata ayah
"Ahahaha. Anak kecil banyak maunya. Baik, ayo kita pilih bajunya yg cocok untuk tuan putri!" Aku kemudian mulai memilih baju yg paling bagus dan yg cocok
Ayah sedang memilih jubah yg ada tudungnya
"Ayah, lihat! Apa aku terlihat cantik?" Tanyaku sambil menunjukkan gaun berwarna putih yg nampak anggun
"Cantik. Aku beli dua yg seperti ini dengan ukuran yg dan setelan jas ini, serta topi ini" kata ayah sambil menunjuk ke baju dan topi yg dia maksud
"Sip"
"Eh? Baju yg sama untuk siapa?" Tanyaku
"Tentu saja untuk Rio"
"Meskipun sedang berpergian, ayah tidak lupa dengan anaknya yg lain. Sungguh orang tua idaman" pikirku yg terkagum dengannya
"Oh iya, satu lagi gaun untuk wanita dewasa, tapi warnanya merah. Ukurannya sekitar..." ayah menyebutkan detail baju yg kuyakini untuk ibu
Setelah pemilik memberikan semua barangnya, ayah memberikan segepok Ryo emas
"Wah! Terima kasih, tuan! Senang berbisnis dengan anda!" Kata si pemilik
Setelah itu kami keluar dari tokoh dengan penampilan baru
Ayah lebih seperti bos mafia dengan perawakan yg tenang, tapi terasa menyeramkan, sedangkan aku seperti tuan putri dari kerajaan
"Nah, sekarang kita mau kemana?" Tanya ayah
"Sekarang? Bukannya kita istirahat dulu?" Tanyaku balik
"Oh iya, lupa" jawabnya tanpa terlihat bersalah
Belum sempat beranjak tiba-tiba awan menjadi mendung dan mulai turun hujan
'Tik tik tik'
Dan semakin deras
"Aneh. Hujan turun, padahal tadi sedang cerah" kata ayah sambil menatap langit dengan kedua tangannya yg di angkat
"Sebaiknya kita cari tempat penginapan dulu, Rex"
"Ah, iya" aku mengangguk
Kemudian kami hujan-hujanan untuk mencari tempat peristirahatan
"Apakah ada semacam hotel disini?" Tanya ayah sambil berlari dengan menggendongku
"Eh? Umm... ada. Kayaknya" jawabku ragu
"Kalau begitu dimana?"
Aku pun menunjukkan arah tempat penginapan mewah atau bisa disebut hotel
...🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹...
Pada akhirnya kita menemukan hotel yg layak
Aku sekamar dengan ayah tentunya
"Hachoo..."
"Aki- maksudnya, Rex, kau kenapa?" Tanya ayah yg berdiri di dekat jendela karena mendengarku bersin
"Ah, tidak apa-apa kok. Cuman bersin biasa. Hachoo..." jawabku dengan ingus di hidungku
"Kau kedinginan. Tidurlah dulu nanti kubuatkan susu hangat" kata ayah
"Haik... haik" aku mulai berbaring dalam keadaan kedinginan
Setelah beberapa menit ayah kembali dengan membawa susu hangat
"Rex, bangun. Minumannya sudah siap" kata ayah
Aku yg sempat tertidur bangun lagi dan meminum susu hangatnya hingga habis
Entah kenapa aku merasa tidak melayang-layang
Ayah mulai mendekatkan kepalanya ke keningku
Dia menempelkan keningnya ke keningku
"Hmm... kau demam" kata ayah
"Ah, yg benar?" Tanyaku
"Iya, benar"
"Benarkah?" Aku mulai menggodanya
"Iya, benar"
"Benarkah? Benarkah? Benarkah?"
"Iya, iya, iya, iya. Yare yare. Kau bisa melawak juga ya"
"Hihihi~ sengaja, untuk mencoba melihat ayah tersenyum" kataku yg mulai berbaring lagi
"Hm. Gaki. Tidurlah, kalau sudah sembuh kita akan melanjutkan perjalanan kita" perintah ayah
"Haik... haik" jawabku dan mulai tertidur pulas dengan cepat
...🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹...
Besoknya aku masih tak kunjung sembuh
Aku masih menggigil kedinginan
Aku mengigau melihat Papa dan Mamaku
"Papa... Mama..." lalu aku merasakan ada yg memegang tanganku
Itu pastinya ayah, karena dia hanya satu-satunya orang yg bersama denganku
Sekarang yg kurasakan hanyalah kepalaku yg di kompres dengan handuk hangat
Dingin hanya itu yg kurasakan
Kehangatan yg ada hanya genggaman lembut dari seorang ayah
"Sebegitu pedulinya dan tidak mementingkan perkerjaan lain. Kau itu ayah atau ibu sih? Dipanggil ibu kau itu laki-laki, dipanggil ayah kau lebih seperti ibu" pikirku sambil tersenyum melihat orang yg merawatku
Dan selama tiga hari aku selalu dirawat olehnya tanpa tidur, makan, minum, ataupun ke kamar mandi
Dia beranjak hanya ketika sedang membuatkan makanan ataupun minuman untukku
...To Be Continued......